Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Dua es krim Vanila


__ADS_3

Melihat mamanya dan Jesselyn menuju mobil, Leon langsung membuka bagasi dan berlari mengambil belanjaan dari tangan mamanya. Semua belanjaan sudah berada di dalam mobil. Lena yang akan membuka pintu mobil seakan mengingat sesuatu yang ia lupakan.


"Kalian masuk aja dulu, mama ada yang kelupaan soalnya. Nunggunya jangan di luar, cuacanya panas begini bisa sakit kepala nanti." pesan Lena dan meninggalkan mereka berdua


"Huff...." Jesselyn menghela nafas saat duduk karena merasa gerah setelah berbelanja apalagi masih dalam keadaan memakai seragam sekolah.


Leon yang berada diluar juga ikut masuk ke dalam mobil, membuka kaca disebelahnya memandang keluar.


"Ekhm.....ekhm..." karena lelah dan cuaca yang panas Jesselyn merasa haus, ia celingak-celingukan mencari siapa tahu ada air mineral di dalam mobil namun sialnya yang ia cari tidak ada.


Ia melonjak kaget saat Leon yang sudah berada diluar menutup pintu mobil dengan kuat.


Ia tidak tahu kemana Leon pergi tetapi lima menit kemudian ia sudah kembali lagi ke dalam mobil


"Makan!" melempar pelan dua es krim rasa vanila pada Jesselyn dan terjatuh tepat di atas rok sekolahnya.


"Makan dan ngak pakai nanya!"


"Makasih kak" ia tersenyum melihat Leon yang untuk pertama kalinya ia rasa memperhatikannya setelah hampir setahun lamanya. "Tapi satu aja sudah cukup kak," membuka es krim vanila kesukaannya. "Kakak ngak mau yang satunya? Enak loh kak," menyodorkan es krim yang satunya lagi.


"Buat aku aja semua kak," menarik kembali tangannya, takut karena Leon menatapnya tajam saat menyodorkan es krim.


Cuaca yang begitu panas juga membuat Leon merasa gerah, ia menutup semua kaca mobil dan menyalakan pendinginnya. Ia merebahkan tubuhnya dikursi dengan kedua tangannya sebagai bantal, memejamkan kedua matanya.


Suasan yang begitu hening membuat Jesselyn merasa canggung, sambil memakan es krimnya ia melihat wajah Leon yang begitu tenang dan damai, berbeda saat matanya dalam keadaan terbuka.


"Ganteng dan... akh...apaan sih Jes, sadar Jes..sadar... dia kak Leon," Jesselyn berkata dalam hatinya saat memandangi wajah Leon.


"Pasti pacarnya kak Leon cantik dan spesial, buktinya bisa dapatin hatinya kak Leon yang susah di dekati," lagi-lagi ia berbicara dalam hatinya.


Dert...


Dert....


Ponsel milik Jesselyn mendapat panggilan dan membuat Leon membuka matanya.


Dertt...


Dertt....


"Berisik!" Leon melirik kearah Jesselyn.


"Maaf kak" ia menarik tasnya dan merogoh lacinya untuk mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


"Leo?" ucap Jesselyn heran karena untuk pertama kalinya ia mendapat telpon dari Leo yang biasanya hanya mengiriminya pesan teks jika perlu sesuatu.


Leon membuka matanya lagi saat mendengar nama yang diucapkan Jesselyn.


Dertt....


Dertt.....


Ponsel milik Jesselyn kembali bergetar setelah terputus beberapa saat.


"Matiin!"


"Maaf kak tapi ini Leo, mungkin ada yang perlu karena tadi ngak ketemu disekolah," ucap Jesselyn dengan pelan.


"Aku bilang matiin!"


Jesselyn tidak menghiraukan ucapan Leon dan menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo Leo? Ada apa tiba-tiba nelpon?"


"Besok kamu ada waktu? Kita ketemuan kira-kira boleh ngak?" tanya Leo dari seberang telepon.


"Besok? Tapi aku ijin sama tante Lena dulu ya, nanti malam aku kabarin kamu. Gimana Le?"


"Bentar kok ngak lama. Kalau bisa aku jemput kamu jam sepuluh pagi?"


"Oke Jes, jangan lupa ngabarinnya ya?"


Lena datang tepat setelah panggilan telpon dari Leo terputus.


Mereka kembali ke rumah dan mempersiapkan segala bahan yang akan di gunakan untuk nanti malam.


Sebenarnya acara barbeque tersebut direncanakan Bagas dan Lena untuk merayakan kenaikan kelas Jesselyn sekaligus Jesselyn yang akan pulang kampung selama liburan sekolah.


Setelah tiba di rumah, Jesslyn menuju ke dapur untuk memasukkan es krim yang belum ia makan ke lemari es.


"Kamu tadi beli es krim? Kenapa ngak dimakan?" tanya Lena yang meletakkan belanjaan diatas meja dapur.


"Tadi kak Leon yang beliin, Jesselyn cuman bisa ngabisin satu dan yang satu lagi buat besok aja tante."


"Oh ya? tumben dia baik ke kamu dibeliin dua lagi?"


"Aneh ya tante?"

__ADS_1


Keduanya tertawa mengingat bagaimana sikap Leon pada Jesselyn selama ini.


Pukul tujuh malam mereka semua sudah berada di pondok dan memulai acara barbeque. Leon dan papanya sibuk dengan daging mereka, Jesselyn dan Nadya menyiapkan hal yang lain, dari sayuran untuk lalap, saus dan minuman.


Sementara itu Lena seperti mandor yang mengawasi para pekerjanya dan sesekali komplen jika tidak sesuai seperti harapannya.


"Dagingnya jangan terlalu kering nanti sari-sarinya terbuang jadi ngak enak. Apinya jangan terlalu besar, dagingnya bisa gosong, kan sayang terbuang padahal harga daging mahal."


Lena sangat menikmati perannya sebagai nyonya rumah malam ini.


"Nadya, sayurannya jangan lupa dicuci, kamu pisahin setiap jenisnya dan jangan buat dipiring yang ini dong, ngak cocok," ia menunjuk piring yang ia maksud dan berlalu. "Aduh Jesselyn, berapa kali sih tante harus bilang kalau buat saus itu jangan malu-malu sama cabenya. Walaupun ini acara namanya barbeque, kita harus tetap dengan cita rasa Nusantara, paham kan?"


Tidak seorang pun dari mereka yang membantah ucapan sang nyonya rumah karena menurut mereka percuma saja dan sia-sia.


"Ma, ini matangnya udah pas belom?" Leon takut jika ia melakukan kesalahan yang nantinya harus mendapat ceramah dari mamanya.


"Jesselyn kamu coba rasain sana, habis itu kamu kasih tau tante gimana rasanya."


"Bukannya tante yang harus nyobain?"


"Kamu aja sana sekalian kasih dia minum. Kasihan wajahnya sudah merah di depan panas dari tadi," menunjuk Leon dengan dagunya.


"Yang mana kak buat dicicipin?" tanya Jesselyn gugup.


"Buka mulut" Leon mengambil potongan danging dan memberikannya ke Jesselyn.


"Aaa... buka yang lebar" memasukkan potongan daging kemulut Jesselyn.


"Gimana?"


"Enak kak, apalagi kalau dicocol pakai sambel" tersenyum sambil mengunyah isi mulutnya.


"Gimana Jes?"


"Enak tante"


"Oke, kalau begitu mari kita hajar sekarang!"


Satu jam cukup buat mereka menghabiskan semua hidangan yang tersaji. Tidak ada sisa satu pun terkecuali beberapa potong daging yang gosong. Lena yang tak tahan angin malam memilih masuk kedalam rumah dan diikuti Bagas dari belakangnya. Nadya yang kekenyangan merebahkan tubuhnya di atas papan yang menjadi lantai dari pondok tempat mereka berada.


Jesselyn melihat bekas makan mereka yang begitu berantakan dan kotor berniat untuk membersihkannya.


...Terimakasih sudah mampir......

__ADS_1


...Like dan komennya dipersilahkan.....


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2