
Hari Diarto, dituntut tiga pasal sekaligus. Pemerkosaan, penculikan dan pembunuhan. Tuntutannya pun tidak main-main. Hukuman mati minimal penjara seumur hidup.
Sebelum berbuat, berpikirlah masak-masak. Karena balasannya akan jauh lebih besar ditambah hukuman sosial dari masyarakat.
Ternyata dibalik keberanian seorang Hari Diarto, ada orang yang lebih berkuasa lagi. Dan attitude buruknya mencoreng nama besar sebuah instansi Kepemerintahan. Bahkan sampai melibatkan dewan kehormatan tertinggi sebagai aparatur negara.
Hhh...
Hari bersama empat pria, dua diantaranya adalah putra kepala sekolah dan putra Anggota Dewan Terhormat yang cukup punya nama besar akhirnya mendapat ganjaran.
Kelakuan bejad mereka ternyata sudah lama diketahui keluarga masing-masing. Bahkan dari penelusuran penyelidikan pihak kepolisian, mereka juga mendapat tuntutan penistaan agama dengan bersekutu mengabdi suatu aliran sesat.
Ini merembet menjadi kasus besar.
Satu persatu korban mulai membuka mulut. Dan ternyata, ada puluhan anak dibawah umur yang dirusak dan di cemarkan kesuciannya.
Astaghfirullahal'adziiim...
Mereka menjadi biadab karena keinginan yang terlalu besar ingin menguasai dunia lewat jalan pintas.
Manusia berubah menjadi setan dan iblis senang sekali karena semakin banyak pengikut.
Ya Allah! Tolong selamatkan kami dan para keturunan kami dari siksa api neraka dengan menjaga harkat dan martabat dari goda cobaan dunia yang kasat nyata.
Dunia hanya sementara. Akhirat kekal selamanya.
Ternyata, anggota dewan terhormat itu juga salah satu rekan saingan bisnis almarhum Papa suamiku.
Ada sesuatu di balik kisah masa lalu.
Persaingan bisnis. Sikut menyikut dalam proses mendapatkan tender besar perusahaan. Benar-benar ujian maha besar dalam berusaha.
Mama Tiur yang mengikuti jalannya kasus lewat berita di televisi maupun media elektronik lainnya hanya bisa mengusap dada. Air matanya tumpah mengingat masa-masa sulitnya membawa berobat Papa Jonathan dan Papinya Jordan.
Umur memang Allah yang Kuasa. Tapi seketika Mama Tiur memiliki pandangan kalau dua suaminya itu sakit parah kena guna-guna dari sana-sini. Wallahu.
Semua kini telah menerima ketetapan Allah. Baik Mama Tiur, suamiku Jonathan dan juga Jordan.
Setiap orang akan membawa buku raportnya nanti dihadapan Allah. Begitu Mas Jonathan bilang. Jadi jangan takut. Allah Maha Adil. Akan ada balasan sekecil apapun tindakan meski hanya sebesar biji zarah. Perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Semua akan setimpal.
.............
Sejak peristiwa itu, suamiku semakin protektif menjagaku.
Bahkan mas Jonathan kini berubah menjadi pria cerewet. Bahkan kebawelannya melebihi bawelnya Mama Tiur sebagai Mama mertua.
Aku senang. Suami serta Mamanya sangat perhatian pada kesehatanku. Tetapi ada kalanya aku jadi merasa seperti burung dalam sangkar.
__ADS_1
Ternyata hidup terlalu enak dan nyaman juga tidak membawa kebahagiaan berlebih.
Namun aku mencoba menyiasati kejenuhanku yang hanya berdiam diri di rumah tak boleh lakukan aktivitas apapun termasuk keluar rumah.
Rumah kini terlihat sepi jika di jam kerja. Hanya suara mesin pabrik yang terdengar karena proses produksi.
Stella sendiri juga sudah tidak ada lagi berkeliaran di sekitar halaman. Sepertinya keluarganya sudah mengirimkan doa khusus untuk ketenangannya di alam barzakh. Alhamdulillah.
Para makhluk halus lainnya juga sepertinya sudah menemukan tempat baru. Atau mungkin telah kembali ke tempat yang sebenarnya. Wallahu a'lam bishowaf.
Kasus Hari Diarto dibuka untuk umum. Seketika satu persatu kisah yang tertutup akhirnya terkuak juga.
Aku dan Airlangga juga sudah dijadwalkan untuk menjadi saksi salah seorang korban yang diculik walaupun hanya satu kali sidang.
Kasus terus bergulir. Bahkan makin terblow up karena korban yang melapor terus bertambah.
..............
Tanpa terasa kandunganku sudah masuk dua belas Minggu.
Perut mulai terlihat membuncit tetapi Mas Jonathan justru semakin gemas melihat perutku.
Setiap hari setiap malam suamiku itu mengelus-elus dan menciumi perut ku.
Ada perasaan bangga walau malu-malu karena area tubuhku jadi bagian yang paling ia gandrungi dan harus dipegang hampir setiap jam.
Suamiku benar-benar suami siaga dan teladan. Suami dambaan setiap wanita, kurasa. Sangat beruntung aku bisa memilikinya. Sampai terkadang aku mulai takut kalau ada perempuan lain di luar sana yang diam-diam mencintainya. Seperti dulu Katliya mencintai Irsyad.
Seketika aku kesal pada diri sendiri. Mengapa harus mengingat kembali ke masa silam yang suram padahal masa itu sudah kukubur dalam-dalam.
Sayup-sayup kudengar suara seseorang sedang marah-marah di luar kamar.
Siapa itu?
Aku mencari sumber suara itu ternyata Genta sedang memaki Airlangga di sudut lorong kamar.
"Ada apa berisik-berisik begini? Malu sama Mas Jonathan dan Mama Tiur, Genta!" leraiku supaya amarah Genta mereda.
"Anak ini selalu bertingkah semaunya, Kak! Dikasih tahu tapi justru seolah dia jauh lebih tahu. Selalu bantah setiap perkataanku. Ck! Menyebalkan!"
"Bukan begitu mungkin maksudnya Angga, Gen!"
"Kuperhatikan akhir-akhir ini Kakak lebih perhatian sama anak ini! Kenapa sih? Sebegitunya tingkah Kakak sampai nyaris jadi korban orang jahat cuma gara-gara ingin menolong anak ini!"
Kecemburuan Genta semakin terlihat nyata. Bahkan sinaran matanya menyala penuh kilat.
Genta... tentu saja perhatianku pada Angga sama besar dengan perhatianku padamu.
__ADS_1
"Genta!..." kataku lebih halus.
Genta sudah berumur, tapi jauh lebih kekanak-kanakan. Meskipun begitu, aku tetap sayang pada adik sekandungku ini. Dia adik yang selalu kuperjuangkan sedari muda dahulu.
"Kakak ini mau marahin aku demi bela dia?"
Kurangkul bahu Genta.
"Jangan seperti ini, Gen! Kakak sedih lihat kamu seperti ini!" gumamku berusaha meredam emosi Genta.
"Kakak yang buat aku jadi seperti ini! Kakak selalu tanya, mana Angga mana Angga! Sedangkan Aku, gak pernah kakak cari!"
"Koq kamu ngomongnya seperti ini, Genta? Apa kamu gak sadar, seperti apa sayangku sama kamu? Dari kecil dulu sampai sekarang!? Aku selalu memberikan semuanya untuk kamu! Hiks hiks..."
Aku kesal. Aku marah juga sedih. Akhirnya hanya pergi meninggalkan kedua pria yang satu darah denganku itu.
"Kak! Kak Liana! Ck... Kamu sih!"
Tangisku pecah di kamar.
Sedih hati ini mendengar dan menyaksikan kecemburuan Genta yang berlebihan dan membabi buta sampai menuduhku yang bukan-bukan.
Bagaimana bisa aku berpindah sayang darinya lalu menumpuk hanya pada Angga. Fikiran Genta terlalu picik. Hatinya diliputi rasa iri yang membuatku khawatir jadi dengki.
"Kakak!"
Tok tok tok..
"Kak, Angga minta maaf, Kak! Kalau seandainya Kakak tidak enak hati sama Bang Genta, Angga pilih pulang ke kampung saja!"
Aku tersentak mendengar ucapan Airlangga dari balik pintu kamar ku.
Aku marah, kesal. Tapi bukan berarti bisa begitu saja membiarkan Angga memilih pulang ke Banten. Tidak boleh.
"Angga, tunggu!"
Dilemaku saat kedua saudara berselisih paham. Jika memihak salah satu, pasti akan ada yang sakit hati. Aku tidak inginkan itu terjadi.
Tidak boleh ada perpecahan. Bahkan suara Wak Hardi yang berpesan seolah baru saja terngiang.
Keluarga ini tidak boleh terpecah hanya karena kesalahpahaman. Keluarga ini harus solid dan saling bantu jika salah seorang anggota keluarga ada yang kena masalah. Begitu nasehat beliau.
"Angga, jangan pergi seperti itu!" larangku dengan suara lantang dan berjalan tergesa-gesa keluar kamar menghampiri Angga yang baru saja hendak beranjak pergi.
Sayangnya perkataanku di dengar Genta dan inilah awal kesalahpahaman itu terjadi.
BERSAMBUNG
__ADS_1