Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Jadi Arwah Penasaran


__ADS_3

Senin pagi adalah hari yang sangat dinanti setiap orang karena mereka akan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Bekerja bagi yang bekerja dan belajar bagi anak sekolahan.


"Leon berangkat ya ma?" pamit Leon pada mamanya.


"Kenapa? Bukannya masih jam setengah tujuh? Tumben cepat berangkatnya?"


"Iya ma, ini aja aku sudah hampir telat." Leon berkata sambil memakan roti yang disiapkan mamanya diatas meja.


"Cukup segitu?" tanya Lena melihat Leon hanya makan seporltong roti.


"Nanti biar makan dikampus aja ma. Leon pergi ya ma?"


"Tunggu" Lena menghentikan langkah anaknya saat akan meninggalkan meja makan.


"Kenapa ma, ada yang salah?" tanya Leon bingung.


"Em...., ngak ada yang beda, apa yang mau dilihat?" ucap Lena memperhatikan wajah dan mata Leon.


"Anak mama ganteng dan keren, selain itu??? Sudah kamu boleh pergi" Lena tidak dapat menemukan hal lain selain penampilan dan wajah anaknya yang menurutnya sempurna. Lena tidak mendapat apa yang semalam dibicarakan oleh suaminya.


"Mama aneh deh, mending balik ke kamar buat istirahat lagi aja sana," Leon bingung akan mamanya yang melihatnya dengan penuh selidik. "Udah ah, Leon pergi"


"Tunggu?" lagi-lagi Lena menghentikan langkah Leon.


"Apalagi ma? Aku da hampir telat ni?"


"Sebentar" Lena berjalan mengelilingi Leon untuk menemukan sesuatu tapi juga tidak ia temukan. "Kamu boleh pergi sekarang tapi ingat, kakak yang baik harus menjaga adiknya dengan baik juga. Paham?" Lena menepuk pundak Leon.


"Nadya baik-baik aja, ma. Apa yang harus di khawatirkan?"


"Bukan, adik kamu??? Yang satu lagi, ingatkan?"


"Adik? Yang mana lagi ma?" Leon berpikir mencari tahu siapa yang mamanya maksud dan ia tahu siapa itu. "Jesselyn, maksud mama?"


"Iya, siapa lagi? Kamu punya adik yang lain lagi? Atau kamu lupa lagi, kan kamu sendiri yang bilang Jesselyn itu adik kamu sama seperti Nadya," Lena mengingatkan Leon akan ucapannya saat di toko sepatu.


"Iya ma, iya. Leon pergi" Leon berlari menuju garasi tempat motornya diparkir.


Diperjalanan menuju kampus ia kembali mengingat pesan mamanya dan perkataannya saat ditempat sepatu bersama mamanya.


"She's not my sister," ucap Leon yang juga cukup mahir menggunakan bahasa Inggris. "And it Will never happened," semakin mempercepat laju motornya.


"Sorry gue telat?" kata Leon saat tiba di kampus dan bertemu Adit.


"Santai aja bro, lagian mabanya (panggilan untuk mahasiswa baru) juga baru berdatangan. Acaranya juga mulai setengah delapan."


"Tapi gue penasaran kenapa lo mau ikut jadi panitia penyambutan maba tahun ini, dua tahun berturut-turut lo selalu nolak." Adit penasaran dengan alasan Leon ikut dalam panitia penyambutan maba ditambah lagi dia tidak menolak saat terpilih menjadi wakil ketuanya.


"Pengen aja, lagian ini kesempatan terakhir."


"Iya sih, ngak terasa ya sekarang kita sudah semester tujuh. Kapan lagi punya kesempatan buat ngecengin maba yang cantik dan unyu-unyu," Adit senang membayangkan bagaimana dia akan mengerjai para maba perempuan seperti yang ia lakukan tahun lalu.

__ADS_1


"Itu sih maunya lo"


"Bukannya itu mau lo juga Yon?"


"Jangan nyamain gue sama lo!"


"Iye..iye dah bro," Adit mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah. "Ngomong-ngomong kemarin gue lihat bokap lo datang ke kampus kita dan setau gue lo ngak ada masalah atau hal lain yang mengharuskan om Bagas ke kampus kita," tanya Adit.


"Mau tau aja lo"


"Ngak pengen tau amat sih, hanya sedikit penasaran."


"Hati-hati lo Dit, terlalu sering penasaran bisa jadi arwah penasaran nanti lo."


"Bisa aja candaan lo Yon. Mending kita ke kantin aja sebentar buat sarapan, lo pasti belum sarapan juga kan?"


"Tau aja lo"


"Taulah gue kan sohib lo Yon, situ aja yang ngak pernah peka sama gue."


"Udah yok, kebanyakan ngomong bisa kenyang?"


"Hehehe...oke bro, yok?" Adit langsung merangkul pundak sahabatnya dan berjalan menuju kantin kampus mereka. Sambil berjalan Adit mengedarkan pandangannya melihat para maba yang menurutnya sangat lucu karena penampilan dan atribut ospek mereka. Ia tersenyum dan sesekali tertawa dan tidak lupa untuk menebarkan senyuman saat berpapasan dengan beberapa maba. Berbeda dengan Leon yang hanya berjalan terus dan biasa-biasa saja.


Pemandangan yang begitu timpang saat dilihat orang-orang baru, namun biasa bagi mahasiswa yang sudah mengenal mereka.


"Gue juga heran sama lo Yon" ucap Adit saat mereka tiba dan duduk dikursi kantin.


"Iya gue tau nanti lama-lama gue jadi arwah penasaran kan?"


"Pintar!"


"Maksud gue kenapa lo nolak saat kepilih jadi ketua dan lebih memilih jadi wakil si Denis, secara voting suara buat lo jauh lebih banyak dibandingin dia?"


"Males, syukur gue masih mau jadi wakil daripada ngak?" ucap Leon cuek.


"Tapi gue yakin kok kalau para maba pasti bakalan lebih memilih lo daripada si Denis, percaya deh ke gue?" Adit berkata dengan penuh percaya diri.


"Memang acara cari jodoh pake lebih milih siapa dibanding siapa? Kalau pun iya, tenang aja Dit, mereka ngak bakalan milih lo. Yang ada mereka takut sama lo."


"Wes..., siapa bilang? Buktinya tahun lalu gue terpilih jadi kakak pandu terfavorite" kata Adit mengingatkan.


"Yakin lo, mereka kasihan mungkin makanya milih lo"


"Gila lo bro, asal ngecap aja ngomongnya. Daripada punya tampang ganteng, keren dan cool tapi disia-siain seperti lo?"


"Udah semester tujuh Dit, dan mereka masih baru mau kuliah. Baru tamat SMA"


"Emang kenapa? Ada yang salah?"


"Masih kecil dan pada cengeng!"

__ADS_1


"Makin gila ni teman gue, kalau Upin-Ipin bilang ni ya Yon, is...is...is..." menirukan gaya berbicara tokoh animasi yang sangat digemari anak-anak kecil. "Gue sumpahin lo biar suka bahkan sampai jatuh cinta sama salah satu maba nanti. Amin...semoga ya Tuhan? Biar tau rasa lo sekalian." Adit sangat geram pada sahabatnya itu dan berharap Leon akan seperti peribahasa senjata makan tuan.


"Bu, nasi gorengnya dua ya?" teriak Adit memesan makanan mereka.


"Oke mas" sahut Ibu kantin.


"Jangan lupa bu seperti biasa satu jangan pake telor mata sapi, kalau bisa sapinya suruh kesini buat nyeruduk ni orang, bu," Adit mengingatkan ibu kantin dan bercanda karena jengkel pada Leon.


"Ingat kok mas!" jawab ibu kantin.


Tak butuh waktu lama pesanan mereka pun tiba. Karena waktu semakin sedikit tanpa bicara mereka langsung mengeksekusi nasi goreng yang ada di hadapan mereka. Setelah selesai mereka berlari ke lapangan tempat para maba berkumpul.


"Jesselyn pamit ya om, da hampir telat soalnya," menyalam Bagas yang juga khawatir bila Jesselyn terlambat karena ulahnya yang bangun telat.


"Maafin om ya, kamu ngak usah khawatir. Kakak kamu pasti jagain kamu kok. Hati-hati dan kabarin kalau ada apa-apa, oke?" pesan Bagas memberi semangat pada Jesselyn.


"Iya om, makasih." Jesselyn langsung berlari menuju lapangan tempat para maba sudah berkumpul. "Kakak siapa lagi maksud om Bagas, Nadya?" mencoba menebak orang yang dimaksud Bagas.


"Akhirnya, huh...hampir saja." ucap Jesselyn dengan nafas terengah-engah karena berlari. Karena lelah ia berniat duduk dibawah pohon yang mengelilingi lapangan tersebut. Baru saja akan duduk sebuah aba-aba dari tengah lapangan menyuruh mereka untuk berkumpul dan membuat barisan dalam hitungan kesepuluh.


Jesselyn yang masih lelah kembali berlari karena tidak ingin mendapat hukuman. Ia mengingat perkataan Nadya agar saat ospek jangan sampai telat dan lambat saat melakukan yang diinstruksikan para kakak pandu kalau tidak, maka hukuman sudah menanti.


Ha...ha...ha...


Deru nafas Jesselyn saat tiba dan mengikuti barisan maba di depannya.


"Capek banget dan haus lagi," Jesselyn membungkuk dengan kedua tangannya berada di lutut.


"Kalau haus ya minum," ucap salah satu maba yang berdiri disampingnya.


"Memang boleh keluar barisan buat beli minum?" tanya Jesselyn penuh harap.


"Yang ada kena hukum kali kalau keluar barisan, ngak lihat para kakak pandunya galak-galak begitu?"


"Terus kamu bawa minum, boleh minta sedikit ngak?" pinta Jesselyn karena tenggorokannya yang begitu kering.


"Minum punya kamu aja kali?"


"Kalau aku punya ngak bakalan minta ke kamu." Jesselyn mengerucutkan bibirnya kedepan mendengar maba tersebut.


"Bukannya kemarin kita disuruh bawa....., astaga kamu ngak bawa?" maba tersebut terkejut melihat Jesselyn yang tidak membawa salah satu atribut ospeknya.


"Kenapa?" tanya Jesselyn heran.


"Punya kamu mana?" menunjukkan botol dodot berisi air minum yang menggantung di lehernya.


"Astaga!" Jesselyn terkejut melihat botol dodot yang menggantung dileher para maba. "Aku ngak ingat, gimana nih?" tanya Jesselyn yang sudah ketakutan.


"Paling dihukum," ucap maba lainnya dengan enteng.


"Aduh..gimana nih?" Jesselyn begitu takut jika sampai ketahuan tidak membawa semua atribut ospek yang sudah diperintahkan sebelumnya. Ia menyusup ketengah barisan dilapangan tersebut dengan harapan tidak akan ketahuan oleh para kakak pandu.

__ADS_1


__ADS_2