
...🎶..........….…........…....🎶..........................🎶...
...Hari telah terganti...
...Tak bisa ku hindari...
...Tibalah saat ini bertemu dengannya...
...Jantungku berdegup cepat...
...Kaki bergetar hebat...
...Akankah aku ulangi merusak harinya...
...Mohon Tuhan...
...Untuk kali ini saja...
...Beri aku kekuatan...
...'Tuk menatap matanya...
...Mohon Tuhan...
...Untuk kali ini saja...
...Lancarkanlah hariku...
...Hariku bersamanya...
...Hariku bersamanya...
...Kau tahu betapa aku...
...Lemah dihadapannya...
...Kau tahu berapa lama...
...Aku mendambakannya...
...Tuhan tolonglah (beri kesempatan)...
...Tuhan tolonglah (beri kesempatan)...
...Hariku bersamanya...
...Hari bersamanya...
...Hari bersamanya...
...🎶..........….…........…....🎶..........................🎶...
Trik-tik-tik-tik-tik-tik.......
Suara hujan membasahi dua sejoli yang saat ini bergelut dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing.
Gadis itu semakin menggenggam erat payung ditangannya. Melihat pria yang sedang berlari kearahnya membuatnya merasakan sesuatu yang begitu sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.
"Hiks-hiks-hiks... Dasar gila!" ucap Jesselyn pelan disela-sela menangis. Dengan cepat ia menghapus air mata dan menghentikan tangisnya. Tak ingin pria yang baru saja berdiri dihadapannya mendengar isakan dan melihat air matanya.
Entah mengapa melihat keadaan Leon malam ini begitu menyakitkan baginya.
Hah-hah-hah-hah.......
Nafas Leon tersengal-sengal. Ia mencoba menenangkan diri dan mengatur nafasnya namun sia-sia. Keberadaan gadis yang saat ini berada dihadapannya yang hanya berjarak satu meter darinya justru semakin membuat jantungnya bergemuruh.
"Kak Leon mau mati, hah?" bentak Jesselyn begitu berani. Dia sudah tidak peduli pria itu akan memarahinya, yang jelas dia harus membawa pulang pria itu. "Sadar ngak kalau lagi hujan?" lanjut Jesselyn membentak.
__ADS_1
"Aku......"
"Ayo. Kita pulang sekarang!" ucap Jesselyn memotong perkataan Leon seraya berbalik membelakangi Leon. Ia berjalan bermaksud pulang.
Tak sedikit pun Leon bergerak. Ditatapnya lekat punggung gadis yang berjalan sedikit tertatih itu.
PUK
Jesselyn melempar sendal jepitnya yang putus tepat kedada Leon. Dengan refleks Leon menangkap benda itu.
"Pulang ngak?" suara teriakan Jesselyn bergetar dan kesal melihat Leon masih di posisinya. "Terserah mau pulang atau ngak, aku ngak peduli!" Jesselyn kembali membalikkan badannya dan mengusap matanya.
"Dia mau pulang apa enggak bukan urusan aku. Mau dia sakit, mau dia di sambar petir sekalianpun bukan urusan aku, terserah dia aja mau apa," gerutu Jesselyn pelan.
Trik-tik-tik-tik-tik-tik.......
"Aku suka kamu!" ucap Leon yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Leon mengusap wajah dan menutup kedua matanya menengadah keatas.
Leon merasakan dadanya begitu sesak.
Leon memijit pelipisnya lalu mengepalkan kedua tangannya.
"A-aku suka," teriak Leon sedikit terbata.
"Ya sudah, kalau suka main hujan main aja sampai hujannya berhenti, " gerutu Jesselyn masih membelakangi Leon.
"Aku suka sama kamu!" teriak Leon.
Akhirnya, dengan sekuat tenaga Leon berteriak mengatakan apa yang begitu sulit dan ingin ia katakan selama ini kepada gadisnya.
Seketika dadanya begitu plong, namun disisi lain ia merasa begitu gugup.
"Aku suka sama kamu!" ucap Leon kembali. Perlahan Leon mulai berjalan mendekat pada Jesselyn.
Jesselyn membelalakkan matanya. Seperti mendengar suara dentuman petir, Jesselyn mengernyitkan kedua bahunya tak percaya mendengar apa yang baru saja diucapkan Leon. Jesselyn mencoba mencerna setiap kata dari kalimat Leon.
"Aku suka dan sayang sama kamu!" Leon berkata tepat di belakang Jesselyn.
Dengan pelan Leon memutar tubuh Jesselyn agar mengghadapnya.
Tubuh Jesselyn begitu tegang saat Leon meletakkan kedua tangannya di atas bahunya namun sekuat tenaga ia menyembunyikannya.
"Apa aku terlambat mengatakannya?" tanya Leon. Ia kembali mengusap kedua matanya.
"Kenapa kakak nangis?" lirih Jesselyn.
Meskipun air hujan tak berhenti membasahi namun Jesselyn dapat melihat air mata pria dihadapannya itu keluar dari pelupuk matanya.
Leon menggelengkan kepalanya berbohong.
Jesselyn mengangkat sebelah tangannya dan mengusap lembut mata Leon.
"Aku sayang sama kamu," ucap Leon menggenggam tangan Jesselyn yang ia gunakan mengusap matanya.
Leon menatap mata Jesselyn penuh arti. Kini mata keduanya saling beradu.
Leon mengangkat sebelah tangannya lagi. Ia meraih payung ditangan Jesselyn dan melemparkannya kesembarang arah dan mengusap lembut pipi Jesselyn.
"A-aku..." Jesselyn tidak melanjutkan ucapannya.
Nghhhh....
"K-kak," Jesselyn tekejut karena tiba-tiba sudah berada dipelukan Leon. Semakin Jesselyn berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Leon, semakin pria itu membawanya lebih dalam lagi kepelukannya. Leon melepaskan semua yang dirasakan selama ini. Dipeluknya erat Jesselyn, tidak ada spasi diantara keduanya.
Leon semakin membawa Jesselyn kedalam pelukannya. Jesselyn yang tak bisa berbuat apa-apa lagi hanya pasrah atas perlakuan Leon.
Dug-dug-dug....
__ADS_1
Jesselyn dapat merasakan jantung Leon berdetak begitu kencang.
Leon sedikit melonggarkan pelukannya tanpa melepas Jesselyn. Leon semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jesselyn. Nafas Leon memburu dan semakin memburu.
Cup
Leon mendaratkan bibirnya di bibir Jesselyn. Dengan lembut Leon mulai mencium gadisnya. Jesselyn menegang mendapat serangan tiba-tiba dari Leon. Ini bukan kali pertama Leon menciumnya, namun ciuman kali ini begitu berbeda, lembut dan lebih menuntut dirasakan oleh Jesselyn.
Tangan kirinya menangkup dagu gadisnya dan yang sebelah kanan menarik pinggang gadis itu.
Leon mencium dan memagut bibir Jesselyn. Dilahapnya habis bibir atas dan bawah Jesselyn. Suara decapan bibir Leon bersahutan dengan air hujan yang semakin mereda.
Jesselyn berontak saat Leon akan memperdalam ciumannya. Jesselyn mendorong kuat tubuh Leon karena sudah hampir tidak dapat bernafas. Seakan mengerti, Leon akhirnya melepas ciumannya. Memberi mereka berdua waktu untuk menarik oksigen. Nafas keduanya tersengal-sengal, bahkan mata Leon sudah begitu sayu menatap Jesselyn.
Baru beberapa detik melepas ciumannya, Leon sudah kembali akan menyatukan bibir mereka.
"Ayo pulang kak," ajak Jesselyn tiba-tiba dan membuyarkan suasana intens diantara mereka.
"Tapi aku belum selesai," ucap Leon parau.
"Kak? Ayo pulang," ajak Jesselyn lagi saat Leon akan kembali menciumnya.
Leon menjatuhkan kepalanya dicuruk leher Jesselyn. Dia tidak habis pikir dengan gadis tersebut. Bagaimana bisa gadis itu menahan dan menghentikan ciumannya dalam situasi seperti itu. Dia yakin bahwa Jesselyn juga begitu berhasrat meskipun sama sekali tidak ada balasan dari ciuman yang diberikan Leon padanya.
"A-a-a..!" ringis Jesselyn karena tiba-tiba Leon menggigit kecil lehernya.
Spontan Jesselyn menendang kuat kaki Leon hingga membuatnya memekik kesakitan.
"Aw...!" Leon melompat-lompat mengangkat kakinya yang sakit akibat tendangan Jesselyn.
"Sakit! Kamu kenapa sih, mau patahin kaki aku?" ucap Leon kesal.
"Kak Leon yang kenapa? Kak Leon sudah seperti drakula," balas Jesselyn tanpa rasa takut.
"Itu kamu yang salah. Aku kan sudah bilang tadi kalau aku belum selesai tapi kamu ngak...."
"Ngak apa?" potong Jesselyn.
"I-itu," jawab Leon tersenyum, menunjuk bibirnya dengan telunjuk namun matanya mengarah pada bibir Jesselyn.
"Pulang." Jesselyn membelakangi Leon karena merasa malu. Wajahnya serasa membengkak seketika.
"Sebentar" ucap Leon dan berlari memungut kaosnya yang ia letakkan dibawah tiang keranjang basket.
Leon berlari kembali dan berjongkok membelakangi Jesselyn.
"Naik" ucap Leon pada Jesselyn. "Jangan nolak, kaki kamu sakitkan?"
"Karena kak Leon!" ucap Jesselyn kesal.
Jesselyn tidak menolak, ia naik keatas punggung Leon dan mengalungkan kedua tangannya dileher Leon.
Ternyata ngak gampang ya buat mengungkapkan perasaan itu.
Terimakasih masih setia menanti kelanjutan cerita Jesselyn dan Leon. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi para pembaca. Part selanjutnya masih menceritakan ke uwuan keduanyaðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Support penulisnya ya biar semangat ngelanjutin cerita ini
like
coment
vote
fave
gift
__ADS_1
Terserah mau yang mana boleh saja. Semuanya juga boleh😂😂😂
Terimakasih......