
"Hiks.... Hiks... "
"Leon mana? Ko lo sendirian di sini? Nangis lagi" tanya Radit yang baru datang dari arah luar kantin.
"Hiks.. Jahatt" teriak Laura. Mengambil gelas yang tergelatak dan melemparnya ke sembarang arah hingga menimbulkan suara pecahan yang nyaring.
Radit terbelalak kaget, "Lo kenapa sih? Boleh cerita nggak?" tawar Radit menawarkan diri.
"Leon bentak gue, Leon marah sama gue, padahal kan gue cuma gak mau makan nasi goreng, itu aja ko. Tapi dia marah banget sama gue, pake bilang bang*t lah, nyusahin lah. Tapi emang sih gue nyusahin" tutur Laura dengan bibir yang di manyunkan sepanjang bicara, wajahnya menunduk dan air matanya mengalir.
"Serius Leon ngomong gitu?"
"I -iya"
"Wajar aja sih hehe" Radit terkekeh kecil, membuat Laura merengek kesal seperti anak kecil, "Ihhhh.
"Hehe becanda kok La, serius amat hidup lo" celetuknya.
"Lagian gue gak tau kenapa, ko gue aneh gini. Emang awalnya gue bilang kalo gue mau nasi goreng tapi pas nasi gorengnya udah ada di hadapan gue ko jadi enek gitu bau nya juga aneh jadinya gue gak mau makan" jelas Laura.
"Wajar aja si, pengaruh."
"Gitu ya?" tanya Laura polos.
"Iya gitu La, jangan kecapean oke?"
"Oke Dit."
°°°°°°°°°°
"Lagi ngapain La?" tanya seseorang itu membuat Laura yang sedang menonton tv di ruang tamu terperanjat kaget.
"G -gue ke kamar dul---"
"Gue gak bakalan ngapa ngapin lo ko, serius. Gue cuma mau ngobrol aja" ucap Ikbal yang melihat reaksi Laura ketika dirinya hampiri.
Meningat tentang Ikbal, Laura benar benar kecewa berat mengenai Ikbal yang akan mencelakainya dan sesuai dengan perkataan Leon kalau ada Ikbal harus langsung menghindar. Walaupun sekarang dirinya dan suaminya tengah ribut, kecil mungkin.
__ADS_1
"Apa?" Laura sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu berdekatan sama Ikbal.
"Bang Fais kemana? Ko gak liat?"
"Dia udah balik lagi ke luar negeri pas lusa" jawab Laura. Ia memang, selesai mengikuti Ikbal lusa sore itu, besok nya Fais harus segera berangkat ke luar negeri karena ada skripsi yang harus di kerjaan di sana. Mengenai dirinya yang belum lulus kuliah tentu tidak membuatnya tenang di jakarta.
"Oh oke, gue gak tau ya soalnya gue gak ada" Ikbal tersenyum sekilas, seperti tengah kecewa.
"Lagian lo sibuk sampe lupa waktu" menyadari akan nada bicara Laura yang sudah tidak berbata bata, dan raut wajah yang sudah normal sepweti biasanya, Ikbal kembali tenang, seperti tidak ada beban pikiran di hatinya.
"Sibuknya gak bisa di fending hehe" Ikbal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh" balas Laura singkat, ia baru saja menyadari kalau Ikbal....
Ia segera beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk pergi duluan memasuki kamarnya.
"G -gue ke kamar dulu" Ikbal mengangguk meng-iyakan.
"Udah gue bilang jangan deket deket sama dia, masih aja bandel. Lo gak dengerin gue hah?" Laura terbelalak kaget begitu sampai di kamar langsung mendapatkan bentakkan lagi dari Leon.
"T -tapi kan dia gak ngapa ngapain, cuma nanyain bang Fais doang emang sala---"
"Yaudah kalo ngerasa aku ngerepotin kamu, kita---"
"APA? PAKE LOGIKA DONG KALO NGOMONG" serobot Leon emosi, Leon tau kalau Laura akan mengatakan kata kata keramat yang terjadi di era rumah tangga.
"Iya aku pake ko" jawab Laura polos.
Leon menghela nafas berat, meredam emosinya. Ia tak boleh seperti ini terus terusan, bagaimanapun Laura adalah istrinya, dan ia juga sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan.
"Tidur" suruh Leon.
"Iya ini juga mau" jawab Laura.
"Hm"
Laura pun beranjak ke atas kasur di ikuti Leon juga di sampingnya. Leon sudah terlelap, namun Laura masih saja berguling kesana kemari seperti tidak nyaman tidur. Leon terbangun, menyadari akan istrinya yang seperti tidak bisa tidur.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hiks... Hiks... " bukannya menjawab Laura malah menangis, membuat Leon terperanjat kaget.
"Kenapa nangis?" tanya Leon lagi. Laura menggeleng cepat takut jika Leon tidak mau menurutinya.
"Gak papa" balasnya dengan suara serak.
Leon melongo, ia melupakan akan satu kebiasan Laura yaitu harus di peluk Leon terlebih dahulu jika akan tidur, kalo tidak mungkin Laura tidak akan bisa terlelap.
Tanpa aba aba Leon membawa Laura kedalam pelukannya dan menjadikan tangannya sebagai bantalan. Laura menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Leon.
"Maafin aku yang udah keterlaluan sama kamu tadi di sekolah, maafin ya" ucap Leon, menyesali apa yang telah di perbuatnya. Laura mengangguk kecil, "Iya"
"Yaudah ayo tidur yang nyenyak"
°°°°°°°°°
"Udah jam lima, bangun sholat dulu" Laura menepuk nepuk pipi Leon, untuk mencoba membangunkan nya.
"Heh, ko udah pagi" Leon buru buru beranjak dari tidurnya.
"Makanya, ayok mandi whudu keburu pagi banget" pinta Laura "Aku udah mandi tinggal whudu" lanjutnya.
"Yaudah bentar yah" perintah Leon lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan berwudhu, setelah itu mereka melakukan sholat subuh besama.
"Bentar ya aku ke bawah dulu" izin Leon setelah selesai sholat berniat untuk membawa makanan dari dapur, pasti jam segini Bunda sudah memasak beberapa menu untuk sarapan. Laura mengangguk sebagai jawaban.
Sebaru menunggu Leon kembali, Laura mencoba mengecek ponselnya siapa tau ada yang penting di sana, tapi sepertinya tidak ada.
DUKK!!
Suara sesuatu yang menabrak jendela kamar Laura dari arah balkon membuyarkan kepokusan Laura terhadap ponselnya. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas dan mencoba mengecek sesuatu tersebut.
Laura dan Leon sudah kembali ke kamar mereka semula yang berada di lantai dua, karena memang akhir akhir ini suasana nya seperti sudah membaik.
Setelah membuka pintu yang berhubung dengan balkon, Laura menemukan kertas berwarna biru muda tergeletak di lantai. Ia pun beranjak untuk mengambilnya dan membaca tulisan yang berada di dalamnya.
__ADS_1
ANAK PUNGUT GAK SEHARUSNYA DI SAYANG SEPERTI LAYAKNYA ANAK KANDUNG. DEMI ANAK PUNGUT SEORANG AYAH RELA MENGUSIR ANAK KANDUNGNYA SENDIRI.
PERGI DARI KEHIDUPAN KAMI, LO CUMA ANAK PUNGUT: LEON ARGANTA.