
Malam hari saat di penginapan.
Dengan langkah berat seorang gadis melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar sebuah penginapan. Ini pertama kalinya ia berada satu kamar dengan seorang pria untuk menginap. Situasi yang tidak pernah terbersit dipikirannya.
Berdiri bagaikan patung di dekat pintu setelah pintu kamar dikunci. Ia tidak tahu harus melakukan apa kecuali pandangannya yang tak lepas dari pemuda yang bersamanya saat ini di dalam kamar.
Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya, pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuknya berada disana.
Waktu yang cukup lama.
Leon membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya.
"Ekhem..." suara deheman Leon memalingkan wajah Jesselyn pada pintu kamar mandi. "Aku sudah selesai, jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku akan keluar sekarang dari kamar mandi." Leon berkata sambil menunjuk Jesselyn dengan telunjuknya.
Jesselyn membulatkan matanya melihat Leon keluar dari kamar mandi.
( Hahahaha... tidak...tidak..., ini bukan seperti cerita novel yang saat prianya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk terlilit dipinggangnya )
Leon keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya dan singlet putih melekat ditubuh bagian atasnya.
"Ke..kenapa ngak pakai baju kak?" tanya Jesselyn gugup.
Dengan santainya Leon berjalan kembali ke dalam kamar mandi untuk mengambil pakaiannya. Ia keluar dan berjalan ke sisi kiri ranjang melewati Jesselyn.
"Basah!" melemparkan pakaian yang ia pegang kelantai. "Jangan nyusahin orang lain dengan kamu sakit. Dari pada bengong lebih baik keringkan rambut dan badanmu," kata Leon tanpa menoleh kepada Jesselyn.
Jesselyn masuk kedalam kamar mandi. Melepas sweaternya. Ia mencoba mengeringkan rambut dan badannya yang basah. Membuka cepolan rambutnya dan membiarkannya tergerai karena basah.
Saat Jesselyn masih di dalam kamar mandi, Leon merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Menarik selimut hingga keperutnya. Sebelum menjatuhkan kepalanya kebantal ia kembali duduk dan meraih celana panjangnya. Merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet milik Jesselyn. Membuka dompet itu dan melihat isi di dalamnya.
Leon bukan menghitung uang yang ada di dalamnya, melainkan mengeluarkan semua kartu dan kertas kecuali uang. Setelah selesai Leon memasukkan kembali semua isinya kecuali dua foto yang berukuran dompet.
Leon berdiri dan membuang kedua foto itu kedalam tempat sampah yang ada dikamar tersebut.
Ia kembali ke tempat tidur. Meletakkan dompet milik Jesselyn dibawah bantal yang ia pakai.
Jesselyn keluar dari kamar mandi. Melihat Leon sudah memejamkan kedua matanya. Gadis itu begitu gugup, ia menggaruk kepalanya melihat tempat tidur di hadapannya.
"Jangan melihatku dengan wajah seperti itu," ucap Leon menyadarkan Jesselyn. "Aku masih waras, tidak akan melakukan apapun padamu. Jadi lebih baik tidur sekarang."
Leon membuka matanya melihat ke langit-langit kamar itu. Membalikkan tubuhnya menghadap tembok.
Sedangkan Jesselyn berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Jesselyn berjalan dan duduk disisi kanan tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kamu akan tidur dengan pakaian basah seperti itu?" tanya Leon saat Jesselyn hendak merebahkan tubuhnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kamu lepas kaos itu. Tidak ada yang menarik, jadi tidak akan terjadi appun."
Mendengar itu Jesselyn merasa bingung. Ia tidak tahu harus senang atau sebaliknya. Senang karena tidak akan terjadi apapun, namun ada rasa kesal dihatinya. "Apa aku sejelek itu sehingga tidak memiliki daya tarik?" pikir Jesselyn menyunggingkan bibirnya.
Gadis itu berebahkan tubuhnya, membelakangi Leon. Jesselyn begitu tidak nyaman dengan pakaiannya yang lembab. Saat dikamar mandi, ia melepas dan memerasnya. Tapi itu percuma saja.
Jesselyn membalikkan tubuhnya menghadap punggung Leon.
"Putih, bersih dan mulus juga sepertinya," Jesselyn berkata dalam hatinya.
"Tidak akan terjadi apa-apa kan? baiklah kalau begitu!" kata Jesselyn masih di dalam hatinya.
Jesselyn melepaskan kaosnya, menyisakan tanktop dan penutup kedua bagian dadanya.
Ia berdiri, meletakkan pakaiannya diatas sebuah meja kecil. Ia melihat pakaian Leon yang berserak di lantai. Dengan pelan ia berjalan dan memungut pakaian tersebut. Menggantung jaket milik Leon di kamar mandi dekat dengan sweaternya. Koasnya juga diletakkan terbuka seperti miliknya diatas meja. Setidaknya cahaya lampu semalaman akan mengurangi basahnya. Sedangkan celana panjangnya diletakkan diatas sebuah kursi kecil yang juga ada dikamar itu.
Jesselyn teringat sesuatu saat melihat celana panjang Leon. Ia mengeluarkan satu per satu isi dari kantong celana itu. Nihil. Apa yang ia cari tidak ada disana.
Jesselyn kembali ke tempat tidur. Ia ragu untuk menarik selimut yang juga sudah dipakai Leon.
"Pakai selimutnya," kata Leon seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Jesselyn. "Aku masih memakai dalaman dan celana pendek dibalik handuk yang melilit pinggangku. Ini bukan seperti drama Korea yang selalu kau tonton. Tidur dan jangan banyak bergerak!" kata Leon masih membelakangi Jesselyn.
Jesselyn menarik selimut hingga lehernya, ia menutup matanya mencoba untuk tidur.
"Kak...kak??" panggil Jesselyn membangunkan Leon yang sebenarnya juga belum tidur. Ia tidak bisa tidur karena gadis disampingnya terus bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.
"Kak??" menunjuk-nunjuk pundak Leon pelan.
"Hm? kenapa?" menjawab dengan malas.
"Kak, aku lapar. Kakak ngak lapar?" tanya Jesselyn berhati-hati.
"Ngak!"
"Hemmmm..." Jesselyn mendengus kesal. Ia memegang perutnya yang kelaparan. "Tapi aku lapar kak, aku keluar sebentar ya? Warung tempat kita berteduh tadi sepertinya juga menjual mie rebus," jelas Jesselyn meminta izin.
"Diam dan jangan pergi kemana-mana!" Leon langsung berdiri, melepas handuk yang melilit dipinggangnya tepat dihadapan Jesselyn. Ia memakai celana panjang dan koasnya dihadapan gadis itu.
Saat akan melangkah keluar kamar Leon kembali ke tempat tidur dan mengambil dompet yang ia selipkan dibawah bantalnya.
"Jadi disitu?" ucap Jesselyn setelah Leon meninggalkan kamar.
__ADS_1
Lima belas menit sudah namun Leon belum kembali.
Jesselyn berjalan dengan lemas karena perutnya yang lapar. Ia duduk dikursi dan matanya tertuju pada dompet kulit berwarna cokelat.
Dibukanya dompet tersebut. Hanya ada tiga lembar uang kertas. Dua kartu ATM dan sebuah kartu kredit, KTP, KTM dan beberapa kartu yang tidak ia tahu untuk apa itu.
Ceklek
Buru-buru Jesselyn menutup dompet tersebut dan meletakkannya kembali.
Leon datang dengan sebuah nampan berisi satu mangkok mie rebus. Aromanya yang khas begitu menggugah selera.
"Makan!" kata Leon dan meletakkan nampan tersebut diatas tempat tidur.
Jesselyn naik keatas tempat tidur dengan mata berbinar-binar.
Tanpa basa-basi langsung mulai menyantapnya. "Kakak ngak makan?" tanya Jesselyn sambil mengunyah.
"Ngak!"
"Enak loh, kak? Kakak ngak mau coba?"
"Aku bilang enggak!"
Jesselyn begitu menikmati mie rebus itu. Ia sampai melupakan bagaimana keadaannya saat ini. Celana jeans panjang dengan tanktop putih bertali dua sentimeter.
"Aaa..?" ucap Jesselyn memajukan sedikit tubuhnya untuk menyodorkan sesendok penuh mie rebus.
Glek!!
Leon melehan salivanya bersusah payah melihat pemandangan didepan matanya.
Nyam...
Tanpa sadar menerima suapan dari Jesselyn.
"Enak kan, kak?"
"E..enak," jawab Leon membuang pandangannya kesembarang arah.
Jesselyn melanjutkan makannya hingga habis, juga menyodorkan beberapa suapan pada Leon.
...terimakasih semuanya yang tetap setia mengikuti cerita ini....
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua!!!...
...like dan komennya dipersilahkan..😅😅😅...