
*****
Leon benar benar tidak memberikan ampun kepada pria bergopeng itu, bahkan sekarang ini dia sudah mengambil ancang ancang untuk menginjak-injak perut lawannya bak trampolin.
Namun sebelum Leon menginjak perut lawan tiba tiba perhatiannya tertuju pada Laura yang sudah tidak terdapat di kursi yang tadi di pakai untuk menyekapnya.
"Argh sial, lo kemana sih La."
Leon mengedarkan pandangannya beruntung ia mendapati salah satu orang bertopeng itu yang tengah menghindarinya membawa Laura, entah mau di bawa kemana istrinya itu.
Leon berlari mendekati orang itu dan memukul ceruk leher orang itu dengan kuat sehingga membuatnya terhuyung ke tanah seperti temannya. Leon menginjak perut orang itu dengan satu kakinya, Leon mengepalkan kuat tangannya bersiap untuk meninju wajah orang itu hingga tak berbentuk.
Tinggal hitungan detik kepalan tangan Leon hampir mendarat di wajah pria itu namun ketika beberapa senti lagi hampir mengenai permukaan kulit wajah orang itu tiba tiba semua lampu sekolah dari lantai satu hingga lantai tiga semuanya menyala bukan hanya lampu semua ruangan sekolah melainkan lampu kelap kelip yang sengaja di desian untuk menghiasi lapangan juga menyala, semua penjuru sekolah di hiasi bunga bunga yang segar, bahkan sekarang yang Leon injak bukanlah tanah melainkan karpet berwarna merah yang sengaja di desain dengan detail.
Tanpa di sadari delapan orang dengan satu dari mereka yang babak belur muncul secara tiba-tiba dan berjalan mendekat ke arah Leon, Leon dan juga orang bertopeng tersebut. Leon tak habis pikir, apa-apaan ini? Leon mulai memudarkan kepalan kuat pada tangannya, ia membiarkan musuhnya bebas begitu saja.
Leon menatap Laura yang berada di sampingnya dengan tak percaya, maksudnya?
Laura tersenyum simpul, "Happy Birthday my Husband" ucap Laura dengan nada lembut.
Detak jantung Leon tak karuan berpadu dengan emosi yang sudah lumayan padam, rambutnya basah oleh keringat. Hampir saja dirinya merosot ke atas karpet saking tak percaya nya, jadi? mereka semua yang sudah merencanakan ini semua?
"\=La- ini?"
"Iya. Ini semua emang aku yang rencanain tapi aku gak sendirian, aku di bantu sama mereka semua" jelas Laura.
__ADS_1
Hati Leon mencelos, jadi memang Laura sudah merencanakan ini dengan detail dan matang? Pantas saja dirinya tidak bisa mengetahui itu jebakan atau bukan. Leon memeluk Laura dengan erat menandakan betapa sayangnya ia kepada Laura.
"Tiup lilinnya" perintah Laura sebari mengurai pelukan mereka. Dengan senang hati Leon meniup lilin yang terletak di puncak kue, "Aku gak tau lagi harus bilang apa, tapi aku bener-bener berterima kasih banyak sama kalian. Kenapa kalian ingat? Bahkan aku sendiri juga gak inget.
"Mungkin karena kamu akhir-akhir ini lagi banyak pikiran jadinya kamu gak inget sama sekali sama hari ulang tahun kamu Leon" ucap Linda lembut.
"Bentar-bentar, kalo ini setingan terus siapa orang yang pake topeng tadi?" tanya Leon bingung.
"Gue an*ing" ucap seseorang dari belakang yang meringis kesakitan sebari memegang perutnya. Itu adalah Rio, Rio juga ambil adil dalam rencana ini itupun karena terpaksa sejujurnya ia ogah ikut-ikutan seperti ini kalau saja bukan Laura yang meminta mungkin sudah ia tolak. Rio memang sangat pandai dalam hal bela diri tetapi kalau sudah menghadapi Leon yang emosi seperti itu tentu Rio akan kalah.
"Hahah maaf ya Yo, lagian elu sih. Terus satu lagi siapa?"
"Lo gak liat gue hampir sekarat? Hampir aja gue mati kalau beneran perut gw lo injak-injak mungkin nasib gue bakalan sama kaya anak ayam yang kelindes mobil, usus sama organ tubuh gue yang lainnya bakalan keluar. Gila linu semua badan gue an*ing" oceh Radit, ya Radit adalah orang yang hampir saja perutnya akan di jadikan trampolin oleh Leon.
"Heheh maaf ya Dit, gue janji deh gak bakalan lagi" ucap Laura merasa tak enak hati.
"Elah itumah pemerasan an*ir" hardik Leon.
"Lagian kan lo pada kaya jadinya kagak masalah kalo cuma neraktir gue seminggu doang mah kaga bakalan bikin lo berdua sengsara" timpal Radit.
"Gak ada yang mau bantuin gue asu?" kata Rio dari belakang mereka, ya Rio dari tadi masih belum berdiri ia masih saja terduduk di atas karpet sebari memegangi perutnya yang terasa linu.
Leon tekekeh kecil ia hampir saja melupakan temannya yang satu itu, Leon mengulurkan tangannya petanda memberikan bantuan dengan senang hati Rio menerima tangan Leon sebagai tiang kokoh untuk berdiri.
"Leon boleh gue makan gak si kuenya? Gue udah laper" rengek Feli yang juga ada di antara mereka, bagaimana tidak kue yang mereka sajikan bukan sembarang kue biasa melainkan kue besar bertikat yang di bawa menggunakan meja itu terlihat begitu enak. Memang Laura sengaja memesan itu toh bukan untuk Leon sendiri melainkan untuk mereka bersebelas. Dewina, Reza, Angga, Linda, Ikbal, Adel, Seli, Irwan, Laura, Leon dan juga Rio.
__ADS_1
Bukan hanya kue yang mereka sajikan, semua jenis makanan sudah Laura siapkan di meja yang bergelar megah di tengah tengah lapangan yang sudah di kelilingi bunga bunga, tak lupa juga kelip kelip lampu teratai di atas mereka ngiringi kemeriahan acara ini.
Kalau di tanya kenapa tidak merayakannya di cafe atau di tempat lain saja? Kenapa harus di sekolah yang Laura pakai? Memang sengaja Laura menggunakan sekolah untuk acara malam ini agar tidak terganggu oleh siapapun suasan sekolah ketika malam hari sangatlah mengenakan.
"Maen makan-makan aja, mana kado buat gue? Lo pada bikin kagak? Kalo kagak gue gak bakalan mau ngasih ni kue buat kalian" ucap Leon dengan judes.
"Yah gue gak bawa Leon" ucap Adel dengan wajah sedihnya.
"Kita semua gak bawa yeayyyyyy" sorak Ria heboh.
"Jahat banget sih kalian, udah prank gue eh malah gak bawa hadian sungguh sadis nya kalian."
"Formal banget an*ng" hardik Rio.
"Kata siapa kita gak punya hadiah? Kita punya kok hadiah erindah yang bakalan kamu punya seumur hidup" ucap Dewina, mertuanya.
Leon mengerutkan keningnya, hadiah seumur hidup? Kok bisa?,, ucapnya dalam hati.
"Maksudnya?"
"Ada deh mendingan kita makan dulu yuk, kasian tuh mereka yang bonyok mungkin udah pada lapar" titah Angga kepada semuanya.
"Beruntung gue sama Ikbal cuma daper tonjokan di perut doang waktu hadang lo di tangga" ucap Ria merasa puas.
"Heleh"
__ADS_1
°°°°°°°°
Leon menatap meja makan yang sudah.