Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Buka Dong Sayang


__ADS_3

Bagai mendapat durian runtuh, kebahagian keluarga Bagas bertambah saat mendapat kabar mengenai kehamilan sang menantu. Semuanya begitu antusias menantikan hari kelahiran malaikat kecil yang akan menambah tawa dan kecerian ditengah-tengah keluarga. Oma yang juga sudah sangat menantikan anak dari cucu kesayangannya tak kalah bahagia dan selalu wanti-wanti agar Jesselyn dan Leon menjaga si malaikat kecil dengan baik.


Rencana pernikahan Nadya dan Ilham disepakati akan diadakan setelah kelahiran anak yang dikandung Jesselyn. Selama menunggu waktu pernikahan keluarga juga berharap Nadya dan Ilham dapat lebih saling mengenal satu sama lain.


Sejak kehamilan Jesselyn, Leon semakin over protective dan menjadi suami siaga. Leon sama sekali tidak memperbolehkan Jesselyn keluar rumah sendiri, makan makanan cepat saji seperti yang selama ini sering dikonsumsi dan banyak hal-hal yang dilarang oleh Leon untuk dilakukan Jesselyn.


Usia kehamilan Jesselyn sudah melewati tri semester pertama dan hari ini Leon mengunjungi kampus tempat Jesselyn kuliah. Hari ini ia mengajukan surat cuti kuliah untuk Jesselyn karena ia tidak mau Jesselyn kelelahan dan stress karena tugas-tugas kuliah yang pastinya menyita waktu dan pikiran.


"Selesai."


Leon berjalan menuju tempat motornya diparkirkan, memukul-memukul telapak tangannya menggunakan gulungan kertas cuti yang baru saja ia terima dari pihak kampus. Meskipun sudah bekerja dan menggantikan posisi papanya dikantor akan tetapi Leon lebih sering menggunakan sepeda motornya saat bekerja dan bepergian. Beda halnya jika ia bersama Jesselyn, ia akan selalu membawa mobil demi keamanan dan kenyamanan istri serta calon buah hatinya.


****


"Tada... Waktunya makan siang."


Nadya meletakkan kotak bekal diatas meja kerja Ilham. Membereskan kertas-kertas dan alat-alat kerja yang digunakan pria itu. Satu persatu ia tempatkan pada posisinya dengan rapi dan berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Ia tidak ingin satu kesalahan kecil membuat apa yang sudah ia rencakan selama ini untuk pernikahannya menjadi gagal. Sebisa mungkin ia akan melakukan apapun dengan baik saat bersama Ilham.


Nadya menarik tangan Ilham dan menuntunnya mengambil posisi duduk dan membuka kotak bekal yang ia bawa tadi.


"Selamat menikmati makan siangnya, pak dokter."


Nadya menyodorkan sendok ketangan Ilham dan tersenyum manis.


"Hem.... Kamu ngak capek tiap akhir pekan bolak-balik Jakarta-Bogor?"


"Enggak, lagian jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau aku di Jakarta dan pak dokter di Sumatera baru itu jauh. Hehehe.."


"Kuliah kamu gimana?"


"Baik dan lagi proses ngajuin berkas buat penelitian. Kalau semuanya lancar tahun depan akan wisuda."


"Kerja lapangan?" Ilham mengerutkan keningnya sambil menguyah makanan dimulutnya saat mendengar Nadya akan melakukan penelitian.


"Kelompok kamu ada berapa orang?" tanya Ilham sangat ingin tahu.


"Kalau tidak ada perubahan kami ada enam orang. Tiga perempuan dan tiga laki-laki."


"Oh ya, berapa lama?"


"Mungkin sekitar tiga bulan."


Uhuk-uhuk...


Ilham tersedak makanan dan batuk-batuk, ia menepuk-nepuk dadanya.


"Minum dulu pak dokter," memberikan botol plastik berisi air mineral.


"Kenyang!"


Ilham melangkah keluar begitu saja meninggalkan Nadya yang sedang merapikan bekas makan Ilham.


Waktu istirahat masih ada sekitar tiga puluh menit lagi, Ilham menyandarkan tubuhnya ditembok bangunan tempat ia bekerja dan memikirkan sesuatu.


"Disini ternyata, aku kira pak dokter menghilang. Hahaha..."


"Kamu senang kalau aku menghilang? Dan satu lagi, kenapa selalu memanggilku pak dokter?"


"Ya enggaklah, lagian warga disini banyak yang butuh pak dokter. Aku lebih senang dengan panggilan pak dokter, jadi ngak masalahkan kalau aku panggil seperti itu?"

__ADS_1


"Kak, Mas dan masih banyak panggilan lain yang bisa kamu pakai tapi ya terserah kamu saja."


"Pak dokter ngambek ya? Tumben! Biasanya yang ngambek itu aku karena sering dicuekin dan sekarang kenapa terbalik?"


"Siapa yang ngambek? Terserah kamu mau panggil apa, suka-sukanya kamu. Ngak ada yang larang. Kalau kamu mau penelitian tiga bulan juga silahkan, aku baik-baik aja, ngak ada masalah, ngak ada yang larang. Terserah kamu mau pergi kemana dan berapa lama," celoteh Ilham panjang lebar. "Satu kelompok dengan tiga laki-laki juga ngak masalah, ngak ada yang keberatan dan marah," lanjut Ilham.


"Pak dokter kenapa?"


Nadya bingung dengan Ilham yang tiba-tiba banyak berceloteh dan banyak bicara.


"Pak dokter ada masalah? Ada pasien yang susah ditangani, ya?"


"Iya, ada!" ucap Ilham namun kakinya melangkah mendekati sebuah ayunan di belakang puskesmas.


"Aku kenal ngak?" tanya Nadya penasaran dan ikut duduk disamping Ilham ditas ayunan besi.


"Lebih baik kamu pulang. Sebentar lagi waktu istirahatku juga habis."


"Hem... Masih sama aja cueknya," dengus Nadya dalam hati.


Nadya memandang punggung Ilham berjalan meninggalkannya. Ia masih berada di atas ayunan untuk beberapa saat berpikir kesalahan apa yang ia perbuat hingga Ilham sepertinya kesal. Merasa tidak ada yang salah Nadya pun berdecak kesal tak mengerti alasan kekesalan Ilham.


"Kamu masih suka aku kan?"


"Hakh!"


Nadya terkejut mendengar suara dari belakangnya. Ia tidak tahu sejak kapan Ilham sudah berada dibelakangnya sedangkan ia melihat sendiri pria itu meninggalkannya.


"Kalau masih mau nikah denganku maka jangan harap bisa dekat dengan pria lain selain aku. Satu lagi, jangan berpikir aku lagi cemburu, aku cuman khawatir kamu berteman dengan anak laki-laki nakal yang akan manfaatin kamu, apalagi kamu cantik."


"Pak dokter barusan bilang aku apa?" tanya Nadya ingin memastikan ucapan Ilham. "Baru sadar kalau aku cantik?"


Perlahan Nadya mendekati Ilham dan tanpa permisi mengalungkan tangannya pada leher Ilham hingga membuatnya sedikit berjinjit karena postur tubuh Ilham lebih tinggi darinya.


Ilham memalingkan wajahnya tak tahan dengan tatapan Nadya.


"Aku ngak mungkin cemburu," ucap Ilham masih memalingkan wajah.


"Ya sudah, berarti kalau gitu aku bebas mau pergi dengan laki-laki lain, lagian kita kan masih belum nikah, iyakan? Mungkin aja yang jadi calon suami aku itu bukan pak dokter tapi orang lain dan mungkin juga dia..."


"Calon suami kamu itu aku!" ucap Ilham memotong perkataan Nadya.


"Hahaha... Jadi pak dokter beneran cemburu? Kalau cemburu bilang aja, ngak usah malu dan ditahan yang ada aku bisa diembat laki-laki lain," goda Nadya.


"Stop! Kalau kamu mau buat aku cemburu maka selamat karena kamu berhasil."


Nadya tersenyum penuh kemenangan berbeda dengan Ilham yang kembali duduk diatas ayunan dengan wajah masam.


"Kamu jangan lirik-lirik cowok lain ya selama penelitian dan jangan mau digodain juga," ucap Ilham mengacungkan kelingkingnya namun masih dengan sikap cueknya.


"Tanpa diminta pun aku ngak akan lirik yang lain lagi karena hatiku sudah ada yang punya dan yang punya itu kamu, pak dokter sayang."


"Oke, deal."


Cup


Usai mengecup pipi sang gadis Ilham kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ilham sadar jika kata cinta masih belum dapat ia ucapkan untuk Nadya saat ini namun apa yang dilakukan gadis itu selama ini sudah cukup menarik perhatiannya.

__ADS_1


Satu-satunya gadis yang begitu berani mendekatinya, gadis pertama yang berani menciumnya dan bertahan dengan sifatnya.


Ilham percaya tidak akan sulit bagi siapa saja untuk menyukai Nadya termasuk dirinya sendiri.


****


Tok-tok-tok...


"Buka pintunya dong, sayang. Kamu ngak kasihan sama aku? Kamu jangan seperti ini lagi ngunciin pintu."


Sudah sekitar tiga puluh menit Leon berdiri di depan pintu kamar sambil terus mengetuk-ngetuk pintu yang dikunci Jesselyn dari dalam namun pintu belum juga dibuka.


"Ini aku bawa buah buat kamu dan anak kita, kamu makan dulu ya biar kalian berdua kuat dan sehat," ucap Leon dengan mata yang tertuju pada nampan berisi sepiring potongan buah apel dan dua buah jeruk.


Jesselyn yang sedang menonton drama Korea langsung mengalihkan wajahnya kepintu dan tersenyum. Ia menjeda tontonannya dan bergerak kearah pintu. Tanpa berkata apa-apa Jesselyn mengulurkan tangannya meminta buah yang tadi dikatakan Leon dan mengunci kembali pintu dari dalam.


Kembali Jesselyn melanjutkan tontonannya ditemani sepiring buah yang begitu menggiurkan.


"Pintunya kenapa dikunci lagi sayang, aku juga mau masuk. Ayo dong Jesselyn sayang, buka pintunya."


Tanpa merasa bersalah Jesselyn meraih gawai disampingnya, mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya langsung. Jesselyn senyum-senyum menyaksikan drama yang ia tonton dan tidak menghiraukan sama sekali Leon yang ada diluar kamar.


Ting


Leon membuka ponselnya mendengar suara pesan masuk.


Kak Leon tidur dikamar sebelah aja, kamar aku dulu.


"Lagi?" ucap Leon dengan wajah ditekuk.


Leon masuk ke kamar sebelah tempat dulu digunakan Jesselyn sebelum mereka menikah. Malam ini adalah untuk ketiga kalinya Jesselyn mengunci pintu kamar dan tidak memperbolehkan Leon masuk dan tidur disana.


Entah mengapa belakangan ini mungkin karena sedang dalam keadaan mengandung, kelakuan Jesselyn sering membuat Leon geleng-geleng kepala. Terkadang Jesselyn menjadi sangat cengeng dan tidak mau ditinggal lama-lama namun terkadang seperti malam ini lagi, Jesselyn tidak ingin dekat-dekat dengan Leon dan melihatnya pun tak ingin.


"Hmmm... Tidur sendiri lagi," dengus Leon menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Ting


Sebuah pesan kembali diterima Leon.


Mau dua jeruk lagi


Bukannya marah atau protes Leon malah berlari kebawah mengambil jeruk sambil tersenyum.


Tok-tok-tok....


Seperti tadi, Jesselyn mengulurkan tangannya meminta pesanannya namun kali ini ia harus mengeluarkan kepalanya karena jeruk yang ia terima masih utuh tidak seperti tadi yang sudah dikupas dan dibersihkan serabut yang menempel.


Jesselyn bergantian melotot pada jeruk yang ia pegang dan Leon yang tersenyum dihadapnnya.


"Aku kupas dan bersihin tapi di dalam, oke?"


Leon mengambil kembali jeruk dari tangan Jesselyn dan memaksa tubuhnya masuk melalui celah yang sempit tanpa persetujuan Jesselyn. Leon duduk ditengah ranjang namun langsung meringsut kebawah mendapat tatapan horor dari sang nyonya kamar.


Leon mulai mengupas dan membersihkan serat-serat yang menempel pada jeruk, satu persatu ia berikan untuk dimakan Jesselyn.


Jesselyn melotot setiap kali ia masih menemukan serat pada jeruk yang diberikan Leon. Dengan cepat suaminya itu akan mengambil dari tangannya dan membersihkannya lagi.


"Sabar... Masih dalam perut tapi sudah ngerjain papanya," batin Leon melirik perut Jesselyn yang sudah mulai membuncit.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Jesselyn penuh selidik.


"Ngak kok sayang, ini makan lagi jeruknya biar kamu dan anak kita sehat."


__ADS_2