Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Bagas dan anggota keluarga yang lain tak kalah bersemangat dan bahagia mendengar apa yang disampaikan Leon. Mereka bahagia karena Jesselyn menerima dan siap menikah dengan Leon.


Tanpa menunggu lama Lena langsung melakukan panggilan video call pada Mira, Ibunya Jesselyn di kampung.


Dengan air mata terurai ibu Jesselyn merespon positif keinginan keluarga Bagas yang menginginkan putri semata wayangnya sebagai menantu mereka. Air matanya tak henti mengalir terlebih saat Jesselyn menyatakan siap untuk menikah.


Sejujurnya Mira sedikit terkejut dan khawatir mengingat usia Jesselyn dan Leon yang masih muda namun Leon yang duduk disamping Jesselyn ikut meyakinkan calon mertuanya itu bahwa ia akan menjaga dan menyayangi Jesselyn dengan sepenuh hatinya.


Mira yang melihat ketulusan Leon tak memiliki alasan lain untuk menolaknya apalagi semua keluarga Bagas sangat menyayangi putrinya.


Masih dengan sambungan video call yang terhubung, tanpa menunggu lagi mereka membahas hari dan tempat diadakannya pernikahan Jesselyn dan Leon.


Pasangan muda yang sebentar lagi akan menjadi suami istri itu mendengar setiap yang dibahas dengan penuh perhatian.


Lena begitu antusias menyampaikan setiap pemikiran dan ide-idenya seolah-oleh ia sudah lama menyiapkan rancangan pernikahan untuk Jesselyn dan Leon.


Dari hasil keputusan yang di dapat maka pernikahan akan diadakan dua minggu lagi di Jakarta. Tidak banyak tamu yang akan diundang, hanya keluarga inti, beberapa rekan bisnis dan teman-teman dari Jesselyn dan Leon yang akan diundang.


Lena yang tadi menginginkan pernikahan megah dan besar terpaksa harus mengurungkan niatnya karena Jesselyn yang menginginkan pernikahan sederhana. Berbeda dengan Leon yang tidak mempermasalahkan jika pesta pernikahan mereka diadakan sederhana maupun megah, ia tidak peduli dan ambil pusing selama ia tetap akan menikah dengan Jesselyn, gadis pilihan hatinya.


****


Dua minggu bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan pernikahan namun beruntung Lena mempunyai beberapa kenalan yang akan membantunya.


Masih seperti hari-hari biasanya, Jesselyn tetap ke kampus dan Leon pergi ke tempat kerja.


Hari ini usai dari kampus, Jesselyn segera meluncur ke Rainbow Cafe. Niatnya setelah mengambil gaji bulan ini ia akan meminta izin untuk cuti. Awalnya ia akan tatap bekerja dan cuti selama tiga hari saat akan pernikahan namun sesuai perintah ibunya ia terpaksa akan mulai cuti hari ini sedangkan pernikahan mereka masih akan diadakan sepuluh hari kedepan.


Beruntung manager tempatnya bekerja memberikannya izin untuk cuti.


****


Undangan sudah dicetak dan beberapa sudah disebar, salah satunya pada rekan-rekan bisnis Bagas.


Malam ini Leon mengajak Jesselyn menghadiri pesta pernikahan salah satu temannya. Dengan balutan dress selutut berwarna cream, berlengan pendek Jesselyn tampak begitu manis. Rambut lurusnya yang hitam dan panjang dibiarkannya tergerai.


Jesselyn sedikit gugup mengingat ini pertama kalinya ia menghadiri undangan resmi bersama Leon.


"Hem?"


Jesselyn terlihat bingung saat Leon mengarahkan siku padanya.


"Apa kamu mau nanti ada perempuan lain yang nautin lengannya dan jadi gandengan aku di sini?" tanya Leon saat keduanya turun dari mobil dan hendak berjalan kedalam gedung pernikahan.


Beberapa detik kemudian Jesselyn langsung menautkan lengannya. Sebelum maksuk ke dalam gedung Leon mengambil satu undangan dan menyelipkannya dalam saku jas yang dipakainya.

__ADS_1


Leon menggandeng Jesselyn berjalan dengan tersenyum. Leon sangat-sangat menyukai moment saat Jesselyn terlihat bingung maupun saat sedang ngambek. Menurutnya hal itu sangat menggemaskan dan menyenangkan.


"Aku cantik kan, kak?"


Sambil berjalan Jesselyn mengecek penampilannya. Bukan tanpa sebab, saat mereka mulai memasuki gedung ia melihat setiap tamu yang hadir berpenampilan begitu cantik dan menarik. Terlihat dewasa dan ada beberapa wanita yang menurutnya sangat seksi karena pakaian mereka yang cukup terbuka.


"Em...."


Leon meneliti penampilan Jesselyn dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jesselyn menanti apa yang akan dikatakan Leon dengan sangat tidak sabar.


"Gimana, kak?"


"Cantik sih tapi tepatnya manis dan imut."


Jesselyn menunduk dan tersipu malu. Ia tidak tahu mengapa setiap kali Leon memujinya jantungnya seakan kembang kempis dan hawa panas menghampiri wajahnya.


Leon mengajak Jesselyn dan memperkenalkannya kepada beberapa orang temannya yang juga ikut menghadiri pesta sambil mencicipi hidangan yang disediakan oleh pemilik hajatana.


Jesselyn tak dapat menahan senyumannya saat teman-teman pria Leon memujinya.


"Cantik dan manis."


"Makasih kak," ucap Jesselyn saat dipuji cantik dan manis oleh salah seorang teman Leon.


Jesselyn tersipu dan menempelkan telapak tangannya pada pipinya dan Leon tidak menyukai hal itu.


Lon menarik tangan Jesselyn pelan dan membawanya ke tempat yang tidak terlalu banyak orang.


"Kamu senang?"


Leon melepas tangan Jesselyn dan berdiri menghadapnya.


"Senang, kak."


"Jadi kamu senang dipuji laki-laki tadi?"


"Bu-bukan itu kak, maksudnya aku senang karena ada kak Leon," ucap Jesselyn tak mau Leon jadi salah paham.


"Bukan karena mereka muji-muji kamu kan?"


"Bukan dong, kak."


Jesselyn menampilkan senyum diwajahnya agar drakula di depannya tidak mengeluarkan gigi tajamnya.


"Bagus. Ya sudah, kita nyamperin pengantinnya lalu pulang. Lama-lama disini ngak bagus buat kamu."

__ADS_1


"Ngak bagus buat aku atau ngak bagus buat kak Leon? Dasar posesif!" gumam Jesselyn mengikuti langkah kaki Leon menuju singgah sana pengantin.


Jesselyn mengikuti Leon menyalami keluarga dan mempelai pengantin bergantian. Saat akan menyalam pengantin wanita, Leon sedikit menarik tangan Jesselyn, mendekatkan jarak mereka berdua.


"Selamat ya, Bel," ucap Leon sambil mengulurkan tangannya pada pengantin perempuan.


"Thanks ya, Yon."


Saat akan mengulurkan tangannya, Jesselyn merasa jika ia pernah dan tidak asing dengan wajah wanita dihadapannya namun ia ragu dan beranggapan jika mungkin ia salah.


"Selamat kak," ucap Jesselyn masih penasaran jika mungkin mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.


"Thanks ya, Jes. Oh iya, baik-baik ya sama Leon. He really loves you more than you know," bisiknya ditelinga Jesselyn.


Jesselyn bertambah bingung karena perempuan itu tahu namanya.


"Hehehe... Makasih kak...."


"Bela" lanjut Bela meneruskan kalimat Jesselyn. Ia tidak menyangka jika Jesselyn tidak mengenalinya.


Kaget! Jesselyn tak percaya jika wanita yang saat ini ia jabat tangannya dan berdiri sebagai pengantin wanita adalah Bela yang dulu diberikannya cincin pemberian tante lena, perempuan yang belakangan ini ia buntuti beberapa kali bertemu dengan Leon dan menghubunginya. Perempuan yang Jesselyn tahu sangat menyukai Leon.


"Ini"


Leon memberikan undangan yang tadi ia selipkan di jasnya pada Bela.


"Apa kamu sangat takut untuk kehilangan dia?" tanya Bela melihat undangan ditangannya.


Leon hanya memberikan senyuman atas pertanyaan Bela sedangkan Jesselyn masih terlihat bingung.


"Kita berdua pasti datang," ucap Bela menoleh pada suaminya yang berdiri di sebelahnya.


"Sekali lagi selamat buat kalian berdua," ucap Leon lagi pada sepasang suami istrinya yang baru sah itu.


Leon meraih tangan Jesselyn dan membawanya keluar dari dalam gedung pesta menuju parkiran.


****


"Leon?" panggil seseorang yang langsung meluknya tanpa tanya hingga tangan Jesselyn terlepas dari genggaman Leon.


".....?"


Jesselyn sedikit mundur, dilihatnya seorang perempuan sedang memeluk Leon begitu erat. Jesselyn memajukan bibirnya pertanda tak suka, apalagi penampilan gadis itu begitu cantik dan seksi. Gaun yang dipakianya membentuk lekukan tubuhnya.


Jesselyn melotot saat Leon melepas pelukan mereka. Tampak belahan dada perempuan itu terekspos begitu menantang dan Jesselyn mengingat jika Leon baru saja dipeluk perempuan itu begitu erat.

__ADS_1


Seakan ada yang mendidih, Jesselyn langsung menarik tangan Leon dan berdiri di depan Leon. Membuat jarak antara Leon dan perempuan itu.


"Kakak siapa?"


__ADS_2