Di Jodohkan

Di Jodohkan
DJ 67


__ADS_3

"Sayangg, ko bisa gini sih hah? Udah aku bilang gak usah ikut upacara masih kekeh aja" oceh Leon yang sejak tadi terus menunggu Laura di UKS bersama Seli. Tadi pagi Laura sempat pingsan saat upacara, mungkin karena teriknya sinar matahari menyorot dirinya. Apalagi saat ini Laura sedang hamil pasti akan mudah kelelahan.


"Masa gak ikut, nanti di marahin pak kepal dong" komen Laura.


"Emang Laura keras kepala, tapi kalo udah ngamuk serem. Kaya kemaren tuh pas Bima datengin kita ke kantin beh Laura ngamuknya serem, untung aja Bima cuma nyiram Laura pake minumam doang bukan mukul" ceplos Seli, memang mulutnya tidak bisa di kontrol. Seli menutup mulutnya sendiri, ia lupa dengan apa yang barusan ia ucapkan. Gawat bisa-bisa Leon marahh.


Leon melolot mendengarnya jadi? Laura berbohong?. Mata Leon langsung memerah, mendengar nama Bima langsung membuat dirinya murka, "Kenapa lo baru bilang sekarang sama gue?"


"Ya g -gue cuma di suruh Laura supaya gak bilang ke lo Leon" jawab Seli terbata-bata, takut dengan Leon.


BRAKK


Leon memukul brankar yang menjadi alas Laura untuk berbaring, rasanya tangan Leon begitu gatal ingin sekali menghajar wajah lelaki yang memiliki nametag Bima Reynando itu.


"Istirahat lo jagain Laura di kelas, gue ada urusan nanti" titip Leon, menitipkan Laura. Laura memjamkam matanya, ia sudah tahu apa maksud dan tujuan Leon. Pasti setelahnya Leon akan mendatangi Bima.


"Udah lah gak usah di perpanjang" cegah Laura.


"DIEM LO" bentak Leon mampu membuat Laura kicep.


"Ishh" decak Laura, Seli yang menyaksikan itu hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa bersalah, "Maafin gue ya La."


"Pecundang"


°°°°°°°°°


"Lo apain istri gue?" Leon mencekik kerah baju seragam Bima sehingga membuatnya sedikit kesusahan untuk bernafas.


"Ehh bisa lepasin dulu gak? Gue gak mau mati cuma gara-gara kerah baju gue lo tarik" mohon Bima menepuk-nepuk tangan Leon. Leon melepaskannya dengan kasarr.


"Nah gitu dong kan enak" Bima membenarkan seragamnya terlebih dahulu agar tidak acak-acakan, "Maju sini, gue udah lama gak debut sama lo" tantang Bima.


BUGHH


Leon menendang betis Bima dengan keras membuat Bima harus terduduk dengan tiba-tiba. Sakit? Itu yang ia rasakan, bisa di bayangkan betapa ngilunya.


"Punya nyali berapa lo berani gangguin istri gue?" tanya Leon dengan wajah songongnya.


"Gue gak punya nyali nih bang, tapi berani gangguin istri lo. Boleh tepuk tangan gak?" Jawab Bima malah becanda.


Merasa jengkel, akhirnya Leon memukul bagian pangkal hidung Bima dengan keras membuatnya mengeluarkan darah begitu banyak, "A*u" umpat Bima.

__ADS_1


"Banyak bacot hidup lo" serka Leon.


"What? Oke kalo menurut lo gue banyak bacot, gue mau tantang lo perang. Bawa semua anak buah yang lo punya, kita buktiin siapa yang bakalan menang" Bima tersenyum sinis seakan meremehkan orang yang ada di hadapannya.


"Gue bakalan nentuin waktu dan tanggalnya, tapi gak sekarang. Tunggu aja kabar dari gue.


"Menurut lo gue takut? Enggak bos, oke gue terima tantangan lo dan gue pastiin siapa yang bakalan tumbang dan siapa yang bakalam tetep berdiri di kemenangan" tantang Leon.


"Oke fine, good job nyali lo gede juga" Bima menepuk Pundak Leon, "Dan satu la jangan harap adik lo itu bisa masuk di tim lo" bisik Bima.


"Gue gak butuh adik kaya dia.


°°°°°°°°


"Ikbal kamu kenapa?" teriak Dewina histeris ketika membukakan pintu utama langsung di suguhkan Ikbal yang tersungkur dengan gestur tubuh yang tak bisa di ceritakan. Lagi-lagi Ikbal pulang dengan keadaan yang abstrak. Luka kemarin yang belum sembuh kini sudah di tambah lagi.


"Kenapa sih mah?" tanya Reza yang baru datang.


"I -Ikbal. Buruan tolongin pah" suruh Dewina dengan tangan yang gemetaran, bagaimanapun Ikbal sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


Reza buru-buru membopong Ikbal untuk masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuh Ikbal di kasurnya. Dewina segera mengambil satu mangkuk besar air hangat dan mengompreskannya ke wajah malang milik Ikbal.


"Bun? Ikbal pulang dengan keadaan kaya gini lagi?" Ucap Laura yang baru datang.


"Sebenarnya Laura juga gak tau, tapi ini yang jelas ada yang gak beres Bun.


"Perlu di selidiki, nanti aku sama anak-anak lainnya bakalan cari tau siapa pelakunya" ucap Leon, "Tapi kayanya ada hubungannya sama Alvin dan Bima, tapi aku juga gak tau dia bergaul sama siapa lagi selain sama anak-anak."


"Aku percayain ini sama kamu, tolong cari tau siapa. Aku juga gak tega liat dia kaya gini terus" ucap Laura merasa iba kepada Ikbal.


Leon mengangguk, "Tanpa kamu minta aku juga bakalan cari tau, so tenang aja. "


"Iya udah Bunda Ayah, aku sama Leon mau pergi sebentar keluar. Jagain Ikbal ya, jangan sampai dia kenapa-napa lagi" titip Laura.


"Kemana?"


"Keluar Bun, sebentar doang gak lama.


"Yaudah, kamu tenang aja Ikbal kita jagain. Kamu juga hati-hati pulangnya jangan terlalu malam, kan tau sendiri kalo bumil itu gak baik keluar malem. Leon Bunda titip Laura, titip Dewina lagi berbalik.


"Sip Bun, mereka aman. Assalamualaikum"

__ADS_1


°°°°°°°°°


"Yakin sekarang?" tanya Ani, pasalnya hari ini Laura memaksa Ani untuk segera bertemu orang tuanya, agar bisa tinggal satu rumah bersama.


"Iyalah kak, kan gak mungkin kita terus terusan bohongin Bunda sama Ayah."


"Laura bener kak, sebaiknya lo segera temuin mereka sebelum terlambat" saran Leon.


"Tapi kayanya gue belum siap"


"Ayolah demi baby" ucap Laura, kalau sudah mengeluarkan kata 'demi baby' so pasti mereka semua tidak akan menolaknya. Itu adalah kata keramat yang Laura lontarkan kepada siapapun jika kemauannya di bantah.


Ani menghela nafas pasrah, "Yaudah deh gue coba, tapi temenin gue. Kuatin gue supaya gue bisa."


"Iya kita temenin, gue yakin lo bisa kak. Semangat" ucap Leon menyemangati.


"Hufftt iya iya, emang kalo udah kemauan dari bumil mana bisa gue nolak" ucap Ani malas, sungguh dirinya memang terpaksa.


"Iya dong kan ini juga calon ponakan lo, masa lo tega liat ponakannya ileran" ucap Laura, "Bentar-bentar, kayanya gue pengen----- kalian berdua cium gue deh" pinta Laura ngadi-ngadi.


"Sendiri-sendiri aja" komplen Leon, pasalnya kalau Ani dan Leon mencium Laura secara bersamaan nanti wajah Ani dan wajahnya akan berdekatan.


"Gak!! Aku pengen dua-duanya" tolak Laura.


"La tapi---"


"Yaudah kalo kak Ani mau liat ponakannya ileran" Laura bersedekap dada, bibirnya cemberut dan pipinya menggembung. Petanda marah.


"Yaudah" kata Laon, mau bagaimana lagi ini kemauan bumil gak bisa di bantah.


CUP!


Dua ciuman dari orang yang berbeda mendarat di pipi sebalah kanan dan kiri Laura, alangkah bahagianya dia ketika di cium oleh dua orang yang sangat ia sayangi.


"Udah kan" ucap Ani, Laura mengangguk senang.


"Yeyyy makasih aunty makasih daddy" ucap Laura menirukan suara anak kecil.


"Udah ah ayok pulang kerumah udah gak sabar ketemuin kak Ani Bunda dan Ayah" ucap Laura greget.


°°°°°°°°°

__ADS_1


"Assalamualaikum Bunda Ayah yuhuuuuuu Quenza pulang bawa sesuatu" ucap Laura berteriak.


__ADS_2