
Saat akan kembali ke Jakarta Jesselyn memilih untuk ikut mobil Bagas dan Lena. Dua hari ini dia merasakan tubuhnya begitu lelah dan berat. Setidaknya dia dapat beristirahat dalam mobil selama perjalanan. Dan tidak ada drama di perjalanan seperti saat ia datang bersama Leon.
Oma yang selalu terlihat cuek padanya menjadi sosok yang berbeda saat mereka akan berangkat. Oma bahkan membuat drama seolah tidak ingin berpisah dengan rubahnya itu. Memeluknya erat seperti mainan yang tak ingin dilepas dan diberikan pada yang lain.
Barulah setelah Lena dan Bagas memberi pengertian dan berjanji akan berkunjung lagi nanti, akhirnya oma melepaskan Jesselyn.
"Kamu sakit, nak?" tanya Lena melihat wajah pucat Jesselyn. "Kamu butuh sesuatu?"
"Enggak tante. Jesselyn baik-baik saja, mungkin karena kecapean jadi badannya sedikit lemas."
Sebenarnya Jesselyn merakan kepalanya berdenyut begitu sakit, pusing, nafasnya pun terasa panas. Namun ia sama sekali tidak mengatakannya. Ia tidak ingin membuat siapapun menjadi khawatir termasuk Lena, tantenya.
"Kalau gitu kamu tidur aja, nak. Nanti kalau sudah sampai rumah baru dibangunin. Kamu istirahat, kalau kamu butuh sesuatu kamu ngomong ya sama tante?" ucap Lena masih menoleh kebelakang tempat Jesselyn duduk.
Jesselyn menganggukkan kepalanya, begitu malas rasanya untuk membuka mulutnya berbicara. Ia memejamkan matanya mencoba tidur untuk mengembalikan tenaganya.
****
Karena merasa lelah Leon yang kembali ke Jakarta dengan motornya lagi berhenti disalah satu pom bensin. Bukan untuk istirahat, namun ia bermaksud membasuh wajahnya. Selain lelah, dia juga mengantuk. Semalam ia tidak bisa tidur dengan tenang.
Kamar yang seharusnya dia gunakan untuk tidur justru diberikan oma pada Jesselyn. Alhasil dia tidur dengan opa dan papanya. Sedangkan Lena tidur bersama oma.
Suara dengkuran opa dan papanya saling sahut menyahut dalam kamar. Menyadarkan Leon yang sedikit lagi masuk ke dalam mimpinya.
Leon melepas sarung tangan yang digunakannya. Ia membasuh wajahnya agar kembali segar. Leon membasuh dan mengusap-usap wajahnya begitu kasar, tak ada kelembutan sama sekali.
Saat melap tangan basahnya, matanya tertuju pada benda putih yang melingkar dijari manisnya. Ia melihat dirinya dicermin yang ada dalam toilet pom bensin tersebut dan tersenyum tipis.
****
"Huff...akhirnya kita sampai juga, pa." Lena begitu senang akhirnya tiba dirumahnya.
"Iya, ma. Papa juga sudah capek banget. Rasanya pengen langsung rebahan aja," ucap Bagas mematikan mesin mobilnya.
"Leon gimana? Sudah sampaikan? Dia kan pakai motor, pastinya lebih cepat sampainya dibanding kita."
"Tadi dia kirim pesan ke mama, katanya mau ke kampus dulu sebentar sebelum pulang ke rumah. Ada yang penting katanya, maklum aja pa, sebentar lagi kan mau wisuda."
"Ya sudah, ma. Ayo masuk."
"Dia masih tidur," kata Lena pada suaminya melihat Jesselyn yang berada dikursi belakang tak bergerak sama sekali. "Capek banget sepertinya dia, wajahnya juga kusut tidak seperti biasanya."
"Bangunin aja, ma. Biar dia lanjutin istirahat dikamarnya."
"Iya, pa." Lena keluar dan membuka pintu belakang sebelah kiri. "Jes, ayo bangun. Kita sudah sampai rumah, kamu lanjut istirahatnya dikamar aja, nak." Lena membangunkan Jesselyn dengan pelan agar tidak mengejutkannya, namun tak ada jawaban. Gadis itu tak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Jes... Jesselyn, ayo bangun kita sudah sampai, nak."
Karena tidak ada respon membuat Lena menjadi khawatir. Ia mendekat dan menggoyang lengan gadis itu. Lena terkejut, lengan gadis itu begitu hangat. Lena menempelkan telapak tangannya di kening gadis itu, dan itu semakin membuatnya tambah terkejut lagi.
"Pa...," panggil Lena pada suaminya keras. Bagas yang sudah berdiri diluar mobil pun terkejut mendengar suara panggilan keras dari istrinya.
"Kenapa, ma?" tanya Bagas panik.
"I-ini badannya panas sekali, pa!" kata Lena ketakutan. Ia khawatir jika terjadi apa-apa pada gadis itu. "Mama ngak tahu dia lagi tidur pulas atau pingsan, yang jelas dia ngak mau bangun dan gerak, pa?"
Tanpa menunggu aba-aba, Bagas menyalakan kembali mobilnya dan mengendarainya begitu cepat. Dibelakangnya Lena masih menepuk-nepuk pelan pipi Jesselyn dengan memanggil-manggil namanya. Ia berusaha membangunkan Jesselyn.
"Ayo cepat, pa!" pinta Lena agar suaminya mempercepat laju mobil.
"Iya, ma. Ini juga sudah cepat. Sebentar lagi nyampe, sabar ma!"
"Bangun dong, nak. Bangun sayang? Kamu buat tante khawatir. Ayo, bangun nak?" panggil Lena tak berhenti.
Tak butuh waktu lama, setelah tiba di depan rumah sakit Bagas langsung menggendong Jesselyn dan berlari kedalam.
Jesselyn segera ditangani oleh dokter sedangkan pasangan paruh baya itu menunggu diluar pintu kamar tempat Jesselyn ditangani.
"Tenang, ma? Dia pasti baik-baik saja, oke?" ucap Bagas mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi mama khawatir sekali, pa? Pak Pandu minta kita buat jagain dia, tapi dia malah sakit. Mama takut kalau ibunya tahu dia lagi sakit dan bawa dia kembali gimana, pa? Mama ngak mau itu terjadi, dia sudah seperti putri mama sendiri. Mama ngak mau dia pergi lagi dari rumah."
"Atau jangan-jangan dia stress mungkin pa?"
"Maksud mama?" tanya Bagas mengurai pelukannya.
"Mungkin dia stress karena dijodohin sama anak papa dan harus tunangan kemarin?" jelas Lena mengatakan kekhawatirannya.
Bagas terdiam mendengar penuturan istrinya, berpikir mungkin itu penyebab Jesselyn sampai sakit.
"Huss, jangan mikir yang aneh-aneh. Memang mama mau kalau seperti itu adanya? Enggak kan?"
"Ya enggak, pa. Mama juga salah, mama yang maksa dia dengan pura-pura sakit kemarin."
"Apa?" kaget dengan apa yang dikatakan istrinya. "Jadi, maksud mama hanya pura-pura kalau jantungnya kambuh?"
"Maaf, pa?"
"Ada-ada saja sih, ma?"
Bagas tak habis pikir dengan cara berpikir istrinya itu yang harus berbohong demi niatnya yang harus terlaksanakan. Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
"Tapi sekarang mama ngak bohong, pa. Jantung mama rasanya mau copot sekarang."
Bagas mengajak istrinya untuk duduk dikursi panjang yang disediakan rumah sakit. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menghubungi Leon.
Sudah sekitar lima kali Bagas bolak-balik menghubungi anaknya itu, namun tak ada jawaban juga.
"Ini anak kenapa susah sekali dihubungi?" kembali menghubungi Leon untuk kesekian kalinya.
"Gimana, pa?"
"Ngak diangkat"
"Kirim pesan saja, pa!" kata Lena dan Bagas langsung mengirim sebuah pesan pada Leon.
Melihat dokter keluar dari kamar Jessselyn, Lena langsung berdiri dan menghampirinya.
"Anak saya gimana, dok?" tanya Lena dengan wajah serius.
"Tidak ada yang serius. Hanya saja kondisinya saat ini sangat lemah," kata sang dokter memberitahu. "Apa baru-baru ini dia terkena hujan?"
"Dua hari yang lalu sepertinya dia terkena hujan dok saat berada diperjalanan."
"Hemmm, pantas saja. Dia seperti ini karena kelelahan dan terkena air hujan. Melihat dari hasil pemeriksaan, sepertinya anak ibu rentan sakit jika terkena air hujan. Setelah terkena hujan sepertinya dia tidak langsung keramas dan mengganti pakaiannya sehingga air hujan tersebut mengendap dikulit dan kepalanya."
"Tapi dia baik-baik saja kan, dok?"
"Dia baik-baik saja, sebentar lagi juga akan sadar. Tapi setelah dia sadar dia masih harus banyak istirahat," lanjut dokter menjelaskan.
"Baik, dok. Terimakasih!" ucap Bagas dan Lena merasa lega.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Perawat akan melanjutkan perawatan anak ibu," pamit dokter meninggalkan mereka berdua.
"Oh iya," kata dokter menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suami istri itu. "Apa anak ibu terkena gigitan serangga baru-baru ini?" tanya dokter penasaran.
Bagas dan Lena saling melempar pandangan karena pertanyaan sang dokter. "Tidak, dok. Memang ada apa, dok?" kata lena mengerutkan dahinya.
"Tidak ada apa-apa. Kalau begitu saya permisi," ucap dokter melanjutkan jalannya dengan menggelengkan kepalanya.
Setelah melihat keadaan Jesselyn yang masih belum bangun, Bagas keluar untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan ke kantin rumah sakit. Sedangkan Lena memilih tetap menunggui tunangan putranya itu.
"Om?" sapa seorang pemuda yang tidak sengaja bertemu dengan Bagas saat berjalan dilorong rumah sakit.
"Leo?"
...Happy reading semuanya.....
__ADS_1
...Jangan lupa buat support cerita ini ya dengan memberikan jempolnya......
...terimakasih ❤️❤️❤️❤️...