
"Boleh ya om-tante?"
"Kenapa mendadak sih nak? Kalau ada apa-apa kamu cerita sama tante jangan takut."
"Jesselyn cuman pengen cepat ketemu ibu, sangat rindu ibu tante. Jesselyn boleh ya pulangnya besok aja?"Jesselyn menangis tak tahan membendung air matanya.
"Kalau itu maunya kamu ya sudah nanti siang om pesanin tiket pesawat buat kamu. Toh kamu bakalan pulang kampung juga minggu depan."
"Makasih banyak karena selalu baik sama Jesselyn om-tante," Jesselyn menangis di pelukan Lena.
Sudah satu jam ia berada dikamar Bagas dan Lena meminta agar besok bisa pulang ke kampung. Jesselyn tidak menceritakan mengenai kejadian saat tadi malam karena tidak ingin membuat keributan antara Leon dan orangtuanya.
"Jesselyn jam sepuluh pagi nanti boleh keluar sebentar sama Leo? Mamanya lagi sakit jadi semalam ngak ketemu disekolah," Jesselyn menatap wajah Lena dengan matanya yang sembab, ia berharap agar diberi ijin.
"Tapi sebentar aja ya? Kamu kan besok mau berangkat butuh waktu buat packing?"
"Iya tante, nanti juga Leo yang datang buat jemput." ucap Jesselyn meyakinkan.
"Sekarang lebih baik kamu hapus air mata kamu dan siap-siap. Sudah jam sembilan, nanti Leo nunggu lama, kamu belum mandikan?" mencubit pelan hidung gadis yang berada di pelukannya.
"Hehehe....belum tante"
"Ini hadiah buat kamu tante kasih sekarang aja Jes," Lena memberikan sebuah paper bag yang ternyata isinya sebuah dress berwarna peach.
"Jesselyn boleh pakai hari ini?"
"Sangat boleh sayang, jadi tante bisa lihat kamu cocok atau tidak dengan dress itu."
"Makasih banyak tante.... Jesselyn sayang banget sama tente."
"Om Bagas gimana?" Bagas yang sedari tadi hanya menyaksikan keduanya akhirnya membuka suaranya sambil berdecak pinggang.
"Jesselyn juga sayang sama om," ia tersenyum pada Bagas. Bagas sudah seperti ayah baginya, sebenarnya Jesselyn sangat senang setiap kali Bagas yang mengantarnya sekolah. Ia merasa punya ayah yang bisa ia cium punggung tangannya saat akan bepergian seperti teman-temannya yang lain.
Dikamarnya Jesselyn bersiap untuk bertemu Leo. Setelah keluar dari kamar Bagas dan Lena tadi ia langsung mengirimkan pesan pada Leo menggunakan ponsel Nadya. Untung saja ia juga selalu mencatat setiap nomor kontak yang ada di ponselnya dalam sebuah catatan kecil.
Dress berlengan pendek dengan panjang selutut pemberian Lena begitu cocok dengannya. Rambutnya hanya ia Cepol keatas yang membuat anak-anak rambutnya terjatuh. High heels lima senti berwarna putih begitu cocok saat dipadukan dengan dressnya, ia hanya menggunakan bedak tanpa perona wajah dan sedikit lip glos pink di bibir nya.
Penampilannya cukup natural bagi anak seusianya. Tas selempang kecil berwarna hitam tak lupa ia kalungkan dilehernya.
"Tante aku pergi bentar ya, Leo da nunggu di depan soalnya," ucap Jesselyn berpamitan pada tantenya.
"Hati-hati bilangin sama Leo, jangan ngebut bawa motornya dan jangan lupa helm keselamatannya dipakai. Oh iya, kamu cantik banget hari ini," Lena tersenyum dan mengangkat dua jempol miliknya buat penampilan Jesselyn.
"Baik tante"
Setelah berpamitan langsung saja Jesselyn menemui Leo yang sudah menunggunya di halaman depan.
"Sorry Le, buat kamu nunggu."
__ADS_1
"Sepuluh menit masih aman sih, kalau nolnya nambah satu lagi baru namanya emergency."
"Hehehe..., bisa aja kamu Leo," menepuk pelan pundak Leo. "Tapi kita mau kemana sih?" Jesselyn penasaran karena ini pertama kalinya Leo mengajaknya keluar.
"Ikut aja, ayo naik"
Lima belas menit kemudian mereka tiba disebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Jesselyn yang penasaran dan tidak tahu apa-apa hanya mengikuti langkah Leo dari belakang.
"Kita kerumah siapa nih, Leo?"
"Masuk aja jangan takut, pemilik rumahnya ngak gigit kok."
Tok... tok... tok...
Leo mengetuk salah satu pintu kamar yang ada dirumah tersebut.
"Ma? Leo ganggu ngak? Leo bisa masuk?" Leo bertanya dengan suara yang lembut membuat orang yang mendengarnya merasa tenang.
"Mama..? Jadi ini rumah kamu Le?"
"Bukan" Leo menggelengkan kepalanya.
"Masih sekolah punya uang darimana untuk beli rumah sebesar ini?"
"Tapi tadi bukannya kamu panggil mama?"
"Rumah mama kamu berarti rumah kamu juga dong?" tanya Jesselyn tidak mengerti.
*Masuk aja nak * terdengar sahutan dari dalam kamar yang diketuk Leo tadi.
"Ngak usah dipikirin lagi, ayo masuk" Leo menarik tangan Jesselyn dengan pelan untuk ikut masuk kedalam.
"Ma, kenalin ini temannya Leo."
"Halo tante, nama saya Jesselyn" mengulurkan tangannya untuk memberi salam pada Mila, mamanya Leo yang sedang berada diatas ranjang.
"Kamu yang tinggal dengan keluarga Bagas? ternyata kamu cantik, wajah kamu juga manis."
"Biasa aja tante" Jesselyn menunduk merasa malu mendapat pujian dari mamanya Leo.
"Tante sudah baikan? melihat Mila yang begitu sehat. "Semalam Leo ngak kesekolah karena nemani tante di rumah sakit katanya?"
"Tante sudah baik-baik aja hanya perlu istirahat yang banyak kata dokter."
Jesselyn menganggukan kepalanya mendengar kondisi mamanya Leo.
"Makasih ya Jes sudah mampir buat jenguk tante, kapan-kapan mampir lagi ya?"
"Sama-sama tante, saya juga senang bisa ketemu tante."
__ADS_1
"Leo ajak Jesselyn keluar dulu ya ma, biar mama juga bisa istirahat?"
"Ya udah, kalian ngobrol aja sana"
"Jesselyn permisi ya tante?"
Lena menganggukakan kepalanya dan tersenyum pada Jesselyn.
Leo mengajak Jesselyn ke taman di depan rumah milik keluarganya.
Leo memiliki prinsip bahwa apa yang ia punya adalah ssesuatu yang Ia hasilkan sendiri, dengan begitu ia tidak akan menjadi anak yang suka pamer pada sesuatu yang bukan miliknya.
"Makasih ya, Jes. Kamu sudda jengukin mamaku?"
"Santai aja kali Le, lagian kamu juga yang bawa aku kesini tanpa kasih tahu aku. Tapi aku senang kok."
"Lain kali kita jalan ke luar boleh ngak?
Nanti aku beliin es krim rasa vanila yang banyak, gimana?"
"Hahaha...boleh..boleh..."
"Janji ya?"
Mereka begitu asik dengan pembicaraan mereka hingga lupa akan waktu yang terus berjalan.
"Sudah setengah satu siang, mau aku antar sekarang?"
"Yok, nanti tante Lena khawatir karena kelamaan. Tadi cuman ijin sebentar soalnya"
"Tapi kamu kelihatan beda hari ini. Kamu Cantik" Leo memuji penampilan Jesselyn dan tersenyum menatap Jesselyn yang malu-malu karena lagi- lagi mendapat pujian atas penampilannya.
"Apaan sih Leo, biasa aja kali. Yok, antarin aku pulang sekarang"
"Baik putri malu..., ni pakai helmnya dulu," Leo memasangkan helm dikepala Jesselyn. Kedua pipinya memerah karena diperlakukan bagai tuan putri oleh Leo.
Ada tambahan ni buat visualnya Leo Geraldi ( Leo)
...Terimakasih sudah mampir......
...Like dan komennya dipersilahkan.....
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1