
Setibanya di kontrakan, Leon membuka pintu dengan kunci serap yang ada padanya.
"Kak Leon mau kemana?" tanya Jesselyn saat Leon berjalan menuju motornya kembali.
Leon berbalik, dilihatnya gadis itu kembali menangis sambil berjongkok memeluk tubuhnya sendiri mendongak padanya.
"Jangan takut, mereka tidak akan pernah mengganggu kamu lagi, hm?" ucap Leon ikut berjongkok dihadapan gadis itu. Leon meraih tangan Jesselyn dan membawanya masuk.
"Lebih baik sekarang kamu mandi biar kamu lebih segar."
Leon meneliti pakaian yang menempel pada tubuh gadis itu sudah kotor dan lembab karena air mata dan keringat.
Cukup lama Jesselyn berada di dalam kamar mandi dengan keran yang terus berjalan. Biasanya lima belas sampai dua puluh menit cukup untuknya mandi namun tidak untuk malam ini karena sudah hampir satu jam ia berada di dalam sana.
Sudah untuk ketiga kalinya Jesselyn menyabuni seluruh tubuhnya. Bahkan wajahnya sudah tak terhitung lagi berapa kali ia bolak-balik mencucinya dengan pencuci wajah. Ia tidak ingin ada bekas tangan kedua begal itu menempel padanya terlebih pada wajahnya karena tangan si gempal yang sempat menyentuh dan mengelus pipinya.
"Kenapa begitu lama?" tanya Leon saat baru saja pintu kamar mandi terbuka. "Kenapa keramas ditengah malam seperti ini, itu bisa membuatmu masuk angin dan sakit," Leon terlihat begitu khawatir.
"Maaf kak."
Jesselyn hanya diam tidak menjawab pertanyaan Leon. Dia tidak mengatakan jika hal itu ia lakukan karen tidak ingin ada jejak pria jahat itu pada bagian tubuhnya.
"Masukin semua baju yang kamu pakai tadi," Leon mengambil keresek hitam dan memberikannya pada Jesselyn. "Semuanya."
Jesselyn hanya bisa menuruti perkataan Leon, dia tidak ingin banyak bertanya apalagi membantah. Ia melakukan apa yang diminta Leon dan menyerahkannya setelah selesai.
Siunggg...
Leon melempar plastik berisi pakaian itu kedalam bak sampah yang ada di area kontrakan dan kembali ke dalam.
"Ini kak," Jesselyn menyodorkan sebuah celana training dan kaos terbesar yang ia punya. "Kenapa, kak Leon ngak suka? Aku cuman punya ini yang muat untuk kakak," ucap Jesselyn.
"Tapi..."
Belum selesai Leon berkata Jesselyn sudah memotong kalimatnya.
"Kenapa, kak Leon mau pulang ya?"
Ada rona kesedihan saat Jesselyn menanyakan kalimat itu. Sebenarnya Leon berniat pulang berpikir jika gadis itu perlu istirahat dan menenangkan dirinya sendiri namun pikirannya sepertinya berbeda dengan gadis itu yang justru tidak ingin ditinggal sendirian.
Tidak ingin membuat gadis itu bertambah sedih Leon menerima pakaian yang diberikan padanya dan langsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Jika biasanya Jesselynlah yang akan selalu gugup saat hanya berdua dengan Leon, akan tetapi kali ini justru sebaliknya.
Untuk pertama kalinya rasa gugup menghinggapi Leon. Apalagi saat ini setelah selesai mandi dan beganti pakaian ia sudah mendapati Jesselyn berdiri di depan pintu kamar mandi saat pintu ia buka.
Leon yang gugup melewatinya begitu saja. Tanpa mengatakan apapun Jesselyn terus mengikuti pergerakan Leon. Bingung akan melakukan apa, Leon mengobrak abrik isi ranselnya dan mengeluarkan barang-barang milik Jesselyn.
__ADS_1
Leon beranjak mengambil minum, Jesselyn pun mengekorinya dari belakang.
"Kamu mau?" tanya Leon menawarkan jika seandainya Jesselyn merasa haus namun Jesselyn menggelengkan kepanya.
Leon beranjak kembali kearah pintu depan dan lagi-lagi Jesselyn mengekorinya.
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin memastikan pintunya sudah terkunci atau tidak."
Leon menggaruk pelipisnya, ia merasa ada yang aneh dari gadis itu.
"Sekarang tidurlah," pinta Leon lembut dan membawanya hingga ke pintu kamar. "Tidurlah"
Grepp
Jesselyn meraih lengan Leon.
"A-apa lagi, tidurlah sekarang. Sudah, sana." Leon langsung menarik dan melepaskan lengannya.
Leon merebahkan tubuhnya diatas permadani tempat ia dan gadis itu biasanya sarapan bersama.
Mungkin karena sudah lelah Leon langsung terpejam dan jatuh dalam tidurnya.
Tik
Tik
Tik
Pukul setengah dua pagi Jesselyn keluar dari kamar dengan selimut dan bantal ditangannya. Seperti maling Jesselyn berjalan pelan-pelan mendekati Leon yang tengah tidur. Dengan pelan Jesselyn meletakkan bantal dan menyelimuti pria itu.
Jesselyn tersenyum memandangi wajah damai di depannya.
"I'm yours!"
Cup
Setelah mengecup kening Leon, Jesselyn ikut merebahkan tubuhnya disamping pria itu dan menyelinap kedalam selimut. Leon yang tidur begitu pulas dan tidak menyadari siapa disampingnya, memeluk erat tubuh Jessely begitu saja. Mungkin Leon berpikir sedang tidur dirumah sambil memeluk boneka beruang.
Jesselyn merasakan betapa hangatnya pelukan Leon hingga membuatnya begitu tenang malam ini.
"Selamat malam kak," ucap Jesselyn begitu pelan agar orang yang memeluknya itu tidak terbangun.
Cup
Sedikit kesulitan meraih kening Leon akhirnya Jesselyn mencium dada di depan matanya. Ia menenggelamkan kepalanya pada dada itu dan memejamkan matanya.
Dua anak manusia jatuh dalam dunia mimpinya masing-masing dengan deru nafas yang saling bersahutan.
__ADS_1
Kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu. Kalimat yang sudah cukup untuk menggambarkan isi hati bahkan mengganti kata sayang bagi seseorang yang ada dalam hati.
Leon menggaruk lehernya merasakan gigitan nyamuk disana. Tanpa sengaja tangannya merasakan seseuatu yang mengganjal dibawah lehernya. Dengan mata yang masih tertutup Leon mencoba mencari tahu.
Meski begitu berat Leon memaksa membuka matanya. Leon menyadari jika dia tidak berada dirumahnya.
Saat akan bergerak ia merasakan tubuhnya begitu berat. Ia menurunkan arah matanya kebawah. Ia mengernyit melihat rambut dibawah sana. Leon membulatkan matanya terkejut. Perlahan Leon menyibakkan selimut yang menutup tubuhnya dengan seseorang yang sudah tentu ia tahu siapa itu.
Seperti cicak yang menempel di dinding, seperti itulah posisi sepasang anak manusia itu. Jesselyn menempel seperti cicak pada tubuh Leon.
Leon merasa sedikit sesak dan kram, begitu hati-hati ia menggeser tubuh diatasnya agar sipemilik tubuh tidak terbangun.
Sekuat tenaga Leon mengangkat tubuh itu kembali kedalam kamar. Diletakkannya perlahan agar jangan sampai ia terjaga. Leon mengambil selimut tadi dan memakaikannya pada tubuh Jesselyn.
"Tidurlah lagi," ucap Leon. Ia tahu gadis itu terbangun namun terus memejamkan matanya.
Jesselyn mengangguk namun kedua tangannya tak melepas pergelangan tangan Leon. Rasa kantuk juga masih menghinggapi Leon hingga ia ikut meringsut ke dalam selimut.
"Apak kamu ngak takut kalau aku melakukan kesalahan seperti sebelumnya?" tanya Leon dengan mata terpejam.
Jesselyn menganggukan kepalanya. Tentu saja ia takut, membayangkan kejadian itu saja seluruh tubuhnya sudah berdesir.
"Kalau kamu takut kenapa kamu datang seperti tadi dan menempel seperti cicak, hm?"
Jesselyn tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya merasa jika ia tak ingin jauh dari Leon. Jesselyn membisu namun pelukannya semakin terasa erat dirasa Leon.
"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" tanya Leon menggoda gadisnya.
Arghhhh...
Leon sadar sempurna dari ngantuknya.
Leon mengerang kesakitan saat gadis itu menjawab pertanyaannya dengan gigitan diarea paling sensitif pada dadanya namun tak disadari oleh Jesselyn.
"Apa kamu tahu dampak dari gigitanmu ini?" tanya Leon mengelus bagian yang ia rasa sakit.
Dengan wajah polosnya Jesselyn mendongakkan kepalanya pada Leon dan menggeleng.
"Apa rasanya sesakit itu?" Jesselyn melihat Leon mengigit bibir bawahnya sambil mengelus dadanya.
"Tidurlah sedikit lagi," Leon menggeser tubuh Jesselyn yang sudah menempel lagi padanya.
"Kakak mau kemana?" mencegat tangan Leon.
"Kamar mandi, mau ikut?"
Jesselyn melepas tangannya, menggeleng dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1