
"Bal? Lo kenapa?" tanya Laura yang tengah duduk berdua di ruang tengah bersama Leon untuk menonton tv setelah mereka menunaikan sholat subuh, Ikbal pulang dengan keadaan yang acak acakan. Wajah penuh dengan lebam biru, darah di sudut bibirnya terukir jelas, matanya sayu seperti bekas di pukul, baju kaos polosnya pun sudah tak bagus lagi, baju putih itu kini habis bersimbah darah. Entah apa yang sudah ia lakukan.
"Gue gak papa La santai aja" jawab Ikbal, memang sehabis selesai acaranya Leon jam 23.05. Ikbal tidak langsung pulang seperti yang lainnya, ia ijin untuk pergi entah kemana dan alhasil dirinya pulang dengan keadaan seperti ini.
"Kenapa lo?" ucap Leon ikut menanyakan juga, sejujurnya ia juga khawatir melihat kondisi Ikbal yang seperti ini.
Ikbal mengukir senyuman picik, "Berantem sama tikus" jawabnya asal, "Leon kekamar La," Ikbal lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Eh serius lo gak papa? Apa perlu gue obatin?" tanya Laura lagi.
"Kaga, thanks ya. Gue bisa sendiri" balas Ikbal sedikit mengencangkan suaranya.
"Bahkan di saat gue kaya gini pun lo masih perhatian sama gue La, apa gue pantas nyakitin lo?" gumam Ikbal di dalam kamarnya.
"Gak ada bau alkohol, tapi kenapa bisa gitu ya? Jujur aku gk suka sama Ikbal sekarang, berubah."
"Aku juga, aku gak lebih gak suka kalo Ikbal bisa di hasut sama Alvin dan Bima buat nyelakain kamu. Intinya aku pesen sama kamu, jangan pernah deket sama mereka bertiga. Kamu tau kan wajah Alvin?" Laura mengangguk. Iya.
Leon teringat akan satu orang yang spesial dalam hidupnya, ia meletakkan kepalanya di paha Laura dan menghadapkan kepalanya ke arah perut Laura. Kepala Leon masuk kedalam baju Laura, sesekali ia mencium perut Laura yang masih datar, tak sabar rasanya menunggu baby S kesayangannya itu lahir kedunia.
"Hallo jagoan papa, lagi ngapain di dalem? Jangan nakal ya kasian mama, kalo mau main bola nendangnya biasa aja ya, soalnya perut mama kamu bukan bola jadinya kalo di tendang kuat-kuat nanti sakit kan kasian. Baby gak mau kan liat mama kesakitan? Makanya kalo main jangan kenceng ya sayang" beo Leon mengajak anaknya yang berusia satu bulan dalam kandungan itu dengan semangat.
Senyuman terukir di bibir merah merona milik Laura, benar benar bersyukur ia bisa memiliki suami seperti Leon. Meskipun usia mereka berselisih satu tahun 19,18 masih sangat terbilang muda, tetapi mereka yakin kalau mereka bisa menjaga calon anaknya dengan baik.
"Baby belum bisa nendang lho Sayang, baru satu bulan juga masa udah mau nendang aja" komentar Laura, pasalnya ia tidak setuju dengan perkataan Leon, bayi usia satu bulan dalam kandungan mana bisa nendang nendang gila.
__ADS_1
"Hehe, kan buat nanti" jawab Leon keluar dari baju Laura.
"Iya, ayo sekolah.
°°°°°°°°
"Anak anak mana La? Suami lo juga mana" tanya Seli yang baru saja sampai di kantin tepat duduk di depan Laura.
"Suami gue sama anak anak lainnya di panggil Pak kepal (kepala sekolah) buat nyeselein apaan gue gak tau" jawab Laura.
"Ohh berarti bukan cuma si Adel yah.
"Emang Adel juga?" Seli mengangguk.
Ketika sedang asik memakan makanan yang ada di hadapannya, Seli dan Laura di kejutkan oleh dua sosok orang yang paling Laura benci di dalam hidupnya. Mereka adalah Bima dan Rendy, ya Rendy masih saja bertahan dengan Bima, meskipun dirinya telah di jadikan budak oleh Bima, namun sepertinya ia betah-betah saja jika berteman dengan Bima.
"Hallo cantik" sapa Bima sedikit menggoda, mengedipkan satu matanya. Cowok dengan almamater sekolah SMA Harapan Bangsa itu tengah membawa satu cup minuman di tangannya.
Laura dan Seli tidak menjawab melainkan dua orang itu malah membuang muka saat di sapa. Untuk apa orang itu mengganggu dirinya lagi? Sudah bagus selama ini ia terbebas dari gangguan Bima, tetapi hari ini? Orang itu muncul lagi secara tiba-tiba tanpa kemauan dari Laura.
"Judes banget sih jadi orang, senyum dong" Bima menoel dagu Laura, namun dengan segera Laura menepisnya dan berdecak tidak suka, "Wehh galak bener, di ajarin sama anak pungut itu ya? Ups maksud gue suami lo."
Jujur Laura tidak suka jika sudah ada yang mengatakan bahwa suaminya itu anak pungut, bak di siram air mendidih emosi Laura meluap namun ia redam kuat-kuat agar tidak kelepasan. Toh gak ada gunanya ngeladenin orang seperti Bima.
"Maaf ya gue kelepasan, eh tapi emang bener kok, kan suami lo anak pungut ya hahaha" Bima tertawa renyah, seperti tidak ada rasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
PLAKK!
Tamparan kuat sekuat-kuatnya mendarat dengan kasar di pipi Bima, Laura lah pelakunya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan Bima, sebenarnya apa mau orang itu?, "Elo siapa hah? Gak usah ikut campur soal hidup orang, lo cuma orang luar yang gak ada berhak buat ngurusin hidup orang. Ikbal aja yang tinggal di rumah gue gak pernah ikut campur kaya gini, sedangkan lo? Lo siapa hah? Ngaca dong" cecar Laura, emosinya meluap.
Bima kicep, apakah ini Laura? Laura yang lemah lembut bisa segalak ini?, "Wahh bro, cewe cupu kaya dia berani bentak gue. Perlu dapet penghargaan sih ini" ucapnya bertepuk ria.
"Mampus emang enak kena amukan orang hamil" ucap Seli pelan, tentang Laura hamil memang sedikit di rahasiakan, tapi entah Bima tau ataukah tidak.
"Kenapa? Heran gue ngomong kaya gini? Lo tau kan orang sabar juga ada batasnya, gak mungkin bisa terus-terusan sabar apalagi ngadepin cowok sialan kaya lo. Itu gak bisa di sabarin lagi, lama-lama di diemin makin ngelunjak bukannya sadar diri.
Bima yang mendengar itupun juga menjadi emosi dia membuka tutup cup minuman yang berada di tangannya dan menyiramkannya ke arah Laura, alhasil baju seragam yang terbalut almamater itu habis basah, bahkan baju seragam putihnya pun menjadi kotor akibat warna coklat dari minuman itu menempel lekat di dadanya
"Itu buat lo yang udah berani sama gue. Cewek kaya lo emang gak bisa di diemin, tunggu aja balesannya nanti" ancam Bima lalu pergi dari hadapan Laura dan Seli yang sedang melongo.
"Sial!" umpat Laura.
"Lo gak papa kan?" tanya Seli, di jawab anggukan kepala oleh Laura, "Gue fine kok Sel.
"Leon tau, bisa perang dunia ketujuh ini mah" ucap Seli bergidik ngeri.
°°°°°°°
"Go, kita pulanggg" ucap Leon semangat sebari memegang tangan istrinya Laura.
Leon terus memegangi tangan istrinya dari depan kelas hingga sampai di gerbang sekolah, mengingat Laura yang sedang hamil tentu Leon merasa lebih waswas. Bukannya posesif akut, tetapi ia takut saja kalau Laura kenapa napa.
__ADS_1