
Pukul tujuh malam hujan turun begitu lebatnya sehingga mengusik Leon yang sedang tidur. Ia terbangun dari tidurnya, suasana kamar yang tadinya terang berubah menjadi gelap. Dengan pelan ia berjalan dan menghidupkan lampu kamar tersebut.
Saat lampu dinyalakan Leon terkejut melihat dirinya tidak berada dikamarnya. Baru setelah melihat sekeliling kamar ia menyadari bahwa itu adalah kamar Jesselyn.
Leon keluar dari kamar Jessselyn, matanya sulit melihat dengan jelas karena keadaan rumah yang begitu gelap, ia berjalan memasuki kamarnya yang juga sama gelapnya dengan kamar Jesselyn sebelumnya. Ia menyalakan lampu kamar dan matanya langsung tertuju pada seseorang yang tengah tertidur pulas diatasnya.
"Bukannya tidur dikamar sendiri, malah tidur dikamar orang lain," kata Leon dalam hati tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan dikamar Jesselyn.
"Bangun, ayo bangun, hei...?" Leon membangunkan gadis yang sedang tidur diranjangnya itu.
Melihat tak ada respon dia mendekat dan berdiri menghadap Jesselyn. Leon memperhatikan wajahnya yang tidur begitu nyenyak, deru nafas yang teratur dan tangan yang memeluk erat sebuah guling.
Leon berjongkok tepat dihadapan wajah sang putri yang tidur.
Lima menit lamanya ia memandandangi wajah tersebut, tanpa sadar ia mengangkat tangan kanannya dan menyelipkan rambut yang menutupi sebahagian wajah Jesselyn kebelakang telinganya. Ia melakukannya dengan pelan agar orang yang dihadapannya itu tidak bangun. Jempolnya kini mengusap pipi kiri Jesselyn dan turun kebawah menuju bibirnya. Jesselyn membuka sedikit bibir merah mudanya saat Leon mengusapnya lembut.
Leon semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jesselyn, dan tiba-tiba saja Jesselyn bergerak membalikkan tubuhnya.
Leon bangkit dan merebahkan tubuhnya membelakangi Jesselyn.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
Karena cuaca dingin ditambah sedang hujan lebat membuat Leon merasa ngantuknya kembali lagi. Ia memejamkan kembali matanya dan masuk dalam tidurnya dengan tetap membelakangi Jesselyn.
Pukul setengah sembilan malam, Bagas dan Lena tiba dirumah. Seharian ini pasangan suami istri itu sedang menghadiri acara pernikahan rekan bisnis mereka.
"...???" mengerutkan keningnya. "Kenapa rumah gelap begini ya, pa? sudah seperti rumah hantu saja," kata Lena saat turun dari mobil hingga masuk kedalam rumah.
"Mana papa tahu, ma? Sudah pada tidur kali?" jawab Bagas yang menghidupkan lampu.
"Baru setengah sembilan. Tadi Leon kirim pesan apa ke papa?"
"Cuman nanyain pulangnya jam berapa, itu aja. Oh iya, sekalian minta dibeliin nasi goreng yang tadi kita beli," menunjuk dua bungkus nasi goreng yang ada ditangan istrinya.
"Motor dan mobil yang satunya lagi juga ada digarasi, coba deh mama lihat ke kamarnya, siapa tahu lagi ngerjain tugas atau ketiduran mungkin?"
Lena berjalan menuju lantai atas, ia kembali mengerutkan keningnya saat melihat kamar Jesselyn yang keadaan pintunya setengah terbuka saat ia tiba.
"Ngak ada, kamarnya kosong," kata Lena setelah menyusuri kamar tersebut dengan kedua matanya.
"Jesselyn saja tidak ada dikamarnya, apalagi ini anak?" berbicara dalam hati saat menuju kamar Leon.
Ceklek.....
"Hah...ini apa?" Lena menarik nafas karena terkejut, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, kedua bola matanya melotot hingga hampir keluar. Pikirannya liar kesana-kemari.
Ia berjalan keluar dengan pintu kamar yang masih terbuka.
"Pa, papa??"panggil Lena dengan suara pelan.
"Apaan sih ma, yang kuat kalau manggil?"
"Cepat naik pa, anakmu pa, anakmu!"
"Yang kuat dong ma, papa ngak dengar. Anak papa kenapa? Lagian anak papa kan anak mama juga?"
"Cepetan pa, anak papa lagi tidur?"
Bagas yang tidak mengerti maksud istrinya langsung naik keatas menuju tempat Lena sedang berdiri.
"Tidur aja diheranin, kalau ngak tidur baru heran," seru Bagas saat tiba di depan kamar Leon.
"Memang ada apa ma? Leon tidur aja seperti mama lagi lihat setan saja!"
"Memang lagi ada setan pa," Lena berbicara sambil menggoyang-goyang lengan suaminya.
"Ada setan pa,"
"Setan apa sih ma?"
Lena menarik tangan Bagas membawanya masuk ke dalam kamar Leon.
"Hah...setannya anakmu, ma?" seketika Bagas menarik nafas dan munutup mulut dengan kedua tangannya, seperti yang dilakukan istrinya sebelumnya.
Bagas dan Lena bengong, saling memandang dalam kebingungan. Seperti patung melihat apa yang mata mereka sedang lihat.
__ADS_1
"Ayo keluar ma," ajak Bagas pada istrinya.
"Kok malah keluar pa?" bingung atas reaksi suaminya.
"Iya, kita keluar. Nanti kita bicara dibawah," bisik Bagas ditelinga Lena.
"Tapi mereka gimana? Masak kita tinggal begitu aja?"
"Sudah, sebentar lagi mereka juga pada bangun." Bagas menarik tangan istrinya keluar dan tiba-tiba
"Sebentar ma, papa sampai lupa,"
Bagas mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan
Cekrek...Cekrek..
Bagas mengambil foto Leon dan Jesselyn yang sedang tidur diatas ranjang.
Foto yang memperlihatkan Leon dan Jesselyn yang tengah tertidur pulas dengan tubuh Jesselyn dipeluk erat bagaikan guling oleh Leon.
"Anak nakal!" gumam Bagas dalam hatinya melihat wajah putranya itu.
Setelah mengambil beberapa foto, ia keluar menyusul istrinya yang sudah berada diluar kamar.
"Bukannya sebaiknya kita bangunin mereka pa?" melihat kearah kamar Leon dari sofa ruang tamu.
"Tunggu aja ma sebentar lagi," menyeruput teh jahe yang baru saja dibuat Lena.
Dua puluh menit kemudian
Dertt.....Dert.....
Suara ponsel Leon berdering diikuti getarannya.
Leon terkejut saat membuka matanya.
"Kak?" kata Jesselyn dengan mata terbelalak.
"Kamu ngapain disini?" tanya Leon balik dengan gugup.
Leon terdiam tidak bisa menjawab Jesselyn.
"Lepas kak, kakak itu berat."
"Apa?"
"Tangan dan kaki kakak. Aku bukan gulingnya kak Leon?" berusaha berbicara dengan tenang menutupi kegugupannya juga.
Leon yang belum sadar melihat posisi tangan dan kakinya yang memeluk Jesselyn bagaikan guling. Ia langsung melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Sangkin beratnya aku ngak bisa gerak," gerutu Jesselyn.
"Terus kamu pikir kamu ngak berat?" balas Leon tak mau kalah.
"Bukannya kaki dan tangan kak Leon yang nindih aku? Kenapa kakak yang jadi merasa berat?" sanggah Jesselyn dengan nada kesal.
"Bukan hanya kaki dan tangan, tapi dari atas sampai bawah, kamu pikir kamu ngak berat? Dua kali lagi!" ujar Leon mengingat saat menggendong Jesselyn kekamarnya dulu.
"Maksud kakak?" tidak mengerti perkataan Leon.
"Huffttt...sudahlah lupain aja."
Leon tidak ingin menjelaskan saat ia dua kali menggendong Jesselyn kekamarnya karena tertidur di sofa.
"Kali ini kakak jangan bilang kalau ini salahnya Jesselyn. Kalau om dan tante lihat, yang ada mereka syok," ujar Jesselyn tanpa melihat Leon dan berlalu meninggalkan Leon.
"Kenapa jadi gue yang salah? Memang gue yang meluk, tapi kan itu karena gue kira dia bantal guling. Gue juga ngak ngapa-ngapain dia?"
Leon menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Tapi tidur gue kenapa nyenyak amat ya tadi?" Leon bertanya dalam hatinya.
Karena haus dan lapar ia pergi ke dapur.
Sebenarnya belakangan ini Leon begitu sulit untuk tidur. Mungkin karena tugas kuliah yang menumpuk apalagi dengan skripsi yang sedang disusun Leon.
__ADS_1
Sejak semester lima, Leon juga mempunyai kegiatan sampingan. Ia bekerja sampingan pada salah satu dosennya untuk mendesign beberapa bangunan. Jika design yang ia kerjakan berhasil dan menang tender, ia akan mendapat bayaran dari dosen yang mempekerjakannya. Kebetulan dosennya itu adalah teman Bagas saat kuliah yang juga seorang konsultan bangunan sehingga tak masalah memberikan pekerjaan sampingan untuk Leon.
Leon juga tidak menolak saat ditawari, hitung-hitung menambah pengalaman sebelum terjun kedunia kerja yang sesungguhnya, pikir Leon.
Sejak melakukan pekerjaan sampingannya itu, Leon sudah mendesign sepuluh gambar bangunan dan mendapat bayaran dari enam gambar yang ia buat sendiri.
Karena bakat yang dimiliki oleh Leonlah sehingga dosen tersebut menawarinya pekerjaan sampingan, bukan hanya karena dia anak Bagas.
"Mama dengar kan? Menurut mama gimana sinetron yang baru saja tayang?" tanya Bagas pada istrinya yang sedari tadi mendengar setiap perkataan Leon dan Jesselyn. Bagas sengaja tidak menutup pintu kamar Leon saat keluar tadi, sehingga mereka dapat mendengar semuanya. Mereka juga melihat saat Jesselyn keluar dari kamar Leon dengan berlari kecil.
Dan saat ini mereka melihat Leon menuruni tangga dengan rambut dan pakaian khas orang bangun tidur.
"Ekhem...." Lena berdehem sangat keras.
"Mama dan papa sudah pulang?" tidak menyangka jika kedua orangtuanya sudah berada di rumah.
"Kapan nyampenya ma?" tanya Leon gugup.
"Sudah hampir satu jam" jawab Lena singkat.
"Sa...satu jam?"
"Kenapa? Kaget? Mama dan papa lebih kaget lagi lihat rumah seperti tempat uji nyali sangkin gelapnya."
"Maaf ma, aku lupa, tadi aku lagi ngerjain tugas dikamar jadi ngak ingat buat nyalain lampu."
Jawab Leon berbohong.
"Yakin lupa karena tugas? Atau....aw..! Apaan sih pa, kenapa pinggangg mama dicubit?" ringis Lena saat Bagas mencubit sedikit pinggangnya sehingga memotong omongannya.
"Nasi gorengnya ada dimeja makan, kamu makan sana," Bagas menyuruh Leon untuk makan karena melihat wajah gugup Leon saat ditanyain mamanya.
"Iya, pa."
"Sekalian panggil adik kamu juga buat makan."
"Tapi Nadya kan ngak dirumah ma?"
"Bukannya sekarang itu adik kamu ada dua? Mama juga tahu Nadya ngak di rumah. Kalau bukan adik, kamu anggap apa Jesselyn?"
Leon menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan mamanya. "Iya ma, Leon panggil dia."Ia kembali keatas untuk memanggil Jesselyn buat makan malam walaupun sudah telat waktunya.
"Dasar anak nakal!" ucap Lena.
"Sudah ma," tersenyum pada istrinya. "Setidaknya kita dapat satu celah bukan?"
"Iya sih pa, tapi mama syok banget. Foto yang papa ambil tadi jangan sampai terhapus ya, pa?"
"Pasti, ma!"
Setelah memanggil Jesselyn turun untuk makan malam, mereka berdua pun menuju meja makan.
Setiap interaksi mereka berdua tidak luput dari pandangan Lena dan Bagas, termasuk saat Jesselyn mengganti telur mata sapi di nasi goreng Leon dengan telur dadar miliknya. Jesselyn tahu jika Leon tidak menyukai telor mata sapi, sehingga ia berinisiatif menukarnya.
Leon yang melihat itu hanya diam tanpa berkomentar.
Tanpa Jesselyn sadari sebuah senyuman tersimpul diwajah leon walaupun hanya sekilas.
"Mama sudah ngertikan maksud papa dengan mata Leon saat bersama Jesselyn?"
"Hem.....iya pa, mama ngerti tapi kenapa luar dan dalamnya berbeda? Atau mungkin kita yang salah artikan kali ya, pa?"
"Ma?" menatap mata istrinya dengan tulus. "Papa hanya mau bilang, kalau waktu akan menjawab semuanya, jadi kita ikuti saja alurnya, oke?" (suka-suka si author ajalah)
"Iya, pa!" Makasih ya selalu bisa menenangkan mama?"
"Apa sih yang enggak buat mama?"
"Ih..., papa sudah tua tapi masih suka genit."
"Hahaha....sama istri sendiri kan ngak masalah ma," menggod istrinya.
"Ya sudah, kita istirahat yok!"
berjalan menggandeng istrinya setelah melihat Leon dan Jesselyn kembali ke kamarnya masing-masing.
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️ untuk membaca...Kau berikan lagi...jempol dan komen..+favorit juga ya???🤭🤭🤭...