DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 63 - DURI DI DALAM PERNIKAHAN


__ADS_3

"Assalamualaikum!"


"Ma! Mama...! Assalamualaikum!"


Aku dan Genta telah tiba di depan pintu rumahnya di wilayah ibukota bagian pusat.


Rumah yang cukup besar untuk wilayah hunian menengah ke bawah.


Aku sesekali mengintip ke arah jendela, kemudian menengok ke atas balkon lantai duanya.


Tok tok tok...


"Intan...! Nadia!"


"Mama!"


Tok tok tok


Sepi. Tiada jawaban.


"Cari siapa?"


Tiba-tiba suara perempuan mengejutkan kami. Dan bertambah kagetnya aku, mengetahui siapa perempuan yang menegur kami tadi.


"Ibu Bianca???"


Bianca adalah istri dari CEO Jacky, mantan tunangan Mas Jonathan. Tapi beberapa waktu lalu aku dengar sendiri Mas Jonathan mengatakan kalau Pak Jacky dan Bu Bianca sudah bercerai. Ada kepentingan apa sampai dia bisa berada di depan rumah mamaku?


"Kamu??? Mau apa kamu di sini?"


"Namaku Liana! Ibu pasti masih ingat!" kataku mencoba beramah tamah dengannya.


"Aku tahu. Orang yang dekat dengan Jonathan karena ada apa-apanya khan?"


Aku hanya memicingkan mata. Tak faham maksud dari perkataannya yang mengandung misteri.


"Ini rumah mama kandungku!" kataku mengalihkan topik pembicaraan.


"Mama kandungmu? Tante Farida?"


Deg.


Kenapa dia menyebutnya tante? Sepertinya... Ia tidak asing dengan mamaku!


"Dia istri kedua dari kakak Mamaku!"

__ADS_1


Jadi? Mamaku adalah adik ipar tante Mirna? Mamanya Bianca? Ya Allah... Sempitnya dunia ini!


"Apa? Istri kedua?" Genta menyerobot bertanya. Dan aku pun ikut tersadar perkataan Bianca.


"Istri...kedua???"


"Ya ampun! Kemana saja kau selama ini? Ck ck ck... Sampai tak tahu status mama sendiri!"


Aku dan Genta saling berpandangan.


Mama adalah istri kedua? Lalu... Siapa istri pertama Papa Bambang?


"Istri pertamanya seorang PNS golongan IV/c. Seorang Kepala Sekolah di SMAN ternama!"


Aku dan Genta ternganga.


"Istri ketiganya, mau tahu juga? Atau kau malah belum tahu kalau Om Bambang itu memiliki tiga istri?"


"Apa???"


Sontak aku dan Genta tersentak.


Mama...! Mirisnya nasibmu! Kau minta cerai dari Papa hanya karena Papa adalah orang kampung keturunan Banten yang sedang goncang usahanya! Tetapi malah tertambat pada seorang buaya darat yang telah beristri. Mama... Malangnya dirimu!


"Dimana Mamaku? Nadia, Intan juga? Dimana mereka?"


"Mereka sedang di rumah Eyang! Eyang sakit keras! Kenapa? Mau apa kamu cari mereka?"


Aku terkesima. Mantan Nyonya CEO ternyata minim attitude. Pantas saja dicerai Pak Jacky. Hm...


"Kak, kita pulang saja!" kata Genta membuat kumeragu.


"Masa' sudah jauh-jauh kita ke sini, malah pulang tanpa ketemu Mama, Gen!" elakku tak mau beranjak.


"Kak Liana? Abang Genta?"


"Intan!"


"Mama mana?" tanyaku pada adik tiriku yang baru saja datang tanpa menghiraukan saudara sepupunya, Bianca.


"Heh! Mana kunci rumahku?" tanya Bianca ketus pada Intan.


Adikku satu ibu beda ayah itu mengambil anak kunci dari dalam tasnya.


Bukannya berterima kasih, tapi Bianca pergi berlalu begitu saja.

__ADS_1


Benar-benar tidak tahu sopan santun! Umpatku kesal sendiri.


"Kakak, mau ketemu Mama?" tanya Intan ramah.


Intan usianya 20 tahun, tapi pembawaannya kalem dan dewasa. Sedari kecil ia memang pendiam. Aku dulu underestimate karena sebal dan iri pada Intan juga Nadia. Tetapi kini, entah kemana rasa itu menguap. Berganti menjadi rasa iba ke arah sayang. Apalagi setelah tahu kalau kenyataan hidup mereka juga tak jauh lebih baik dari aku.


Miris memang.


"Aku telpon Mama dulu ya, Kak, Bang? Biar Mama pulang diantar Nadia! Masuk, Kak, Bang! Silakan duduk!"


Aku dan Genta masuk ke rumah Keluarga Mama. Terlihat indah tetapi ternyata hampa.


Mungkin ini kali pertama aku masuk rumah Mama dalam pandangan yang berbeda. Dengan jati diri serta karakterku yang sekarang. Aku hanya bisa merangkul bahu adik tiriku yang terdiam tanpa kata.


Maaf, Intan... Dulu Kakakmu ini selalu salah faham pada kalian! Dulu kukira kehidupan kalian laksana Tuan Putri kerajaan yang bahagia mendapat kasih sayang lengkap orang tua. Tidak seperti aku yang punya banyak kekurangan. Ternyata... Hidup mereka juga menanggung beban.


Mama datang tak lama setelah Intan menelponnya.


Aku langsung berdiri dan memeluknya erat. Hatiku luruh lantak melihat wajah Mama. Berusaha menahan diri agar airmata tidak sampai tumpah di pipi.


"Mama! Bagaimana keadaan Mama?"


"Mama sehat, Nak!"


"Syukurlah!"


Mama tersenyum lebar. Sepertinya ia bahagia mendapat tamu jauh. Kunjungan kami terasa begitu menyenangkan, mungkin baginya. Karena Mama, Intan juga Nadia antusias sekali menghidangkan segala penganan padaku dan Genta.


Aku bersyukur, karena tadi sempat tak jadi meluncur kesini sebab Genta tampak malas-malasan. Padahal ini adalah adab kami harus hormat pada orang tua apapun yang terjadi.


Mama... Maafkan Liana, Ma! Selama ini memiliki fikiran buruk tentang Mama! Tapi ada yang Liana sesalkan. Mengapa dulu Mama minta cerai pada Papa disaat Allah sedang memberi ujian kehidupan dengan hancurnya usaha Papa? Andai Mama lebih bersabar. Andai saat itu kalian eratkan pegangan tangan. Mungkin kisah ini tidak akan sedih seperti ini. Tapi aku tidak menyalahkanmu, Ma! Tidak! Karena kini fikiranku telah dewasa. Semua orang memiliki garis takdirnya masing-masing. Mungkin ini adalah jalan Tuhan memberi Mama pintu menuju kebaikan. Dengan kesabaran serta ujian kehidupan Mama sebagai istri kedua dari seorang pria bersuami tiga istri.


Kini kusadari. Duri di dalam pernikahan itu bukan saja pelakor atau orang ketiga. Tetapi... Faktor ekonomi juga bisa jadi perusak hubungan rumah tangga menjadi tidak harmonis.


"Kalian sudah makan? Makan siang di sini ya? Atau... Bagaimana kalau menginap satu malam? Kita tidur sama-sama satu kamar? Mau ya?" kata Mama menanyakan banyak hal.


"Mama... Maaf! Liana dan Genta besok kerja. Kami tidak ambil cuti. Mungkin lain kali kami kesini lagi nengok Mama dan adik-adik beberapa hari!"


Adik-adikku tersenyum sumringah. Ini pertama kalinya aku menyebut adik tiri dengan 'adik-adik'. Hatiku menghangat. Dan sepertinya sampai juga ke sanubari Intan juga Nadia.


Biar bagaimanapun, kita terlahir dari perempuan yang sama. Perempuan mulia yaitu Mama.


Terima kasih Mama, telah melahirkanku ke dunia. Membuatku tahu betapa dunia ini berwarna. Penuh tangis juga bahagia. Dan aku harus menjadi orang yang lebih bersyukur lagi pada Tuhanku, Allah Azza Wazzalla.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2