Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Dasar Anak Nakal


__ADS_3

Seorang wanita tua dengan rambut yang sudah tidak hitam lagi berdecak pinggang dihadapan sepasang pemuda yang duduk diatas sebuah tempat tidur bagai pesakitan.


Saat sigadis memulai ceritanya hingga selesai sipemuda itu hanya menundukkan kepala mendengar setiap detail cerita sambil sesekali melirik kearah gadis itu.


"Gitu, oma. Jadi jangan salahin Jesselyn," menyudahi ceritanya.


Oma bertambah pusing mendengar penuturan Jesselyn. Menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan apa yang ia dengar.


"Leonnya oma tidak mungkin berani berbuat seperti itu," menyangkal apa yang diceritakan Jesselyn.


"Benar, oma."Jesselyn berusaha meyakinkan oma.


"Leon?" panggil oma mengejutkan. "Jawab oma, benar apa yang dia bilang?" tanya oma memastikan.


Seakan sedang tertodong, Leon gelagapan menjawab oma. Matanya menatap wajah Jesselyn lekat.


"Jawab oma, kenapa malah lihat sirubah kecil ini?"


".....?" Jesselyn bingung siapa rubah kecil yang dimaksud oma.


"Gini oma, bukan gitu maksudnya. Leon ngak mungkin ngelakuin itu sama dia, dia kan adik Leon jadi mana mungkin sampai nyakitin dia."


"Kak??" panggil Jesselyn tak percaya mendengar perkataan Leon. "Sejak kapan aku dianghap jadi adiknya?" gumam Jesselyn dalam hati.


"Sudah-sudah, lebih baik kalian istirahat. Bicara sama anak muda jaman sekarang ngak ada habis-habisnya."


Leon begitu senang akhirnya oma


menyudahi pembahasan itu. Beda dengan Jesselyn yang masih kesal karena oma yang tidak percaya padanya.


"Ayo, kamu istirahat dikamar oma."


"Iya, Oma."


Jesselyn mengikuti oma hingga ke kamarnya. Percuma ia membela diri karena oma akan lebih dan selalu mendengar cucu kesayangannya, begitulah kira-kira yang dipikirkan Jesselyn.


"Pakai ini." Oma memberikan sepasang pakaian pada Jesselyn. "Itu baju dan celana pendek punya Leon. Tidak usah takut, dia tidak akan marah. Jadi cepat ganti bajumu."


"Iya, oma. Terimakasih!"


Jesselyn menerima pakaian yang disodorkan oma. Karena hanya ada dia dan oma dikamar itu, Jesselyn memutuskan untuk mengganti pakaiannya dikamar.


Jesselyn melepas satu persatu pakaiannya. Memakai celana pendek Leon dan kaos kuning bergambar bebek.


"Tunggu," ucap oma menghentikan Jesselyn saat akan memakai kaos.

__ADS_1


"Kenapa oma?" tanya Jesselyn menoleh kearah oma.


"Itu apa?" tanya oma Menunjuk bahu kiri Jesselyn. "Kenapa bisa begini?"


"Hmmm..., sudahlah oma. Oma juga ngak akan percayakan kalau aku bilang itu karena gigitan kak Leon?" Jawab Jesselyn meneruskan memakai kaos yang menggantung dilehernya.


Brakk


"Astaga," Jesselyn memegang jantungnya mendengar suara dentaman pintu. "Oma kenapa? Kenapa jalannya buru-buru gitu, padahal aku kan belum selesai bicara," berkata pada dirinya sendiri.


Jesselyn merebahkan tubuhnya di atas kasur milik oma. Tubuhnya seakan remuk karena lelah dan kurang istirahat sejak semalam, ditambah perjalanan menggunakan motor.


Rasa lelah dan kantuk semakin menarik matanya untuk tidur. Begitu tenang masuk hingga kebawah alam sadarnya.


Sementara Jesselyn tertidur pulas, Leon harus menghadapi oma yang kembali ke kamarnya.


"Maaf oma, maaf? Leon minta maaf oma?" kata Leon menangkis setiap pukulan oma.


"Apa? Kamu bilang maaf? Untuk apa, untuk apa?" Oma terus saja memukuli Leon dengan kemoceng ditangannya.


Oma tidak habis pikir dengan bekas merah yang dibuat Leon di bahu Jesselyn.


"Ayo, sekarang oma mau dengar pengakuan kamu."


"Iya, oma. Tapi lepas dulu kemocengnya dari tangan oma. Kemarin papa nampar Leon karena dia, sekarang oma juga malah ikut mukul Leon karena dia. Apa hebatnya dia oma?"


"Oma?" Leon seakan tak terima jika oma kesayangannya juga perpaling darinya.


"Ayo, cepat katakan kamu sudah apain dia?" tanya oma membuat Leon seakan seorang penjahat.


"Cuman gigit doang, oma. Satu...bukan, dua kali oma. Cuman dua kali." Leon berkata jujur karena tidak ingin menambah marah oma.


"Lalu bagaimana? Apa kamu senang?" tanya oma tersenyum.


Leon tersenyum melihat oma yang sudah tidak terlihat marah lagi.


Leon mendekati omanya dan memeluknya erat dari belakang.


"Dasar anak nakal," kata oma mengusap-usap lengan Leon yang melingkar di lehernya.


"Maaf oma, Leon cuman bermain-main sedikit dengannya. Leon kesal karena dia tidak nurut dan dengarin Leon. Oma jangan marah ya?" ucap Leon mencium pipi sebelah kiri oma.


"Ya sudah, kamu istirahat sekarang. Oma tidak akan kasih tahu papa kamu."


"Iya, oma. Terimakasih!" mencium pipi kanan oma. "Tapi Leon masih cucu kesayangannya oma kan?" tanya Leon bercanda.

__ADS_1


"Tidak lagi. Ada rubah kecil cantik yang sudah menggantikan posisimu."


"Oma kan baru ketemu dia?"


"Oma tahu semua tentang dia. Oma juga tahu kalau kamu selalu bersikap dingin padanya," jelas oma membuat Leon mencebikkan bibirnya.


"Kalau bukan papa, pasti mama yang kasih tahu. Iyakan?"


"Bukan mereka. Tapi Nadya yang kasih tahu oma," melepas pelukan Leon. "Kamu bawa yang oma mintakan?" tanya oma mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap rambut Leon.


"Leon bawa oma, tapi Leon tidak bisa beli yang mewah dan mahal. Leon beli pakai uang Leon sendiri, hasil kerja sampingan Leon."


"Bukan karena mahal atau murahnya suatu barang itu makanya berharga, tapi karena ini," oma menaruh telapak tangannya didada leon. "Jika kita memberi dengan tulus dan ikhlas maka nilainya akan sangat berharga bagi yang menerimanya."


"Iya, oma." Leon melihat omanya penuh arti.


****


"Ada berapa banyak pekerja sekarang ini, pa? Aku lihat sepertinya sudah bertambah banyak."


"Memang, sekarang sudah ada sekitar seratus lima puluh orang lebih yang bekerja dikebun teh ini. Papa juga berniat menambah sekitar sepuluh hingga dua puluh orang lagi dari masyarakat desa sini. Karena perkebunan teh yang semakin luas, maka jumlah pekerja juga semakin dibutuhkan."


"Jadi teh yang kita minum tadi pagi hasil dari sini?" tanya Bagas yang sedari tadi berjalan-jalan di kebun teh bersama papanya. Bagas memperhatikan para pekerja yang begitu lihai dan cekatan saat memetik pucuk teh.


"Tentu saja! Itu istriku tercinta yang langsung mengolahnya jadi bubuk teh. Hahahaa..."


"Benarkah? Ternyata ibu juga ahli dalam hal seperti itu," kata Bagas tersenyum dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Iya, mungkin dia bosan. Jika tidak ada kegiatannya dirumah, ia akan menghampiri para pemetik teh hanya untuk sekedar mengobrol dengan mereka."


Hahahaha.....


Keduanya tertawa membayangkan wanita yang dimaksud.


"Ini!" Opa memberikan perlengkapan seperti yang digunakan para pemetik teh pada Bagas. "Apa kau tidak bosan dengan kertas dan laptop yang selalu bersamamu hampir setiap hari? Saatnya merilekskan mata dan pikiranmu dengan melihat yang hijau-hijau."


Bagas menerima dan memakainya diiringi gelak tawa. Ia mulai memetik satu per satu pucuk teh seperti yang diajarkan pria tua yang disampingnya.


"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap untuk nanti malam?"


"Sudah, pa. Seharusnya tidak ada masalah kecuali dengan mereka berdua."


"Ck, kau ini bagaimana? Bukankah masalahnya memang hanya mereka berdua?"


"Iya, pa. Maaf?" Bagas melanjutkan memetik teh hingga sore hari. Kaki dan tangannya begitu pegal berdiri lama. Tangannya bekas memetik teh lengket karena getah saat memetik.

__ADS_1


"Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar untuk malam ini," pikir Bagas sambil meletakkan keranjang yang berisi setengah pucuk teh.


...Jangan lupa buat dukung cerita ini ya... Like dan komen yang masuk sangat berarti buat penyemangat saya. Terimakasih..❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2