Di Jodohkan

Di Jodohkan
Sembuh


__ADS_3

*****


"Lo pada langsung pulang ya, gue mau langsung ke kamar sama ayang" usir Leon kepada kelima sahabatnya.


"Anying jam segini udah mau gitu aja lo" hardik Radit.


"Ya gapapa namanya juga udah sah suami istri, sirik aja lo" serka Leon balik.


"Minimal tau waktu lah anying.


"Gak boleh gitu Leon, kamu harus menemin mereka dulu, mereka tamu lho gak baik di anggurin" peringat Linda kepada anaknya itu.


"Mampus lo"


"Huftt iya iya, di tunda dulu ya sayang" ucap


Leon kecewa.


"Alhamdulillah" Laura mengelus dadanya senang.


"Heh? Kok alhamdulillah?" Leon terbelalak kaget.


"Gak jadi" jawabnya melengos.


"Fiks deh keknya ada rencana" celetuk Radit.


"Kok lo tau?" ucapnya menyergitkan keningnya.


"Udah ada feeling hehe" Radit cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Tante?"


"Eh!! Iya Sel?" jawab Dewina.


"Seli laper nih ada makanan gak" ucapnya tanpa dosa.


"Bisa gak malu-maluin gak?" celetuk Adel.


"Pikiran lo makanan mulu Sel, bingung gue" celetuk Radit ikut-ikutan.


"Namanya orang laper gak bisa di tahan-tahan sayang" balas Seli dengan nada lembut. Dewina tersenyum hangat ke arah Seli, "Ada kok sayang, bentar yah tante ambilin dulu.


"Euhh tante. Gak usah biar Seli aja yang ambil" katanya tak enakan. Dewina mengangguk pelan, "Yaudah kalo gitu, hati-hati ya.


"Ah elah tan, kek mau kemana aja harus di bilangin gitu" ucap Radit, "Eh Seli ambilin gue jus ya.


"Ambil sendiri" teriak Seli yang sudah mulai menjauh.


"Shitt, punya temen kaya gini sepuluh aja gue udah mati keknya" umpat Rio.


"Kalem gue nggak" Adel menaik turunkan alisnya membuat Rio melengos. Bangsat!! Kata hati Adel.


"Abang gue kenapa?"

__ADS_1


Fais melirikkan matanya ke arah Laura. Lalu... Kembali beralih menatap lantai membuat Laura semakin bingung.


"Lah kok lo galau bang? Tumben" ucap Leon bingung.


"Itu lho, kan mbak Jess mau nik---Arghh" jerik Laura kala Fais membanting vas bunga yang ada di sampingnya sampai pecahm


"Diem lo" murka Fais. Laura benar benar lupa kalau sebenarnya kakaknya itu sensitif terhadap nama perempuan itu.


"M -maaf" cicit Laura ketakutan, dirinya mencengkram lengan Leon kuat.


Tanpa menggubris pertanyaan Lara, Fais langsung pergi meninggalkan para sahabatnya di ruang tengah. Lalu, masuk kedalam kamarnya.


"Lah! Bang Fais kenapa? Kok kaya marah gitu? Lo pada bully dia yah?" ucap Seli negthing, sebari membawa makanan yang dirinya bawa.


"Gila lo mana ada" ucap Radit tak terima, lalu menerima minuman yang Seli berikan.


"Siapa tau aja kan?"


"Udah lo diem" titah Adel, pasalnya ia tak enak dengan Laura yang merupakan dalang dari kemarahan kakaknya itu.


"La, Leon. Kayanya ibu harus pulang, ayah kamu sudah kabarin ibu kalo dia bentar lagi pulang dari kantor. Katanya maaf gak bisa jenguk kamu lagi, soalnya papa kamu lagi super super sibuk banget" jelas Linda lumayan panjang.


"Lah! Jeng kok pulang? Gak mau makan dulu?" tawar Dewina kepada besannya.


"Aduh maaf ya, kayanya gak bisa. Soalnya mas Angga udah nungguin, katanya dia juga mau makan di rumah masakan aku hehe" tolak Linda halus. Tak enak.


"Pulang sama siapa Ma?" tanya Laura.


"Ekhem tante. Lebih baik tante pulangnya sama saya aja Radit Abraham yang baik, sopan, ramah, ganteng, kalem santuy dan imut ini, akan mengantar tante dengan selamat sampai tujuan" celoteh Radit narsis.


Leon terkekeh, "Tumben lo mau nganterin nyokap gue?"


"Ah elah, gue kan mau nonton lo berdua bulan madu, jadi harus baek in nyokap lo dulu" ucapnya tanpa dosa.


"Gilo lo anying, gak ada gak ada ogah banget" tolak Leon mentah mentah.


"Elah Leon, gue mau sekalian pulang" jawabnya akhirnya serius.


"Yaudah ayo Radit nanti om Angga ngamuk kalo lama. "


°°°°°°°°°°


"Sini sayang" perintah Leon kepada Laura untuk ikut bersamanya duduk di atas kasur, setelah mereka sampai di kamarnya.


"Gak mau ah, aku belum mandi sayang" tolak Laura.


"Ishh, bentar doang lho yang" Leon mengerucutkan bibirnya manyun.


"Nanti yah kalo udah mandi aku mau. Lagian aku juga kangen tidur berdua sama kamu."


"Mau apa hm? Emang aku mau apa? Kan aku cuma nyuruh kamu duduk doang gak ngapa-ngapain" spontan pipi Laura memerah. Rasanya dirinya ingin sekali menghilang sekarang juga dari hadapan Leon malu.


"H -hah?" Laura berpura pura tidak paham atau bisa di bilang berpura pura bego.

__ADS_1


"Alah sok polos. Berarti selama ini yang kangen itu kamu yah? Ketauan deh sekarang" goda Leon membuat Laura bertambah malu bukan main.


"Ihh, Leon. Gak gitu lho... lagian kamunya, kan aku jadi mikir yang enggak-enggak" Laura memukul perut Leon lumayan kencang. Siempunya menjerit keras, "ARGHH"


"S -Sayang?" Gak papa kan?"


Laura mendengar nafas Leon memburu bak banteng yang tengah mengamuk membuatnya bergidik ngeri. Apakah Leon marah? Padahal dirinya tidak sengaja. Mata cowok itu menajam seperti elang.


"Gak papa lo bilang hah?" sentah Leon.


"Kan gak sengaja" Laura menundukkan kepalanya.


"Lo bener bener yah" Leon mengangkat tangannya kesal. Bukan, bukannya ingin memukul gadis itu dirinya malah mendorong Laura ke atas kasur yang membuat gadis itu terbaring bebas.


Leon beralih kepada Laura, mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa kemana mana. Sekarang tubuhnya sedang berada di atas tubuh Laura, "Berani macem-macem sama aku yah? Oke kita mulai sekarang" ucapnya penuh nafsu.


°°°°°°°°°°


"Bangun-bangun" ucap Laura yang masih di peluk erat oleh suaminya. Pagi telah tiba namun suaminya belum juga membuka matanya.


"Gak mau ah" tolaknya, masih dengan mata terpejam. Suaranya serak.


"Sekolah sayang, gak boleh males.


"Ahh gak mau, lagian aku masih sakit."


Laura mencubit pelan pipi Leon. "Masih sakit hm?" Leon mengangguk cepat.


"Ihh boong banget, tadi malam aja kasar banget. Gak mungkin masih sakit lah."


Leon sontak membuka matanya, melotot kaget, "I -itu kelepasan sayang" elak nya.


"Au ah, Leon boong. Ayo mandi udah jam setengah tujuh ini" Lurs berusaha melepas pelukan suaminya itu.


"Cium dulu"


"Ogah"


"Oke kalo gitu aku gak mau lepasin kamu sampai kapanpun, bodo gak usah sekolah sekalian" Leon kembali memejamkan matanya dan memeluk Laura lebih erat lagi, membuat gadis itu susah untuk bernafas.


Cup!


Laura mencium bibir Leon lumayan lama dan membuat Leon kembali membuka matanya, lalu melonggarkan sedikit pelukannya.


Namun tak di sangka Leon juga mencium seluruh wajah istrinya dengan kasar dan beralih ke lehernya sehingga menimbulkan warna merah di leher Laura.


"Good baby" ucap Leon sebari mengubah posisinya duduk.


Laura terbelalak kaget, ini kali pertama Lèon membuat lehernya menimbulkan tanda seperti itu. Pipi Laura terlihat merah dengan jantung berdegup kencang padahal cuma sedikit ciuman di lehernya, tetapi itu membuatnya tak karuan.


"Udah ayo bangun, katanya takut kesiangan malah bengong" kata Leon kala melihat istrinya masih membeku di ranjang.


Leon menggangkat tubuh Laura dan membawanya ke kamar mandi, "Mandi bareng gak ada penolakan. "

__ADS_1


__ADS_2