Di Jodohkan

Di Jodohkan
Gara Gara Makan


__ADS_3

"Gue kira lo gak bakaln balik lagi ke rumah ini" ucap Leon dengan wajah dingin setelah melihat Ikbal masuk ke dalam rumah dari pintu utama.


"Leon" cegah Laura, Leon memutar bola matanya malas.


"Gak boleh?" tanya Ikbal santai.


"Gak" balas Leon cepat.


"LEON" bentak Laura keras.


Leon yang merasa di bentak itupun lantas mengeraskan rahangnya kuat, tidak terima dengan perlakuan istrinya barusan.


"Sini lo" Leon memegang pergelangan tangan Laura dan menyeret Laura kasar ke dalam kamar. Di sisi lain, Ikbal menatap nanar kepergian mereka berduanya lalu mengusap gusar permukaan wajahnya.


"Maaf"


°°°°°°°°°


"Kenapa sih hah? Kamu tau gak? Perlakuan kamu barusan itu keterlaluan Leon" teriak Laura emosi.


"Keterlaluan apaan sih hah?" tanya Leon mencoba tidak terpancing emosi.


"Kamu kaya gitu sama Ikbal, kamu pikir itu bagus? Enggak Leon malah menurut aku kamu itu udah keterlalua.


"Lo bilang keterlaluan? Lo gak tau apa sebenernya niat dia La" kini suara Leon meninggi, emosinya sudah keluar tidak bisa ia bendung lagi.


"Niat apa? Apa coba ngomong ke aku" tantang Laura dengan lantang.


"Lo gak tau hasil dari penyelidikan kita kemaren La, lo tau? Dia ketemuan sama adek gue dan Bima, lo tau mereka ngerencanain apaan? Mereka ngerencanain buat nyelakain lo, dan Ikbal gak nolak, dia mau mau aja La, maka dari itu gue gak mau lo deket deket sama dia" tutur Leon panjang lebar dengan nada lumayan tinggi.


Laura diam membisu tak percaya dengan apa yang Leon katakan, tapi Leon tidak mungkin berbohong. Air matanya menetes, kenapa bisa? Ikbal yang selama ini sudah menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri malah bekerja sama dengan adik dari suaminya untuk mencelakai dirinya?


"L -Leon?" ucapnya terbata bata, mencoba menyakinkan apa yang di dengarnya itu benar atau tidak?


"Gue serius La, nada bicara Leon melembut, memeluk hangat tubuh mungil Laura.


"Maaf aku gak tau hiks" Laura memeluk tubuh Leon dengan sangat erat, menyesali perbuatannya yang telah membentak suaminya sendiri, ia sadar yang di lakukannya salah.


"Gak papa, tapi aku gak mau kamu deket deket sama Ikbal lagi, bukannya ngelarang, cuma aku gak mau kamu kenapa napa La, Laura mengangguk menyetujui.


"Maaf ya kalo emang aku mengekang kamu, tapi aku kaya gini karena ada alasannya bukan tanpa sebab" Leon membenamkan wajahnya di celuk leher Laura, merasakan ketakutan terbesar akan kehilangan istrinya.


"Gak papa justru aku suka, aku juga harus instrospek dan nurut sama kamu kalo emang gak mau terjadi apa apa sama diri aku sendiri" Laura mengucek ngucek matanya yang basah karena air mata, mencoba memberhentikan air mata yang keluar.


"Ihh gemes banget sih" Leon mencubit gemas pipi cuby Laura.


"Iiiih... " rengek nya.


"Kenapa hmm?"


"Mau bobo" ucap Laura dengan manja.


"Baru jam delapan Laura, udah mau tidur aja.


"Ihh yaudah, tidur sendiri aja" Laura memalingkan wajahnya yang sambil menatap Leon, kini beralih menatap sembarang arah sambil bersedekap dada dan dengan pipi menggembung.


"Ishh jadi manja ya sekarang" Leon mendekati Laura, namun dengan segera Laura menyingkirkan tubuhnya.


"Sana kalo gak mau aing tidur duluan" ucap Laura dengan wajah judesnya, seperti pertama kali mereka bertemu, lalu berjalan menghampiri kasur.


"Heh, mulutnya yah. Minta di cium kayanya. Laura melotot besar, apa cium? Seketika dirinya bergidik ngeri, bagaimana tidak, Leon kalau sudah melakukan apa yang dirinya katakan pastinya tidak akan memberikan Laura celah untuk bernafas.

__ADS_1


"Kamu ganas kaya macan, aku bisa mati kalo kamu cium."


"Lah ko gitu?"


"Kalau kamu cium aku, kamu gak pernah ngasih aku dikit aja buat nafas, mainnya ganas banget" ucap Laura bergidik ngeri.


"Banyak ngomong yah, padahal kamu sendiri yang gak mau aku lepasin" ucap Leon tak mau kalah.


"EH MANA ADA" Laura refleks berteriak.


"Gausah kenceng kenceng, mau aku gas yang bawah?"


"Eeh!!"


Leon mendekati tubuh Laura yang duduk di seberang kasur, lalu memeluknya posesif dan menjatuhkan diri mereka berdua ke atas kasur dengan kasar. Jangan di tanya saat ini keadaan jantung Laura tidak normal, berdetak dengan kencang seperti akan pindah ke otak.


Leon menelusuri leher Laura dan mengigit lehernya lumayan keras sehingga menimbulkan warna merah yang tercetak.


"i love more than anything baby" bisik Laura dengan suara serak.


"I also love you more than anything" balas Laura, sebelum akhirnya hanya mereka dan tuhan yang tau.


°°°°°°°°°°


"Udah selesai kan?" tanya Leon kepada Laura yang tengah sibuk menyiapkan alat tulis dan buku bukunya.


"Bentar satu lagi sayang" Laura memasukkan buku terakhirnya yang tersisa, "Nah ayok udah selesai" lanjutnya sambil menenteng tas yang berisi buku tersebut.


"Ayok berangkat.


"Nggak sarapan dulu?" tanya Laura.


"Nggak males, nanti aja di kantin" jawab Leon.


"Nurut yah sama suami" Leon tersenyum sekilas lalu merangkul istrinya yang hanya setinggi bahunya itu.


Mereka berjalan keluar dari kamar dan turun menuruni anak tangga yang berhubung dengan lantai satu.


"Lho Leon, La. Kalian gak sarapan dulu?" tanya Dewina yang melihat anak dan mantunya hanya melewatimeja makan yang sudah terdapat Ikbal, Reza dan dirinya.


"Enggak Bun, kita ada jadwal mendadak jadi harus pergi pagi banget gini. Kita makan di kantin aja bun, aman ko" Leon tersenyum simpul untuk menutupi kebohongannya. Sebenarnya bukan memang ada kegiatan mendadak tetapi karena males saja harus menatap muka Ikbal yang menjijikan itu.


"Oh yaudah hati hati ya sayang" peringat Dewina.


"Jangan ngebut ngebut" perintah Reza.


"Iya Bunda, ayah" jawab mereka lalu keluar dari rumah.


°°°°°°°°°°


"Ko sepi yah?" tanya Laura kepada Leon.


"Iyalah sayang, kan kita pagi banget ke sekolahnya. Yaudah kita ke kantin, makan dulu kan tadi belum sarapan" perintah Leon, merangkul pundak istrinya.


"Ayo duduk" titah Leon yang sudah sampai di kantin, dengan senang hati Laura menurutinya.


"Mau makan apa?" tanya Leon.


"Kayanya nasi goreng aja deh" balas Laura.


"Oke, bentar aku pesenin" Leon beranjak dari duduknya untuk mengampiri ibu kantin yang bertugas di depan dan memesan dua nasi goreng dan dua gelas teh manis untuk dirinya dan juga sang istri.

__ADS_1


Sebari Laura menunggu Leon, terlebih dahulu Laura membalas chat yang muncul di layar hpnya.


Unser name:


La, jadi kan?


Queenza:


Iya jadi tapi kayanya minggu deh jangan pas hari sekolah banyak orang gak seru, dua hari lagi kan minggu?


Unser name:


Oh oke, jaga diri lo baik baik.


Queenza:


Iya gue aman.


Laura buru buru mematikan teleponnya dan kembali pokus menunggu Leon membawa makanannya.


Selang beberapa menit menunggu akhirnya Leon sampai dengan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh manis.


"Nih, makan yang banyak cantik" Leon tersenyum ke arah Laura, langsung di balas dengan senyuman kecut dari Laura.


Leon menyadari kalau Laura seperti itu, "Kenapa hm" tanya Leon yang langsung peka.


"Aku gak mau nasi goreng" ucapnya tak enak.


"Tadi kan katanya mau" balas Leon yang baru menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Ya tapi kan aku gak mau, gak enak. Enek" wajah Laura berekspresi seperti ingin muntah.


"Mubazir mending di makan aja ya" kata Leon dengan lembut.


"Ya kalau aku bilang gak mau ya gamau gimana sih, ko maksa" bentak Laura.


"Kamu kenapa sih? Gak kaya biasanya, tapi ini udah terlanjur di pesen mubazir" ucap Leon masih setia dengan nada membujuk dan halus, berharap Laura berubah pikir.


"Gak mau, makan aja sendiri" tolak Laura lagi dengan wajah kesal lalu membelakangi Leon.


Leon mengusap wajahnya kasar. Frustasi. Ada apa dengan istrinya. Freak.


"Sesuap aja yah" bujuk Leon lagi, namun tak kunjung di balas oleh Laura.


BRAKK!


Leon menggebrak meja dengan begitu keras membuat teh manis dan nasi goreng yang berada di atas meja tumpah dengan sekejap.


"Mau lo apa sih, hah?" bentak Leon dengan keras hingga menggema di seluruh penjuru kantin.


"Hiks.. Hiks..." Laura menangis sesenggukkan tak menduga Leon akan membentaknya balik. Padahal kan dirinya cuma tidak mau makan nasi goreng apa susahnya?


"A -aku cuma gak mau nasi goreng aja ko kamu marah" cicit Laura yang masih menghadap tembok dan membelakangi Leon.


"Kenapa awalnya lo bilang mau nasi goreng, kalo emang akhirnya lo gak mau, ya jangan pesen itu bang*t" sentak Leon lagi lebih keras membuat Laura semakin menjadi jadi.


"A -aku nyusahin yah?" tanya Laura dengan nada kecil.


"Udah tau malah nanya, udah lah lo mau makan apa aja terserah. Pesen sendiri gue ke kelas duluan" ucapnya frustasi dengan sikap Laura tersebut, lalu meninggalkan Laura sendirian.


"Jahat.. Hiks"

__ADS_1


*****


__ADS_2