
Selamat membaca 😗.
Keluarga Adit dan Naisya duduk di bangku di depan Ruangan IGD. Nyonya Dewi, Wulan dan Naisya terus menangis sampai sampai matanya sembab kerena terus menangis yang membasahi pipinya.
Beberapa kali Tuan besar Indrawan, Herman mencoba menenangkan doa tak henti hentinya terucap dari bibir mereka. Sedangkan Alex keluar dari toilet dan berdiri tak jauh dari pintu IGD.
Tidak berapa lama dokter keluar dari ruangan IGD, mereka yang menunggu langsung beranjak dari tempat duduk menghampiri dokter.
" Bagaimana dok, Keadaan suami saya?. " ucap Naisya.
" begini Bu pasien akibat kecelakaan pasien banyak kehilangan darah nya, jadi kami masih memerlukan beberapa kantong darah lagi, stok di rumah sakit sudah habis ." ucap Dokter.
" Jadi sebaiknya kita melakukan operasi secepatnya." Ucap Dokter lagi.
Naisya yang mendengar langsung Syok tidak berapa lama Naisya tidak sadarkan diri, perawat yang lainnya segera membawa Naisya Ke ruangan lain Nyonya Wulan yang menemani anaknya.
" Golongan darah nya apa dok?. tanya Alex.
" Golongan darah nya AB." jawab Dokter.
" Kalau begitu ambil darah saya saja dok " sahut tuan Indrawan.
__ADS_1
" Lebih baik jangan darah bapak kondisi bapak sudah tua, tidak baik pak. " ucap Dokter.
" Ya sudah ambil darah saya saja dok darah kami sama." ucap Alex bersedia mendonorkan darah nya.
" Mari pak ikut saya, " ucap perawat itu.
" Terimakasih banyak Lex, kamu sudah mau mendonorkan darah untuk Adit," ucap Nyonya Wulan dan Tuan Indrawan bersamaan.
Naisya yang hampir satu jam pingsan akhirnya membuka matanya dengan tatapan samar samar melihat keadaan di sekitarnya, Nyonya Wulan langsung menghampiri anak nya yang sudah sadar.
" Syukurlah nak kamu sudah bangun." nyonya Wulan langsung memeluk Naisya.
Naisya ingin melepaskan ingin melepaskan infus yang di tangan nya.
" jangan di lepas nak. " nyonya Wulan berusaha menahan.
" Aku mau menemui mas Adit ma. " balas Naisya yang sudah melepaskan infusnya.
"Sayang, keadaan kamu masih belum pulih nak,"
" Ma ku mohon aku ingin menemui Suamiku. " ucap Naisya matanya dengan sembab.
__ADS_1
Nyonya Wulan yang menatap anak nya merasa sakit melihat anak menantunya dalam keadaan seperti ini, ibu yang mana tidak sakit melihat anaknya seperti itu.
Naisya menghampiri mertuanya.
" Sayang, kenapa kamu di sini seharusnya kamu istirahat nak." ucap Nyonya Dewi memeluk erat mantunya.
" Aku tidak bisa istirahat ma, suamiku yang berada di dalam sana bagaimana aku bisa tenang, " Balas Naisya yang menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Dewi.
Tuan besar Herman memberitahukan kepada Nyonya Wulan kalau Alex mendonorkan darahnya kepada Adit.
" Terimakasih ya nak kamu sudah mau mendonorkan darahnya kepada Adit. " Nyonya Wulan yang tiba tiba memeluk Alex.
Alex yang di peluk sontak terkejut ia hanya mematung, Nyonya Wulan langsung melepaskan pelukan nya.
Tuan besar Herman menggeleng gelengkan kepalanya kelakuan istrinya yang memeluk sembarangan.
" Justru Alex yang berterimakasih kepada kalian semua tuan dan nyonya yang begitu baik kepada saya selama ini, dan saya tidak tahu harus membalas Budi kalian yang begitu banyak membantu saya ." Tutur Alex panjang lebar.
" Kamu sudah ibu anggap seperti anak ibu jadi jangan panggil saya nyonya lagi dan tuan panggil saja mama dan papa seperti Adit memanggil kami. " sahut Nyonya Dewi Sambil tersenyum.
Beberapa jam kemudian.
__ADS_1