Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Kamu Kenapa?


__ADS_3

Selesai makan malam Jesselyn mondar mandir di dalam kamarnya. Ia menggigit jarinya memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan pada Leon. Ia semakin bertambah gugup karena Leon menginginkan hadiahnya malam ini juga.


Dibukanya satu persatu laci dan lemari dalam kamarnya mencari sesuatu yang mungkin bisa ia jadikan sebagai hadiah.


Hem...


Jesselyn menghela nafasnya tak menemukan suatu barang yang layak untuk ia berikan.


Ia duduk ditepi ranjang dan mencoba mencari hadiah apa yang cocok ia berikan di internet. Jesselyn semakin pusing karena Leon tentunya sudah memiliki barang-barang yang disebutkan di internet.


Dilemparnya ponsel ditangan ketengah ranjang dan menelentangkan tubuhnya menengadah kelangit-langit kamarnya memikirkan sesuatu.


"Aku tahu," sontak Jesselyn berdiri setelah ia mendapat ide. "Aku bikin kue aja buat kak Leon. Kak Leon kan suka sama brownis dan bahan-bahan kue juga tersedia di dapur. Aku buat itu aja deh." Jesselyn menjentikkan jarinya dan gegas untuk turun kebawah.


Jesselyn langsung berjalan menuju dapur. Ia melihat Bagas dan Lena sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menyaksikan layar di hadapan mereka. Keduanya tidak menyadari saat Jesselyn lewat karena posisi membelakangi.


Langkahnya terhenti saat telinganya tak sengaja mendengar apa yang sedang suami istri itu bicarakan. Ia membulatkan matanya tak percaya akan apa yang ia dengar hingga tak sadar air mata mengalir membasahi pipinya.


Kedua tangannya meremas ujung baju tidurnya menahan tangis.


Setelah lima menit Jesselyn menarik langkahnya mundur dan kembali ke kamarnya.


Ia berulangkali mengusap air matanya saat berjalan menaiki tangga. Ia berjalan menunduk, banyangan bahagia masa kecil bersama kedua orangtuanya melintas dipikirannya hingga tak menyadari jika Leon sedang berdiri di depan pintu kamarnya memegang sebuah kotak kecil ditangannya.


"Hadiahku mana?" tanya Leon memalang pintu kamar Jesselyn dengan sebelah kakinya. "Ini" menyodorkan kotak yang ia pegang pada gadis itu.


Jesselyn menarik kaki yang memalang pintunya dengan kasar.


"Mana?" tuntut Leon lagi menagih hadiahnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Leon, Jesselyn membuka handle pintu kamar, langsung masuk dan menutup pintu.


Melihat Jesselyn yang seperti itu membuat Leon bingung.


Tok..tok.. tok..


Berulang kali Leon mengetuk pintu kamar Jesselyn namun tidak ada jawaban dari sipemilik kamar. Membuat Leon yang masih berdiri di depann pintu semakin bingung dan bertanya-tanya.


Tok.. tok.. tok..


Kembali Leon mengetuk pintu kamar dihadapannya.

__ADS_1


"Kenapa sih kak? Bisa ngak kalau ngak ganggu? Kalau kak Leon ngak punya kerjaan mending masuk kamar dan tidur," ucap Jesselyn marah setelah membuka pintu.


"Kamu kenapa?" tanya Leon melihat air mengalir dari mata Jesselyn. Ia mengangkat tangannya berniat menghapus air mata itu. "Kamu nangis?"


Secepat kilat Jesselyn menepis tangan Leon dan mengusap air matanya sendiri.


"Kamu kenapa? Kalau ada masalah kamu kan bisa ngomong. Kamu jangan nangis seperti ini, kamu buat aku bingung. Kamu marah karena aku minta hadiah ke kamu? Aku minta maaf, aku ngak maksa tapi tolong jangan seperti ini. Aku ngak suka."


Leon kembali akan menyeka air mata di pipi gadis itu namun Jesselyn kembali menepisnya.


Hem...


"Aku ngak tahu kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, aku ngak akan maksa kamu buat cerita sekarang. Tapi tolong jangan nangis lagi, ya?" ucap Leon lembut menatap kedua netra sang gadis yang basah.


Jesselyn membuang pandangannya tidak ingin menatap mata Leon.


"Sekarang lebih baik kamu istirahat," mengelus lembut rambut Jesselyn. "Ambil ini," memberi kotak kecil yang sedari tadi dipegangnya ketangan Jesselyn.


Jesselyn tersenyum kecut melihat kotak yang diberikan Leon.


Plak


Leon menarik tangan Jesselyn masuk ke dalam kamar, mendorongnya hingga menempel kedinding.


"Kamu kenapa?" tanya Leon mengguncang tubuh Jesselyn. Ia menahan emosi yang mulai datang menjalar. Sungguh Leon tidak suka melihat sikap Jesselyn yang tidak seperti biasanya. "Kamu ngomong dong, punya mulutkan?" kesal Leon karena gadis itu tidak menjawabnya.


Leon mengusap wajahnya kasar menahan emosi.


"Oke, kalau kamu ngak mau ngomong. Aku akan keluar, aku ngak akan ganggu kamu malam ini. Besok kita omongin kenapa kamu jadi seperti ini," ucap Leon melepas tangannya dari kedua bahu Jesselyn.


Sebelum Leon pergi ia menarik kepala Jesselyn mendekat padanya. Ia ingin mencium pucuk kepala sang gadis namun Jesselyn menarik kepalanya menjauh dari Leon.


Leon hanya bisa pasrah saat Jesselyn menolaknya. Leon keluar dan menutup pintu kamar Jesselyn. Dilihatnya kalung yang baru saja dilempar oleh Jesselyn. Perasaan sedih sekaligus kesal mencuat dihatinya.


Leon menunduk dan memungut kalung beserta kotaknya.


****


Pagi pun tiba, usai membantu Lena di dapur Jesselyn yang sudah bersiap ke kampus pamit tanpa memakan sarapannya.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya Lena melihat Leon yang sudah rapi padahal dia tidak ada jadwal ke kampus lagi seperti hari biasanya.

__ADS_1


"Leon cuman mau antar Jesselyn ke kampus, ma."


"Tapi dia sudah pergi dari tadi loh, mungkin juga sudah nyampe kampus," ucap Lena memberitahu. "Kalian berdua ngak lagi marahankan?" tanya Lena serius. Ia meletakkan sendok ditangannya, menatap Leon penuh selidik.


"Eng-gak ma," jawab Leon tidak yakin. Ia kembali mengingat sikap berbeda yang ditunjukkan Jesselyn semalam. "Leon pergi dulu ya, ma."


Leon menaiki motornya dan meluncur menuju tempat Jesselyn berada.


Dimeja makan Lena tampak melamun. Ia menopang dagunya dengan kedua tangannya yang terlipat. Pikirannya sedikit terganggu mengingat sikap dingin Jesselyn padanya selama berada di dapur tadi. Gadis itu bahkan tidak sarapan, padahal setiap paginya jika bukan karena ada hal penting dia tidak akan melewatkan sarapan paginya dirumah.


"Apa yang salah ya, atau mungkin cuman perasaan aku aja ya?" Lena terus bertanya-tanya hingga tak melihat kehadiran suaminya yang sudah duduk di depannya.


"Masih pagi loh, ma. Pantang pagi-pagi ngelamun, nanti rezekinya dipatok ayam."


"Bukannya rezeki dipatok ayam kalau bangunnya kesiangan, pa?" ucap Lena serius mengoreksi perkataan suaminya.


"Ya habis pagi-pagi mama sudah ngelamun sih. Lagi pikirin apa memangnya?" ucap Bagas yang kini bertanya dengan serius.


"Entahlah pa, mama juga ngak yakin. Mama cuman ngerasa kalau pagi ini sikap Jesselyn itu agak berbeda dari biasanya. Seolah-olah dia ngehindarin mama dan hanya manjawab sekilas jika ditanya."


"Ya sudah, akh! " Jangan terlalu dipikirin ma, bisa aja kan cuman perasaan mama aja atau mungkin dia lagi ada sesuatu dengan kuliahnya atau dengan temannya," ujar Bagas memberi pengertian pada istrinya.


"Gitu ya, pa. Mudah-mudahan cuman perasaan mama aja."


Keduanya melanjutkan sarapan pagi mereka sedangkan Leon yang baru saja tiba dikampus langsung memarkirkan motornya dan menghampiri Jesselyn keruangannya.


****


Semua mahasiswi diruangan itu berseru tatkala Leon menarik tangan Jesselyn agar keluar dari ruangan. Membawa gadis itu masuk ke salah satu ruangan kosong.


"Lepas!" pekik Jesselyn menarik tangannya dari genggaman Leon.


Saat tangan Jesselyn terlepas mata Leon tak sengaja menangkap jari Jesselyn yang sudah tidak memakai cincin lagi. Dilihatnya tangan Jesselyn yang satunya lagi.


Kosong!


Jesselyn tidak memakai satupun dari dua cincin yang biasanya ia pakai.


"Cincin kamu mana?" tanya Leon mengangkat kedua telapak tangan Jesselyn.


...Terimakasih sudah mampir baca kelanjutannya🙏🙏🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2