Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Karena Tante Lena


__ADS_3

Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini kediaman keluarga Bagas terasa begitu sepi sedangkan ada tiga anggota keluarga dan bu Sri yang sedang menyetrika dirumah.


Setibanya di rumah, Jesselyn langsung ke kamar dan mengunci pintunya. Lena yang berada diruang tamu dilaluinya begitu saja tanpa sedikitpun menyapa.


Jesselyn menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Air matanya kembali mengalir tanpa ada hambatan mengingat masa kecil dirinya bersama sang ayah.


Setiap kali ayahnya pulang bekerja, Jesi panggilan sang ayah untuk Jesselyn kecil, akan selalu mendapat hadiah. Baik itu berupa mainan, makanan ataupun hanya sekedar lolipop. Setiap akhir pekan ia akan diajak jalan-jalan oleh sang ayah dan membeli dua es krim rasa vanila saat akan pulang. Satu akan ia makan dijalan sedangkan yang satunya lagi stok untuk esok hari yang akan ia simpan di lemari es.


Saat tiba dirumah ibunya akan marah setiap kali mendapati Jesselyn dengan es krim ditangannya.


Mira melarang suaminya memberi Jesi es krim karena tidak baik buat anak-anak, apalagi putri mereka rentan akan batuk. Tentunya sang ayah yang akan siap pasang badan untuknya. Pandu selalu berjanji jika itu adalah yang terakhir kalinya ia membeli es krim untuk Jesi namun bukan Pandu namanya jika tidak melanggar janjinya sendiri. Ia akan kembali lagi membelikan Jesi es krim dan berjanji lagi itu adalah untuk yang terakhir kalinya.


Selalu saja begitu hingga membuat istrinya bosan untuk melarangnya lagi.


Jesselyn menangis sambil tertawa mengingat saat-saat kecil dirinya yang begitu bahagia bersama sang ayah.


Wajahnya berubah menjadi murung saat mengingat hari terakhir ia melihat ayahnya. Tidak hanya itu, ingatannya kembali saat dulu selalu menyaksikan teman-temannya setiap kali dijemput oleh ayah mereka.


Pernah suatu hari ia menangis di sepanjang jalan hingga tiba dirumah karena tidak ada yang menjemputnya. Saat itu entah apa yang terjadi Jesselyn menemukan ibunya tergeletak dibawah mesin jahit. Ia semakin bertambah menangis dan hanya bisa berteriak memanggil-manggil tetangga disebelah rumah.


Jesselyn masih sangat ingat hari itu karena hari itu adalah hari pertama ia kembali bersekolah setelah kepergian ayahnya.


****


Tok


Tok


Tok


Lena mengetuk daun pintu kamar Jesselyn pelan. Sungguh ia sangat khawatir akan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi Leon yang berada disebelah kamar yang ia ketuk pintunya sama sekali belum keluar.


"Tante bisa masuk sayang?" pinta Lena saat pintu dibuka namun sipemilik kamar membisu.


Jesselyn membelakangi Lena menghapus air matanya yang sedari tadi menganak.


Kini keduanya duduk ditepi ranjang dengan pandangan menjurus ke depan.


Lena memutar tubuhnya menghadap gadis di sampingnya, meraih kedua tangannya untuk berbicara.


"Ada apa, hem?" tanya Lena begitu lembut." Kamu ceritakan sama tante ada masalah apa atau kak Leon marahin kamu, iya?" lanjut Lena bertanya sambil menyelipkan anak rambut Jesselyn yang berantakan kebelakang telinga namun Jesselyn malah membuang wajah.

__ADS_1


Lena semakin bingung dan gusar karena gadis itu sama sekali tidak mau melihat kearahnya.


"Kalau kamu belum mau cerita sama tante sekarang ngak masalah, tapi kamu jangan seperti ini sayang. Tante sedih apalagi lihat keadaan kak Leon disebelah. Dari tadi dia belum keluar dan makan, tante takut dia ngelakuin hal aneh-aneh."


Jesselyn masih dengan diamnya enggan menyahut wanita disampingnya.


Hem...


Lena bangkit berdiri dan mengelus rambut Jesselyn lembut.


"Jangan lupa makan ya, nak."


Lena berjalan hendak keluar, memberi waktu bagi Jesselyn istirahat. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi namun ia tidak ingin memaksanya untuk bicara.


"Kalau bukan karena tante, ayah mungkin masih ada. Iyakan?" ucap Jesselyn tepat saat Lena memegang handle pintu. "Ayah meninggal karena tante."


Duar....


Bagai disambar petir Lena memalingkan wajahnya pada Jesselyn, menarik tangannya dari handle pintu.


"Kalau bukan karena tante minta donor itu, ayah mungkin masih ada."


Akhirnya Lena tahu apa yang menjadi penyebab sikap Jesselyn berubah. Dengan langkah berat Lena kembali mendekati Jesselyn.


Tangis Lena pecah. Ia tidak menyangka jika akan seperti ini jadinya.


"Ngak. Tante yang salah, semuanya bohong bilang ayah ninggal karena kecelakaan saat kerja," ucap Jesselyn histeris.


Bagas yang baru saja kembali dari pondok di samping rumah bergegas lari keatas mendengar suara histeris. Didapatinnya sang istri tengah menangis dihadapan Jesselyn.


"Ini ada apa, ma?" tanya Bagas menangkup wajah istrinya dan menyeka air mata yang masih setia mengalir.


Lena menggelengkan kepalanya menatap mata suaminya lekat, ia tidak tahu harus berkata apa. Pandangan Bagas kini berganti pada seorang gadis yang tak melepaskan netranya pada sang istri.


Bagas bingung ingin menenangkan yang mana deluan karena baik istrinya maupun Jesselyn sama-sama dalam keadaan terisak.


"Kalian berdua kenapa menangis seperti ini. Apa tidak ada yang akan menjawab pertanyaan saya?" Bagas bergantian melihat Jesselyn dan istrinya.


"Pa" panggil Lena begitu lirih. "Mama yang salah, ini semua karena mama."


"Bicara yang tepat ma, papa ngak ngerti apa maksud...."

__ADS_1


"Ayah meninggal karena tante, iyakan om?" ucap Jesselyn memotong perkataan Bagas dan membuat pria paruh baya itu termangu.


Bagas dengan cepat meraih kedua tangan Jesselyn, membawanya kedalam kedua telapak tangannya.


"Bukan seperti itu, nak. Kamu salah paham. Benar kalau tante dan om meminta pergantian donor waktu itu tapi sama sekali tidak terpikir akan apa yang terjadi selanjutnya. Kami juga sangat menyesal maka dari itu kami...."


"Mau balas budi karena merasa berhutang atas meninggalnya ayah kan?" lagi-lagi Jesselyn memotong perkataan Bagas. "Semua yang keluarga ini lakukan semata karena merasa berhutang kan?"


"Tante benar-benar sayang sama kamu dan anggap kamu seperti anak tante. Maafin tante sayang, jangan seperti ini. Kamu bisa marah sama tante tapi tolong jangan marah ke Leon juga ya?" pinta Lena menekan kalimat terakhirnya.


"Iya, nak. Percaya sama kami, apapun yang sudah kami lakukan buat kamu itu semua tulus. Kami tahu apa yang sudah kami berikan tidak sebanding dengan pengorbanan pak Pandu, ayah kamu.


Lena mendekat dan mencoba memeluk Jesselyn namun kembali ia membuang wajahnya.


Leon yang sedari tadi berdiri diluar kamar hanya diam mengikuti arus pembicaraan mereka namun rasa takut dihatinya semakin besar. Leon takut jika Jesselyn menjauh darinya.


"Kamu istirahat saja dulu, nanti kita bicara lagi setelah kamu tenang," ucap Bagas mengelus rambut hitam pekat Jesselyn. Ia juga menganggukan kepalanya pada sang istri memberi kode agar mereka meninggalkan Jesselyn.


"Maafin tante sayang," ucap Lena yang akhirnya keluar dituntun Bagas.


Diluar kamar kedua suami istri itu melihat anak mereka duduk dilantai, menyandarkan tubuhnya pada tembok.


Lena tidak tega melihat penampilan Leon yang seperti itu, ia yakin karena kesalah pahaman ini Leon akan terkena imbasnya juga.


Leon menghapus air matanya dan bangkit berdiri. Seharian ini ia belum makan dan minum sama sekali. Setelah mendengar semuanya, ia hanya ingin meyakinkan gadisnya jika apa yang ia lakukan dan rasakan adalah tulus.


Dengan pelan Leon melangkah memasuki kamar gadisnya. Dilihatnya Jesselyn berdiri bersandar pada tembok menatap keluar dari jendela dengan mata sembab.


"Mau apa?" tanya Jesselyn datar menyadari kehadiran Leon. Ia sudah tidak punya tenaga lagi karena terlalu banyak menangis.


"Jangan seperti ini samaku," ucap Leon memohon.


"Lepas!"


Authornya minta maaf jika part ini 'bleh'


bukan karena kehabisan ide, tapi moodnya sedang traveling entah kemana.


Beribu terimakasih seperti beribunya yang kasih like dan komentar🙄🙄🙄aku ucapin buat yang baca cerita ini.


Semoga hariku dan hari kalian semua semakin baik kedepannya.

__ADS_1


Terimakasih 🙏❤️


__ADS_2