DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 31 - KERASUKAN BANYAK JIN


__ADS_3

Pemakaman Papa berjalan begitu hikmad. Banyak para sesepuh Banten yang turut datang ta'ziah karena Papa termasuk salah satu keturunan terakhir dari sultan Banten, kabarnya.


Aku, Genta dan Boss Gege mengikuti prosesi demi prosesi sampai selesai.


Aura-aura mistis sangat kuat kurasakan di area sekitar pemakaman. Cuaca redup dan sejuk menaungi tempat pemakaman padahal panas menyengat di kiri kanannya membuat kami bertiga merinding juga.


Terlebih Boss Gege yang terlihat agak lemah hingga beberapa kali ia nyaris terjatuh karena terantup batu.


"Boss!?"


"Tidak apa-apa, Liana!"


Aku dan Genta sampai mengapit Boss kami yang baik hati agar tidak sampai kejadian jatuh di tempat pemakaman umum khusus keluarga yang dikeramatkan warga sekitar.


Pukul dua siang, prosesi pemakaman selesai dilaksanakan.


Banyak warga, kerabat dan sahabat serta sanak saudara Papa yang datang. Membuat kami bertiga takjub sekaligus terheran. Bagaimana bisa Papa yang selama ini kami benci karena pernah mengecewakan Aku, Genta dan Mama bisa terlihat seperti orang penting di kampungnya.


"Wak! Kami pamit pulang kembali ke Cibinong selepas Ashar!" pamitku pada Wak Hardi, kakak tertua Papa yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya menunjuk-nunjuk para anak buahnya yang cukup loyal.


"Iya. Sering-seringlah kemari. Ziarah kubur Papamu dan doakan kebaikannya di alam barzakh."


"Iya, Wak!"


Tetapi ketika Wak Hardi menjabat uluran tangan Boss Gege, beliau langsung menarik dan memeriksa pergelangan tangan Boss-ku itu.


"Kamu... Sudah lama sakit. Dan ini, bukan sakit biasa!"


Aku menatap wajah Boss Gege yang pucat pias seketika. Ia langsung mengangguk dan Uwak Hardi mengajaknya masuk ke dalam bilik musholla beliau.


Aku dan Gege sangat penasaran, sehingga turut serta mengekor mereka masuk ke dalam ruangan sekitar berukuran 5x7 meter itu.


"Duduklah dengan benar!"


Boss Gege menuruti perintah Wak Hardi.


"Ini... Sudah cukup lama. Bahkan termasuk paling lama untuk urusan kiriman model begini. Kamu sepertinya muslim yang taat. Tapi tidak ada keinginan untuk mengobati diri dan merubah keadaan ini!"


Boss Gege menghela nafas. Seperti ada batu besar yang mengganjal pernafasan serta mulutnya untuk berbicara.


Wak Hardi memijat pergelangan tangan Boss Gege. Menotok beberapa pusat urat nadi tempat sirkulasi aliran darahnya. Sampai Boss Gege teriak mengaduh kesakitan.


"Wak!?"


"Tidak apa-apa! Mintalah segelas air hangat ke Bi Munah, Lian!"


Aku buru-buru bergegas menuju dapur. Meminta segelas air hangat seperti yang disuruh Wak Hardi.


Aku terkejut ketika masuk kembali ke bilik dengan memegang gelas beling berisi air.

__ADS_1


Boss Gege sedang terisak menangis. Ini pertama kalinya aku melihat boss-ku itu dalam keadaan rapuh.


Tetapi setelah makin kudengar dengan seksama, tangisannya lebih mirip suara tangisan seorang perempuan. Rupanya bossku sedang dalam kondisi kerasukan makhluk astral.


"Siapa kamu? Siapa yang telah menyuruhmu untuk mengganggu pria ini?" tanya Wak Hardi dengan suara tegas menakutkan.


Aku hanya bisa melongo dengan dada berdebar kencang lalu duduk di lantai beralaskan tikar pandan.


"Aa... Aaakuuu...sudah mencintai pria bermata coklat indah ini lama sekali. Akuuu disuruh Tuanku untuk selalu menjadi istrinya!"


Seketika bulu kudukku berdiri. Suara Boss Gege sangat berbeda. Dan itu lebih mirip suara perempuan.


"Pulanglah ke Tuanmu! Pria ini, bukanlah suamimu. Tuanmu membohongi bahkan membodohimu! Suamimu ada di gua Kelelawar di Hutan Kosong sana. Pulang! Kalau kau menolak, aku akan memusnahkanmu atas izin Allah!"


"Ti_dak! Tidak!!! Tuanku sudah menikahkanku dengan pria ini! Tuanku menyuruhku untuk menjaganya dan tidak boleh kutinggal_kan!"


"Berarti kau memilih musnah dari bumi ini daripada menuruti perintahku? Begitu?"


"Ja_jangan! Hihihi... Jangan! Aku akan terus mendampingi suamiku! Hihihi..."


"Dia bukan suamimu! Suamimu menunggumu di Hutan Kosong!"


"Pria ini suamiku! Suamiku! Hiii hiii hii hii hiii..."


Suara tawa melengking yang keluar dari mulut Boss Gege membuatku merapat pada Genta.


"Keluarlah! Pergilah dari tubuh pria ini!"


"Aaarrrggghhh...!!! Tidaaak!!!"


Boss Gege nyaris terjungkal setelah makhluk astral berjenis kelamin perempuan itu seperti telah keluar dari tubuhnya.


Tetapi tubuh lemah itu kembali tegak dan duduk dengan wajah doyong dengan mata melotot tajam pada Wak Hardi.


"Hm... Siapa lagi cecunguk satu ini? Jagoan juga rupanya kau berani melawan aku!" kata Wak Hardi dengan tangan melakukan gerakan seperti menarik nafas dan mengatur posisi duduknya menjadi lebih tegak.


"Kenapa menggangguku? Aku tidak pernah mengganggumu apalagi mengusikmu, Hardi!" kata Boss Gege. Tapi kali ini suaranya berbeda lagi. Jauh lebih serak dan lebih menakutkan.


"Kau yang mengganggu kerabatku! Pria yang kau ganggu ini adalah kerabatku. Siapa saja yang berani mengganggu kerabatku, maka siap-siap berurusan denganku!"


"Aku... Tidak mau pergi! Pria ini adalah tawananku!"


"Bukan! Pria ini bukan tawananmu! Kembalilah pada orang yang menyuruhmu! Minta pertanggungjawabannya! Jangan ganggu kerabatku!"


"Hei... Hardi! Ja_jangan! Jangan!!!"


"Pergilah! Aku tidak ingin bermain-main denganmu!"


"Hardi! Hardi! Ampun! Huhuhu... Huhuhu hik hiks... Jangan! Itu sakit sekali!"

__ADS_1


"Keluar! Pergilah! Dan jangan ganggu lagi pria ini! Atau kau akan kujadikan bahan bakar api neraka!"


"Aaarrrggghhh!!!"


Hawa dingin kadang berganti hawa panas seperti menghantam dadaku dan juga Genta.


"Jangan kosongkan fikiran, Lian! Genta! Baca-bacaan ayat suci Al-Qur'an! Dawamkan ayat kursi! Jangan bengong!"


Aku dan Genta tersentak kaget. Wak Hardi menegur kami yang hanya jadi penonton bingung dengan raut wajah pucat pias ketakutan.


Boss Gege terkulai lemah. Namun lagi-lagi tubuhnya menegang. Mulutnya mengeluarkan erangan demi erangan seperti suara hewan buas.


"Kau... Berani juga menjadi anjing piaraan untuk mengganggu kerabatku!"


Wak Hardi menarik pergelangan tangan Boss Gege dan memejamkan mata. Sempat agak horror ketika tubuh boss yang dikuasai makhluk astral itu berdiri dan memasang kuda-kuda seperti hendak menerkam Wak Hardi.


Tetapi dengan cepat Kakak dari Papaku itu menangkap tubuh bossku. Menekuk tangannya dan mengunci pergelangan tangan serta lehernya hingga tak lagi bergerak.


"Posaan! Gimaaan!!!"


Wak Hardi berteriak seperti memanggil seseorang. Tiba-tiba tubuh Wak-ku merunduk dan beliau mengaum juga seperti orang kerasukan.


Dua orang berkain sarung masuk dan memegangi tubuh Wak Hardi dengan cepat hingga Boss-ku tidak sampai tercabik kuku tangannya yang seolah memanjang.


Dengan jantung berdebar, aku dan Genta menyaksikan sendiri Wak-ku mengaum dan memukul lantai semen hingga retak hancur. Lalu mengunyah pecahan adukan semennya seperti sedang mengunyah kerupuk.


Aku dan Genta semakin mundur ke arah pojok.


Dua anak buah Wak Hardi mendawamkan sesuatu dan meniupkannya ke wajah Wak Hardi.


Kini Wak-ku kembali normal.


Wak dibantu kedua muridnya kemudian duduk membentuk formasi segitiga. Lalu seperti ada angin kencang yang datang tiba-tiba dan mengguncang bilik musholla hingga menjatuhkan jam dinding besar di dinding temboknya.


Gubrak!


"Ternyata jin yang mengganggumu dan keluarga bukan hanya satu atau dua. Tetapi mereka bergerombolan atas suruhan seseorang yang punya dendam denganmu!" kata Wak Hardi pada Boss Gege yang mulai terlihat sadar.


"Sudah tiga tahun, Wak! Keluarga Saya diteror dan diganggu makhluk halus suruhan seseorang itu."


Aku merinding mendengar cerita Boss Gege.


Ternyata kehidupan keluarganya dalam kekuasaan para makhluk halus perintah seseorang yang begitu membencinya.


Sangat menakutkan, jika dendam semakin mengarah pada kesumat hingga rela melakukan hal-hal yang dilarang agama sampai nekad melakukan perjanjian dengan setan.


Naudzubillah tsumma naudzubillah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2