Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Calon Menantu


__ADS_3

Gadis itu begitu gugup, ia memelintir ujung dress yang ia pakai. Telapak tangannya pun kini semakin basah karena keringat dingin yang ia rasakan.


"Hanya tunangankan? Baiklah, akan aku lakukan. Ya, aku pasti bisa melakukannya. Pasangan yang sudah menikah saja bisa bercerai, apalagi yang masih sekedar tunangan? Yang penting saat ini tante tidak sedih," pikir Jesselyn dalam hatinya.


"Tinggal nanti bagaimana caranya aku menemukan cara untuk mengakhirinya bersama Kak Leon. Aku yakin kak Leon juga terpaksa, mana mungkin dengan mudah menyetujui rencana konyol mereka semua."


Itulah yang dipikirkan gadis itu hingga akhirnya setuju melakukan permintaan tantenya, Lena.


"Kamu yakin, nak?" tanya Lena dengan mata berbinar.


"Ya-yakin tante!" ucap Jesselyn terbata.


"Sudahlah cepat, tunggu apalagi? Bukankah dia sudah setuju? Jangan sampai rubah ini kembali merubah pikirannya." Oma begitu bersemangat karena akhirnya sirubah setuju. Dia ingin agar pertunagannya dengan cucu tersayangnya segera dilakukan. Ia takut jika sirubah itu akan kembali merubah keputusannya.


"Baiklah! Leon, kamu duduk lagi disamping Jesselyn."


"Baik, pa."


Semuanya kembali keposisi duduk semula, Lena yang sedari tadi bersandar kesofa pun kembali meluruskan duduknya. Rasa sakit didadanya sirna seketika, yang ada hanya guratan senyum diwajahnya.


"Ingat, pertunangan kalian ini sah, bukan mainan. Ini adalah langkah untuk menyatukan kalian berdua untuk hal besar di depan nanti. Jadi, jangan pernah sedikitpun untuk berpikir mengakhirinya dengan mudah. Bagaimana, kalian siap?"


"Iya, pa!" jawab Leon menganggukan kepalanya.


"Jesselyn, kamu gimana nak?" tanya Bagas kembali.


Jesselyn menoleh kearah Leon yang duduk disampingnya. Ditatapnya lekat untuk beberapa detik. Leon hanya melihat lurus kedepannya, tidak melihat kearah gadis di sampingnya itu.


"Iya, om. Jesselyn siap."


Bagas mengangguk-anggukan kepalanya. Tak dapat dipungkiri jika ia pun begitu senang malam ini, walaupun rencananya hampir gagal tadi.


"Sekarang waktunya memakai cincin. Ayo, Leon mana cincin yang tadi?"


"Ini, pa." Leon meletakkan cincin yang akan menjadi pengikat antara dirinya dan Jesselyn.



"Sekarang pakaikan dijari manis Jesselyn," ucap Lena tak sabar.


Leon meraih tangan kanan Jesselyn lembut. Untuk pertama kalinya Leon juga merasakan kelembutan tangan Jesselyn. "Lembut!" ucap Leon dalam hatinya.

__ADS_1


Tatapan Leon yang biasanya begitu tajam dan menusuk menjadi begitu tenang dan teduh. Tapi itu tidak bertahan lama karena Jesselyn mengeraskan tangannya, menahan kuat tangannya saat Leon akan memakaikan cincin dijarinya.


"Ayo, cepat?" ucap Leon begitu pelan sambil menarik tangan Jesselyn.


Jesselyn masih menahan tangannya. Belum rela jika jarinya akan disematkan cincin pertunangan. Hingga akhirnya Leon merapatkan tubuhnya ke gadis itu, dan dengan tenaga yang dimilikinya akhirnya ia berhasil memakaikan cincin pada jari gadis itu.


Leon tersenyum tipis melihat gadis tersebut. Bersorak kemenangan dalam hatinya.


"Ayo, rubah. Sekarang giliranmu."


"Iya, oma." Jesselyn mengambil cincin yang satunya lagi. Dia mengulurkan tangan kirinya, meminta Leon memberikan tangannya. Akan tetapi Leon tidak melakukannya. Dengan terpaksa Jesselyn meraih tangan Leon sendiri. Memasang cincin dijari manis kanannya.


"Sudah!" kata oma yang kemudian bertepuk tangan. "Selamat buat kalian berdua ya sayang," ucap oma memberi selamat kepada dua pemuda yang baru saja melakukan pertunangan mereka.


"Selamat ya, nak!" giliran opa yang untuk pertama kalinya mengeluarkan suara. Sebuah senyum bahagia terlukis diwajahnya. Tak lupa mengacungkan jempol kepada Leon, tanda ia berhasil melakukannya dengan baik.


"Leon, bersikaplah dengan baik pada tunanganmu mulai sekarang." Bagas memberi nasihat. Leon menundukkan kepalanya sembari memberikan senyum kecil diwajahnya.


"Terimakasih ya, sayang? Tante sangat senang dengan semua ini." Lena menghampiri Jesselyn, duduk disampingnya dan memeluk erat gadis itu. Gadis yang sekarang sudah menjadi calon menantunya.


"Iya, tante. Kalau tante senang Jesselyn juga senang. Jangan seperti tadi lagi ya tante?" ucap Jesselyn mengingat saat tiba-tiba dada Lena menjadi sakit.


"Iya, sayang." Namun dalam hatinya berkata, kamu tidak tahu saja kalau Tante hanya pura-pura.


"Sangat," mengeratkan pelukannya.


"Karena acara pertunangannya sudah selesai, waktunya kita makan malam. Ayo?" ajak oma mendahului yang lainnya ke meja makan.


****


"Wow! Daging semurnya enak sekali, empuk lagi. Siapa yang masak ini?" tanya opa saat menguyah daging semur dimulutnya.


"Enak kan, pa? Itu yang masak calon mantu saya, Jesselyn!"


"Uhuk...uhuk..." Jesselyn terbatuk mendengar ucapan Lena.


"Kenapa kaget? Bukannya itu memang benar?" ucap oma. "Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan sebutan itu."


Jesselyn hanya nyengir kuda mendengar penuturan oma. Apa yang dikatakan oma memang benar, tapi gadis itu begitu aneh dengan sebutan itu.


"Ayo, makan yang banyak. Kam juga tidak makan siang kan?"

__ADS_1


"Iya, tante."


Semuanya melanjutkan menyantap makan malam mereka. Makan malam bersejarah bagi Jesselyn.


"Hei, apa kau masih belum belajar makan sayur?"


"Iya, oma. Oma tahukan kalau Leon tidak suka dengan sayuran? Sangat sulit, oma. Jangankan menelannya, untuk mengunyahnya saja Leon tidak suka."


Leon memang anak yang sangat susah jika disuruh makan sayuran sejak kecil. Leon kecil akan menangis saat menemukan sayuran dipiringnya. Dia juga pernah memilih untuk tidak makan dari pada harus makan dengan sayur. Dan kebiasaan itu berlangsung hingga dia dewasa.


Berbeda dengan adiknya, Nadya. Gadis itu malah tidak akan makan jika tidak menemukan sayur dalam piringnya.


"Sayur itu baik untuk kesehatan. Jadi belajarlah untuk memakannya, kau tidak akan mati oleh sayur," kata opa memberi saran.


"Iya, opa. Nanti Leon coba untuk makan sayur."


"Kenapa harus nanti? Di depan kamu sekarang juga ada sayur," menunjuk cah kangkung yang ada di meja makan. "Kamu," oma menunjuk Jesselyn dengan sendok ditangannya. "Ambilkan dia sayur," perintah oma .


Jesselyn tersenyum, dengan cepat ia mengambil sesendok besar cah kangkung dan menaruhnya diatas piring Leon.


"Silahkan....." ucap Jesselyn tersenyum pada Leon.


Leon begitu geram melihat Jesselyn tersenyum. Ingin rasanya ia memberi gadis itu pelajaran karena sudah berani bermain-main dengannya.


Leon menatap sedih pada cah kangkung dipiringnya. Ia menelan salivanya susah payah. Berpikir seandainya ia memiliki kekuatan untuk menghilangkan yang ia sebut rumput itu. Leon menganggap beberapa sayuran hijau adalah rumput yang harus disemprot mati, dan salah satunya adalah kangkung.


"Ayo, makan?" ucap oma mengembalikan kesadaran Leon.


"I-iya, oma."


Leon mengambil sebatang sayuran itu dan memasukkannya ke dalam mulut namun tidak berani mengunyahnya.


"Dikunyah kak, habis itu ditelan." Seperti anak TK, Jesselyn mengajarinya cara memakan sayur.


Leon mengerutkan dahinya, dengan pelan mulai mengunyahnya dan saat ingin menelannya, ia menghadap Jesselyn untuk memberitahu jika ia akan muntah.


"Minum ini, kak." Menyodorkan air putih ditangannya.


"Apa aku harus minum sambil menelan batang kangkung sialan ini secara bersamaan? Aku sudah tidak tahan, aku ingin muntah." Leon berteriak dalam hatinya. "Awas saja nanti!"


Tidak tega melihat mimik wajah anaknya, akhirnya Lena meminta Leon menyudahi kegiatan makan sayur. Karena jika tidak, mungkin akan berlangsung sampai besok pagi.

__ADS_1


Sementara satu-satunya gadis disitu tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2