
Hari ini auditorium kampus begitu ramai oleh mahasiswa dengan jubah hitam dan toga dikepala. Raut kegembiraan para orang tua yang menyaksikan acara wisuda anak mereka terlihta begitu jelas terlukis disetiap diwajah mereka. Tak terkecuali dengan sepasang suami istri yang duduk di bagian belakang barisan para orang tua mahasiswa.
Bagas dan Lena harus duduk di bagian paling belakang karena mereka datang terlambat. Meskipun begitu mereka masih dapat melihat dengan jelas dari layar besar yang disediakan didepan sisi kiri dan kanan auditorium.
"Anak mama ganteng banget, pa." Lena berucap dengan tangan menyeka air mata. Ia begitu terharu saat melihat putranya melalui layar besar.
Lena semakin terisak saat mendengar nama Leon christian, yakni putranya disebutkan menjadi salah satu lulusan terbaik ditahun ini.
"Hiks..hiks...Itu anak mama, pa!"
Bagas melingkarkan tangannya dibelakang tubuh sang istri dan membawanya dalam pelukan.
"Iya, ma. Dia juga anak papa, yang tanam saham kan papa, ma."
Isakan Lena seketika berubah menjadi tawa kecil karena ucapan suaminya.
Leon yang menanti giliran untuk difoto usai pengesahan oleh sang rektor, mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan mencari keberadaan orang-orang yang ingin lihat keberadaannya.
Leon tersenyum tatkala matanya bertemu dengan kedua orang tuanya. Senyumannya dibalas dengan lambaian tangan kedua orangtuanya.
Sesaat kemudian ia mengerutkan kening tak menjumpai keberadaan gadisnya. Baru saja ia berniat merogoh saku celana dibalik jubahnya hendak mengambil ponsel, sang juru foto sudah terlebih dahulu memberinya kode mengambil posisi untuk difoto.
Cekrek... cekrek... cekrek
"Makasih, mas!" ucap Leon usai dirinya difoto. Dia berjalan menuju tempat duduknya kembali.
Perasan iri mencuat dihatinya melihat teman-teman disampingnya memegang bunga yang mereka dapat dari kekasih ataupun sekedar teman dekat.
"Kagak dapat bunga lo, Yon?" tanya Adit memutar tubuhnya kebelakang karena posisi duduknya yang berada di depan Leon. "Yang masih pacaran aja dapat bunga dan hadiah, apalagi lo yang sudah punya tunangan. Gue aja dapat," mencium bunga ditangannya.
Brakk...
Karena kesal Leon menendang kuat kursi Adit hingga membuatnya hampir terjatuh.
Bukannya marah Adit justru tertawa menanggapinya. "Hahaha... Gue jadi ragu deh sama lo, Yon. Jangan-jangan lo lagi mimpi kali waktu tunangan sama dia, atau lo halu mungkin seperti penulis-penulis novel."
Brakk...
Tendang Leon sekali lagi pada kursi Adit, namun kali ini lebih kuat dan membuatnya menjadi pusat perhatian teman-teman sejurusannya.
Hahaha..
Adit semakin tertawa geli dibuat sahabatnya itu. "Sorry, bro." Akhirnya Adit meminta maaf namun masih dengan senyum dan tawa kecil.
__ADS_1
Senang rasanya berhasil mengerjai Leon. Hal yang akan jarang untuk bisa ia lakukan kedepannya lagi. Usai wisuda pastinya mereka akan sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing, tidak seperti saat masih jadi mahasiswa yang hampir setiap hari bertemu.
Setelah semua rentetan acara wisuda selesai, Leon menghampiri kedua orang tuanya. Ia disambut pelukan hangat dari keduanya. Mengucapkan selamat atas kelulusan dan pencapaian anak mereka sebagai salah satu lulusan terbaik.
"Sekarang kita keluar yok, mama sudah ngak sabar mau foto dengan anak mama yang ganteng ini."
Diluar auditorium sudah banyak papan bunga dan juru foto yang siap melayani bagi siapa saja yang ingin mendokumentasikan kelulusannya dengan berfoto bersama keluarga dan dan teman-temannya.
"Papa pesan papan bunga buat Leon dulu ya," ucap Bagas dan mendapat anggukan kepala dari istri dan anaknya itu.
"Kenapa?" tanya Lena memperhatikan wajah masam putranya. "Senyum dong, inikan harinya kamu, nak."
Baru saja akan bersuara sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.
Saat menoleh kebelakang ia melihat sosok yang sedari tadi ia cari keberadaannya.
Jesselyn berdiri dihadapan Leon dengan sebuah bouquet ditangannya. Tersenyum mengucapkan selamat pada Leon yang masih dengan muka masamnya.
"Selamat kak!" ucap Jesselyn menyodorkan bouquet ditangannya.
Leon mengalihkan pandangannya mencari keberadaan mamanya.
Leon memperhatikan wajah Jesselyn dan bouquet ditangannya. Dengan bersidekap dada dan wajah cemberut ia menatap kedua netra sang gadis.
"Telat" ucap Leon kesal. "Kamu juga ngak lihat kan waktu aku diwisuda di dalam tadi."
"Siapa bilang? Aku lihat kok," ucap Jesselyn meyakinkan.
"Terus kamu tadi duduk dimana? Kenapa aku ngak lihat kamu di dalam?"
Hehehe....
Jesselyn tertawa melihat tingkah lucu dan menggemaskan Leon saat lagi ngambek. Ingin rasanya ia mencubit kedua pipi Leon namun ia masih belum berani.
"Tadi sewaktu giliran jurusan kak Leon dipanggil aku jalan kedepan. Niatnya mau kasih ini," tunjuk Jesselyn pada bunga yang masih ia pegang. "Waktu aku kedepan dan nungguin kak Leon selesai foto ada yang ngenggol aku. Untung bunganya ngak lepas dari tangan waktu aku terjatuh. Sayangnya waktu aku bangkit berdiri kak Leon sudah kembali ketempat duduk," jelas Jesselyn panjang agar tidak membuat Leon marah. "Maaf ya kak, ngak bisa kasih bunganya waktu di dalam."
Leon mengambil bunga dari tangan Jesselyn dengan perasan bersalah.
"Maaf ya?" ucap Leon mengelus pucuk kepala Jesselyn. "Terimakasih bunganya."
Leon meraih tangan Jesselyn tersenyum.
__ADS_1
"Ayo" ajak Leon membawa Jesselyn menghampiri mamanya.
Mereka mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi wisuda Leon. Tak lupa Leon juga berfoto dengan teman-temannya dan sahabat dekatnya, Adit. Sayangnya Nadya tidak bisa ikut bergabung dengan mereka karena harus mengikuti seminar penting dikampusnya.
"Hai cantik, agak rapat sedikit lagi posisinya," ucap sang juru foto memberi arahan pada Jesselyn yang malah membuat Leon kesal. "Oke..., good!" pria itu manggut-manggut melihat hasil jepretan kameranya. "Cantik" ucapnya menunjukkan gambar yang dia ambil pada rekan disampingnya.
"Mau jadi model kita ngak?" tanya rekan sikameramen pada Jesselyn.
"Ngak bisa!" ucap Leon spontan. "Fotonya sudah selesaikan? Kita pergi mas, makasih."
Leon menghampiri Lena dan Bagas yang sedang bertegur sapa dengan orang tua Adit. "Ma, kami deluan ya nunggu di mobil."
"Ya sudah, bentar lagi papa dan mama nyusul," ucap Lena memberikan kunci mobil dari dalam tasnya.
Leon menarik tangan Jesselyn menjauh dan membawanya kedalam mobil.
"Itu, toganya apa ngak dilepas aja kak?" tunjuk Jesselyn pada toga dikepala Leon.
Leon mendekatkan kepalanya pada Jesselyn. Selalu saja seperti ini, setiap hanya berdua, Leon akan menjadi seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja dan diperhatikan.
Jesselyn melepaskan toga dari kepala Leon dan meletakkannya dikursi belakang.
"Hadiahku mana?" tanya Leon memakaikan sebuah gelang pada pergelangan tangan Jesselyn.
".....?"
"Hadiah buat kelulusan hari ini?" jelas Leon.
"Jesselyn ngak nyiapin hadiah kak," ucap Jesselyn menundukkan kepalanya. "Kak Leon juga jangan terlalu sering kasih aku hadiah bisa ngak?" pinta Jesselyn melihat gelang yang baru saja melingkar dipergelangannya.
"Kenapa? Kamu ngak suka sama hadiah-hadiah yang aku kasih?"
"Duitnya kan sayang kak," ucap Jesselyn memberi pengertian.
"Aku belinya pakai uang hasil kerja sendiri, bukan uang yang dikasih papa," jawab Leon tak mau kalah.
Leon meraih kedua tangan Jesselyn dan menempelkan kedua telapak tangan itu pada pipinya. Dilihatnya wajah gadis di depannya dengan tatapan memelas.
Jesselyn mengerti dan perlahan mulai mengusap lembut pipi Leon hingga membuatnya tersenyum dan menghujani tangan Jesselyn dengan ciuman.
"Hadiahku aku ambil dirumah ya?" ucap Leon membawa Jesselyn kedalam pelukannya sedangkan gadis dipelukannya itu sedang berpikir keras hadiah apa yang akan ia berikan saat dirumah nanti.
Terimakasih atas kunjungannya pada cerita ini.
__ADS_1