
Usai menyantap sarapan pagi bersama, oma meminta seluruh anggota keluarga menuju ruang tamu. Oma berjalan melenggang di depan diikuti yang lainnya seperti anak-anak ayam tengah mengikuti arah kemana induknya membawa mereka.
Hari ini bahkan dipagi ini oma sudah berniat akan menyelesaikan salah satu misinya yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari sebelum kedatangan Bagas anaknya dan keluarganya.
Semuanya sudah berada di ruang tamu dengan pikiran masing-masing apalagi Bagas yang tidak tahu menahu membuatnya semakin penasaran karena tidak biasanya ibunya bersikap seserius pagi ini.
Oma menatap satu per satu para keturunannya itu namun belum mengatakan apapun hingga akhirnya ia menghela nafas panjang dan mulai untuk berbicara.
Namun disisi lain seorang gadis sedari tadi tak henti meeremas ujung sweaternya dengan mata tak lepas dari oma, berharap apa yang ia pikirkan bukanlah apa yang dibahas oleh oma.
Ekhem
Dehem oma sadar akan apa yang dilakukan Jesselyn namun seolah tidak memperdulikannya.
"Jadi bagaimana, pernikahannya akan dilangsungkan di Jakarta atau disini?" tanya oma menampilkan wajah serius pada Bagas dan Lena bergiliran.
Bagai mendengar suara letusan bom, semuanya terkejut tak terkecuali Leon yang tidak menyangka jika oma akan senekat dan secepat itu mempertanyakan mengenai pernikahan yang ia tahu adalah untuk dirinya. Meski terkejut Leon sebisa mungkin bersikap biasa-biasa saja seolah tidak tahu apa yang direncanakan oma.
"Maksud mama pernikahan siapa?" tanya Bagas pada oma balik dengan wajah seribu pertanyaan.
"Yang jelas bukan pernikahanmulah," jawab oma.
"Papa mau nikah lagi?" celetuk Nadya membuat semua menatapnya.
"Stttt... Kau masih kecil jadi diamlah dulu."
"Oma lupa kalau disini yang lebih kecil itu bukan Nadya tapi Jesselyn," protes Nadya kesal.
"Sudah-sudah," lerai Bagas menengahi oma dan Nadya. "Maksud mama pernikahan siapa yang sedang kita bahas, oma?" lanjut Bagas.
"Mereka!" tunjuk oma bergantian pada Leon dan Jesselyn.
Jesselyn terkejut karena apa yang ia pikirkanlah yang sedang dibahas oleh oma. Berbeda dengannya, Leon justru sudah mulai tenang dan berharap apa yang dibicarakan oma membuahkan hasil.
"Bagas rasa mereka belum siap, iya kan, ma?" ucap Bagas pada istrinya yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan dan menyerahkan semuanya pada oma.
Sama seperti oma, Lena pun sangat berharap jika Leon, putranya dapat bersama Jesselyn selamanya. Ia tahu jika Jesselyn merupakan salah satu kebahagian buat anaknya itu.
"Cepat atau lambat mereka nantinya pasti akan menikah, jadi kenapa harus dilama-lamakan lagi, pa."
Seolah mendapat durian runtuh, Leon bersorak kegirangan dalam hatinya karena mamanya juga mendukungnya.
"Benar. Opa juga setuju dari pada mereka melakukan hal-hal yang belum seharusnya, iyakan?"
Satu dukungan lagi berhasil dikantongi Leon dari opanya. Sekarang tinggal papanya sedangkan Nadya tidak masuk dalam listnya.
"Semalam saja mereka tidur bersama disofa sambil berpelukan," ucap oma mengingatkan kejadian semalam.
Bagas yang mendengarnya hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal dengan sedikit melirik kearah Leon yang ia lihat begitu santai.
"Papa tahu kan ini bukan pertama kali mereka seperti itu?" ucap Lena saat pandangan suaminya kini beralih padanya. "Dulu kita berdua juga pernah melihat mereka tidur berdua dikamar. Papa ingatkan?"
__ADS_1
Bagas menganggukan kepalanya bagai membenarkan perkataan istrinya.
Ingatannya kembali saat ia bersama istrinya pulang dengan keadaan rumah yang gelap gulita dan menemukan Jesselyn dan Leon tengah tertidur nyenyak sambil berpelukan dalam kamar Leon.
Saat itu keduanya masih belum dekat dan Leon sangat cuek pada Jesselyn apalagi mengingat hubungan keduanya saat ini yang sudah dekat dan dalam ikatan pertunangan.
Leon dan Jesselyn sama-sama menundukkan kepala. Keduanya ingat mengenai kejadian yang dimaksud oleh Lena. Mereka tidak menyangka jika pasangan suami-istri tersebut mengetahuinya.
Bagas menarik tubuhnya bersandar kebelakang, berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan disaat Jesselyn tengah harap-harap cemas.
"Kamu siap?" tanya Bagas dengan suara baritonya pada Leon.
"Siap, pa!"
"Siap apa?" tanya Bagas kembali memperjelas kesiapan apa yang dimaksud oleh Leon.
"Ya, siap untuk nikah. Nikah sama Jesselyn, pa."
Duarr...
"Kak Leon?" pekik Jesselyn menarik perhatian semuanya.
"Kenapa? Kamu ngak mau nikah dengan aku?" tanya Leon menatap kedua manik gadis itu lekat.
"Tapi kak...."
"Atau Leon menikah saja dengan gadis yang lain. Siapa itu namanya yang dulu sering main kerumah saat oma ada di Jakarta?" sergah oma tak memberi kesempatan bagi Jesselyn untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kak Bela maksud oma?" jawab Nadya spontan.
"Ngak boleh!" protes Jesselyn dengan suhu tubuh yang sudah panas dingin.
"Kalau gitu menikahlah dengan anak tante. Kamu mau kan, sayang?" pinta Lena penuh harap.
"Iya, kamu bersedia menikah dengan kak Leon, anaknya om dan tante kan?" pinta Bagas sama seperti istrinya.
"Tapi Jesselyn masih kuliah, om."
"Kamu akan tetap kuliah meskipun sudah menikah bahkan kami tidak akan melarang kamu untuk melakukan apapun yang akan kamu lakukan setelah menikah. Om bisa jamin hal itu."
"Tapi atas seizin Leon pastinya!" timpal Leon.
"Om dengar sendiri kan kak Leon bilang apa barusan," ucap Jesselyn penuh iba pada dirinya sendiri.
Bagas yang juga mendengar apa yang diucapkan Leon langsung menatap putranya itu dengan mata elangnya namun sayangnya Leon sama sekali tidak menanggapinya.
"Kakak kamu hanya bercanda, jangan terlalu dipikirkan. Oke? Jadi kamu masih bisa beraktivitas seperti biasanya."
"Termasuk bisa tetap kerja kan, om?"
"Ngak bisa."
__ADS_1
Lagi-lagi Leon mematahkan keinginan Jesselyn.
"Kak Leon jahat dan egois."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Jesselyn berdiri dan meninggalkan semua orang diruang tamu dengan air mata.
Semuanya membeku dan menatap sadis pada Leon yang hendak beranjak menyusul Jesselyn namun tanganya ditahan oleh papanya yang sudah terlebih dahulu berdiri dihadapannya.
"Berdiri!" ucap Bagas penuh penekanan.
BUG
Satu bogeman mendarat sempurna di perut Leon sebelum ia berdiri sempurna.
"Aa...a...a...sakit, pa."
Leon meringis kesakitan dengan kedua tangan memegangi perutnya.
Bagas kembali mengepalkan tangannya hendak mendaratkan satu bogeman lagi namun urung karena dengan sigap Leon menahan tangan papanya.
"Cukup, pa. Leon salah dan Leon minta maaf," ucap Leon masih menahan tangan papanya.
"Kalau tahu salah kenapa kamu ngomong seperti itu? Kalau dia takut dan tidak mau nikah sama kamu gimana, ha?"
"Maaf, pa. Leon cuman bercanda," ucap Leon nyengir kuda.
"Apa? Kamu bilang bercanda?"
Bagas tak habis pikir dengan anak laki-lakinya itu, dimana saat semuanya tengah serius dia malah masih berkata bercanda.
"I..iya, pa. Soalnya Leon suka lihat dia marah apalagi kalau ngambek."
"Kenapa?"
"Hehehe... Habisnya dia lucu, pa."
Semua yang berada diruang tamu tepok jidat mendengar alasan yang diucapkan Leon.
BUG
Walaupun tidak kuat namun Bagas akhirnya melayangkan satu bogeman lagi ditempat yang sama.
"Sana kejar dia. Jangan buat anak gadis orang nangis lagi."
"Maaf, pa!"
Leon berlari mengejar Jesselyn secepat mungkin. Leon mencari keberadaan Jesselyn diteras rumah, samping dan halaman yang cukup luas yang penuh akan bunga-bunga.
Nihil.
Leon tidak mendapati keberadaan Jesselyn. Leon mengusap-usap punggung lehernya sambil terus mengedarkan pandangannya mencari dimana gadisnya itu.
__ADS_1
Leon mencoba menghubunginya namun sayangnya ponsel milik Jesselyn ada padanya yang dia ambil diam-diam saat Jesselyn tidur dipelukannya semalam.
"Kamu dimana?"