Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Tidak...Tidak...


__ADS_3

LEON (POV)


Hah...sangatlah menyebalkan, bukannya tidak mau melakukan apa yang papa minta tapi apapun yang menjadi alasannya tidak akan pernah papa terima.


Karena begitu banyak tugas kampus aku tidak ada waktu melakukan hobi yang sangat aku suka selama hampir satu bulan. Sehingga saat aku memiliki waktu luang aku memutuskan untuk bermain basket bersama teman-teman di kampus.


Seperti biasanya seusai bermain basket, kami menghabiskan waktu di salah satu kafe dekat kampus. Karena begitu asiknya aku tidak ingat jika harus menjemput seseorang di bandara.


Aku tidak mengenalnya ditambah lagi dia hanya seorang anak yang baru naik kelas dua SMA. Pikirku tidak masalah jika aku tidak menjemputnya dan juga berpikir mungkin papa sudah menjemputnya karena sebelum berangkat ke kampus aku tidak janji bisa menjemputnya.


Hah....sangat menjengkelkan, saat masih begitu pagi dan dalam keadaan mengantuk harus terbangun karena suara petir papa saat ia marah ditambah dengan omelannya.


Aku bisa mengerti dan juga terima atas reaksi papa. Akan tetapi sebuah tamparan juga melayang dipipiku dan itu yang sangat tidak bisa kuterima.


Papa yang selama ini begitu aku kagumi dan seseorang yang aku ingin sepertinya, menjadi seorang ayah yang mengesalkan. Papa yang tidak pernah mengangkat tangannya pada siapapun namun kali ini aku sendiri yang mendapatkannya.


Benar-benar anak yang sangat menjengkelkan. Aku bahkan belum melihatnya namun satu tamparan sudah kuterima karena dia. Dia membuat pagi yang begitu berkesan bagiku, jadi tidak masalah jika memberikan hari-hari yang mengesankan juga untuknya.


Ketakutan, itulah yang kulihat darinya saat pertemuan pertama dan itu membuatku semakin bersemangat.


Tapi apa yang salah denganku, ketakutannya seperti seolah-olah aku akan menerkamnya. Aku kira dia anak yang banyak bicara dan dominan tapi ternyata aku salah. Dia hanya anak kecil yang belum keluar dari cangkangnya dan butuh ditempa.


Kesan pertama akan dirinya membuatku menjadi orang yang cuek dan tidak memperdulikannya. Aku tidak perduli dia ada atau tidak dalam lingkaran orang-orang disekitarku. Aku selalu masa bodoh dan tak peduli setiap kali ia mencari cara agar dekat denganku.


Kak Leon lagi apa?


Kak Leon habis darimana?


Kak Leon baru pulang?


Kak Leon ngak makan?


Kak Leon kenapa?


Kak Leon...kak Leon..kak Leon...


Pertanyaan yang selalu ia tanyakan hanya untuk dapat berkomunikasi denganku.


Sebenarnya bukan tidak ingin mengantarnya ke sekolah seperti yang papa perintahkan, hanya saja bukankah lebih baik jika ia mandiri?


Dia bukan anak Paud atau Sekolah Dasar yang harus selalu diantar sekolah.

__ADS_1


Dan lagi ternyata aku salah. Satu tamparan kuterima lagi dari papa karena dia dan itu semakin membuatku jengkel.


Entah mengapa setelah kedatangannya aku sering merasa kesal dan marah, hanya saja marahku selalu kutunjukkan dengan diam dan bersikap ketus. Dia selalu berhasil membuat suasana hatiku naik-turun.


Aku kesal karena dia papa Sampai menamparku.


Aku kesal saat dia berhasil membuat mama dan papa berpihak padanya.


Aku kesal saat dia bersikap biasa-biasa saja saat ia sebenarnya ingin marah dan protes padaku.


Aku kesal saat dia dengan mudahnya menebar senyuman pada orang-orang.


Aku kesal saat ada orang yang memujinya.


Aku kesal hanya karena sepeda yang biasanya aku ajarkan untuk dinaikinya ia gunakan dengan laki-laki lain.


Aku kesal melihat dia meletakkan tangannya di bahu laki-laki lain.


Dan aku marah saat ia tidak mendengar ucapanku untuk tidak mengangkat panggilan telepon dari temannya yang bernama Leo.


Kenapa denganku?


Hahaha...


Tidak...tidak...aku tidak menyukainya.


Entah mengapa denganku seolah-olah ada magnet pada diriku yang menarik mataku untuk menatap wajahnya saat sedang berada digendonganku.


Apa yang kupikirkan hingga aku tidak ingin ada laki-laki lain yang akan melihatnya saat ia sedang basah kuyup seperti yang terjadi ketika di kolam renang?


Apa yang terjadi denganku hingga tidak ada penolak saat papa memakaikan padaku cincin yang sama dengannya?


Kenapa?


Hahaha.....


Tidak...tidak...aku tidak menyukainya.


Aku kecewa saat ponsel yang kuberikan, dia tinggalkan begitu saja diatas meja belajarnya.


Aku kecewa tidak ingat memberikan cincin pemberian mama yang sempat ia berikan pada Bela.

__ADS_1


Ada perasaan bersalah ketika mendengar ucapannya saat ia akan pulang kampung untuk liburan kenaikan kelasnya.


Dadaku begitu sesak bahkan tidak dapat mengucapkan satu katapun saat melihat dia membelakangiku dan berjalan meninggalkanku yang mematung saat di bandara.


Ada rasa kosong saat pertanyaan-pertanyaan yang sering kudengar darinya tak lagi kudengar.


Dan ingin tahu apa yang sedang ia lakukan dan bersama dengan siapa saat melihat sepatu sekolah dan sandal rumahnya yang walaupun sudah hampir satu tahun tidak dipakai tetapi masih tersusun rapi dirak sepatu seolah menunggu sang pemiliknya kembali.


Setelah ia memutuskan untuk tinggal dikampung lagi, walaupun tidak seratus persen namun keadaan rumah dan orang-orang didalamnya cukup berubah.


Nadya yang biasanya pulang setiap akhir pekan kini pulang dua minggu sekali bahkan pernah sekali dalam sebulan. Alasannya dirumah sepi tidak ada lagi teman untuk nonton drama-drama Korea kesukaannya dan tidak ada lagi orang yang bisa ia digodain untuk sekedar bercanda.


Mama yang jadi lebih sensitif dan sering melamun. Mama yang masih selalu berusaha mencari cara agar putri kerabatnya itu bisa kembali lagi kerumah ini.


Bahkan papa yang selalu khawatir akan kesehatan mama karena melihat mama yang sering sedih.


Aku tahu mengapa mama begitu sedih dan aku bisa mengerti tapi bukankah setiap orang itu bebas melakukan apa yang ia mau? Termasuk dia yang kembali kesekolah lamanya.


Terkadang ada rasa bersalah saat melihat mama sedih dan berpikir jika seandainya aku bersikap lebih baik pada anak itu, apakah ia akan kembali atau tetap seperti keputusannya saat ini?


Dia yang namanya jarang kuucapkan.


Jesselyn Anastasya, sebuah nama yang bagus menurutku dan pantas untuk ia gunakan.


Setahun setelah Jesselyn tidak kembali, akhirnya mama mendapat ide agar ia kembali dan melanjutkan kuliah di Jakarta.


Atas persetujuan ibunya Jesselyn, mama meminta papa untuk mendaftarkan Jesselyn dikampus swasta. Salah satu kampus swasta terbaik dan sangat didambakan banyak orang. Mama juga meminta papa untuk mambayar langsung uang kuliah untuk setahun dengan tujuan agar Jesselyn sulit untuk menolak.


Bahkan biaya untuk membeli tiket pesawat yang bisa ditransfer saja tidak mama lakukan. Mama justru membeli tiket pesawat dan mengantarnya langsung ke rumah Jesselyn dikampung.


Awalnya aku menolak menemani mama untuk pergi kesana tatepi melihat kondisi mama akhirnya mau tidak mau aku harus menemaninya.


Tidak ada dia dirumah saat kami tiba, bahkan hingga kami pulang tak juga ia kembali.


Hm....perjalan singkat yang pernah aku lakukan. Tapi sebelumnya karena merasa lelah aku beristirahat sebentar. Ibunya mempersilahkanku menggunakan kamarnya. Kecil dan sangat sederhana. Sangat berbeda dengan kamar yang ia tempati saat berada di rumah kami namun keadaanya sama bersih dan rapi.


Ada begitu banyak foto yang ia pajang di dinding kamarnya dan juga di atas meja belajarnya. Aku tidak suka dengan beberapa foto yang ada dikamarnya jadi kuputuskan untuk memberikan sedikit keindahan pada foto yang tidak kusuka.


Sebagai gantinya untuk menghibur hatinya yang mungkin akan panas saat masuk ke kamarnya nanti, aku membelikan lima es krim rasa vanila kesukaannya dan memasukkannya ke dalam lemari es. Aku yakin dia akan sangat menikmatinya.


Sesuai harapan mama, akhirnya Jesselyn akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di kampus dimana ia sudah di daftarkan papa atas permintaan mama.

__ADS_1


Senang dan puas, itulah yang bisa kutangkap dari ekspresi mama saat mendengar kabar tersebut langsung dari Jesselyn.


Ya, dia akan kembali.


__ADS_2