Di Jodohkan

Di Jodohkan
DJ 66


__ADS_3

Leon terus memegangi tangan istrinya dari depan kelas hingga sampai di gerbang sekolah, mengingat Laura yang sedang hamil tentu Leon merasa lebih waswas. Bukannya posesif akut, tetapi ia takut saja kalau Laura kenapa napa.


Sesampainya di depan mobil mereka, Leon memperhatikan istrinya itu dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung kepala, ada yang aneh dari istrinya. Almamater SMA Harapan Bangsa yang Laura kenakan di kunci rapat oleh kancing, biasanya Laura akan menggunakan almamater itu tanpa di kancing atau di biarkan terbuka begitu saja. Apa mungkin Laura malu karena kandungannya mulai membesar? Tetapi kandungan berumur satu bulan mana mungkin sudah terlihat besar.


"Kenapa?" tanya Laura dengan dengan panik, sejujurnya ia hanya tidak ingin Leon melihat baju seragam putihnya yang kotor akibat kopi yang Bima siramkan tadi. Kalau kalau melihatnya mungkin Leon akan mengintrogasi akibatnya kenapa. Bukannya tidak suka, tapi Laura hanya tidak ingin Leon beradu jotos lagi dengan Bima. Itu cukup membuatnya panik.


"Tumben almamater nya di kancing rapat?"


"Dingin aja sayang, takut baby kedinginan kasian" balas Laura berbohong.


Leon mengangguk lalu tersenyum gemas, ia mengangkat satu tangannya dan mengelus lembut puncak kepala Laura, "Hhh lucu banget si kamu, yaudah kalo emang itu mau kamu" Laura menghela nafas lega, ternyata Leon langsung begitu percaya.


"Woyy n*r, buruan pulang. Malah uwwu-uwwu an lo pada, gak malu tuh sama anak-anak" celetuk Radit, merasa kesal dengan Leon serta Laura. Bisa-bisanya mereka bermesraan sedangkan Radit harus kepanasan di atas motor hanya untuk sekedar menunggu mereka?


"Iyaaa, kalian malah enak-enakan di sana, kita yang jomblo kepanasan nihh" ucap Ria ikut-ikutan.


"Iya nih kekeringan kita, buruan napa. Bisa di rumah kok uwwu-uwwu an nya jangan di sini" Seli juga ikut-ikutan.


"Panas iya di bayar kaga" celetuk Adel, tumben ia ikut mengejek Leon dan Laura?


Mendengar ucapan Adel tentu membuat mereka semua tertawa, lucu saja ketika Adel mengatakan itu hanya menunggu Leon dan Laura ia ingin di bayar? kecuali Rio, ia sama sekali tidak ikut campur dengan urusan pasutri itu, di suruh ini ya nurut di suruh itu ya nurut juga palingan hanya berkomentar sedikit, lalu di kerjakan.


"YEE SIRIK AJA JOMBLO" teriak Leon serta Laura kompakan, lalu setelahnya mereka tertawa.


"Kita kaga jomblo, tapi cuma belom nikah aja yakan gadis-gadisku" ucap Radit bangga lalu memeluk Ria, Seli dan Adel bersamaan.


"Yee, udah ayo katanya panas" kata Laura, lalu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


°°°°°°


Mobil sport berwarna merah itu berhenti tepat di area pemarkiran rumah berdesain mewah dan megah. Terlihat dua orang remaja yang sudah berstatus suami istri keluar di dalamnya. Itu Leon dan Laura, mereka baru saja sampai di rumahnya setelah pulang sekolah.


"Masuk" ucap Leon mencoba meraih tangan Laura seperti yang di lakukannya tadi di sekolah, namun dengan segera Laura menyingkirkan tangannya dari Leon. Leon yang merasa tak meraih tangan Laura pun melihat, ternyata Laura menyingkirkannya, "Kenapa? Kok di jauhin?"


Tiba-tiba alis Laura menaut tajam, nafasnya berderu seperti tak suka dengan lelaki yang berada di hadapannya, "Suka akulah, siapa kamu nyuruh-nyuruh. Gak ada hak juga kamu nyuruh-nyuruh aku, tangan-tangan aku jadi terserah aku lah" cetus Laura tanpa jeda.


Sementara Leon mendengar itu mengucap istighfar dalam hati. Istrinya? Kembali lagi seperti macan?, "Kenapa sih.. Gak kaya biasanya kamu kaya gini.


"Aku biasa kaya gini, kamunya aja yang gak pernah ngerasa kalo aku gini. Udahlah males" Laura berjalan pergi meninggalkan Leon yang masih melongo di depan mobil. Tak tunggu lama Leon mengejar Laura, ia baru teringat kalau saat ini istrinya sedang hamil, mungkin juga ini adalah efek dari kehamilannya.


"Yaudah kalo gak mau hati-hati dong jalannya jangan cepet-cepet kaya gini. Nanti kalo baby nya kenapa-napa emang kamu mau?" cegah Leon. " Udah ihh apaan sih sana jauh-jauh gak usah pegangg" emosi Laura meluap, ia mendorong Leon kebelakang hingga terpental menabrak kursi yang di simpan di depan pintu utama. Bisa di bayangkan cowok cool, tegas, pemberani dan jentle man itu tersungkur hanya dorongan dari seorang istri?


Laura menatap Leon tak percaya, ada sebersit rasa kasian namun, "Ckkk, letoy banget sih jadi laki" decak Laura lalu masuk kedalam rumah.


"Leon, Laura kenapa?" tanya Dewina yang melihat kedua anaknya masuk dengan terpisah.


"Gak tau bun, tiba-tiba aja ngambek gitu gak mau Leon deketin kan aneh."


Dewina tersenyum, sepertinya dua anaknya ini belum sama-sama memahami bagaimana sikap orang ketika hamil, "Kamu harus sabar ngadepin Laura, bumil emang kadang moodnya berubah-ubah" ucap Dewina menasehati.


"Itu belum seberapa Leon, di banding mama kamu dulu pas mengandung mereka. Lebih dari ini sifatnya" ucap Reza ikut-ikutan nimbrung.


"Gitu ya Bun, Yah. Yaudah Leon ke kamar dulu samperin Laura" ijin Leon, lalu pergi.


Sesampainya di kamar terlihat Leon duduk di depan meja rias dengan mata yang berkaca-kaca, entah karena apa sebabnya. Hal itu justru membuat Leon semakin bingung. Ada apa?

__ADS_1


"Kenapa hm? Kok kaya sedih gitu" tanya Leon mengelus puncak kepala Laura dengan segera Laura berdiri dari duduknya dan menepis tangan Laura keras, "Udah aku bilang gak usah deket-deket ihh, gak punya kuping apa" murka Laura.


"Udah gak usah marah-marah, iya aku minta maaf. Aku gak bakalan deket-deket kamu ataupun pegang-pegang kamu. Maafin ya" ucap Leon memohon.


"Apaan sih, awas minggir" Laura menubrukan bahunya dan bahu Leon lalu duduk di pinggir kasur. Setelah beberapa menit terdiam Laura menggerakkan kepalanya ternyata Leon masih berdiri di depannya.


Laura menatap Leon berkaca-kaca, dalam pikirannya ia seperti menginginkan sesuatu namun harus Leon yang harus menurutinya. Entahlah hanya sekedar berbicara saja Laura tidak mampu malu.


Leon yang langsung peka itupun angkat bicara, "Mau sesuatu? Apa? Biar aku beliin atau nggak aku ambilin.


"Gak usah" tolak Laura mentah-mentah.


"Udah deh bilang aja, ini kan kemauan baby bukan kamu jadi bilang aja gak usah gengsi.


"A -aku mau-----"


"Bilang aja, kalo mampu aku turutin.


"Huaaaaa, pengen pegang roti sobek kamuu" Laura menangis sesenggukan bak anak kecil. Leon terkekeh kecil, ternyata itu yang Laura mau. Leon buru-buru membuka satu persatu kancing seragam sekolah nya, hingga seluruh kancing itu terbuka menampakkan perut sixpack Leon tersusun rapi. Laura yang melihat itupun melongo, apa bisa dirinya memegang perut kotak-kotak Leon? Bahkan melihatnya saja Laura tidak kuat apalagi memegangnya. Gapapa lah demi si baby. Ada-ada aja kamu dek.


"Sini pegang" Leon mendekatkan diri dengan Laura, duduk di ranjang di samping Laura. Laura mulai mengangkat tangannya untuk meraih perut Leon. Leon berdecak tangan Laura bak siput lambat sekali meraih perutnya. Leon pun meraih tangan Laura dan langsung menempelkannya keperutnya. Tak kuasa Laura menahan diri mati-matian, mleyot rasanya.


"Udah? Senengkan? Jangan marah-marah lagi.


"Makasih cayangg. Maafin aku udah dorong kamu tadi" ucap Laura menyesal.


"No problem baby."

__ADS_1


__ADS_2