Di Jodohkan

Di Jodohkan
EPISODE 31


__ADS_3

Sesampai nya dirumah sakit, Rama panik dengan melihat ada darah di baju yang dikenakan nya. Tuan Salim dan ibu Sarah, tuan Santoso dan ibu Tias sedang berlari menghampiri Rama.


“Ada apa sayang, apa yang terjadi” tanya ibu Sarah


“Entahlah Ma, aku mengambil buah untuk Aishe, terus Aishe sudah menjerit kesakitan, Ma Aishe baik – baik saja kan Ma ?” ucap Rama dengan menahan sesak di dada nya panik.


“Tenang lah sayang, semuanya akan baik – baik saja” balas ibu Sarah


“Tapi Ma usia kandungan Aishe baru berumur 8 bulan” ucap Rama


“Tenang lah, kita tunggu dokter memeriksa Aishe dan segera mengetahui hasilnya” balas ibu Sarah


Tak berselang lama, dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Rama yang melihat nya mendekati dokter dengan panik. Dokter dengan wajah memberi isyarat sedang dalam kesulitan masih terdiam, “Fokter ada apa dengan istri saya ?” tanya Rama dengan tegas


“Rama tenanglah,” ucap tuan Salim


“Dok, bagaimana dengan menantu saya ?” tanya tuan Salim


“Begini tuan, apakah nyonya Aishe sudah memberitahu anda dengan resiko kehamilan nya saat ini ?” tanya Dokter


“Maksud dokter ?” tanya Rama


“Nyonya memiliki tumor di dinding rahim dan sejak awal kami sudah memberitahu hal ini tapi nyonya tetap kekeh untuk melanjutkan kehamilan nya” jelas Dokter


“APAAA ?? TUMOR ??!!!!” teriak Rama


“Maksud Dokter, Aishe sudah tahu dia punya tumor dan dia tidak memberitahukan kepda kami ?” tanya ibu Tias


“Dokter, bagaimana mungkin anda tidak memberitahu kami dan menyimpan rahasia sebesar ini ?” tanya ibu Sarah dengan amarah


“Dokter, siapa yang melakukan pemeriksaan selama kehamilan nya ?” tanya tuan Salim


“Iya, di mana dia, dokter Meli, dia yang selama ini memeriksa kandungan Aishe” ucap Rama

__ADS_1


“Cepat panggil dia” teriak Rama dengan mengusap kasar wajah nya


“Naaf tuan, saat ini tidak ada waktu untuk itu, nyonya di dalam sedang dalam kesakitan dan...” balas Dokter


“Dan apa dokter ?” tanya Rama


“Kemungkinan besar nya bayi akan selamat tapi nyonya....” balas Dokter


“Maksdu dokter ?” ucap Rama panik


“Tuan, tumor nyonya sudah sangat besar, dia berdampingan dengan si cabang bayi, anda harus memilih” balas dokter


Setelah dokter menagatakan tiba – tiba tuan Santoso pingsan, membuat semua orang semakin panik, tuan Santoso di masukan kedalam ruang perawatan di ikuti oleh ibu Tias. Sedangkan Rama dengan geram memasuki ruang pemeriksaan Aishe yang saat itu sedang menggunakan beberapa peralatan medis di tubuh nya dengan beberapa kali meringis.


“Sayang...”ucap Aishe lemah


Dengan tatapan datar Rama mendekat “Aishe mengapa kau tega sekali merahasiakan hal besar ini kepadaku ?” ucap Rama


“Maaf kan aku..” balas Aishe


“Rama, selamatkan anak kita” ucap Aishe lemah dengan genangan air mata


“Aishe jangan meminta, kali ini kau harus mendengarkan aku, aku Rama Armagan tanpa memiliki anak, asal bersamamu aku tidak masalah,” ucap Rama


“Rama, please....” balas Aishe dengan tangis nya


Rama mendekatkan wajahnya ke wajah Aishe dengan berusaha menahan tangisnya “Aishe lihat aku, kau sudah berhasil memiliki sebagian dari jiwa ku, tega sekali kau melakukan nya, tapi kali ini keputusanku sudah bulat, di dunia ini bukan tiga, dua, tapi hanya ada satu AISHE, dan aku tidak ingin kehilangan mu,” ucap Rama lalu mengecup kening Aishe dan meninggalkan Aishe tanpa menatap mata Aishe


“Rama jangan...”isak tangis Aishe mencuak mendengar ucapan Rama.


Rama memberi kode kepada Dokter tersebut yang tengah siap melakukan operasi, sedangkan rama tak bisa menahan tangis nya lagi yang saat ini sedang mengalir deras membasahi pipi nya, “Maaf kan ayah sayang, semoga kau bisa memaafkan ayah” bisik Rama dengan sepintas membayangkan anak yang tidak akan lama lagi berada di pangkuan nya.


Rama mengingat tuan Santoso berada di ruang lain, Rama berjalan menuju ruangan tersebut, tidak hanya tuan Salim, semua menatap Rama yang berjalan dengan pandangan yang sedang putus asa “Rama anakku, Bunda tahu kamu sudah memiliki keputusan yang terbaik dan apapun itu, kami akan mendukung mu” ucap ibu Tias

__ADS_1


“Bunda, maafin Rama yang tidak bisa menjaga Aishe” isak tangis Rama


Ibu Tias memeluk Rama, begitupun ibu Sarah, tuan Salim bergantian memberikan kekuatan untuk Rama, hal yang paling berat di dunia ini bukan karena hilang nya materi melainkan kehilangan keluarga yang selalu mendukung, pembelajaran hidup untuk Rama di masa yang akan datang.


Sedangkan tuang Santoso masih belum sadar, saat itu pun dia koma, Amira dan farhan bersiap pulang karena mendapat info tentang Aishe dan tuan santoso, “Ya Allah, tolong selamatkan ayah, adikku dan calon ponakanku” isak tangis Amira selama perjalanan pulang bersama Farhan.


Sudah tiga jam proses operasi Aishe berjalan, semua telah berkumpul menunggu di depan ruangan operasi Aishe, tatapan Rama yang tidak lepas dari pintu ruangan tersebut, dengan rasa yang tidak dapat di jelaskan, mengkhawatirkan keselamatan Aishe dan bayi nya ”Tenanglah Rama, semua akan baik – baik saja “ ucap Tuan salim


“Pa, aku tidak bisa hidup tanpa Aishe Pa” ucap Rama


“Papa tau nak, kamu harus kuat” balas tuan Salim


“Apa yang harus aku lakukan tanpa nya Pa ?” ucap Rama dengan tatapan kosong


“Ram, jangan pikir aneh – aneh, kamu harus kuat, Aishe dan anakmu sedang berjuang, walaupun nanti nya kau akan kehilangan salah satu dari mereka, Tuhan sudah punya rencana Nya Ram” ucap tuan Salim


Rama kembali meneteskan air mata nya dan mengusap kasar wajah nya,“Sayang sabarlah” ucap ibu Sarah ikut menenangkan.


“Ma, kalau istriku tidak bisa di selamatkan, aku akan menghancurkan rumah sakit ini dan seluruh dokter akan bertanggung jawab untuk hal ini, terutama dokter kandungan Aishe yang telah merahasiakan nya sejak awal tentang penyakit Aishe”. ucap Rama geram


“Ram , mereka juga menuruti perintah Aishe, kamu tidak boleh seperti itu” balas ibu Sarah


“Tidak Ma, mereka menyepelekan aku” ucap Rama


Pintu ruangan operasi tiba – tiba terbuka, dokter tampak berjalan dengan seorang bayi di tangan nya, bayi yang sudah bersih dalam bedongan, menggerakan jemari nya dengan mengusap wajah nya, kaki rama terasa lumpuh seketika dan menyenderkan tubuhnya ke lantai “Tidak mungkin, Aishe.....dia .. “ ucapan Rama seirama dengan tangis nya berlari memasuki ruang operasi dan melihat Aishe berbaring dengan wajah yang pucat.


Tuan salim dan ibu Sarah yan telah memeluk cucu nya ikut masuk kedalam ruangan tersebut dan menangis melihat Rama tampak hancur.


****


jangan lupa dukungan nya ya,


tambhkan favorit

__ADS_1


like dab komen, supaya author semakin semngat berkarya, makasih kakak reader. 🌷🌷🌷


__ADS_2