
Usai mondar-mandir di depan pintu kamar, Jesselyn akhirnya membuka pintu tersebut dan memasukkan kepalanya terlebih dahulu dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling sudut kamar.
"Kak," panggil Jesselyn mencari keberadaan Leon.
Mendapati Leon yang tidak ada dikamar ia langsung masuk dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Tempat tidurnya kok beda ya," ucap Jesselyn karena sebelumnya sudah pernah merasakan tidur di kamar Leon saat Leon malah tidur dikamar Jesselyn.
"Lebih besar dan empuk," ucap Jesselyn dalam hatinya. "Kamarnya masih sama aja tetap wangi, wangi kak Leon dan mulai sekarang aku juga akan tidur disini sama kak Leon, hihihi..." lanjutnya dalam hati.
Jesselyn menelungkupkan tubuhnya diatas kasur king size dan senyum-senyum membayangkan keberadaannya dikamar tersebut hingga ia mendapati sebuah siluet dari arah balkon yang tertutup gorden putih.
"Kak Leon?" pikir Jesselyn mendekati balkon.
Penasaran dengan siluet seseorang yang sedang berdiri di balkon ditambah lagi Leon yang tidak ia jumpai dikamar.
"Kak? Kakak ngapain disini?" tanya Jesselyn penasaran setelah membuka gorden.
Leon yang sedari tadi sudah menunggu lama Jesselyn untuk menghampirinya ke balkon langsung membalikkan badannya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Happy wedding."
Leon tersenyum sembari menyerahkan sebuah bouquet mawar putih pada Jesselyn.
"Happy wedding buat kita. Ini mawar putih pertama yang aku kasih ke kamu dan aku harap aku juga orang pertama dan mungkin satu-satunya yang kasih mawar putih buat kamu."
Jesselyn tersenyum bahagia, ia tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya, pipinya merona saat menerima mawar putih pemberian Leon dan menghirup aromanya dalam-dalam hingga kemudian menundukkan kepalanya malu-malu.
"Aku sayang kamu dan aku mau Jesselyn hanya untuk Leon," ucap Leon.
"Dan kak Leon hanya untuk Jesselyn," balas Jesselyn masih dengan kepala menunduk.
"Itu aja, ngak ada yang lain lagi?" tanya Leon menggoda Jesselyn yang sudah semakin merona.
"Makasih bunganya kak, Jesselyn suka mawar putih."
"Itu aja? Ngak ada yang lain gitu?" tuntut Leon
"Em... Jesselyn sayang sama kak Leon dan ngak akan mau pisah sama kakak. Aku suka dan sayang kak Leon.
Cup
Jesselyn mengecup bibir Leon dan langsung menutupi wajahnya menggunakan bouquet ditangannya. Meski hanya sekilas namun hal itu membuat Leon senang karena biasanya gadis itu tidak pernah mencium terlebih dahulu.
Sikap malu-malu Jesselyn justru semakin membuat Leon ingin menggodanya. Diraihnya bouquet mawar dari tangan Jesselyn dan diletakkan diatas meja bundar berukuran kecil.
"Hei, lihat dan tatap mataku," ucap Leon mengangkat dagu Jesselyn dan meraih tangannya.
Ting
Jesselyn semakin merona dan memalingkan pandangannya kesamping saat Leon mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum untuk menggodanya.
Merasa belum cukup dan puas menggoda Jesselyn, kembali Leon meraih dagu si gadis, mengarahkan wajahnya agar kembali menatapnya namun belum lagi Leon mengedipkan matanya Jesselyn sudah terlebih dahulu menghambur ke pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada dada Leon.
__ADS_1
Leon tertawa kecil melihat kelakuan Jesselyn.
Leon sedikit menjauhkan jarak diantara keduanya dan memutar tubuh Jesselyn hingga posisi Leon memeluknya dari belakang.
Malam ini, keduanya larut dalam keheningan malam ditemani ribuan bintang yang menjadi saksi bisu kebahagian mereka. Angin malam yang menerpa membuat pelukan Leon semakin lama semakin bertambah erat.
Pelukan yang diberikan Leon membuat tubuh Jesselyn yang tadinya mulai kedinginan akibat angin malam berubah menjadi hangat.
"Kamu kedinginan?" tanya Leon merasakan dingin pada pipi Jesselyn saat pipi mereka menempel.
Jesselyn hanya menggelengkan kepalanya.
"Tangan kakak dingin," ucap Jesselyn saat ia meletakkan tangannya diatas tangan Leon yang melingkar di pinggangnya.
"Sangat dan kamu harus menghangatkannya."
"Kak Leon mau aku nyalain api unggun biar hangat seperti di drama-dram," ucap Jesselyn yang justru menertawakan ucapannya.
"Kelamaan kalau nungguin kamu nyalain api unggun. Kalau ada yang express kenapa harus pakai yang lama, iyakan?"
"Maksud kak Leon?"
"Stttt... Kamu cukup diam dan ingat, istri yang baik itu nurut dan patuh sama suami."
Leon melepas tangan kanannya dari pinggang Jesselyn dan perlahan dari bawah memasukkannya ke dalam baju tidur yang dipakai Jesselyn.
"K-kak," Jesselyn melonjak saat tangan Leon mengelus perut ratanya.
Jesselyn mengkedip-kedipkan kedua matanya merasakan sentuhan Leon yang semakin lama semakin liar dalam bajunya. Nafasnya tercekat tatkala Leon semakin mengarahkan tangannya keatas menuju dada dan kembali turun keperut.
Hap!
Leon mengangkat tubuh Jesselyn dan membawanya ke dalam kamar.
Dengan berhati-hati Leon meletakkan Jesselyn diatas tempat tidur yang baru diganti hari ini.
"Aku sayang kamu!"
Leon mengecup kening Jesselyn selama beberapa saat, turun pada kedua mata, hidung, pipi dan bibirnya. Dengan kedua mata terpejam Jesselyn perlahan menerima setiap sentuhan dan cumbuan Leon.
"Masih ingatkan dengan kalimat, memberi lebih baik dari pada hanya sekedar menerima?" ucap Leon menjeda ciumannya.
Jesselyn menganggukan kepalanya mengerti maksud perkataan Leon.
Kembali Leon menangkup wajah Jesselyn dan menghujani seluruh wajahnya dengan ciuman dan memagut bibir Jesselyn. Leon tersenyum dan semakin memperdalam ciumannya saat Jesselyn meresponi setiap ciumannya. Jesselyn membuka matanya saat lidah Leon menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya.
Seolah terhipnotis Jesselyn melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Leon padanya.
Leon menarik tubuhnya dan melepas ciumannya untuk memberi mereka waktu menarik nafas namun baru beberapa detik Jesselyn sudah menarik kembali leher Leon dan menempelkan bibirnya pada bibir Leon.
Ada suatu gejolak yang begitu membuncah dalam tubuh keduanya yang tentunya belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Decapan saling bersahutan, mata sayu dan meremang, tubuh yang semakin lama semakin merasakan hawa panas dan menegang meskipun ada pendingin ruangan yang sedang menyala, membawa mereka pada keinginan yang lebih jauh dan dalam.
__ADS_1
Tanpa melepas ciuman, Leon mulai membuka satu persatu kancing baju tidur yang dikenakan Jesselyn dan juga melepas kaos putih polos yang ia sendiri kenakan.
"Aku sayang kamu," bisik leon saat kedua tangannya akan melepas pengait penutup gundukan milik Jesselyn. Baru saja ia berhasil melepas pengaitnya suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan suasana yang begitu intens diantara keduanya.
"Jesselyn.... Kak Leon..." panggil seseorang sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.
Sigap Jesselyn mendorong tubuh Leon hingga membuat pria itu terhuyung ke belakang, menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Hellooo... Jesselyn... Kak Leon..." kembali suara panggilan dari luar kamar.
Geram dengan panggilan yang tak kunjung berhenti Leon mengacak-acak rambutnya. Dilihatnya jam di dinding sudah lewat dari pukul sepuluh malam.
"Kak Nadya," ucap Jesselyn menyebut nama yang sedari tadi memanggil mereka.
Buru-buru Jesselyn memakai kembali apa yang sudah dilepas Leon dari tubuhnya. Ia segera melompat menuju cermin dan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Jesselyn mengatur nafasnya sebelum ia membuka pintu kamar.
"Kamu mau ngapain?" tanya Leon kesal.
"Bukain pintu kak, kakak ngak dengar dari tadi kak Nadya manggil-manggil?"
Leon hanya bisa pasrah, memungut kembali kaosnya dari lantai dan memakainya.
****
"Sorry, aku ganggu kalian ngak?"
"Enggak kok kak, sama sekali enggak ganggu."
"Apanya yang ngak ganggu, ganggu banget malah," gerutu Leon dalam hatinya mendengar jawaban yang diberikan Jesselyn.
Nadya melirik kearah Leon, dilihatnya kakaknya sedang bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya dengan muka masam.
"Ada apa?" tanya Leon saat beradu pandang dengan Nadya.
"Enggak kok, orang aku perlunya cuman Jesselyn doang," balas Nadya.
"Terus ngapain lihat-lihat?"
"Idih... Sok ngartis banget sih setelah nikah."
"Udah kak, kayak ngak tahu aja kak Leon orangnya gimana," ucap Jesselyn menengahi keduanya.
"Iya juga ya. Oh iya, aku kesini buat ngajak kamu bukain kado-kado pernikahan kalian soalnya banyak banget di bawah. Ngak sabar pengen tahu isi hadiah pengantin baru itu apaan."
"Harus sekarang ya kak?"
"Harus. Besok ibu kamu kan udah pulang, aku, papa dan mama ke Bogor buat ngantar opa dan oma."
"Kalau gitu kita buka sekarang. Lebih cepat lebih baik," ucap Leon tiba-tiba, beranjak dari tepat tidur dan berjalan mendahului mereka.
Keduanya saling memandang melihat Leon yang melongos begitu saja dari tengah mereka berdua.
Malam pertama Jesselyn dan Leon yang seharusnya menjadi malam untuk mereka nikmati berdua berubah menjadi acara buka kado. Bukan hanya mereka bertiga karena satu persatu seisi rumah terbangun mendengar suara riuh dari ruang tamu saat membuka isi dari kado pernikahan. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga hampir pukul tiga pagi hari semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1