
Hoam...
Leon menggaruk kepalanya sembari menguap lebar.
"Tunggu aku dibawah," perintah Leon menempelkan telunjuknya dikening Jesselyn turun hingga kehidungnya.
Sekitar dua puluh menit orang yang ditunggu akhirnya muncul juga. Leon sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya.
Blusss...
Jesselyn merona saat Leon berjalan kearahnya sembari mengedipkan sebelah mata padanya. Jesselyn tidak dapat menahan senyum diwajahnya hingga membuatnya menunduk malu.
"Apa kamu baru sadar kalau aku ganteng dan manis?" ucap Leon memuji dirinya. Jesselyn hanya terdiam namun wajahnya yang tersipu malu tak dapat ia tutupi.
Jesselyn mengikuti langkah kaki Leon menuju garasi sambil memegangi kedua pipinya.
Leon menghentikan motornya di depan salah satu tempat penarikan uang tunai. Awalnya Jesselyn menunggu Leon di dekat motor diparkirkan namun kaki gadis itu melangkah cepat saat melihat ada sekitar tiga wanita berpenampilan menarik dengan tubuh sintal mengantri di depan dan belakang Leon.
Ketiganya terlihat begitu mengagumi Leon yang menurut mereka begitu mempesona.
Ya, Jesselyn mendengar percakapan dua orang yang dibelakang Leon memuji pemuda itu tanpa henti.
Berbeda dari para wanita itu Leon hanya cuek tidak menanggapi mereka. Ia bahkan merasa risih karena selalu mengajaknya berbicara.
Buru-buru Jesselyn menghampiri Leon dan berdiri disampinya. Menampilkan wajah tak suka kepada para wanita itu.
"Kak Leon" Jesselyn menautkan lengannya pada lengan Leon bahkan nada bicaranya berubah karena terdengar sedikit lebih manja.
Leon menyipitkan matanya merasa aneh pada perubahan yang tiba-tiba ditunjukkan Jesselyn. Belum lagi jarak diantara mereka yang tanpa spasi.
"Adeknya ya, mas?" tanya salah seorang dari wanita itu. "Adeknya juga manis dan imut sama seperti, mas."
Mendengar perkataan wanita itu membuat Leon merasa geli dan tertawa kecil, padahal tanpa ia sadari gadis disampingnya telah mengerucutkan bibirnya.
Jesselyn melepas tangannya dari lengan Leon namun dengan sigap pemuda itu menariknya dan mengalungkan tangannya dileher Jesselyn.
"Iya mba, dia adek saya. Adek ketemu gede," jawab Leon namun wajahnya menyeringai pada Jesselyn.
Para wanita itu melongo saat Leon membelai lembut rambut gadis yang mereka kira adalah adik pria yang membuat mereka terpesona.
Jesselyn membulatkan matanya melihat jumlah saldo dalam rekening Leon saat menarik sejumlah uang. Ia menelan salivanya menghitung jumlah digit pada layar dihadapannya. Ada sepuluh digit sebelum tanda koma dan dia tidak salah hitung.
"Satu ATM aja ada segitu belum ditambah ATM yang satu lagi," gumam Jesselyn justru membuatnya sakit kepala karena membandingkan isi tabungannya yang hanya enam digit.
Leon menghitung dua puluh lembar uang seratus ribu dan tanpa permisi mengambil dompet dari dalam tas sang gadis dan memasukkan uang tersebut kedalamnya.
"Ayo" ajak Leon yang akan terlebih dahulu mengantarnya ke kampus sebelum pergi ke ketempat kerjanya.
Suasana kampus masih cukup sepi karena mereka datang lebih awal.
"Uang yang tadi kebanyakan kak, Jesselyn cuman butuh setengahnya saja."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu simpan buat keperluan yang lain."
"Iya kak, makasih."
Jesselyn menggaruk lehernya karena Leon mengikutinya hingga kedalam ruangannya.
Kosong dan sepi itulah keadaan dalam ruangan itu karena belum ada satu mahasiswa pun yang datang.
Jesselyn langsung duduk dikursinya dan mengeluarkan bindernya dengan maksud agar mengalihkan pandangannya dari Leon yang tak berhenti memaandanginya juga.
Ekhem...
Leon mendekati Jesselyn dan berdiri tepat dihadapannya sedangkan Jesselyn berpura-pura tidak menghiraukan keberadaan Leon.
Tangan Jesselyn gemetaran saat menulis sesuatu dalam kertas bindernya karena wajah Leon semakin lama semakin mendekat padanya.
"Woiii...!
Seseorang berteriak saat Leon akan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum di depannya.
"Wah, gila lo bro! Pada mau ngapain lo berdua pagi-pagi disini? Mau lo apain doi, ha?" cecar Adit bertubi-tubi. "Lihat tempat dong, Yon. Ini kampus tempat menimba ilmu, tau ngak lo?"
Leon mengangkat kepalanya dengan wajah yang begitu masam.
Bug
Satu bogeman mendarat di perut Adit.
"Ough..sakit Yon. Lo mau bunuh gue, ya?"
Kesempatan itu digunakan Adit untuk mendapat perhatian Sinta yang ada disampingnya.
Hampir setiap pagi jika tidak ada kendala Adit akan mengantar kekasihnya ke kampus.
"Ough...sakit sayang," ringis Adit megang perutnya.
Khawatir Sinta langsung menarik kursi agar Adit duduk.
"Disini" tunjuk Leon pada bagian yang sakit akibat bogeman Leon.
Leon menarik tangan Sinta, seolah mengerti apa maunya Adit gadis itu mengusap-usap perut Leon.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Sinta.
Cup
Kini Adit mencium tangan kekasihnya itu.
"Hehehe...kalian pasti ngiri lihat kita berdua, iyakan?" ejek Adit menaik turunkan alisnya pada Leon.
__ADS_1
Brakk..
Kesal, Leon menendang kursi tempat Adit duduk hingga bergeser.
"Hahaha... Iri mereka sayang," lanjut Adit semakin membuat Leon merasa kesal.
"Kak Adit bisa diam ngak?" teriak Jesselyn tak tahan melihat Adit membuat Leon kesal.
"Teman kamu galak sayang, dia teriakin aku," manja Adit pada Sinta.
"Kenapa? Ngak terima pacar kamu aku teriakin?" sahut Jesselyn membela diri. "Dia deluan yang buat kak Leon marah."
Jesselyn memandangi Adit dan Sinta dengan wajah geramnya.
"Tapi emang benar kan kalian iri dengan kami?" goda Sinta mengulas senyum.
"Siapa yang iri dan buat apa?" kini gantian Jesselyn yang begitu menggebu-gebu
Hahaha...
Adit dan Sinta tertawa terbahak melihat raut wajah Jesselyn sedangkan Leon tersenyum puas karena pembelaan Jesselyn akan dirinya.
Setelah adu mulut yang panjang tanpa penyelesaian Leon dan Adit memutuskan untuk pergi ketempat kerja.
"Percaya sama gue bro, dia suka dan sayang sama lo. Cuman dia ngak spontan nunjukinnya, bro."
Adit menepuk pundak Leon dan masuk ke dalam ruangan kerja mereka sedangkan dikampus dua gadis sedang tertawa mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.
"Hahaha... Tapi pacar kamu, kak Adit aneh orangnya."
"Banget Jes. Aku aja kadang bingung karena ada aja kelakuannya tapi jujur aku suka sama kak Adit."
"Aku juga ngak nyangka kalau kalian bisa sampai jadian," ucap Jesselyn menyikut lengan Sinta.
"Tapi lebih ngak nyangka lagi kalau kamu sama kak Leon bisa sampai tunangan. Hahaha..."
"Pasti kamu tahu dari kak Adit, ya?"
"Hahaha...iya, Jes. Tapi aku serius dukung kamu sama kak Leon. Dia sayang banget sama kamu."
"Tau dari mana?" Jesselyn mencebikkan bibirnya tak percaya ucapan Sinta. "Kalau dia sayang ngak mungkin dia jalan berduaan dengan kak Bela."
"Emang dia siapa?" tanya Sinta penasaran.
"Setahu aku kak Bela itu mantannya kak Leon."
"Jadi ceritanya kamu lagi cemburu nih?"
"Eng-gak..siapa yang cemburu," kilah Jesselyn.
Belakangan ini Leon beberapa kali mendapat telepon dari Bela dan juga menemuinya. Jesselyn tahu karena setiap ada kesempatan ia selalu membuntutinya.
__ADS_1
Apalagi setiap bertemu mereka berdua kelihatan begitu serius membahas sesuatu yang membuat rasa penasaran Jesselyn bergejolak.
Seperti biasa Jesselyn hanya akan diam dan menyimpan semuanya termasuk rasa penasarannya.