Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Menyesal?


__ADS_3

H - 3


Mentari pagi hari ini terlihat begitu cerah, siap memberi semangat untuk memulai hari yang panjang. Gadis itu menyibakkan selimut yang melilitnya sepanjang malam. Dibukanya gorden yang menutupi kaca jendela kamarnya, membuka jendela, mempersilahkan udara pagi memenuhi isi kamarnya.


Ia beranjak ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan memberikan rasa segar pada tubuh yang sudah beberapa hari ini terasa berat dan letih namun tak sekalipun ia tunjukkan dihadapan siapapun.


Usai menyelesaikan ritual dikamar mandi ia pun berganti pakaian santai karena tidak akan melakukan aktivitas luar rumah.


Ceklek


"Astaga!"


Gadis itu terkejut saat baru saja pintu kamarnya ia buka.


"Kak Leon apa-apaan sih, pagi-pagi ngagetin dengan berdiri di depan pintu kamar aku."


"Maaf"


Suara itu, suara yang biasanya tak terbantahkan dan penuh penekanan berubah menjadi begitu lesu. Nada bicara yang selalu bersemangat itu berubah menjadi begitu tak bergairah.


Belum lagi wajah kucel dan mata panda pada kedua matanya menambah kesan bagai orang yang tengah frustasi. Pakaian yang digunakan sejak semalam pun masih menempel pada tubuhnya, artinya sejak semalam pria itu belum membersihkan tubuhnya.


Dengan langkah gontai Leon membawa Jesselyn kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Apaan sih kak, mau ngapain?" ucap Jesselyn tak suka. "Kalau tante lihat gimana? Kalau ada yang mau diomongin, ayo kebawah aja."


"Sebentar aja, please?" pinta Leon menahan Jesselyn yang berjalan kembali kearah pintu hendak keluar.


"Pintunya aku buka dulu."


Jesselyn membuka pintu kamar yang tadi ditutup leon saat membawanya ke dalam kamar.


Saat berbalik Jesselyn sudah menemukan Leon berada di atas ranjang miliknya, menatap dengan mata yang terdapat lingkaran hitam.


"Ada apa?" tanya Jesselyn malas.


Sebenarnya saat melihat Leon berdiri di depan pintu kamarnya, Jesselyn begitu penasaran dengan penampilan Leon yang acak-acakan dan lingkaran hitam dimatanya. Wajahnya terlihat lelah apalagi matanya yang berat seperti semalam tidak tidur.


Ingin rasanya Jesselyn bertanya namun ia urungkan karena malas jika seandainya harus berdebat dengan pria itu lagi.


Beberapa hari ini berada berdua bersama Leon mempersiapkan persiapan pernikahan sungguh membuatnya lelah, belum lagi sifat cemburuan dan posesif Leon membuatnya malas untuk beradu argumen.


"Ada apa?" ulang Jesselyn karena Leon belum menjawab pertanyaannya.


"Bukan aku tapi kamu. Kamu kenapa?" tanya Leon berbalik.

__ADS_1


"Maksud kak Leon apaan sih, aku baik-baik aja," ucap Jesselyn.


Jesselyn merapikan tempat tidurnya yang masih berantakan, mengalihkan pandangannya dari Leon yang terus memandangnya dengan wajah kusutnya.


"Karena dia kan? Iyakan?"


"Aku ngak ngerti kakak ngomong apa."


"Leo"


"Stop, kak! Kenapa jadi bahas Leo?" sergah Jesselyn tak suka.


"Kalau bukan karena dia apalagi coba yang bisa buat kamu akan berubah pikiran."


"Kak, tolong, aku dan Leo itu hanya teman."


"Kalau hanya teman kenapa ngak kasih tahu aku nemuin dia beberapa hari lalu dan hanya berdua? Aku tahu kalian berdua janji ketemuan dan aku coba untuk ngak mempermasalahkannya karena aku percaya sama kamu tapi omongan kamu semalam buat aku terus kepikiran," ucap Leon panjang lebar.


"Kakak sadar ngak yang buat aku bisa sampai ngomong seperti itu bukan karena orang lain tapi karena kak Leon sendiri," sanggah Jesselyn.


"Memangnya aku kenapa?"


Pusing dan geram, itulah yang saat ini dirasakan Jesselyn. Ia memijat pelipisnya seraya menunduk, memilih kata yang tidak akan terlalu kasar untuk meluapkan semua apa yang dirasakannya sedangkan wajah kusut Leon bertambah tegang.


Suara Jesselyn menggelegar memenuhi seisi kamar bahkan suaranya terdengar hingga kebawah, menarik perhatian orang-orang yang berada disana.


Lena dan Nadya beradu pandang saat keduanya sedang menata meja makan. Mendengar keributan dari lantai atas keduanya berlari meninggalkan pekerjaan yang sedang mereka lakukan.


"Apa yang aku lakukan karena aku sayang sama kamu dan kamu tahu itu."


Suara lirih Leon terdengar penuh iba, meski tak suka dan terima mendengar apa yang dikatakan Jesselyn namun ia berusaha untuk tenang agar tidak membuat kesalahan yang nantinya membuat gadis itu semakin marah padanya.


"Sayang? Apa sayang itu harus seperti itu, hah? Kak Leon tahu ngak, apa yang kak Leon lakuin itu bukannya membuat aku semakin dekat tapi semakin risih dan bisa menjauh dari kak Leon. Membuat jarak yang sudah dekat menjadi semakin ja...."


"Stop!" teriak Leon menutup kedua telinganya. Ia tidak tahan mendengar apa yang dikatakan Jesselyn lagi.


Leon meringsut kelantai hingga bokongnya mendatar dan merasakan dinginnya lantai yang begitu dingin di pagi hari. Dengan kedua tangannya ia meremass dan menjambak rambutnya kasar. Kepalanya seakan hampir meledak tidak kuat mendengar apa yang selama ini ada dihati gadisnya itu. Gadis yang dua hari lagi akan ia nikahi.


"Kamu pasti sangat menderita menahan semuanya selama ini. Kamu juga pasti menyesal dan lelah dengan hubungan ini," ucap Leon lirih dengan suara parau. Tanpa sadar air matanya tumpah namun dengan sigap ia menyekanya dan sekuat tenaga menahan agar butiran bening itu tidak tumpah lagi.


"Menyesal? Maksudnya apa?" tanya Lena bingung samar-samar mendengar apa yang dikatakan Leon.


"Kalian kenapa, pagi-pagi sudah ribut-ribut seperti ini," Lena menatap satu per satu pasangan itu mencari penjelasan dari keduanya namun sayang tak satu pun yang buka mulut.


Nadya hanya melihat dari pintu namun ia cukup tegang dengan pemandangan di hadapan matanya. Bahkan ia tak sadar jika botol selai nenas ditangannya belum ia letakkan saat berlari keatas tadi.

__ADS_1


"Kenapa jadi diam? Sebentar lagi kalian akan nikah tapi kenapa malah bertengkar seperti anak kecil?" geram Lena melihat keduanya.


"Maaf ma, Leon yang salah."


"Bagus. Bagus sekali kalau kamu tahu apa yang kamu lakuin salah walaupun mama ngak tau apa itu."


Leon bangkit bersusah payah menahan tubuhnya yang terasa begitu berat. Langkah kakinya begitu berat saat mendekati Jesselyn yang menunduk diam semenjak kedatangan tantenya.


"Selesaikan masalah kalian dan turun sarapan," ucap Lena meninggalkan keduanya.


Ia membiarkan keduanya menyelesaikan masalah mereka sendiri. Ia berharap keduanya semakin dewasa menyikapi dan mengambil keputusan akan suatu masalah baik yang mereka lakukan sendiri maupun yang datang dari luar.


"Ayo, jangan nguping," ucap Lena menepuk pundak Nadya.


Suasana kamar berubah menjadi hening. Leon berdiri tepat dihadapan Jesselyn dan menatap lekat wajah gadis itu sedangkan yang ditatap memalingkan wajahnya tak ingin beradu pandang.


"Aku sayang sama kamu dan maaf kalau rasa sayang yang aku miliki membuat kamu jadi risih dan mungkin terbebani."


Leon menyeka air mata sialan yang tanpa aba-aba meluncur bebes di kedua pipinya.


Jesselyn masih diam dan membuang pandangannya dari Leon. Leon menjatuhkan kepalanya diatas pundak Jesselyn dan lagi-lagi air mata sialan itu seakan berlomba membasahi pipinya.


Tubuh gadis yang masih diam itu bergetar saat merasakan bagian pundaknya yang tidak tertutupi pakaian basah oleh air mata Leon.


Ingin rasanya ia mengatakan sesuatu namun entah mengapa bibirnya begitu keluh dan berat untuk berucap.


Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu hingga perlahan Leon mengangkat kepalanya.


Cup


Leon mengecup kening gadis dihadapannya untuk beberapa saat. Kecupan manis dan lembut untuk menyampaikan rasa sayang yang ada dihatinya. Leon menempelkan kening mereka, menangkup wajah Jesselyn dan menatap kedua manik gadis itu.


Leon tersenyum saat butiran bening itu kembali beraksi untuk kesekian kalinya.


Perlahan Leon menurunkan tangan yang sedari tadi mengelus lembut pipi Jesselyn.


"Maaf untuk semuanya," pinta Leon menyeka pipinya yang basah.


Jesselyn sontak saat tangan Leon melakukan sesuatu. Matanya membulat tak percaya namun seakan ada ribuan jarum yang menjahit mulutnya untuk tidak berbicara.


Cup


"You are free now."


Melangkah dengan berat, Leon meninggalkan kamar dan pemiliknya.

__ADS_1


__ADS_2