
Malam berganti pagi dan hari juga berganti, jam di dinding menunjukkan angka enam namun seseorang masih membungkus tubuhnya yang tanpa atasan dengan selimut putih bersih.
Bukan karena masih terlelap, hanya saja kakinya begitu berat untuk melangkah. Kakinya terasa berat untuk melangkah apalagi untuk keluar dari kamarnya. Ia semakin membenamkan wajahnya pada bantal saat mengingat apa yang semalam ia lakukan.
tok...tok...tok...
"Leon....? Kamu bangun nak, sudah jam enam lewat. Jesselyn sudah nunggu di bawah loh, nanti dia telat ke kampus.
"Sama papa aja ma perginya," sahut Leon malas.
"Papa kamu lagi ada banyak kerjaan di kantor sayang, lagian kamu kan sudah janji sama papa. Kamu ngak ingat? Atau mama perlu ingatin kamu lagi?"
"Iya ma, Leon mandi sekarang!" jawab Leon cepat mendengar perkataan mamanya.
"Gitu dong, jangan lama-lama kasihan dia nunggu lama," pesan Lena lagi.
"Iya, ma!"
Leon berlari menuju kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus sekalian mengantar Jesselyn yang akan menyelesaikan ospek terakhirnya.
Dua puluh menit kemudian ia turun dan langsung menuju garasi.
Setelah berpamitan dengan mamanya, Leon langsung menggas motornya agar tidak telat. Ia mencoba bersikap biasa-biasa walaupun sebenarnya merasa sedikit canggung.
Jesselyn yang berada diboncengan Leon merasakan panas diwajahnya dan kikuk. Ia masih mengingat jelas akan apa yang terjadi semalam. Saat ia mengingat kembali seakan ia dapat merasakan pelukan dan ciuman yang diberikan Leon.
"Ma-makasih kak," ucap Jesselyn dengan kepala menunduk saat tiba dikampus dan memberikan helm yang ia pakai.
"Kalau ngomong kepalanya diangkat biar kelihatan wajahnya, aku bukan pohon," ucap Leon memperhatikan Jesselyn.
"Iya kak, maaf," mengangkat kepalanya namun memandang kesembarang arah.
"Sana pergi, nanti kamu telat malah nyalahin aku lagi?"
"Kalau gitu aku pergi dulu kak."
Jesselyn yang masih kikuk langsung melangkah pergi dari hadapan Leon. Baru beberapa langkah Leon kembali memanggilnya dan membuat jantung Jesselyn kembali seakan melompat.
"Tunggu?" panggil Leon.
"Ada apa kak?"
"Kenapa hanya ada enam? Bukannya seharusnya tujuh?"
__ADS_1
"....…....???" Jesselyn bingung karena tidak mengerti perkataan Leon.
"Rambutnya. Bukannya bulan tujuh lahirnya?" jelas Leon.
Jesselyn yang sudah mengerti maksud Leon langsung memegang kepalanya dan menghitung ikatan rambutnya. Benar saja, hanya ada enam jumlah ikatan rambutnya. Untung saja ia membawa beberapa karet rambut dikantong celananya sehingga ia dapat menambah satu ikatan lagi.
"Makasih kak," ucap Jesselyn senang karena kalau tidak, bisa saja ia kembali dihukum.
"Cepat masuk," perintah Leon saat Jesselyn selesai mengikat rambutnya.
"Oh iya, anak kecil ngak mungkin bisa ngelakuin seperti yang tadi malam, paham?" ucap Leon mengingatkan.
Leon langsung menuju parkiran sementara Jesselyn mematung mendengar perkataan yang diucapkan oleh Leon. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya.
"Kenapa diingatkan sih kak Leon?" gumam Jesselyn memegang kedua pipinya. Ia berlari dengan perasaan yang tak karuan. "Bukankah seharusnya kak Leon minta maaf karena sudah melakukan itu padaku? Lagian apa maksudnya melakukan itu? Kak Leon, kakak sudah merebut ciuman pertamaku" batinnya.
Seperti ospek hari kedua, hari ini juga ada banyak kegiatan yang dilakukan. Seluruh mahasiswa kembali dibekali akan pengenalan kampus, permainan dan bimbingan dari beberapa pembicara. Ada banyak ilmu dan pengalaman yang dibagikan oleh para narasumber yang membuat banyak para calon mahasiswa berdecak kagum. Terlebih saat mendengar pencapaian-pencapaian para alumni kampus. Jesselyn semakin termotivasi untuk belajar giat, berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapat dan bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
Saat akan mengakhiri ospek seluruh calon mahasiswa berdiri dan menyanyikan lagu mars kampus tempat mereka akan melanjutkan studi. Meskipun wajah-wajah para maba terlihat begitu lelah namun semangat mereka begitu berapi-api saat bernyanyi.
Sebelum pulang Leo mengajak Jesselyn untuk membeli minuman untuk sekedar menyegarkan tenggorokan mereka setelah seharian lelah dengan aktivitas mereka. Mereka berdua tidak menyangka jika akan bertemu Sinta teman saat mereka SMA dulu berada di kampus yang sama.
Jesselyn sangat senang karena ada Sinta yang ia kenal selain Leo dikampus tersebut, ditambah lagi Sinta mengambil jurusan yang sama dengan Jesselyn.
"Besok-besok kita lanjut lagi ya Jes ngobrolnya, sudah sore soalnya takut kemalaman nyampenya?"
"Iya Sin, aku juga mau pulang. Kasihan juga si Leo dari tadi jadi nyamuk kita berdua."
"Hahaha...bener juga apa katamu, Jes. Ya sudah aku deluan ya?" merapikan barang-barangnya dan menghabiskan minuman yang ditangannya. "Titip teman aku ya, Leo?" ucap Sinta saat akan melangkah pergi.
"Emang aku barang apa, enak aja pakai di titip-titip," ucap Jesselyn cemberut.
Leo yang mendengar perkataan Jesselyn hanya tertawa kecil dan mengacak rambut Jesselyn. Ia begitu gemas melihat Jesselyn saat marah.
"Kamu lagi, hobinya ngacakin rambut aku dari dulu. Nanti gantian aku acak-acakin rambut kamu mau?" ucap Jesselyn kesal.
"Asalkan bukan hati aku yang kamu acak-acakin ngak masalah kok Jes," jawab Leo tersenyum melihat wajah gadis yang duduk disampingnya.
"Ih... geli tau, kamu ngomong begitu seakan bukan diri kamu aja Le," membalas tatapan Leo yang menurutnya aneh.
"Ngomong-ngomong kamu pulangnya dijemput? Kalau ngak biar aku yang ngantarin?"
"Ngak tau?" jawab Jesselyn yang memang tidak tahu pasti apakah Leon akan menjemputnya atau tidak. Ia tidak dapat memastikan karena sikap Leon yang selalu berubah-ubah.
__ADS_1
"Kalau gitu aku tungguin kamu sampai ada yang jemput, tapi dalam waktu tiga puluh menit belum ada yang datang, kamu biar aku aja yang anterin, gimana?"
"Deal!" ucap Jesselyn tanpa berpikir. Ia tidak mungkin pulang sendiri karena sudah hampir setengah tujuh malam. Ia takut jika harus menggunakan kendaraan umum saat malam hari.
"Kak Leon ngak datang buat jemput justru lebih baik," pikir Jesselyn.
"Jes?" panggil Leo membuyarkan pikiran Jesselyn.
"Kenapa Le?"
"Kamu dan kak Leon itu hubungannya apa sih sebenarnya?" tanya Leo yang sudah sejak SMA penasaran.
"Saudara, kakak-adik."
"Kandung atau mungkin orang tua kalian saudara gitu?"
"Pastinya bukan kandung, kalau ngak salah dulu aku kan da pernah bilang waktu SMA? Orang tua kami juga bukan saudara kandung, bisa dibilang saudara jauh kali ya? Hahaha... Aku sendiri juga ngak ngerti Le," jawab Jesselyn jujur.
"Terus kamu anggap dia apa?"
"Anggap dia apa? maksudnya gimana sih, aku ngak ngerti Le?"
"Ya kamu ke dia, Leon?"
"Kamu aneh deh, ya kakak dong. Ya kali aku anggap dia adek, yang ada jadi samsak aku dibuat kak Leon."
"Hahaha... Dicoba aja Jes sekali-kali," ucap Leo tertawa lepas. "Tapi kak Leon gimana ke kamu?" tanya Leo lagi agar rasa penasarannya terjawab.
"Kamu tanya orangnya aja langsung, lagian kenapa nanya begituan? Tumben!"
"Ngak kok, penasaran aja."
"Maksudnya?"
"Ngak sih, cuman kamu ngak ada ngerasain hal aneh apa gitu?"
"Aneh sih, aneh sama kamu yang ngak biasanya nanyain hal seperti ini. Udah, aku pulang deluan ya, kamu hati-hati bawa motornya. Ingat, ada tante lagi nungguin anaknya di rumah," ucap Jesselyn ketika melihat Leon menuju kearah mereka.
"Kamu gimana? Ngak nunggu buat ketemu aku besok?" menggoda Jesselyn yang telah berdiri dihadapannya.
"Iya, nunggu kamu juga. Nunggu buat ngacakin rambut kamu lagi besok," ucap Jesselyn sambil mengacak rambut Leo dan berlari mendekati Leon.
"Hati-hati Jes" Leo berkata dalam hatinya. Ia tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Jesselyn untuk pertama kalinya.
__ADS_1