
CUP
Dua ciuman dari orang yang berbeda mendarat di pipi sebalah kanan dan kiri Laura, alangkah bahagianya dia ketika di cium oleh dua orang yang sangat ia sayangi.
"Udah kan" ucap Ani, Laura mengangguk senang.
"Yeyyy makasih aunty makasih daddy" ucap Laura menirukan suara anak kecil.
"Udah ah ayok pulang kerumah udah gak sabar ketemuin kak Ani sama Bunda dan Ayah" ucap Laura greget.
°°°°°°°°°
"Assalamualaikum Bunda Ayah yuhuuuuuu Quenza pulang bawa sesuatu" ucap Laura berteriak ketika masih berada di luar.
"Waalaikumsalam Laura ya Allah bisa pelan-pelan gak sih, Ikbal lagi istirahat" ucap Dewina memperingati pasalnya kebiasaan gadis itu dari kecil suka begitu, harusnya sikapnya itu hilang karena sudah hampir mau jadi ibu-ibu tetapi sepertinya itu masih saja melekat di diri Laura.
"Hehe maaf Bunda, lagian aku terlalu bersemangat."
"Emang kenapa sih La?" tanya Reza mulai penasaran.
__ADS_1
"Ada yang mau Laura tunjukin" ucap Laura. Tiba-tiba Ani masuk dari sisi kiri dengan wajah yang menunduk dan kepala yang di tutupi tudung hoodie. Perasaannya kini campur aduk, takut, malu dan gugup pun menjadi satu. Sementata Reza dan Dewina kompak menyergitkan dahinya, pertanda bertanya siapa orang itu. Ani mulai mendongakkan wajahnya perlahan, sungguh rasanya tidak kuat.
Dewina dan Reza terpaku di tempat seakan tubuhnya tak bisa di gerakkan, nafasnya berderu. Shok dan terkejutpun menjadi satu. Dewinq menghela nafasnya dalam-dalam, "Ayo masuk" perintahnya.
Kini berbalik Laura, Leon dan Ani yang kompak menyergitkan dahinya. Kok bisa? Jadi Dewina sama Reza tidak marah sedikitpun?
"Ayo tunggu apa lagi, gak baik bicara di depan pintu gini" pinta Reza.
"Bunda?" mata Laura berbinar-binar, apakah memang Ibundanya itu tidak marah sama sekali?
"Bunda udah tau semuanya Laura" balas Dewina, ia sudah tau maksud dan tujuan Laura.
"Ngapain? Bunda gak mau munafik, bunda juga kangen sama Ani" balas Dewina, air matanya jatuh menetes.
"Tapi bunda kenapa bisa tau kalo kak Ani masih hidup?" tanya Laura lagi.
"Bunda sering keluar La, bunda sering banget liat Ani ada di area luar di area tempat yang bunda kunjungin. Awalnya bunda gak mau percaya, cuma bunda gak sekali dua kali liat Ani, tapi sering" jelas Dewina panjang.
"Bund?" Kini Ani membuka suara.
__ADS_1
"Bunda butuh penjelasan" ucap Dewina tanpa aba-aba. Lalu Ani di persilahkan untuk menjelaskan semuanya kepada Dewina, Dewina begitu shok mendengarkan penuturan penjelasan dari Ani, jadi selama ini? Itu alasannya.
Dewina memeluk tubuh Ani dengan aba-aba menumpahkam isi tangis dan rindunya selama ini, jujur ia sangat merindukan putri keduanya ini, "Bunda kangen kamu.
"Aku juga kangen Bunda sama Ayah" beo Ani.
"Janji jangan pergi lagi" ucap Reza wanti-wanti. Ani me gangguk, "Janji Bunda. Maafin Ani yah udah bohongin kalian bertahun-tahun. "
"Gapapa Ani. Kita lupakan yang lama dan mulai lembaran baru yah? Mulai lembaran baru dengan tiga orang yang baru" ucap Dewina mampu membuat Ani bertanya, "Siapa.
"Baby S, Leon dan juga Ikbal" jawab Laura.
"Ikbal?" Hanya itu yang Ani tanyakan toh dia juga sudah tau siapa baby s siapa Leon.
"Kakak gue" jawan Laura lagi, "Bukan kandung sih tapi lebih tepatnya temen yang udah gue anggap kaya kakak sendiri. Kebetulan dia tinggal di sini soalnya gak ada tempat tinggal" tambahnya. Ani mengangguk angguk paham.
"Mulai sekarang tinggal di sini gak ada penolakan" paksa Reza penuh penekanan.
*****
__ADS_1
Hmm maaf yah kalo memang cerita ini gak seru, soalnya aku agak banyak ngeskip bagian part ini. Biar gak terlalu rumit ceritanya.