
Tujuh bulan telah berlalu, dimana Laura, Leon, Ikbal dan juga yang lainnya telah mendapatkan surat kelulusan dari SMA Harapan Bangsa. Dengan nilai yang cukup memuaskan. Di sisi lain kandungan Laura juga sudah memasuki delapan bulan, itu artinya tak lama lagi Laura akan segera memlahirkan sang buah hatinya yaitu baby s, entah Shera ataukah Shaka. Laura dan Leon memang sengaja tidak mecari tahu jenis kelamin sang junior dengan alasan agar menjadi kejutan. Apapun itu kelaminnya mereka berdua akan menerimanya dengan senang hati.
Fais, yang dahulu sempat pulang ke jakarta untuk menghadiri pernikahan adiknya dan harus pulang lagi keluar negeri karena akan menyelasaikan syarat-syarat kelulusannya itupun kini sudah tiba lagi di jakarta sekitar satu bulanan yang lalu. Kini ia akan selamanya tinggal di jakarta bersama kedua orangtuanya dan kedua adiknya. Mendengar berita saat Ani belum meninggal Fais tergesa-gera ingin pulang dan langsung memeluk adik kesatunya itu.
Seiring berjalannya waktu, Ani yang merupakan anggota baru yang masuk di rumah kediaman Reza Arbino kini sudah mulai menyesuaikan diri. Sebenarnya bukan anggota baru melainkan anggota lama yang baru pulang lagi ke rumah megah itu. Suasana di antara mereka sudah tak terasa canggung lagi, bahkan Ikbal dan Ani pun sudah mulai berinteraksi. Saling mengenal satu sama lain. Bukan karena ada rasa tetapi memang harusnya seperti itu.
"Ihhhh kok aku jelek gini sihhhh" Laura dari tadi terus saja uring-uringan di depan kaca karena melihat postur tubuhnya yang agak melebar dan pipinya yang semakin cubby. Menurutnya itu gendut.
Leon yang berada di belakangnya itu sudah muak dengan ocehan Laura. Sudah berapa kali Leon bilang, Laura tidak jelek, justru menurutnya malah semakin cantik, "Gak ada yang jelek, kamu tetep cantik di mata aku.
"Itu di mata kamu doang kan? Kalo di mata ayah? Bunda? Atau bang Fais gimana? Kan aku tetep jelekk" oceh Laura semakin menjadi-jadi.
Leon menghela nafas, rasanya sudah cape meladeni Laura yang sejak tadi insecure akibat perubahan bentuk tubuhnya, "Wajarlah kamu agak gendutan dikit, itu mungkin efek dari kandungan kamu yang udah mulai membesar.
"Gara-gara kamu" Laura menunjuk perutnya seolah menyalahkan. Leon melolot ia tidak terima anaknya yang tidak tahu apa-apa jadi harus kena imbasnya.
"Apaan jadi baby yang di salahin, baby gak salah. Kamunya aja yang terlalu gaje, orang itu biasa terjadi sama ibu hamil. Kamu liat deh ibu-ibu hamil pada umumnya aja gak pada protes kalo tubuhnya agak gendutan karena dia sayang sama anaknya" oceh Leon tak mau kalah.
"Berarti kamu nuduh aku gak sayang gitu sama baby? Ohh jadi gitu? Yaudah kalo gitu, kamu tidur di luar..... " ucapan Laura barusan mampu membuat Leon melototkan matanya lebih besar, gini nihh kalo bumil udah ngambek ancamannya tidur di luar mulu, mana gak di kasih bantal sama selimut lagi. Bayangkan saja bagaimana rasanya tidur tanpa bantal dan selimut itu seperti apa, beuhh.
"Ehh ehh enggak gitu lho maksud aku, tau ah ngambekan kamu tuh" Leon mencibikkan bibirnya, entah kenapa itu justru membuat Laura gemas dengan sikap Leon, seketika amarah Laura langsung pudar ketika Leon seperti itu.
__ADS_1
Entah dari mana datangnya tiba-tiba Laura kepikiran ide sesuatu yang jahil, ia mengambil ancang-ancang dan alhasil bibir Leon yang sedang di manyunkan itu berhasil Laura cubit. Gemas.
"Heh nakal" ucap Leon merasa tak terima.
"Ucull aaa gemesin banget sihh dady" Laura mengimut-imutkan ekspresinya dan langsung mengundang Leon untuk mencium pipinya. Leon mencium Laura sekilas.
"MAKAN WOYY" teriakan itu di bunyikan oleh Fais, pria itu kesal lantaran mereka berdua malah asik-asik di kamar sedangkan mereka sedang menunggu mereka berdua keluar untuk makan malam. Menyebalkan bukan?
"Udah ayok" perintah Leon, lalu pergi kelantai bawah bersama Laura.
"Ikbal mana?" Hanya itu yang keluar dari mulut Laura. Biasanya Ikbal sudah duduk anteng di kursinya tetapi kali ini? Tidak ada.
"Belum pulang" jawab Ani.
"Takut tau-tau pas pulang malah babak belur lagi" bisa di gambarkan dalam wajah dan sorot mata Laura jika memang gadis itu sangat menyayangi Ikbal. Laura peduli terhadap Ikbal, peduli atas dasar sebatas kakak dan adik tidak lebih, dan Leon tahu itu.
"Positive thinking aja" ucap Leon.
"Emangnya kamu bener-bener gak dapetin info sama sekali tentang siapa yang udah buat dia kaya gitu?"
Leon serasa terceket, "Bukan gak dapet tapi belum. "
__ADS_1
"Udah makan aja dulu, kasian baby" tambah Leon.
"Iya La, suami kamu benar. Kamu harus banyak-banyak makan biar baby sehat. Bentar lagi baby keluar kan? Besok udah mulai memasuki sembilan bulan usia kandungan kamu" ucap Dewina.
"Ho'o gue sama Bang Fais jadi tante sama om dong wkwk" ucap Ani terkikik geli.
"Anak Laura gak mau ngakuin lo tante, jelek. Mending gue om Fais ganteng tujuh turunan" ucap Fais. Narsis.
"Yeee kepedean lo turunin dikit bang, gak baik" saran Ani.
"Kapan makannya?" Tanya Reza yang sudah mulai lumutan mendengarkan perdebatan itu. Pasti selalu begitu ketika mereka sedang berkumpul. Gak ada yang akur.
°°°°°°°°°
Radit memperhatikan Leon, sejak dari tadi berkumpul Leon diam saja tidak ada gairah. Bahkan biasanya mereka tidak pernah di diamkan Leon seperti ini ketika tengah berkumpul. Di rumah tempat mereka verkumpul kini hanya berada, Rio, Radit, Ria, dan Leon. Fais tidak ikut hari ini ia lebih memilih diam saja di rumah karena keterpaksaan dari Laura. Katanya Laura mengidam ingin menghabiskan waktu hari ini bersama Ani dan Fais. Aneh bukan? Bahkan Leon yang merupakan suaminya saja ia usir.
"Kenapa bro?" Radit menepuk pundak Leon dengan tiba-tiba. Itu berhasil membuat Leon terkejut.
"Ceritalah ke kita" ucap Rendy. Ngomong-ngomong tentang Rendy, sekarang Rendy sudah menjadi salah satu teman Leon bahkan yang lainnya juga. Bukan karena apa Rendy memilih gabung bersama mereka, Rendy sudah tak tahan dengan Bima. Ia selalu saja di perbudak dan bahkan di jadikan pelampiasan ketika Bima sedang marah.
"Ikbal?" Ucap Rio tiba-tiba. Leon menoleh seperti membenarkan ucapan.
__ADS_1