Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Jangan Sentuh Saya


__ADS_3

Seperti biasanya sepulang kuliah Jesselyn langsung berangkat menuju tempat ia bekerja. Barangkali dapat dikatakan jika gadis itu sangat berjodoh dengan tukang ojek yang mengantarnya dihari pertama masuk kerja dan memanggilnya neng bidadari. Bagaimana tidak, dalam dua minggu ini hampir setiap hari kang Zaki, panggilan tukang ojek tersebut, yang mengantarnya ke Rainbow Cafe.


Kang Zaki yang megang tipekal orang yang humoris dan ceriwis selalu bisa membuat Jesselyn tertawa akan setiap cerita maupun guyonannya saat berada diatas motornya.


Tiba di Cafe, Jesselyn memakai seragam kerjanya dan langsung memulai pekerjaannya. Disela-sela kesibukannya Jesselyn menyempatkan diri untuk memakan bekal makan siang yang diberikan istri pak Asep sebelum Leon datang menjemput dan mengantarnya ke kampus pagi tadi.


Sesuap demi sesuap ia masukkan ke dalam mulutnya sembari menunggu pesanan tamu siap untuk disajikan.


Sesama karyawan yang lainnya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kebiasaan Jesselyn yang seperti itu. Jika pesanan tamu siap dihidangkan ia menutup kembali kotak bekalnya dan melanjutkan lagi setelah ia selesai mengantar pesanan tamu.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, malam ini ia akan pulang sendiri. Pagi tadi saat tiba di kampus Leon mengatakan jika ia kemungkinan besar tidak dapat menjemput gadis itu pulang karena harus lembur dan ada rapat tim untuk kelanjutan proyek pembangunan wahana yang ia kunjungi beberapa minggu lalu bersama Adit.


Sinta yang hari ini juga tidak masuk kerja karena harus pulang kampung disebabkan neneknya yang meninggal dunia membuatnya terpaksa harus menggunakan kendaraan umum.


Setelah naik kedalam angkot yang hanya ada tiga penumpang didalam termasuk dirinya sendiri, membuat bulu kuduk Jesselyn merinding.


Semua penumpang memang wanita namun mengingat perkataan sahabat-sahabatnya, Neta dan Dela saat mengantarnya kebandara yang mengatakan ibukota lebih kejam dari ibu tiri membuatnya sedikit khawatir dan tetap waspada terhadap siapapun apalagi orang yang tidak ia kenal.


"Kenapa dek, kok kelihatannya takut?" salah seorang dari penumpang itu menggeser tubuhnya merapatkan duduknya disebelah gadis yang terus memegangi tali tas sandangnya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan suara.


"Turun dimana dek, rumahnya masih jauh?" tanya seorang yang lain dengan posisi duduk dihadapan Jesselyn.


"Bentar lagi juga nyampe kok," kilah Jesselyn asal berusaha semaksimal mungkin menampilkan wajah berani.


Sempat ia berpikir mengapa tadi ia menolak saat Dennis menawarkan dirinya untuk mengantar pulang.


Ya, malam ini Denis kembali lagi ke Rainbow Cafe dan saat Jesselyn mencatat menu yang dipesannya, pria itu sempat mengajukan diri untuk mengantar gadis itu pulang setelah selesai kerja namun langsung ditolak oleh Jesselyn.


"Jangan takut dek, kita bukan orang jahat kok," mencoba menarik simpati Jesselyn. "Oh iya, punya uang tukeran seratus ribu ngak dek, saya dan teman saya ngak punya uang pecahan buat ongkos angkot."


"Pak, minggir depan!"

__ADS_1


Suara lantang dan keras Jesselyn membuat si sopir angkot mendadak mengerem. Dengan gerak cepat Jesselyn turun dari angkot dan tak lupa memberi ongkosnya yang sudah ia pegang sedari keluar dari cafe.


(Authornya juga begitu, dulu sewaktu kuliah dan setiap naik kendaraan umum selalu siapin ongkos sebelum naik angkot biar ngak buka-buka dompet kalau di dalam angkot. Karena kejahatan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja...ellehhh..sudah seperti Bang Napi saya)


Entah apa yang terjadi dan dipikirkan kedua penumpang yang masih berada di dalam angkot, yang jelas wajah mereka berdua berubah jadi kecut dan masam, tidak seperti saat Jesselyn masih ada, keduanya mengulas senyum dan ramah.


Sambil komat-kamit Jesselyn berjalan seorang diri padahal sudah sekitar setengah sebelas malam. Ia komat-kamit merutuki dirinya yang bagaikan buah simalakama.


Jika ia masih berada di angkot tadi ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya, sampai dengan selamat tanpa kejadian apapun atau terjadi sesuatu padanya karena firasatnya mengatakan jika kedua penumpang yang bersamanya tadi kemungkinan besar mempunyai maksud jahat.


Pada akhirnya gadis itu terpaksa harus turun dari angkot sedangkan tujuannya belum sampai hingga membuatnya harus berjalan kaki. Satupun angkot tidak ada lagi yang lewat, ingin memesan ojek online baterai ponselnya sudah koit sejak dari kampus dan lupa mengisi dayanya ditempat kerja.


Bulu kuduk gadis itu kembali berdiri saat memasuki jalanan yang rawan kecelakaan sekaligus rawan begal. Jarak menuju tempat tinggalnya ada sekitar setengah jam lagi jika dilalui dengan berjalan kaki.


Benar saja, sekitar lima menit berjalan di daerah itu, dua pria berjalan mengikutinya dari belakang. Jesselyn mempercepat langkahnya saat melihat dua bayangan besar di depannya yang terpantul pada aspal hitam.


Jesselyn semakin memeluk erat tas dan tubuhnya. Jangan tanya lagi bagaimana kerja jantungnya saat ini apalagi Jesselyn adalah tipe orang yang mudah sekali untuk kaget (tapi tidak latah seperti yang di tipi-tipi). Saat kaget ia akan tersentak dan panas dingin pada tubuhnya, telapak tangan dan kakinya akan berkeringat dan kaku.


Lama-kelamaan dua pria itu menyamakan posisi mereka dengan Jesselyn hingga gadis itu berada ditengah. Jesselyn tak berani menoleh kekiri maupun ke kanan. Sudah dapat dipastikan jika kini wajahnya sudah pucat.


Tiga...


Dua...


Satu!


Aaaaa...


Jesselyn berteriak, belum sempat ia berlari dua tangan kekar sudah terlebih dahulu menggenggam lengannya. Kedua lengannya ditahan oleh kedua pria itu.


Jesselyn menangis ditengah-tengah teriakannya minta tolong namun sayang jalan sepi dan tak adanya rumah disekitar membuat teriakan dan tangisan itu seolah tak berguna.


Kedua pria itu ternyata begal yang selalu meresahkan para pengendara saat melewati jalan tersebut. Mereka saling beradu pandang mendengar tangis dan teriakan gadis itu padahal mereka baru hanya memegang kedua lengannya.

__ADS_1


"Hiks...hiks...hiks... Lepasin saya pak, saya mau pulang. Jangan sakiti saya, saya belum mau mati. Kasihan ibu saya dikampung pak," tangis Jesselyn mengingat ibunya. Ibunya adalah orang pertama yang terlintas dipikirannya.


"Lo bisa diam ngak, cengeng amat sih. Cantik-cantik tapi mewekan, malu sama wajah manismu," teriak salah satunya.


Rekannya yang lain langsung merampas tas milik Jesselyn dan mengeluarkan semua isinya dipinggir jalan. Saat insiden itu terjadi ada dua motor yang lewat namun tak satupun yang berhenti. Mungkin mereka takut menjadi sasaran empuk para begal itu juga.


Ponsel, dompet dan jam tangan Jesselyn langsung diambil. Jesselyn kembali menjerit sekuat tenaganya saat begal yang bertubuh kerempeng dan berambut jabrik merogoh isi kantong celana Jesselyn karena berpikir mungkin ada uang didalamnya.


"Lumayan" ucap si jabrik saat mendapat selembar uang dua puluh ribu dari kantong celana tersebut.


Begal yang bertubuh gempal dan kepalanya pelontos mengamati tubuh Jesselyn dari atas hingga kebawah.


"Brik, sayang kalau dianggurin."


Sijabrik menyeringai mengerti maksud rekannya.


Jesselyn menggigit lengan sigempal dan berhasil melepas cengkramannya namun karena kurang seimbang gadis itu terhuyung dan jatuh. Dalam keadaan menangis tak henti ia merapatkan kedua lututnya dan memeluk lutut yang bergetar itu. Ia menunduk, menjatuhkan kepalanya diatas lututnya sambil memohon belas kasihan pada kedua begal tersebut untuk tidak berbuat jahat padanya.


"Jangan sakiti saya, pak. Bapak berdua boleh ambil semua barang-barang saya tapi tolong lepasin saya."


Hiks...hiks...hiks...


Kepala Jesselyn terasa semakin berat dan sekujur tubuhnya bergetar. Ia bergidik ngeri saat sebuah tangan kasar meraih dagunya dan mengelus pipi lembutnya.


Plak


Jesselyn menepis tangan kasar si jabrik tak sudih dan jijik merasakan sentuhan tangan itu. Sijabrik menjadi semakin bersemangat untuk bermain dengan gadis yang begitu berani menepis tangannya.


"Jangan sentuh saya, pak. Sa...saya...saya...saya ngak mau, na...na..nanti calon suami saya marah, saya sudah tunangan, pak. Hiks...hiks...hiks...Ngak boleh ada yang sentuh saya, cuman suami saya nanti yang boleh. Ja-jadi tolong lepasin saya pak."


"Lo kira kami peduli, ha?" pekik si gempal.


Suara sigempal mengejutkan Jesselyn membuatnya semakin takut.

__ADS_1


"Aaaa... Kak Leon...." tangis Jesselyn menyebut nama pria itu.


__ADS_2