
"Wihh...rumah kamu gede ya Jes keren lagi pakai password bukain pintunya, seperti rumah di film-film Korea," Sinta merasa kagum akan rumah yang ia sedang masuki untuk tempat belajar kelompok.
"Hahaha... Iya ya, aku juga baru nyadar Sin, tapi ini sih bukan rumah aku. Ini itu rumah om Bagas kerabat almarhum bapak," jelas Jesselyn dan mengajak teman-temannya ke taman yang ada disebelah kiri rumah. Di situ ada sebuah pondok kecil yang sering digunakan keluarga Bagas saat acara barbeque.
"Kita disini aja ya, udaranya juga lebih sejuk" kata Jesselyn kepada teman-teman belajar kelompoknya.
"Oke Jes, lagian kalau di dalam jadi ganggung tuan rumah. Tahu sendiri kan si Wina suaranya gimana kalau pas ada yang lucu," jawab Sinta yang langsung melepaskan tasnya dari gendongan.
"Iye..iye...disini ngak masalah kok yang penting ada cemilannya, iya ngak?"
"Jujur amat sih Win, tapi aku suka kejujuranmu kali ini."
Hahaha....
Mereka tertawa dan mengambil posisi ternyaman mereka masing-masing. Leo dan Dito yang juga ada disitu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat percakapan antara Jesselyn, Sinta dan Wina.
"Aku kedalam dulu ya ngambilin minum, da pada haus kan?"
"Yang dingin-dingin ya Jes," pinta Wina yang menaik- turunkan alisnya.
"Air putih dingin kan Win?"goda Jesselyn. Kali ini Leo dan Dito yang tertawa mendengar balasan Jesselyn pada Wina.
"Kejam!"
"Hehehe... becanda kok Win"
"Aku juga becanda kok Jes, hehehe...."
Di dapur Jesselyn sibuk mempersiapkan minuman dan makanan ringan untuk teman-temannya. Dia cukup beruntung walaupun tidak sedekat dengan Dela dan Neta ia pada akhirnya mendapat teman- teman baru. Sambil menuangkan minuman ke dalam gelas ia melihat cemilan yang tinggal sedikit.
__ADS_1
"Sorry ni, cemilan dirumah cuman ada ini doang," meletakkan minuman yang ada di nampan dan menunjukkan toples kaca berisi setengah kacang telor.
"Wah, pasti tiap malam kamu yang makanin semua cemilan kan Jes?" goda Sinta
"Hehehe... habis enak Sin, apalagi kalau sambil nonton jadi ngak kerasa ngunyahnya."
"Terus gimana dong? Ngak seru kalau ngak ada yang dikunyah sambil ngerjain tugasnya?" Wina memasang wajah cemberutnya dan meneguk hampir setengah gelas jus jeruk miliknya.
Seakan mengerti situasi, Leo yang sedari tadi memainkan HPnya berniat untuk membeli cemilan untuk mereka semua.
"Gue tinggal bentar ya Dit? Gue mau isi pulsa sekalian beliin cemilan buat kita, " ujar Leo yang memasukkan HPnya kedalam saku celananya.
"Mau kemana Le? Jangan tinggalin gue sendiri dong bisa jadi samsak gue dibuat mereka, apalagi si Sinta kalau lagi ketawa sambil pukul -pukul" rengek Dito yang tak mau ditinggal.
"Gitu amat sih Dit, gue kan refleks ngak sadar. Kalau mau, salahin tangan gue kan dia yang mukul bukan aku," bela Sinta
"Hehehe...gue Dit. Hahaha...."
"Udah ah jangan pada ribut lagi biar aku aja yang pergi dengan Leo, lagian sebagai tuan rumah walaupun ya...bukan pemilik yang asli aku harus melayani tamu-tamuku dengan baik dan benar," ucap Jesselyn dengan menyatukan kedua tangannya.
"Saat Leo akan menyalakan motornya Jesselyn malah menariknya ke garasi. Leo yang tidak mengerti hanya bisa mengikuti langkah Jesselyn.
"Kita pakai ini aja Le, mini marketnya kan dekat, selain ramah lingkungan juga bagus untuk kesehatan." Jesselyn menunjuk ke sebuah sepeda berwarna biru dengan senyuman khasnya.
"Yakin naik ini? Inikan ngak ada boncengannya Jes?"
"Kenapa ngak? Kan bisa diri dibelakang dan kamu yang bawa atau kamu mau diboncengan cewek?"
Leo yang mendengar perkataan Jesselyn langsung mengeluarkan sepeda dan membawanya keluar. Jesselyn yang mengekorinya begitu senang karena ia sangat jarang menggunakannya setelah Bagas membeli sepeda tersebut untuknya. Ia hanya beberapa kali memakainya itu pun saat Leon mengajarinya atas perintah om Bagas.
__ADS_1
"Aku bilang juga apa Le, naik sepeda serukan?" Jesselyn meletakkan kedua tangannya diatas bahu Leo yang sedang mengayuh sepeda.
"Kalau gitu nanti waktu balik kamu yang dayung gimana?" tanya Leo menantang.
"Kamu yakin Le?"
"Ngak!"
Hahaha....mereka berdua tertawa dan menikmati perjalan menggunakan sepeda.
Jalanan yang cukup sepi karena berada dikawasan elit dan tidak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang. Mereka berpapasan dengan Leon. Jesselyn yang begitu menikmati naik sepeda tidak memperhatikan motor Leon yang lewat. Lain halnya dengan Leo, dia melihat Leon bahkan mata mereka masih sempat bertemu.
Cihihihit......
Leon refleks merem motornya dan menoleh ke belakang dan melihat Leo dan Jesselyn. Ia kembali melajukan motornya dengan lambat.
Setelah tiba di depan pagar rumahnya, Leon memutar kembali motornya dan berjalan hingga berhenti di post satpam perumahan.
"Ada apa mas?" tanya satpam penjaga yang telah mengenal Leon.
"Ngak kok pak cuman lagi nunggu teman katanya mau mampir kerumah," jawab Leon mencari alasan.
"Oh, kirain ada perlu mas. Barusan neng elin (panggilan pak satpam pada Jesselyn) juga keluar sama temannya cowok pakai sepeda, pacarnya kali ya mas?"
Leon tidak menjawab pertanyaan pak satpam yang sedang menyeruput kopi hitamnya.
Lima belas menit kemudian Leo dan Jesselyn sudah kembali dari mini market dan melewati post satpam.
Jesselyn tertawa dengan tangan kiri berada diatas bahu Leo sedangkan tangan kanan memegang es krim rasa vanila kesukaannya. Mereka tidak menyadari keberadaan Leon yang sedari tadi memperhatikan mereka. Setelah mereka melewati pos satpam Leon melihat ke spion motornya untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1