DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 96 - ADA APA DENGAN AIRLANGGA?


__ADS_3

Airlangga mulai masuk kerja di pabrik pagi ini. Anak itu lumayan semangat juga exited memulai hari barunya.


Memang anaknya tidak serampangan seperti Genta. Pantas saja kalau Wak memilih dia menjadi salah satu dari kami penerus ilmu leluhur. Rupanya Angga memiliki poin lebih dibanding adik kandungku sendiri.


Mama Tiur, suamiku serta Jordan juga menyukai karakter sifatnya yang sedikit omong tapi banyak bekerja.


Angga rajin juga ringan tangan. Bahkan tak segan ikut turun ke dapur membantu Citra mencuci piring.


Sebenarnya ART kami ada tiga. Tetapi semua yang di rumah ini sebisa mungkin melakukan tugas dan kewajiban bersama. Karena prinsip kekeluargaan selalu Mama Tiur dan suami tanamkan di rumah besar ini.


Mereka keturunan orang kaya. Namun tidak serta merta sombong dan tak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan kedua putranya bisa memasak dan tahu jenis-jenis bumbu dapur. Salut sekali aku pada didikan hebat Mama Tiur.


Genta sendiri mulai kulihat kurang nyaman dengan kehadiran Angga. Aku tahu, anak itu sedikit cemburu karena Angga begitu cepat adaptasinya hingga dengan mudah pula diterima di keluarga besar suamiku.


Umur Genta tahun ini 29 tahun, sedangkan Angga baru 18 tahun. Sangat jauh jeda umurnya. Tetapi siapa sangka umur tak menjamin 'kedewasaan' seseorang.


Mungkin Angga dididik cukup keras juga oleh Mamanya, yakni Ibu Tiriku. Meskipun dia anak tunggal, tetapi Angga tidak manja bahkan begitu dewasa perilakunya.


Berbeda denganku juga Genta.


Masa kecil kami adalah masa-masa paling bahagia. Penuh kasih sayang dan luber perhatian. Apapun yang kami mau, tinggal tunjuk, ambil dan Papa Mama bayar. Bahkan Mama tidak pernah memberi kami nasehat untuk bisa memilah-milah kata dalam berteman.


Itu sebabnya dulu aku suka asal mengatai Jordan tanpa pikir panjang apakah teman akan suka atau sakit hati nantinya.


Didikan orang tua itu sangatlah penting. Terutama Mama. Karena Ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Ibu adalah cermin pancaran tingkah laku anak-anaknya. Kini aku semakin memahami kehidupan ini.


Aku berharap kelak jika anakku lahir, aku bisa menjadi ibu yang baik. Yang memberikan kasih sayang serta nasehat kehidupan untuk bekalnya dewasa nanti.


Tok tok tok


Krieeet...


"Angga? Kenapa?"


Mataku membelalak. Tangan adik tiriku mengucurkan banyak darah segar.


Di belakang Angga ada Genta dan suamiku.


Kena mesin pemotong?" tanyaku masih dengan keadaan panik.


Mas Jonathan sibuk mengambil kotak P3K yang ada di ruang tengah.


Angga menggeleng. Dia terlihat linglung. Semakin membuatku tambah bingung.


"Dia lari dari ruang packaging dalam keadaan begitu, Kak!" kata Genta mencoba menjelaskan. Sepertinya Genta juga kurang tahu kenapa Angga berdarah-darah seperti ini.


Mas Jonathan mencuci tangan Angga yang gemetar. Suamiku memang super cekatan untuk urusan yang penting.


"Angga?! Istighfar!" perintahku setelah menatap kedalaman bola matanya.


Angga yang gugup segera tersadar dan beristighfar beberapa kali.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah."

__ADS_1


"Minum dulu!"


Mas Jonathan menyodorkan segelas air putih pada Angga.


"Terima kasih, Boss!"


"Bisa cerita apa yang terjadi sama kamu?" tanya suamiku mulai meng-investigasi Angga.


"Kak..."


"Ya?"


"Pabrik..., sepertinya akan ada,..."


"Ada apa???" tanya kami bertiga serempak.


"Aku melihat..., banyak api! Ada korban disana-sini!"


"Astaghfirullahal'adziiim..."


Plak.


Genta malah menempeleng Angga.


"Genta?" pekikku kaget.


"Sudah kuduga anak ini datang ke sini cuma untuk buat keonaran!" kilah Genta langsung menuduh Angga yang bukan-bukan.


"Dengarkan dulu cerita Angga sampai tuntas! Jangan seperti itu! Lagipula Airlangga itu adik kita juga!" makiku pada Genta yang cepat naik darah.


Genta kesal. Aku masih melindungi Angga dari tuduhannya. Anak itu langsung pergi ke luar rumah. Kembali ke pabrik yang tak jauh letaknya sambil menggerutu tak jelas.


Itu karena aku tahu Angga tidak bicara sembarangan, Genta!


"Angga! Lanjutkan ucapanmu!"


"Kak...! Ada yang sirik dengan pencapaian Boss Gege!"


"Itu biasa dalam bisnis, Angga!" tambah Mas Jonathan.


"Aku melihat..., sesuatu yang besar akan terjadi!"


"Kami menanyakan perihal tanganmu yang berdarah ini, Airlangga! Bukan soal yang akan terjadi! Kau tahu? Sesuatu itu terjadi atas izin Allah Ta'ala! Jika harus terjadi, maka terjadilah. begitu firman Allah dalam Al-Qur'an. Betul khan?"


Aku menelan saliva. Suamiku langsung mematahkan penglihatan Airlangga.


"Dengar! Liana sedang mengandung saat ini! Jangan buat kakakmu dalam kondisi yang tidak baik. Kumohon pengertianmu, oke?"


Airlangga tidak melanjutkan perkataannya. Mas Jonathan mengajaknya kembali ke pabrik. Tetapi hati kecilku sangat penasaran dan ingin bertanya lagi.


"Tunggu!"


"Liana! Istirahatlah! Angga akan baik-baik saja. Kami semua saling menjaga dan melindungi."

__ADS_1


Hhh... Mas! Ini yang aku kurang suka dengan sifatmu yang saklek.


Kretek... kretek


Jendela kamarku kembali di ganggu si Stella.


Dua bola matanya menatap ke arahku dari balik kaca.


...Nyai Ratu......


Pergilah! Aku sedang tidak ingin di ganggu!!!


...Nyai......


Aku mendelik kesal padanya. Dan mendawamkan ayat kursi sembari meniupkan ke arahnya.


Seketika makhluk itu menghilang tanpa jejak.


Dasar, setan! Kerjaanmu mengganggu manusia!


Aku sedang memikirkan ucapan Airlangga. Mulai cemas dan khawatir kalau penglihatannya jadi kenyataan.


Siang hari aku hanya makan seorang diri. Citra dan Mama sedang keluar pergi ziarah kubur ke makam kedua suaminya.


Sementara Suamiku juga sedang meeting di luar bersama Jordan dan Jonathan.


Aku yang penasaran keluar rumah menuju pabrik guna mencari adikku, Airlangga.


"Mbak Febri..., apa Airlangga masih di ruang packaging?" tanyaku pada sekretaris pribadi suamiku yang sudah seperti sahabat itu.


"Bu Lian, sini, sini! Lho? Angga? Khan dia sudah pulang tepat pukul sebelas lewat tadi? Izin katanya setengah hari. Tangannya tadi tiba-tiba berdarah, tapi aku cari di ruang packaging tidak ada ceceran darah. Itu anak terluka kena apa, aku enggak tahu! Ditanya ke anak-anak yang di ruang packaging katanya juga gak lihat kejadian terlukanya Angga!"


"Padahal ini hari pertamanya kerja. Hm... Ada-ada saja anak itu!" kataku pada Mbak Febri.


"Iya. Tadi pagi dia ceria. Tak disangka pukul sepuluh ada kejadian kecelakaan kerja. Memangnya anak itu sekarang kemana?"


"Mungkin langsung pulang masuk kamar, Mbak! Aku gak tahu dan tidak lihat juga. Kalau begitu, aku kembali ke rumah ya Mbak?!"


Setelah cipika cipiki, Aku berjalan hendak ke luar pabrik.


Memang agak mual perutku mencium aroma amisnya olahan laut yang diproduksi di pabrik kami. Makanya tidak bisa lama-lama di dalam sana, selain suara bising mesin yang memekakkan telinga.


Sengaja kuedarkan pandangan ke kiri kanan pabrik karena penasaran dengan penglihatan Airlangga.


Tidak ada yang aneh! Aku tidak mendeteksi hal-hal yang mencurigakan juga. Apa... Airlangga salah lihat? Secara dia juga tidak memiliki kemampuan penuh karena ilmu sudah terbagi lima. Apalagi dia masih muda. Kemungkinan besar salah, itu hal yang lumrah. Hm...


Aku masih berusaha memfokuskan pandangan. Dengan mendawamkan doa minta Allah pertajam kemampuanku. Tetapi tidak terlihat kejanggalan.


Alhasil aku keluar dari pabrik dengan hati masih diliputi tanda tanya.


Kini tujuanku adalah kamar Airlangga.


Anak itu izin pulang sebelum Dzuhur. Tapi tidak terlihat sholat di musholla rumah.

__ADS_1


Hm... Apa Angga ketiduran ya?


BERSAMBUNG


__ADS_2