Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Aku Untuknya Dan Dia Untukku


__ADS_3

Suara seorang wanita dari arah pintu menarik perhatian Jesselyn. Wanita itu berjalan mendekatinya, menarik tangannya dan membawanya dari tempat Leon sedang dirawat.


"Ibu?"


Jesselyn terperangah mendengar apa yang diucapkan ibunya. Untuk pertama kalinya ia melihat ibunya begitu marah dengan caranya menarik tangan Jesselyn keluar dari ruang rawat Leon.


Tiba diluar rumah sakit Mira langsung memaksa putrinya masuk dalam taksi diikuti dirinya yang tak sedetik pun melepas tangan Jesselyn.


"Bu, kita mau kemana? Kak Leon lagi sakit dan belum sadar."


"Diamlah!" suara Mira terdengar begitu serius dan penuh penekanan.


Tidak ada percakapan diantara keduanya hingga taksi yang membawa mereka berhenti di depan rumah keluarga Bagas. Jesselyn mengernyitkan dahinya saat melihat rumah yang sudah tak asing lagi baginya.


"Ayo!" ucap Mira diikuti tangannya yang menarik dan membawa Jesselyn masuk ke dalam rumah.


Lena dan Nadya tidak berkedip saat pasangan ibu dan anak itu masuk dan menghampiri mereka.


"Maaf mba Lena kalau selama putriku disini membuat banyak masalah terlebih untuk kejadian hari ini. Aku sangat menyesal dan minta maaf untuk semua yang dia lakukan pada Leon."


"Tidak...tidak... Jesselyn adalah putri yang baik dan saya tahu kalau dia tidak bermaksud dan juga tak ingin hal seperti ini terjadi."


Mira melangkah mendekati Lena, dengan kepala tertunduk diraihnya tangan Lena dan menghusapnya lembut.


"Terimakasih sudah menyayangi Jesselyn seperti putri kandungmu sendiri. Saya pasti akan mendidiknya lebih baik lagi. Saya sangat menyesal," ucap Lena merasa menyesal.


"Sudahlah mba, mereka hanya anak-anak yang belum cukup dewasa saja," ucap Lena menyemangati ibunya Jesselyn.


"Justru dari itu, saya akan membawanya kembali ke desa dan membantu saya meneruskan usaha jahit saya."


"Ngak mau, bu!"


Jesselyn berontak, melepas tangannya dari genggaman ibunya. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu takut jauh dari Leon.


"Aku ngak akan kemana-mana, aku dan kak Leon mau nikah dua hari lagi, bu."


Sambil menangis Mira menghampiri putrinya dan memeluknya erat.


Ia tidak mau jika Jesselyn semakin menyakiti Leon, ia tahu bagaimana keadaan Leon saat ini.


Sesaat oma dan opa tiba tadi, Mira ibunya Jesselyn pun tiba, namun sebelum ia sampai di ruang tamu ia mendengar semua apa yang diceritakan oleh Nadya pada oma dan opa. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa putrinya dapat membuat keadaan Leon yang selama ini sangat menyayangi Jesselyn terpuruk dan terluka.


Tekadnya sudah bulat untuk membawa kembali gadis itu untuk ikut pulang ke kampung halaman.


"Maaf, nak. Ibu minta maaf tapi kamu harus ikut pulang dengan ibu sekarang juga."


"Enggak, aku mau sama kak Leon, bu. Ibu datang kesini mau lihat kami nikahkan?" ucap Jesselyn berderai air mata.


"Tapi kak Leon lagi di rumah sakit dan sampai sekarang belum sadar. Kamu tahukan itu karena siapa, itu karena kamu, nak."

__ADS_1


Jesselyn berlari kedalam kamarnya, menangis menumpahkan semua rasa kacau dihati dan pikirannya. Takut ibunya masuk dan memaksanya pulang ia mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Menangis...menangis dan menangis...hanya itu yang dapat ia lakukan, menyesali dan merutuki kebodohannya.


****


Seseorang yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit yang tidak lain adalah Leon, sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya, berusaha membuka kedua matanya perlahan.


"Kamu sudah sadar," tanya oma saat kedua mata Leon terbuka


"Oma?" ucap Leon berat.


"Iya, ini oma sayang."


Pandangan Leon beralih pada pria tegap berdiri di samping oma, dilihatnya papanya tersenyum padanya.


"Pa?" panggil Leon dengan suara yang masih berat.


"Iya, ini papa. Mama dan Nadya ada dirumah, opa juga ada disana nungguin kamu sadar dan pulang," ucap Bagas menepuk-nepuk pundak Leon.


Kedua mata Leon menyapu seisi ruangan, meneliti mencari sosok yang ingin ia lihat namun sayangnya orang tersebut tidak ada disana.


Hmmm....


Leon menghela nafasnya kasar, menutup kembali matanya, memalingkan wajahnya dari oma dan papanya.


Mata oma begitu jeli menangkap butiran bening keluar dari pelupuk mata cucunya itu. Oma tahu apa yang sedang dipikirkan Leon hingga menitikkan air mata.


****


H - 2


Pagi hari usai sarapan Leon kembali kerumah. Semalaman dirumah sakit membuatnya jenuh hingga memaksa ingin pulang karena merasa kondisinya baik-baik saja.


Awalnya dokter belum mengijinkannya untuk dibawa pulang namun papanya meyakinkan dokter jika Leon akan merasa lebih baik jika dirawat dirumah.


Masih dengan wajah yang pucat dan perban dipergelangan ditangan, Leon berjalan memasuki rumah dibantu oma dan papanya yang sejak semalam berada di rumah sakit menemaninya.


Lena sangat senang, sebuah pelukan hangat diberikannya pada putranya dan meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


Leon tersenyum meski hatinya mengatakan jika ia tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Semoga kamu cepat pulih nak," ucap ibunya Jesselyn yang masih berada dirumah keluarga Bagas. "Maafin anak ibu ya?" pintanya bersungguh-sungguh.


Tidak ada yang diucapkan Leon selain tersenyum dan menggelengkan kepala.


Tidak ingin membuat Leon lelah, mamanya meminta Nadya mengantarnya ke kamar untuk istirahat.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, mata Leon tertuju pada pintu kamar disebelah kamarnya.

__ADS_1


"Makasih," ucap Leon saat ia akan menutup pintu.


"Istirahat ya kak, kalau ada perlu bilang aja, oke?" ucap Nadya mengingatkan kakaknya.


Leon menganggukkan kepala, sejujurnya ia ingin menanyakan sesuatu pada Nadya namun ia urungkan.


Tak butuh waktu lama setelah merebahkan tubuhnya diatas ranjang Leon pun terlelap.


Saat semua orang dirumah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Jesselyn mengendap-endap masuk ke kamar Leon. Dia tahu bahwa Leon sudah pulang dan berada dikamarnya karena tadi ia mengintip dari pintu kamarnya saat Leon tiba dirumah.


Matanya langsung menangkap keberadaan Leon diatas ranjang. Perlahan ia mendekat dan memandangi wajah damai Leon.


"Maafin aku ya kak," ucap Jesselyn sambil menangis.


Tanpa aba-aba tangannya mengelus rambut Leon dan turun ke pipi.


"Jesselyn sayang sama kak Leon. Kak Leon cuman buat aku begitu pun sebaliknya, aku cuman buat kakak."


Begitu hangat Jesselyn mengecup kening Leon untuk waktu yang cukup lama.


Mendengar suara oma dan ibunya di depan kamar Leon, Jesselyn gelagapan. Entah mengapa saat ini ia takut bertemu oma dan ibunya. Sejak semalam ia sama sekali tidak keluar kamar takut ibunya memaksanya dan membawa pulang ke kampung. Ia juga takut bertemu oma yang sangat menyayangi Leon dan yang kemungkinan bisa memisahkannya dengan Leon.


Tak ingin ketahuan, tanpa berpikir panjang Jesselyn memakaikan selimut pada Leon dan ikut menyelusup kedalam selimut.


Oma dan Ibu Mira masuk untuk melihat keadaan Leon dikamar. Keduanya senang karena ternyata Leon dapat beristirahat dengan tenang dikamarnya.


Sekuat tenaga Jesselyn menahan nafasnya saat oma memperbaiki selimut tempat ia bersembunyi. Jantungnya berdegup semakin kencang dan tubuhnya terasa panas dingin karena ketakutan


Deg


Deg


Deg


Engghh....


Suara lenguhan Leon membuat oma menghentikan kerja tangannya, takut membuat Leon terjaga dari tidurnya ia pun hanya mengusap rambut Leon pelan.


Leon memiringkan tubuhnya tepat menghadap Jesselyn yang tertutup selimut. Bagai sebuah guling Leon memeluk erat tubuh Jesselyn hingga hampir menindihnya. Gadis itu terkejut dan tidak dapat menahan sesak nafas dengan posisinya yang seperti itu.


Mendengar deru nafas Leon yang teratur oma mengajak ibu Mira untuk keluar agar tidak menggangu Leon.


Jesselyn bernafas lega saat mendengar suara pintu yang ditutup. Ia berpikir rasa sesaknya sudah berakhir namun saat akan bangkit dari tidur Leon tiba-tiba semakin mengeratkan pelukannya dan mengunci pergerakan Jesselyn.


"Kak, kak Leon," panggil Jesselyn begitu pelan. Ia mencoba untuk membangunkan Leon agar melepaskan tubuhnya namun Leon seakan tuli atau pingsan tidak merespon sama sekali.


Dengan bersusah payah akhirnya ia berhasil mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut. Dilihatnya Leon tidur begitu nyenyak dan nafasnya terasa menghembus wajahya.


Jesselyn yang biasanya risih saat Leon menempel padanya kini berubah, ia justru melingkarkan tangannya di tubuh Leon, memeluknya dan menenggelamkan wajahnya pada dada Leon hingga ia dapat merasakan setiap tarikan nafas Leon.

__ADS_1


Leon membuka matanya dilihatnya gadis itu sudah terlelap dalam pelukannya. Leon tersenyum dan mengecup pucuk kepala Jesselyn hingga keduanya terlelap bersama.


__ADS_2