
Sore hari setelah selesai membantu Lena di dapur, ia menuju halaman untuk menyiram bunga. Saat menyalakan keran air yang sudah terhubung dengan selang, seekor kupu-kupu tiba-tiba hinggap diatas keran air.
Seperti kurang kerjaan, bukannya membiarkan saja si kupu-kupu ia malah mencoba untuk menangkapnya. Sayangnya gadis itu kalah cepat dengan si kupu-kupu yang langsung terbang di antara bunga-bunga yang ada di halaman itu.
"Haiss...," tanpa sengaja Jesselyn tersandung dan membuatnya sampai tersungkur ke rerumputan hijau yang di sekitar rumah.
Saat ia mencoba bangkit berdiri, ia malah menarik selang yang sudah terhubung dengan keran air.
"Aaaaaa.....," Jesselyn menjerit ketika air yang keluar dari keran mendamprat wajahnya. Dan entah mengapa keberuntungan sepertinya tidak berpihak padanya sore ini. Saat ia memutar keran air agar berhenti menyipratnya, keran tersebut justru terlepas. Ia mencoba menutupnya dengan telapak tangan, namun lagi-lagi karena air yang keluar semakin besar, bukan hanya wajahnya saja, bahkan tubuhnya menjadi sasaran empuk sang lawan api itu.
Merasa tidak ada gunanya lagi, akhirnya ia pun menyerah. Dilihatnya pantulan tubuhnya yang sudah bisa dibilang hampir basah kuyup dari kaca jendela samping.
"Hufff"
Jesselyn mengusap wajahnya yang basah dan memeras ujung kaos putih yang ia pakai.
"Om Bagas belum pulang lagi," kata Jesselyn melihat air terus keluar dari pipa kecil. Mengigit kuku jempol tangannya memikirkan sesuatu. "Mau ngak, ya?" gumamnya sambil menyeka pelipisnya yang basah karena air dari rambutnya menetes.
"Siapa tahu mau, coba saja dulu."
Jesselyn berlari kedalam rumah dengan keadaan basah. Sebelum masuk kedalam, terlebih dahulu ia melepaskan sendal jepitnya supaya tidak mengotori lantai yang baru saja di pel ibu Sri.
Ia berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Tok...tok...tok...." Jesselyn mengetuk pintu kamar Leon dengan pelan. Tidak ada jawaban dari sipemilik kamar. "Tok...tok...tok...," kali ini suara ketukan semakin diperkuat Jesselyn yang juga sudah kedinginan. Lantai tempat ia berdiri pun menjadi basah akibat air yang mengalir dari tubuhnya.
__ADS_1
Leon yang sedang menyelesaikan skripsinya merasa terganggu dan berdiri untuk membuka pintu kamarnya. Baru saja ia akan membuka mulutnya untuk mengomel namun ia urungkan. Leon menutup rapat mulutnya, ia menelan ludahnya susah payah seakan kerongkongannya kering. Ia membulatkan matanya melihat penampilan orang yang sedang berdiri di depannya. Persis seperti seorang anak kecil habis bermain hujan. Matanya menyelidik dari atas hingga kebawah.
"Maaf kak, boleh ikut aku sebentar, ya?" tanpa menunggu persetujuan, Jesselyn langsung menarik tangan Leon dan membawanya ke tempat air yang sedari tadi mengalir. Tanpa berbicara Jesselyn langsung menunjuk arah dari masalah yang ia hadapi.
"Pegang" kata Leon memberikan ponsel yang ia pegang sejak dari kamar tadi. Jesselyn yang semakin kedinginan menerima ponsel itu dan meletakkannya di dalm pot bunga yang tidak jauh darinya.
Jesselyn memperhatikan Leon yang sedang berusaha memperbaiki keran air tersebut. Jesselyn mendekati Leon. Menundukkan kepalanya melihat wajah Leon.
"Susah ya, kak?" tanya Jesselyn melihat Leon sedikit kesulitan. Pria itu tidak merespon ataupun menjawab pertanyaannya. Ia berusaha fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Mencoba fokus dari gadis yang melihatnya dengan posisi membungkuk.
"Tadi niatnya itu Jesselyn mau bantu tante untuk menyiram bunga, ngak tahunya malah jadi begini kak," Jesselyn memberitahu Leon dan menggaruk dahinya yang sama sekali tidak gatal. "Maaf ya, kak? Jadi ngerepotin kakak?"
"Bisa diam, ngak?" perintah Leon kesal karena konsentrasinya terganggu.
"Jangan berdiri seperti itu disampingku!"
"Hah...!!" Leon menghembuskan nafasnya kasar. Akhirnya ia dapat memperbaikinya, walaupun butuh waktu sedikit lama.
"Kak, ada panggilan masuk," Jesselyn menyerahkan ponsel milik Leon yang mendapat panggilan dari seseorang tepat setelah ia selesai memperbaiki keran air.
"Kamu ngak lihat kalau tangan aku lagi basah?" ucap Leon melap tangannya ke ujung celana yang ia pakai.
"Maaf kak, tapi ini....,"
__ADS_1
"Apa?" tanya Leon memotong kalimat Jesselyn dan masih melap sisa-sisa air diantara jari-jarinya.
"Kak Bela! Teleponnya dari kak Bela." Memberitahu nama sipenelpon.
Leon melihat kearah ponselnya dan menyambarnya secepat kilat. Ia pergi meninggalkan Jesselyn.
Baru beberapa langkah Leon membalikkan badannya dan melihat Jesselyn yang masih berdiri ditempatnya.
"Orang sakit itu ngerepotin, jadi mending ganti baju kamu sekarang. Satu lagi, jangan berpikir yang aneh-aneh."
Jesselyn yang ingin mengatakan terimakasih mengurungkan niatnya karena milihat Leon berjalan seperti terburu-buru.
"Hemmm, nanti aja ngucapinnya. Ada yang perlu mungkin makanya jalannya buru-buru. Apalagi yang nelpon tadi kak Bela. Pacarnya kak Leon!" Jesselyn berkata dengan penuh penekanan.
Karena sudah terlanjur basah, Jesselyn akhirnya melanjutkan untuk menyiram bunga. Ia tidak tega melihat bunga-bunga yang layu itu karena seharian ini cuaca begitu terik. Sambil bersenandung pelan, ia mulai menyiram satu persatu bunga yang ada dipekarangan rumah tersebut.
Setelah selesai ia langsung membersihkan tubuhnya dan memakai piyama panjang tangan karena sedikit kedinginan.
Setiba dikamar tadi Leon kembali melanjutkan mengerjakan skripsinya yang hampir selesai.
Leon meraih benda pipih miliknya, mengetik pesan dan mengirimnya kepada seseorang. Ia meletakkan benda itu dan kembali pada apa yang sedang ia selesaikan.
"Kenapa selalu memakai pakaian seperti itu saat sedang berada dekat air? Apa dia tidak sadar jika warna merah muda di dalam pakaian putihnya itu terlihat jelas?" gumam Leon mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
...Hai semuanya... terimakasih ya masih baca kelanjutan cerita ini. Aku juga minta maaf kalau upnya agak lama-lama. Harap dimaklumi ya teman-teman karena selain melanglang buana ke negeri 'halu' aku juga masih berada di dunia nyata ini. 😀😀😀...
...❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua. Mudah-mudahan nanti sore bisa up lagi, amin....