Di Jodohkan

Di Jodohkan
DJ 70


__ADS_3

"Ikbal?" Ucap Rio tiba-tiba. Leon menoleh seperti membenarkan ucapan Rio.


"Iya, siapa lagi. Gue bingung mikirin dia yang kalo pulang tiba tiba babak belur.


"Bukannya suka bareng Bima tuh orang?" tanya Rendy.


"Akhir-akhir ini kayanya jarang. Gue gak tau, Laura selalu mohon-mohon buat gue cari tau siapa pelakunya" Leon menghela nafas, seperti ada segurat lelah di wajahnya.


"Lagian aneh gue sama tu orang, mau-maunya masih ketemuan sama Bima. Bukannya udah musuhan?" tanya Radit.


"Bentar, bukannya kata lo waktu itu Bima ngajakin perang? Bukan perang si lebih tepatnya kaya mau berantem kan?" Tambah Rio.


"Iya, ngomongnya waktu sekolah dulu tapi sampai sekarang udah tujuh bulan masih aja belum ada tanda-tanda tauran itu di mulai" jawab Leon.


"Waspada, secepatnya akan terjadi" ucap Rio mampu membuat semuanya menoleh.


"Maksud lo?"


"Gue cuma nebak, kayanya bulan ini atau bulan depan."


"Gue harus siapin diri dulu, semoga itu terjadi setelah anak gue lahir. Seenggaknya gue bisa liat anak gue untuk yang pertama kalinya" ucap Leon, senyumnya mengembang sedikit mengingat anaknya yang sebentar lagi akan lahir.


"Ngomong apa?" Rio menautkan alisnya tajam, tidak suka dengan arah bicara Leon.


"Ya umur siapa yang tau Yo, gue juga gak bisa nentuin kapan gue mati. Keinginan gue sebelum waktunya cuma dua, ngedampingi Laura lahiran dan ngeliat anak gue lahir.

__ADS_1


"An*ing lo" serka Rio, dia benar-benar tidak tahu kemana arah bicara Leon, apa sebenarnya yang berada di dalam pikirannya saat ini?


"Segitu doang nyali lo? Lo sekarang jadi ayah Le, lo rela liat anak lo besar tanpa seorang ayah? Lo rela anak lo di ejek-ejek temennya nanti karena gak punya ayah? Hidup tanpa seorang ayah itu gak enak Leon" ucap Rio. Leon diam tertegun.


"Gue tau!! Gue cuma siaga aja. Menyiapkan diri" Leon tersenyum sekilas.


"Rio bener Le, besar tanpa seorang ayah itu menyakitkan. Bahkan nyari temen aja susah, gue yang ngerasain. Gue dari kecil gak punya ayah, mereka yang gue ajak temenan aja seolah jijik sama gue" Rendy tersenyum hambar mengingat kenangan pahit yang sejak kecil ia rasakan. Rendy sering kali iri sama mereka yang mempunyai orang tua lengkap, yang bisa bercanda tawa bersama ayahnya.


Leon diam, dia meresa tak enak dengan Rendy. Dia benar-benar tidak bermaksud, "Sorry gue gak ada maksud nyinggung lo."


"It's oke no problem, gue gak masalah. Udah lah bro jangan berpikir negatif mulu, lo sebentar lagi jadi bapak masa lo nyerah gitu aja, apa kata anak lo nanti kalo punya bapak kaya gini" Rendy menyenggol lengan Leon dengan pundaknya.


"Thanks ya gue bener-bener gak salah pilih temen.


"Yoi dongg, temenann sama kita mah sama-sama nguntungin. Apalagi lo buat gue, nguntungin bangett" ucap Radit hebohh.


Rendy mengeraskan rahangnya lalu menjitak kepala Rendy berbalik, "Ye sama-sama ae kan lu cokk.


Leon merasakan ada benda yang mengenai kepalanya, ia menoleh dan ternyata Rio pelakunya. Rio melemparkam satu bungkus rokok tepat di kepala Leon. Leon menatap rokok tersebut sangat lama.


"Bakar" kata Rio, namun Leon seakan enggan melakukannya.


"Udah gak doyan" balas Leon. Rio menatap Leon dengan sorot mata bertanya, Leon yang langsung paham pun spontan menjawab, "Udah pensi, gue gak mau kebiasaan buruk gue itu di lihat atau di tiru anak gue nanti" kata Leon, Rio mengangguk paham.


"Ini baru sahabat gue, calon bapak yang baik buat anaknya" ujar Radit di tengah-tengah seperti ini ia selalu saja bercanda. Ia tahu keadaannya sekarang lumayan canggung jadi ia berinisiatif untuk mencairkannya.

__ADS_1


°°°°°°°°°


"Udah puas seharian gak ada aku?" Ucap Leon tiba-tiba di belakang Laura. Laura menoleh kebelakang dengan kaget.


"Belum puas, baru lumayan puas" jawab Laura seenak jidat, padahal Leon dari jam 5 subuh tadi pergi menjauhi Laura , bukan Leon yang mau melainkan Laura, Leon di usir oleh Laura ketika sudah melakukan sholat. Tega bukan? Apapun itu kalau demi kebaikan baby pasti Leon turuti. Leon baru saja pulang, sekarang ini adalah jam 10 malam, sudah jelas benar larut malam. Leon beberapa kali menghubungi Laura apakah diri nya boleh langsung pulang atau tudak namun respon dari Laura yaitu selalu 'jangan dulu'. Ya begitulah sudah hamil besar masih saja ada ngidamnya hdehh.


Leon berdecak kesal apa sekaramg dirinya harus keluar lagi?, "Aku harus pergi lagi gitu?" Ucap Leon menunjuk dirinya sendiri.


"Harusnya sih gitu, tapi aku kasian sama kamu jadi diem aja walau aku gak suka liat muka kamu" celetuk Laura dengan tak sengaja membuat Leon memasang wajahnya tidak suka.


"Jadi gitu? Oke fine gue tidur di kamar tamu aja" Leon melangkah pergi dengan kesal.


"Ih marah dia" Laura melirik Leon dengan sebelah mata seakan bodo amat dengan suaminya.


"Tumben belum tidur?" Tanya Ikbal yang melihat Leon turun dari kamarnya ia kini sedang duduk anteng di ruang tamu.


"Mumet gue" jawab Leon. Leon memperhatikan seluruh tubuh Ikbal, sepertinya kali ini Ikbal pulang dengan baik-baik saja, namun tidak bisa di tutupi bekas lebam di wajahnya belum juga menghilang.


"Kenapa lo? Liatin gue segitunya banget.


"Tumben pulang muka lo gak bonyok" Leon duduk di sebelah Ikbal, mengambil cemilan yang tersedia di meja.


"Gak ada tikus jadinya gak bonyok" jawab Ikbal becanda.


"Gak usah becanda gue serius. Sebenernya lo itu punya masalah sama siapa? Ceritalah sama gue, gue bukan siapa-siapa lo jadi gak usah sungkan.

__ADS_1


Ikbal tersenyum canggung, "Gue gak papa, cuma biasalah cowo punya masalah dikit.


__ADS_2