
*****
"Sayang?" panggil Leon kala melihat istrinya sedari tadi hanya diam saja tidak ada gairah.
"Heyy, kenapa?" panggil Leon sekali lagi.
"E-eum?" jawabnya berdehem pelan.
"Kenapa ko diam mulu?"
Laura berpikir sebentar, apakah dirinya harus jujur kepada Leon? Atau justru tidak usah? Tetapi percuma saja kalau dirinya berbohong, Leon juga akan mengetahui seperti apa mimik wajah Laura ketika tengah, berbohong, sedih, bahagia maupun hancur.
"T -tadi pas kamu sama yang lain pergi, tiba tiba orang yang neror aku kirim pesan lagi" Leon terperangah kaget mendengar itu, emosinya memuncak lagi.
"Dia bilang dia mau ketemu aku dan mau buka kedok dia.
"Terus.. kamu temuin dia?" Laura mengangguk, "Iya"
Leon mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas panjang, "Kenapa kamu gak bilang aku du---"
"Awalnya aku juga gak mau, tapi dia bilang kalau aku gak temuin dia sekarang... Dan kemungkinan besar gak akan semalanya" Laura kembali meneteskan air matanya, nafasnya terengah engah akibat tangisannya yang keluar.
"Kalo kamu kenapa-napa? Gimana coba hah? Aku yang kesiksa aku ngerasa gak becus jagain kamu" teriak Leon emosial, hal itu justru membuat Laura semakin histeris, "Orang itu beneran buka kedok dia? Atau itu cuma akal akalan dia buat nyelakain kamu? Iya?" lanjutnya, kali ini nada bicaranya sedikit menurun, tak tega juga melihat Laura seperti itu.
Laura mengangguk, "B -beneran, dia buka kedoknya" rasanya tenggorokan Laura terceket .
"Siapa?"
"Hiks... Hiks... " tiba tiba Laura mengencangkan tangisannya, membuat Leon semakin bingung, apa sebenarnya yang telah orang itu lakukan sehingga membuat Laura seperti ini.
"S -sayang? Kamu gak di apa apain kan?"
Laura memeluk erat tubuh tegap Leon menumpahkan semua tangisannya di sana, sekedar mengucapkan kalau sebenarnya itu adalah Ani pun rasanya susah. Namun sebisa mungkin ia usahakan.
"Orang itu hiks.. Orang itu... Kak Ani, Leon hiks" Laura semakin menangis sejadi jadinya, "Dia masih hidup hiks"
__ADS_1
"Kak Ani? Maksud kamu apa?" tanyanya parau, nafas Leon serasa ikut terceket, meskipun dia belum tahu wajah Ani seperti apa, tetapi dia bisa merasakan apa yang Laura rasakan sekarang. Luka Laura adalah luka Leon juga, kesedihan Laura adalah kesedihan juga bagi Leon, dan bahagia Laura bahagia dia juga.
"Aku benci dia Leon hiks aku benci dia" Laura memukul dada bidang milik Leon.
"Kenapa dia bisa setega itu neror kamu selama ini? Tujuan dia neror kamu itu apa sih?" antara kecewa, marah, dan juga sedih kini bercampur aduk di diri Leon. Di sisi lain dirinya juga terlihat begitu sedih melihat Laura seperti ini, tetapi di sisi lain juga Leon marah, bisa bisanya Ani malah ingin mencelakai adik kandungnya sendiri, bahkan menurut Leon itu sudah benar benar keterlaluan.
Laura menggeleng kuat, "Bukan... Bukan itu yang buat aku benci sama dia. Tapi kenapa selama ini dia bohongin aku, bohongin bang Fais termasuk Bunda sama Ayah juga. Dia gak tau seberapa hancurnya Bunda saat tau dia udah gak ada, dia gak tau seberapa tersiksanya bunda saat itu. Dia gak pernah mikirin itu Leon hiks. "
Leon menguatkan pelukannya mencoba membuat Laura tenang dalam dekapannya, sesekali Leon mengelus punggung Laura dan mengecup puncak kepalanya lembut.
"Dia menghilang selama dua tahun ini entah kemana, gak pernah peduli tentang kondisi bunda, gak pernah peduli tentang kesehatan bunda. Bahkan kalo di bilang, Bunda hampir mati karena mikirin dia. Tetapi sekarang? Dia begitu mudahnya datang lagi dan mengakui kalo dirinya belum mati..."
"Sayang udah istigfar."
"Aku benci dia Leon aku benci" lirih Laura melemah.
"Aku tau kamu kecewa, aku tau kamu marah. Kalo di bilang, mungkin aku juga marah, tapi apa kamu gak kasian sama kak Ani? Apa kamu gak tanya dulu apa alasan dia mengakui kalo dirinya udah meninggal waktu itu. Siapa tau ada alasan tertentu di balik itu" Leon menangkup kedua pipi Laura dan menatap manik mata Laura dengan dalam, ada keseriusan tersendiri di dalam tatapan itu.
"Aku mau kamu ajak kak Ani ketemuan, ajak dia ngomong baik baik, tanya alasannya kenapa dia sampe kaya gitu. Tanya baik baik jangan malah kaya gitu. Oke?" Leon tersenyum sekilas lalu memicingkan matanya memaksa agar Laura menyetujui permintaanya.
"Kalo gitu kita tidur sekarang.
°°°°°°°°°°°°°
"Baby Queenza Laura, bolehkah Seli melihat pekerjaan rumahmu (pr)" Seli memelaskan matanya berharap semoga Laura mengasihaninya, memang logat dari gadis itu selain bar bar, petakilan, centil dan juga cerewet dirinya ternyata kang nyontek juga.
Laura mendengus kesal, "Aish kerjain lah sekali sekali, jangan nyontek gue mulu" bagaimana tidak, setiap guru memberikan pekerjaan rumah (pr) , Seli selalu saja menyontek kepada Laura kalau tidak mungkin ia akan menyontek ke teman yang lainnya.
"Ayolah, lo kan cantik. Gue do'ain deh supaya lo dapet baby" ujar Seli dengan polosnya.
"Elah itumah nanti aja belum gue pikirin. Udahlah dari pada banyak bacot, noh bukunya ada di tas" Laura menunjuk salah satu bangku yang memang itu tempat letak dimana dirinya duduk.
"HAY GUYS" sapa seseorang itu mampu membuat mereka berlima menoleh, kecuali Seli yang sedang menulis.
Tatapan dingin tercetak jelas di anggota Raveliks boy, mereka menampakkan wajah yang sulit di artikan. Kejadian kemarin yang mereka lihat sungguh sangat membuat mereka kecewa kepada orang itu.
__ADS_1
Laura, Ria dan Adel yang belum faham dengan apa yang terjadi karena belum ada satupun orang yang memberi tahu tentang kejadian kemarin. Mereka memberikan senyuman hangat dan dengan wajah yang sangat amat merindukan orang itu. Terlebih lagi Laura dan Adel. Mereka berdua sangat merindukan orang itu.
"Lo kemana aja sih? Udah hampir satu minggu gak pernah nongol, gk pernah pulang kerumah lagi. Ayah sama bunda khawatir sama lo tau. Lo selama ini tidur di mana? Makannya gimana? Cukup? Sehat dan steril gak?" cerocos Laura tanpa henti. Leon berdecak sebal, bukannya bersikap dingin seperti dirinya tetapi malah berbicara seperti itu.
"Sorry nih La, gue sibuk" balasnya dengan biasa seolah tidak ada rencana busuk apapun yang berada dalam pikirannya.
"Sibuk ngerencanain sesuatu buat ngejebak orang" sindir Leon tanpa ekspresi wajah yang di tunjukkan. Ikbal yang semula tersenyum seketika senyumannya memudar. Shok. Dari mana Leon tau?
Leon melihat jelas tingkat Ikbal yang seperti tengah panik, akan tetapi ia segera menetralkan ekspresinya lagi, "Ngaco lo, rencana apaan?"
"Pikir sendiri"
"Maaf ya Leon emang lagi sensi akhir akhir in---"
"Gausah minta maaf emang bener" serggahnya seraya tidak suka dengan bicara Laura barusan.
Ikbal berjalan mendekat ke arah Laura, mencoba duduk di sebelah gadis itu kebetulan juga ada bangku yang kosong. Ingin mengacak lembut rambut gadis itu, rasanya rindu tidak bertemu satu hari saja dengan gadis itu. Terlebih lagi tu satu minggu.
Ikbal menggerakkan tangannya untuk mencapai puncak kepala Leon, namun dengen segera Laura membawa kepala Laura kedalam dekapannya dan menenggelamkan kepala gadis itu di dalam dada bidangnya yang terbalut rapi baju seragam sekolah, seolah tidak ingin istrinya di sentuh oleh orang itu.
"Sini sayang, kepala kamu gak boleh kotor" sindir Leon sebari melirik Ikbal dengan sinis, tangannya terus saja mengusap lembut kepala Laura meskipun belum tersentuh sama sekali. Mengingat perkataan adiknya yang akan mencelakai Laura dan dengan mudahnya Ikbal setujui, tentu membuat Leon mengeraskan rahangnya kuat, marah.
Ikbal mengepalkan tangannya kuat, rahangnya saling bergesekan menahan emosi, wajahnya merah padam, matanya menaut dengan tajam. Benar benar telah menjadi asing dirinya sekarang.
Karena sudah merasa tak tahan lagi dengan sikap para sahabatnya, Ikbal mengangkat bicara "Kalian kenapa sih? Kok pada aneh gini sama gue? Apa karena gue gak nongol selama satu minggu ini?" tanya Ikbal heran, "Itu tadi lagi, lo bilang rencana? Rencana apaan sih Leon? Gue gak nger---"
"Ya emang ada rencana kan? Sekarang gue jadi gak leluasa nitipin Laura ke lo, MUNAFIK" serobotnya dengan nada tajam.
Jleb!! Seperti di sambar petir rasanya ketika mendengar itu. Ikbal mengambil nafas dalam dalam mencoba meredam emosinya, ia tidak boleh terpancing emosi begitu saja, kalau tidak para sahabatnya itu akan semakin curiga terhadapnya.
Rio, Radit, Ria dan juga Adel, tidak berani berbicara sedikitpun mereka membiarkan Leon berdebut sendiri dengan Ikbal. Terlebih lagi Ria dan Adel tidak tahu apa apa, Radit si petakilan pun kali ini terlihat lebih kalem dengan wajah dinginnya.
Bel masuk berbunyi membuat Radit, Ria, Adel dan Ikbal beranjak berdiri untuk masuk kedalam kelas mereka. Kelas 12 IPS. yang terletak di lantai dua. Kecuali Rio, Seli, Leon dan Rio yang memang sudah berada di kelasnya yakni kelas 12 IPA.
*****
__ADS_1