
Di dalam sebuah kamar terlihat seseorang tengah berkutat dengan sebuah laptop dan kertas-kertas disekelilingnya.
Selain jari-jarinya yang sibuk mengetik, matanya juga tak berhenti melirik jam yang ada di sudut sebelah kanan bawah yang ada pada laptop.
Sudah pukul empat sore namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.
Sesekali ia berjalan ke balkon untuk melihat kedatangan seseorang.
Ya, Leon sedang menunggu Jesselyn pulang. Rambut acak-acakannya semakin menambah kusut wajahnya.
Leon meraih ponselnya, membuka kontak yang ada didalamnya. Setelah menemukan kontak yang ia cari, jempolnya langsung menekan tanda memanggil. Baru saja ia menekannya, tapi secepat kilat langsung memutuskan panggilan yang belum tersambung itu.
"Argggghhhh" melemparkan ponselnya keatas kasur.
Mengusap kasar leher bagian belakangnya. Wajahnya sudah terlihat seperti orang yang sedang frustasi.
Brak...
"Argggghhhh" lagi-lagi leon mengerang, namun kali ini karena kakinya kesakitan akibat menendang kaki tempat tidurnya.
Tak lama kemudian seorang gadis baru saja masuk ke dalam rumah dan memberi salam pada nyonya rumah tersebut.
"Sore, tante. Maaf Jesselyn agak lama pulangnya."
"Iya ngak papa sayang, tadi kan kamu sudah kabarin tante dan itu yang paling penting," kata Lena yang sedang mengaduk sekangkir coklat panas. Ia berjalan kearah Jesselyn dan menyerahkan secangkir coklat panas itu padanya.
"Kamu antar sama kakak kamu diatas ya, dia lagi ngerjain skripsinya. Dia pasti capek banget."
"Em..." Jesselyn ragu namun ia tidak mungkin menolak permintaan tantenya. "Iya tante" mengambil coklat panas dari tangan Lena.
Saat Jesselyn berjalan menuju kamar Leon, langkahnya terhenti mendengar permintaan tantenya lagi.
"Jes, kamu kasih dia semangat ya? Biar dia semangat ngerjain skripsinya," ucap Lena tersenyum.
Jesselyn hanya tersenyum tanpa berkata apa pun mendengarnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar sipemilik coklat panas.
Tok...Tok...Tok...
"Kak, aku boleh masuk ngak? Tante minta aku bawain coklat panas buat kakak." Jesselyn mengetuk pintu kamar Leon.
Baru saja Jesselyn selesai bicara pintu kamarnya sudah terbuka.
__ADS_1
"Masuk!" ucap Leon yang berdiri tepat dihadapannya.
"Ini kak," menyodorkan apa yang ia bawa pada Leon.
"Masuk!" ucap Leon lagi sambil berjalan menuju meja belajarnya.
Jesselyn mengerutkan keningnya melihat Leon yang jalannya tertatih-tatih.
Mau tidak mau ia masuk kedalam kamar Leon.
"Aku letak disini ya kak," meletakkan cangkir yang ia bawa diatas meja belajarnya Leon. Matanya tertuju pada mata kaki Leon yang terluka dan ada sedikit darah.
Kakinya ingin melangkah keluar secepatnya namun berbeda dengan mulutnya yang dengan lancar mengajukan sebuah pertanyaan.
"Itu kakinya kenapa luka kak?" menunjuk kaki Leon.
Leon melihat kearah luka dikakinya, setelah itu pandangannya mengarah pada Jesselyn seolah ingin mengatakan sesuatu.
Ia menghela nafasnya kasar, dan kembali fokus pada layar laptopnya.
Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu, tapi Jesselyn sudah tidak ada dikamarnya.
"Heeemmmm"
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Empat menit
Dan lima menit kemudian,
"Kamu mau apa?" tanya Leon karena tiba-tiba kakinya disentuh seseorang yang tak lain adalah Jesselyn.
"Biar aku obatin lukanya kak, kalau enggak nanti bisa bengkak kak."
"Aku bisa sendiri, ngak usah sok perhatian. Lagian ini juga luka kecil," menarik kakinya dari tangan Jesselyn. Sayangnya Jesselyn sudah menahannya dengan kuat.
"Aw..." pekik Leon kesakitan.
__ADS_1
"Sebentar aja kak," menatap Leon yang meringis kesakitan.
Seolah tersihir, Leon tidak lagi menolak. Ia membiarkan Jesselyn mengompres kakinya yang mulai bengkak.
Leon menggigit giginya diiringi ringisan kecil saat Jesselyn menekan kakinya saat dikompres.
"Maaf kak, sakit ya?"
Leon menggelengkan kepalanya namun ringisannya seolah mematahkan gelengan kepalanya.
"Hemm, makanya lain kali hati-hati kalau jalan. Kalau sudah seperti ini kan kakak sendiri ngerasain sakitnya. Sendiri dikamar tapi bisa luka," celoteh Jesselyn yang kini megoleskan obat merah pada luka di mata kaki Leon.
Tidak seperti biasnya, Leon hanya diam mendengar setiap perkataan yang diucapkan Jesselyn. Ia justru meras senang akan apa yang di dengarkannya.
Leon tak melepaskan pandangannya pada gadis tersebut.
Setelah menempelkan plester pada bagian yang tergores, Jesselyn membereskan kotak P3K dan barang-barang yang ia gunakan untuk mengompres.
"Beres!" ucap Jesselyn pada Leon.
Sontak membuat Leon sadar dari lamunannya.
Leon memperhatikan kakinya yang baru saja diobati. Ia tersenyum tipis dan melihat pada Jesselyn yang sudah berdiri dihadapannya.
"Kalau gitu aku keluar ya kak, jalannya pelan-pelan aja dan jangan sampai terluka lagi."
Tanpa menunggu lama, Jesselyn membawa semua perlengkapan yang ia bawa dan meninggalkan kamar Leon.
Setelah menutup pintu ia mengingat sesuatu yang belum ia ucapkan pada Leon. Kalimat yang ia sudah siapkan saat mengambil kotak P3K tadi.
Ceklek
Leon melihat Jesselyn membuka pintu kamarnya kembali.
"Kak, emm....itu, emm..." gugup bercampur ragu untuk melanjutkan perkataannya.
Leon yang tidak mengerti hanya mengangkat kedua alisnya.
"Em, i...itu kak, em..se..semangat buat nyusun skripsinya kak. Aku pergi kak," dengan langkah cepat Jesselyn berlalu meninggalkan pintu kamar Leon yang masih dalam keadaan terbuka.
Leon hanya diam mendengar perkataan Jesselyn. Ia kembali menatap layar laptopnya. Ia menutup kedua matanya, menundukkan kepalanya. Semenit kemudian ia mengangkat kepalanya dengan senyum sumringah diwajahnya.
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊
"Perasaan seharian ini mood gue jelek banget, kenapa tiba-tiba jadi terasa tenang ya? mungkin karena coklat panas ini kali ya?" ucap Leon yang kemudia menyeruput coklat yang sudah tidak begitu panas lagi sambil tersenyum.