
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan kediaman Bagas terasa semakin sepi semenjak Nadya memilih tinggal di sebuah kos-an bersama temannya. Ia akan pulang kerumah setiap akhir pekan. Ia akan menceritakan semua kegiatannya saat kumpul keluarga. Ia merasa bangga akan dirinya yang bisa bertahan dikos-an yang menurutnya begitu kecil walaupun bagi temannya sudah cukup besar.
Bagas akan selalu tertawa mendengar setiap cerita-cerita Nadya, mulai dari memasak sendiri, telat ke kampus karen tidak ada yang bangunin sampai baju-bajunya yang hilang dari jemuran.
Setiap akhir pekan Bagas selalu mengajak anggota keluarganya untuk makan malam di restoran favorit keluarga mereka. Menonton bioskop dan liburan saat ia memiliki waktu luang dari pekerjaannya. Seperti saat Jesselyn libur semester kemarin mereka pergi kepuncak dan menginap selama tiga hari. Itu ia lakukan untuk menjaga kebersamaan keluarganya.
Ada banyak tempat yang sudah Jesselyn kunjungi selama ia tinggal dengan keluarga Bagas, tempat-tempat indah yang memberikan pengalaman berharga dan tak terlupakan baginya dan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Jika tidak ada kegiatan diakhir pekan ia dan Nadya akan menghabiskan waktu mereka dengan menonton drama Korea. Tertawa, tersenyum, menangis, itulah yang mereka lakukan saat menonton drama Korea. Namun Nadya akan selalu iseng menutup mata Jesselyn saat ada adegan yang menurutnya belum waktunya untuk Jesselyn lihat.
Ada banyak judul film dan drama Korea yang tersimpan di laptopnya Nadya dan baginya itu adalah salah satu aset berharga yang harus dijaga.
Setelah kejadian beberapa bulan lalu Jesselyn meminta ijin agar ia pergi dan pulang sekolah sendiri. Walaupun berat, Bagas akhirnya mengijinkannya, dan sesuai permintaan Bagas, Jesselyn meminta Leo mampir saat mengantarnya pulang.
Bagas yang ternyata mengenal orangtua Leo dan memiliki hubungan baik karena pekerjaan akhirnya mengijinkan Jesselyn pergi atau pulang sekolah bersamanya.
Bagas merasa Leo adalah anak yang baik dan setidaknya Jesselyn akan memiliki teman yang dapat membantunya jika ada kesulitan saat di sekolah.
"Jesselyn boleh bawa teman kerumah ngak tante buat ngerjain tugas kelompok besok?"
__ADS_1
"Boleh, kenapa ngak? Malah lebih bagus mereka yang kesini dari pada kamu yang pergi kerumah mereka dan membuat tante kepikiran, iya kan?"
"Hehehe...makasih ya tante?"
"Iya..iya..udah dulu bicaranya tante jadi ngak fokus nontonnya Jes, lagi seru soalnya. Kamu jangan pergi kemana-mana, temani tante nontonnya sampai selesai."
"I..iya tan"
Jesselyn ingin sekali melayang entah kemana saat Lena memintanya untuk tidak pergi dan harus menyaksikan drama yang banyak ditonton para ibu-ibu saat ini. Karena merasa bosan dan sangat mengantuk, ia memejamkan matanya dan tertidur diatas sofa.
Lena yang sudah selesai dengan tontonannya tak enak hati jika harus membangunkan Jesselyn yang tertidur nyenyak. Ia menyeka anak rambut gadis yang sudah seperti putrinya itu dan berniat meninggalkannya tidur disofa.
"Leon?" panggil Lena dengan suara pelan.
"Iya ma, kenapa?"
"Jangan kencang-kencang suaranya nanti dia bangun" menunjuk Jesselyn yang bagaikan putri tidur.
"Kamu antar ke kamarnya, mama mana kuat gendong dia yang ada pinggang mama patah."
__ADS_1
"Bangunin ajalah ma, apa susahnya sih?" Leon memperhatikan Jesselyn yang terdidur lelap.
"Kasihan dong Leon, tadi dia ketiduran waktu menemani mama nonton. Mama ngak mau tahu kamu anterin dia ke kamarnya," Lena langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Jesselyn dan Leon.
Leon yang juga merasa lelah duduk disamping Jesselyn, menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian Ia memalingkan wajahnya kearah Jesselyn, memandangnya lalu berdiri dengan menghela kasar nafasnya.
Ia membungkuk mengangkat tubuh Jesselyn dengan pelan, dapat ia rasakan hembusan nafas yang mengenai wajahnya. Leon berjalan dengan pelan agar tidak membangunkan gadis kecil yang ada di gendongannya, bahkan pandangannya tidak lepas dari wajah Jesselyn.
Saat menaiki tangga, tiba-tiba Jesselyn membuka matanya perlahan. Dalam keadaan setengah sadar ia merasakan aroma yang sangat dikenalnya.
"Husttt....ini mimpi...kamu hanya bermimpi sekarang" bisik Leon dengan lembut dan terus berjalan.
Bak terhipnotis Jesselyn menutup matanya kembali hingga Leon meletakkannya diatas ranjang, membenarkan pakaian atas Jesselyn yang sedikit naik dan memperlihatkan bagian pinggangnya. Leon duduk dilantai dan bersandar ke ranjang milik Jesselyn untuk beberapa saat dengan ransel yang masih setia dipunggungnya.
Tak lama kemudian ia keluar dan menutup pintu kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.
Saat bangun dari tidur, Jesselyn kebingungan karena sudah berada di kamarnya.
"Pasti karena tadi terlalu ngantuk aku lupa kalau aku yang jalan sendiri ke kamar" Jesselyn meyakinkan dirinya yang memang pelupa.
__ADS_1
"Tapi mimpi tadi...? Ah...mimpi tadi seperti kenyataan saja. Tapi sayang aku ngak tahu yang gendong itu siapa, tapi wanginya seperti aku kenal? Ya sudahlah namanya juga mimpi hanya sekedar bunga tidur," ia kembali berbicara sendiri sambil tersenyum mengingat-ingat yang ia pikir adalah sebuah mimpi.