
Beberapa bulan sejak kejadian tidur berdua, hubungan Jesselyn dan Leon yang tadinya tidak dekat malah semakin bertambah jauh.
Jesselyn selalu menjaga jarak. Jika tidak diantar Bagas, ia akan pergi ke kampus menggunakan angkutan umum. Jesselyn selalu menolak saat Bagas menyuruh Leon mengantarnya ke kampus. Untuk pulangnya, ia tetap menggunakan angkutan umum dan sesekali diantar oleh Leo.
Leo selalu mencari cara agar bisa dekat dengan Jesselyn, termasuk dengan menemuinya saat dikampus.
Sudah sejak SMA Leo menaruh hati pada Jesselyn, namun tidak pernah dia ungkapkan karena status mereka yang masih pelajar saat itu. Hingga mereka bertemu kembali dibangku kuliah. Leo sangat senang dan berusaha mendapatkan hatinya. Dia tidak ingin terburu-buru menyatakan perasaanya karena takut justru membuat Jesselyn menjauhinya.
"Lama banget sih Nad, sudah jam tujuh loh, nanti kita telat?"
"Iya ma, sudah kok. Gimana, cantik ngak ma?" berdiri dengan menggandeng Jesselyn.
"Wah... gadis-gadis mama ternyata cantik-cantik ya?" berdecak kagum melihat mereka berdua menggunakan dress dengan model yang sama. Dress selutut dengan lengan pendek. Nadya menggunakan warna merah, sedangkan Jesselyn menggunakan warna biru.
Tampak sempurna dengan sepatu high heels, tas tangan kecil dan make up natural ala Nadya.
"Nadya anak mama yang cantik," puji mamanya. "Jesselyn yang manis!" gantian memuji Jesselyn."
Nadya dan Jesselyn tampak sumringah mendapat pujian akan penampilan mereka.
"Ayo, cantik-cantinya mama, kita berangkat. Nanti papa dan Leon ngomel lagi karena kita kelamaan."
Bagas dan Leon sudah berada dimobil menunggu mereka cukup lama. Baru setelah tiga puluh menit ketiga wanita itu muncul. Leon keluar dari kursi kemudi dan membukakan pintu untuk mamanya.
Sekilas ia melirik penampilan Jesselyn
"Cantik" kata Leon dalam hatinya.
"Terimakasih anak mama yang ganteng?" kata Lena saat memasuki mobil dan duduk disamping suaminya.
"Kamu aja deh yang duduk di depan, aku disamping mama aja, oke?" Nadya menyerobot masuk saat Jessely akan mengangkat kakinya, langsung duduk disamping mamanya dan menutup pintu mobil.
"Tapi kak, aku..."
"Cepetan naik, nanti kita telat," memotong kalimat Jesselyn.
"I..iya kak"
Leon langsung membuka pintu mobil depan untuk Jesselyn. Hal itu membuat mereka terkejut karena tidak biasanya Leon melakukan itu pada Jesselyn.
"Ma...makasih kak?"
"Ayo jalan!" perintah Bagas ketika Leon sudah duduk dikursi kemudi.
Saat lampu merah, Leon memalingkan sedikit wajahnya melihat penampilan gadis yang duduk disebelahnya, dari atas sampai kaki.
"Apa dia harus berpenampilan secantik ini untuk undangan malam ini?
Dia mau keundangan atau kencan sih?" menggerutu dalam hatinya.
Glek....
Leon menelan ludahnya saat matanya beralih ke bibir merah muda milik Jesselyn. Lip glos pink yang Jesselyn gunakan menambah kesan manis pada dirinya.
"Ngak ada baju lain lagi apa, harus banget pakai dress itu? Mau jualan paha diacara orang?" lagi-lagi Leon menggerutu dalam hatinya melihat dress yang digunakan Jesselyn yang saat duduk memperlihatkan bagian kaki sampai diatas lutut sedikit.
"Jalan" sontak Leon sadar ketika mamanya menyuruhnya melanjutkan perjalanan sesudah lampu hijau.
Leon tidak menyadari jika mamanya terus memperhatikannya saat lampu merah tadi.
"Dasar! Cantikkan?" kata Lena dalam hatinya yang terus mengawasi anak laki-lakinya itu.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba ditempat undangan rekan bisnis Bagas yang merayakan anniversary pernikahannya.
Bagas dan keluarganya disambut dengan hangat. Tak lupa Bagas memperkenalkan kedua anaknya dan juga Jesselyn kepada setiap rekan bisnis dan tamu yang mereka jumpai.
"Ma, kami cari makan ya, belum makan dari rumah soalnya," bisik Nadya ketelinga mamanya dan mendapat anggukan kepala.
Langsung saja keduanya berburu hidangan yang ada di pesta itu.
Karena lapar, mereka tidak banyak bicara, mereka saling tersenyum sambil mengunyah makanan mereka.
"Pelan-pelan nanti bisa keselek loh," suara seseorang memperingatkan.
"Le... Leo?" dengan mulut setengah terbuka dan berisi makanan.
"Kamu juga ikut?"
"Iya, tadi mama yang ngajakin. Papa ngak bisa, ada urusan penting yang harus diselesaikan malam ini," jelas Leon sambil memasukkan sepotong kue kemulutnya.
"Oh..."
__ADS_1
Melihat kedatangan Leo, Nadya meninggalkan mereka berdua dengan alasan ke kamar kecil.
"Aku ke kamar kecil dulu ya, kebelet nih?"
"Jangan lama-lama ya kak, aku tunggu disini."
"Iya, lagian ada Leo juga."
Leo tersenyum mendengar ucapan Nadya.
"Lama juga ngak masalah kak," kata Leo yang membuat Nadya tersenyum balik.
Entah apa yang mereka bahas sehingga terlihat senyuman dan sesekali tawa dari mereka berdua.
"Kamu cantik banget malam ini," kata Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis didepannya.
"Ih...apaan sih, Le?" tersenyum melayangkan pandangannya jauh dari Leo karena tersipu malu.
"Beneran, kalau ngak percaya kamu bisa dengerin suara hati aku," meraih dan meletakkan tangan Jesselyn diatas dadanya.
"Jangan gitu dong, Le!" memukul pelan dada Leo. "Lagian yang dengar kan bukan tangan, tapi telinga?"
"Ya udah, kalau gitu sini dekatin telinga kamu di dada aku," menepuk-nepuk dadanya pelan.
Wajah Jesselyn semakin memerah, perasaanya tak karuan mendengar perkataan Leo yang lagi-lagi membuatnya tersipu.
Leo mengangkat tangannya meraih kepala Jesselyn untuk mendekatkan telinganya ke dada miliknya.
"Lo mau ngapain?" menangkis tangan Leo. "Kamu juga?" mengalihkan pandangannya pada Jesselyn.
Sedari tadi Leon telah memperhatikan mereka berdua.
Jesselyn terkejut melihat kedatangan Leon yang tiba-tiba muncul.
"Ikut aku," menarik kasar tangan Jesselyn.
"Jangan kasar kak sama perempuan," kata Leo baik-baik.
"Jesselyn itu bukannya adik kakak? Kalau dilihat orang lain, mereka bisa salah persepsi loh?" mendekati Jesselyn dan melepas tangannya dari pegangan Leon.
"Maksud lo apaan?" dengan nada ketus dan kembali menarik tangan Jesselyn.
"Sebagai kakak harusnya menjaga dan melindungi adiknya, bukan malah suka marah-marah dan kasar begini?" melepaskan kembali tangan Jesselyn dari genggaman tangan Leon.
"Satu lagi, gue bukan kakaknya dia dan dia bukan adik gue. Paham?" menunjuk Leo dengan telunjukknya.
Mendengar itu Jesselyn langsung menundukkan kepalanya merasa lemas.
Ia hanya mengikuti langkah Leon yang begitu cepat membawanya pergi dari area pesta.
Tidak ingin menarik perhatian orang lain, akhirnya Leo membiarkan Jesselyn dibawa oleh Leon.
"Masuk!" perintah Leon mengintimidasi setelah membuka pintu mobil.
Ia kemudia mengitari mobil tersebut dan menutup pintu setelah duduk dikursi kemudi.
"Kita mau kemana kak?" takut karena Leon membawa mobil dengan ngebut.
"Hati-hati kak, jangan ngebut. Aku takut kak," Jesselyn ketakutan dan tangannya gemetaran memegangi seat-belt.
Chitttt....
Tiba-tiba mengerem dan menepikan mobil dipinggir jalan yang sepi.
Menatap Jesselyn yang menunduk ketakutan.
"Ck, jadi kamu dandan cantik buat ditunjukin ke dia?"
"Eng..enggak kak," jawab Jesselyn terbata-bata.
"Apanya yang enggak?" suara teriakan Leon memenuhi mobil.
"Ta..tadi..."
"Apanya yang tadi? Mau bilang kalau tadi mau dielus-elus kepalanya? Atau cuman mau meluk dia, ha?"
Jesselyn memicingkan matanya karena suara keras Leon. Walaupun Leon sering cuek, ketus dan meninggikan suaranya, tapi ini pertama kalinya ia mendengar suara teriakan Leon yang ia yakini setelah ini suaranya akan serak.
"Tadi aku hanya didandani kak Nadya seperti ini," kata Jesselyn dalam hatinya.
"Kenapa diam saja, jawab?" mengangkat dagu Jesselyn agar melihatnya yang sedang bicara.
__ADS_1
"Aku ngak tahu salah aku dimana, tapi aku minta maaf kalau aku sudah buat salah kak." Menitikkan air mata menahan suara tangisnya.
"Lihat aku kalau lagi bicara," melihat Jesselyn kembali menundukkan kepalanya. "Dengan dia kamu bisa senyum bahkan tertawa, kenapa lihat aku yang lagi bicara aja kamu susah?"
"Aku takut karena kak Leon marah-marah."
"Jangan nangis bisa ngak?" mendengar isakan tangis pelan dari Jesselyn
"Aku ngak nangis kak," bohongnya.
Leon kembali mengangkat dagu Jesselyn.
"Maaf kak?" dengan suara yang lirih.
Leon menatap wajah Jesselyn lekat, air mata menetes kepipi mulusnya.
Huh......
Jesselyn membuang nafasnya untuk menahan tangis. Mata Leon tak lepas dari wajah Jesselyn.
Bibir merah muda yang diolesi lip glos senada milik Jesselyn kembali menarik matanya. Leon menelan salivanya, menahan apa yang ada diotaknya.
Cup
Jesselyn mendorong Leon saat tiba-tiba mencium bibirnya.
Jesselyn semakin gemetar setelah kecupan singkat Leon.
Ia membuang pandangannya kearah jendela mobil.
Leon menangkap wajah Jesselyn dengan satu tangan dan
Cup
"Kak, lepas! Jangan gini dong kak, lepasin kak?" berontak memukul dada Leon yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
Cup
"Em.....em.." suara berontak Jesselyn.
Leon memegang kedua tangan Jesselyn agar tidak berontak. Hingg akhirnya Jesselyn menyerah karena Leon yang lebih kuat darinya.
Ciuman yang tadinya kasar berubah menjadi lembut saat tidak ada perlawanan lagi dari Jesselyn.
Leon melepaskan tangannya dari tangan Jesselyn. Melepas seat-beltnya dan kini kedua tangannya menangkup wajah Jesselyn.
Leon sangat menikmati bibir Jesselyn. Nafasnya semakin memburu tak karuan.
Jesselyn menutup matanya karena sensasi yang ia rasakan saat bibir lembut Leon menempel didibirnya. Kakinya lemas seketika dan tidak mepunyai kekuatan lagi untuk berontak.
Leon menghentikan ciumannya beberapa detik untuk menarik nafas dan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Jesselyn.
Kini tangan kanannya berada dikepala Jesselyn, mengusap lembut rambutnya tanpa melepas lumatannya.
Dert....Dert....Dert.....
Suara getar ponsel leon
1x
2x
Hingga panggilan ketiga Leon meraih saku celanya mengambil benda pipih tersebut. Ia melepas baterainya tanpa menghentikan ciumannya.
Dert....Dert...Dert....
Kali ini benda pipih milik Jesselyn yang mendapat panggilan.
Meraba, membuka tas tangan yang ada di pangkuannya.
"Tante?" batinnya saat tangannya mengangkat ponsel keatas.
Dengan cepat Leon meraih ponsel itu dan melemparkannya kebelakang kursi penumpang.
Bibir Jesselyn seolah menjadi candu baginya sedari tadi. Ia menarik pinggang gadis itu agar lebih dekat padanya.
"Maaf kak?" kata Jesselyn dalam hatinya.
Ia menggigit kecil bibir Leon yang tak berhenti menciumnya.
"Aw..." pekik Leon, melepas ciumannya.
__ADS_1
...Terimakasih atas waktunya untuk membaca cerita ini ya teman-teman..❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua. Jangan lupa kasih jempolnya ya?...