Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Tidak Sedekat Itu


__ADS_3

"Kenapa ngak kasih tahu sih Jes kalau siganteng kuliah disini juga? Untung Wina ngak kuliah disini, bisa-bisa pingsan tu orang ketemu siganteng lagi." Lina melipat kedua tangannya diatas meja kursinya menatap Jesselyn penuh tanya.


"Kalau aku bilang aku juga baru tahu hari ini bahwa aku satu kampus dengan kak Leon, kamu juga gak bakalan percayakan?"


"Seriusan? Kok bisa?" membulatkan matanya melongo tak percaya pada teman SMAnya itu dulu.


Jesselyn hanya mengangkat kedua bahunya. Dia merasa begitu oon karena tidak mengetahui jika om Bagas memasukkannya ke kampus dimana Leon juga kuliah.


"Om dan tante kenapa ngak kasih tahu ya? Kak Nadya juga, apa mereka sengaja tidak memberitahuku karena takut aku akan menolak jika diberitahu terlebih dahulu?" Menerka-nerka dalam hatinya apa yang mungkin menjadi alasan keluarga om Bagas tidak memberitahunya.


"Apa kak Leon tidak masalah dan keberatan? Bukankah selama ini kak Leon selalu menjaga jarak denganku? Entahlah aku tidak tahu, yang pasti mulai hari ini setiap berada dikampus sebisa mungkin tidak usah bertemu dengannya. Aku tahu dia pasti merasa risih jika aku berada disekitarnya," menghela nafasnya kasar.


"Tapi tidak apa, setidaknya kak Leon akan segera lulus dan dia akan segera meninggalkan kampus ini."


Lamunannya berhenti saat dosen yang baru saja masuk langsung memberikan salam kepada para mahasiswa barunya.


Jesselyn membenarkan posisi duduknya yang berada disebelah Sinta dan dengan serius mengikuti kelasnya hari ini.


Sembilan puluh menit berlalu, setelah dosen tersebut meninggalkan ruangan, seluruh isi kelas satu persatu juga meninggalkan ruangan mereka.


"Jes, aku balik deluan ya, mau bantu-bantu dirumah soalnya nanti sore ada arisan dirumah," memasukkan buku dan alat tulisnya kedalam tasnya.


"Kalau gitu kamu hati-hati ya, jangan ngebut kasihan si bebek!"


"Hahaha...masih ingat aja sih Jes, iya sih umur sibebek juga da hampir lima tahun tapi masih setia nemanin aku kemana-mana."


Hahaha...


Mereka tertawa bersama membuat orang yang duduk dibelakang Jesselyn bingung. Ia tidak mengerti akan apa yang mereka berdua sedang bicarakan apalagi saat mereka membahas bebek.


Ia berpikir bebek yang sedang dibicarakan adalah bebek asli, namun yang dimaksud Jesselyn dan Sinta adalah sepeda motor yang selama ini digunakan Sinta.


Hahaha...ada-ada saja memang...


Setelah kepergian Sinta, ia juga beranjak untuk pulang. Ia berjalan menuju halte tempat ia akan menunggu angkot. Ia sudah berjanji pada dirinya agar mandiri dan tidak merepotkan orang lain.


Baru saja lima menit tiba dihalte, ia dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan tersenyum pada orang tersebut.


"Leo...? Kamu ngapain?"


"Nyamperin kamu, waktu aku ke ruangan kamu, eh...ternyata kelas kamu sudah bubar jadi aku inisiatif kesini dan dugaan aku benar."


"Oh, memang ada apa nyariin aku?"


"Ngak sih, cuman pengen pulang bareng kamu aja, yuk aku anter pulang?" Leo menarik gadis yang begitu ia kagumi itu menuju tempat dimana motornya diparkirkan.


Bagi Leo, Jesselyn adalah seorang gadis yang sangat menarik. Bagaimana tidak, Jesselyn selalu bersikap apa adanya dan selalu berpenampilan natural.

__ADS_1


Saat orang-orang dari kampung biasanya terpengaruh dengan sebutan 'lo, gue' Jesselyn tetap menggunakan aku dan kamu saat berbicara. Ditambah dengan senyuman manisnya yang bagi siapa saja yang melihatnya aka terhipnotis seketika dan membuat jantung serasa melompat. (Ahaii....)


"Aku pulang sendiri aja ya, aku ngak enak nyusahin kamu terus," pinta Jesselyn dengan nada lembutnya.


"Kamu ngak pernah nyusahin kok, kalau ada yang bilang kamu itu nyusahin, ngak usah dipikirin. Itu tandanya orang itu belum kenal kamu dengan baik, oke?" tanpa bertanya lagi Leo langsung memasang helm dikepala Jesselyn dan menepuk tempat duduk motornya tanda ia mempersilahkan Jesselyn untuk naik.


Jesselyn tersenyum dan lima detik kemudian dia sudah berada diboncengan Leo.


"Makasih ya?" ucap Jesselyn yang mendapat anggukan kepala dari Leo.


Ia merasa senang mendapat perlakuan manis seperti itu, berbeda dengan seseorang yang selalu ketus dan cuek padanya.


"Besok aku jemput ya?" Leo yang mengendarai motornya bekata dengan nada kuat karena suara berisik dari motornya dan kendaraan yang lalu lalang.


"Ngak usah Le, besok aku diantar om Bagas."


"Kalau gitu pulangnya aku antar, jadi kamu jangan jalan ke halte, oke?"


Jesselyn bingung harus menjawab apa, dia diam sepanjang perjalanan hingga motor Leo berhenti di depan pagar rumah keluarga Bagas.


"Jangan sering-sering ya, aku tahu kamu orangnya baik tapi aku ngak enak. Aku juga ingin bisa mandiri dan melakukannya sendiri."


Leo mengerti apa yang dimaksud gadis yang saat ini berdiri dihadapannya itu, Leo tersenyum dan mengacak-acak rambut Jesselyn.


"Oke deh kalau gitu, tapi kamu janji kalau butuh apa-apa atau perlu bantuan, aku siap buat kamu, deal?" mengangkat jari kelingkingnya, Jesselyn langsung menautkan juga kelingkingnya dikelingking Leo tanda setuju.


"Kamu juga hati-hati dan jangan ngebut, oke?


Setelah itu Leo melajukan kembali motornya dengan kecepatan sedang.


Saat menaiki tangga menuju kamarnya, Jesselyn melihat Leon sedang berdiri di depan kamarnya seolah sedang menunggu kedatangan Jesselyn.


"Tumben jam segini sudah nyampe rumah? Bukannya jam segini itu biasanya jam macet ya?" Leon berkata tanpa melihat kearah Jesselyn, ia menunduk karena sibuk memainkan handphonenya.


"Aku masuk dulu kak," ucap Jesselyn karena Leon menghalangi jalannya.


Bukannya bergeser Leon malah menyandarkan tubuhnya tepat di pintu kamar Jesselyn. Ia berdiri dengan menyilangkan kakinya dengan tangan dan mata yang masih sibuk pada handphonenya.


"Kak, tolong minggir sedikit, aku mau masuk?" ucap Jesselyn sekali lagi dengan lembut.


"Oh iya, ck" berdecak sambil memasukkan handphonenya kedalam saku celananya tanpa sedikitpun bergeser dari posisinya. "Nyampenya pasti cepatlah, kan dianterin naik motor tadi, iyakan?" ucap Leon sinis yang kini menatap tajam orang yang dimaksud.


"Kak?" panggil Jesselyn lirih.


"Kenapa?"tanya Leon datar.


"Apa salahnya kak?"

__ADS_1


"Ck, tanya salahnya apalagi? Memangnya uang yang dikasih mama dan papa kurang buat ongkos pulang naik angkot atau bus? Apa cuman dia orang yang kamu ingat untuk kamu minta diantar pulang?"


"Dia? Maksud kak Leon itu Leo? Kak, Leo yang minta aku pulang bareng dia?" suara Jesselyn terdengar semakin lirih.


"Dan kamu juga suka kan? Makanya kamu mengiyakan ajakannya? Ngakunya sama mama pengen pulang sendiri karena mau mandiri, ternyata biar bisa bebas jalan sama dia, iyakan?" tuduh Leon dengan suara yang semakin tinggi.


"Leo teman aku kak, om dan tante juga kenal. Kenapa harus bolak-balik ngomongnya ke kakak? Lagian apa masalahnya kalau dianterin Leo?" jawab Jesselyn yang berubah menjadi emosi.


"Teman, teman tapi kamu suka diakan?"


"Aku suka atau tidak, itu bukan urusan kak Leon. Kakak aja ngak kasih tahu aku kalau kita satu kampu. Oh, iya. Kita kan ngak sedekat itu ya buat ngobrolin hal seperti itu. Jadi karena kita bukan orang yang punya hubungan dekat, kakak ngak ada hak ngelarang aku jalan dengan siapa aja," tutur Jesselyn dengan tubuh yang bergetar karena kesal.


Jesselyn menggeser tubuh Leon dari depan pintunya, setelah berhasil membukanya ia pun langsung masuk. Saat akan menutup pintunya dari dalam, tangan Leon sudah terlebih dahulu memegang gagang pintu, ia melangkah masuk ke kamarnya Jesselyn dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Jesselyn.


Jesselyn yang menyaksikan itu hanya menatap langit-langit kamarnya, ia menghembuskan nafasnya kasar tak mengerti apa yang sedang ia lihat.


Kini pandangannya beralih ke tubuh Leon yang sedang meguasai ranjangnya.


Ia berjalan mendekati Leon bermaksud memintanya keluar.


"Keluar kak, aku mau ganti baju. Tidur dikamar Kakak aja," pinta Jesselyn.


Karena tidak ada jawaban, Jesselyn memberanikan diri menggoyang tubuh Leon.


"Kak, keluar dong, ini kamar aku. Kak, kak Leon?" ini orang budeg atau mati sih? batin Jesselyn. "Kak, kak Leon bangun dong, aku mau ganti baju, kakak keluar dong?"


"Bisa diam ngak?" jawab Leon tiba-tiba tanpa bergerak dari posisinya.


"Tapi kak, aku...."


"Kamu sudah buat aku kesal, jadi lebih baik kamu diam dari pada nanti kamu menyesal," Leon berkata dengan wajah yang ia benamkan dibantal putih bersih milik Jesselyn.


Jesselyn langsung menjauhi tubuh Leon karena takut. Ia mengambil pakaian gantinya dan beranjak ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian ia keluar dan melihat Leon masih berada di ranjangnya.


"Hem....


pakai acara tidur lagi," gumam Jesselyn yang mendengar deru nafas Leon yang teratur karena sudah terlelap. "Aku juga ngantuk, pengen istirahat sebentar, gimana dong?"


Ia berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Leon yang sedang tertidur.


...Happy reading ya......


...jangan lupa kasih jempolnya!!!...


...❤️❤️❤️❤️ buat kamu....

__ADS_1


__ADS_2