
...Kamu lihat sendiri, Ratu? Apa yang sudah kulakukan demi mendapatkanmu, Sayang? Kamu adalah belahan jiwaku yang kutunggu beratus-ratus tahun! Kaulah takdirku. Akulah jodohmu. Kita bisa menguasai dunia jika kita bersama, Nyai Ratuku tercinta!...
Hoss hoss hoss...
Jantungku seperti hendak loncat. Aku terbangun di tengah malam karena mimpi yang menakutkan.
Ya Allah ya Karim... Tolonglah hamba-Mu ini ya Allah!
Seketika aku terbangun dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Malam itu juga aku tahajjud. Meminta pada Allah agar diberikan kekuatan untuk melawan kedzaliman Eyang Subur yang semakin menjadi.
Ini tidak bisa kubiarkan terus menerus. Selain akan merusak hubungan rumah tanggaku, dia semakin gencar melakukan aksi kejahatannya dengan meneror secara halus.
Kulihat mas Jonathan tidur pulas. Agak ragu untuk membangunkannya. kasihan juga melihat dirinya yang sibuk dan capek sekali Minggu belakangan ini.
Setelah mengurus pesta pernikahan kami, dia juga mengurus keluargaku. Tahlilan Mama, Intan dan Nadya, juga harus bekerja menjalankan usahanya bersama Jordan.
Sebenarnya aku ingin sekali mengajaknya serta berdoa.
Perasaanku mengatakan, masalah ini harus kutangani bersama Mas Jonathan. Aku sudah berkeluarga. Suamiku adalah imamku. Jadi sudah sewajarnya aku mengatakan apapun itu. Bahkan kita bisa bekerja sama. Saling support dan dukung. Bersama pasti jauh lebih baik.
Untuk mengatasi masalah apapun itu, pasangan adalah partner terbaik.
Suamiku harus kuberi tahu yang sebenarnya.
"Mas..., Mas!?"
"Hmmm..."
"Mas, (cup)!"
Mata indahnya mengerjap. terbuka perlahan sembari berusaha membalance-kan pupil mata yang teramat berat.
"Kenapa, Sayang? Ada apa?"
"Maaf... aku membangunkanmu, Mas!"
Suamiku bangun dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang. mengucek-ucek mata seraya menatapku. Imut sekali kelakuannya.
"Yang? Kamu... mau kita lakukan itu lagi?" tanyanya agak gelagapan.
Senyumku merebak.
__ADS_1
Apa kamu jadi se-parno itu, Sayang? Untuk memulai kembali keintiman kita yang belum tuntas?
Aku menggeleng. Berusaha menepis kegundahan hatinya yang masih trauma karena malam pertama yang gagal.
"Bantu aku, Yang! Please..."
Dia turun menggelosor dari ranjang. Bibirnya mengecup keningku penuh cinta.
"Apa?" tanyanya lembut.
Kupegang kedua tangannya.
"Aku butuh bantuan doamu, Mas!"
Dia mengangguk.
"Mas...! Dukun yang menjadi perantara Tante Mirna dan juga pelakor mantan suamiku mengincar hubungan kita. Dia sedang membangun kekuatan untuk mengobrak-abrik rumah tangga kita. Dia ingin kita berpisah. Aku... mimpi buruk kalau dia memang tidak suka dengan kebersamaan kita ini."
Wajah imut nan tampan walaupun belum sepenuhnya tersadar itu menatapku tak berkedip.
"Kamu tahu? Dia juga yang membuat junior Mas tidak bisa bangun!"
"Hah??!"
"Begitulah, Mas! Apa... itu pertama kalinya junior Mas tidak bisa bangun sempurna?" tanyaku sedikit gugup.
Wajahku memerah mendengar pengakuannya. Aku percaya, Mas Jonathan pria jujur. Dia tidak gagap dan juga tidak berfikir panjang kala mengungkapkan kata-kata barusan.
Dia pun merona setelah tersadar pada apa yang di ucapkan.
Aku merangkul pundaknya.
"Aku sayang kamu, Mas!" bisikku lirih di daun telinganya yang lunak membuatku gemas.
Suamiku tersipu malu.
Ada kalanya meskipun ia berumur delapan tahun lebih tua dariku, tetapi pengalaman melakukan hubungan intim sudah pasti jauh dibawahku.
Aku pernah menikah, dia belum sama sekali.
"Kita satukan kekuatan, kita minta sama Sang Penguasa Alam Semesta. Kita bisa melawannya. Yakin!"
Mas Jonathan mengangguk. Ia menatap mataku dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku... punya firasat, kamu... bukan wanita sembarangan, Liana!" tuturnya pelan namun sangat jelas terdengar.
Aku hanya menatapnya balik. Kalah juga pada akhirnya oleh tatapan mesranya. Seketika aku menunduk.
"Bolehkah aku minta bantuanmu, Mas?"
"Apa?"
"Tujuh malam berturut-turut, kita tirakat. Kita berdoa pada Allah, semua masalah ini perlahan terselesaikan satu persatu."
Mas Jonathan tertegun.
Agak lama ia terpekur.
"Sayang, bukan aku tidak mendukungmu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Tapi tirakat tujuh malam berturut-turut itu adalah hal yang berlebihan. Meminta pada Allah itu kewajiban setiap hamba-Nya. Tetapi berdoa melewati batas tidak dianjurkan. Bahkan Tuhan tidak menyukainya."
Deg.
Akhirnya apa yang kukhawatirkan pada saat Wak Hardi memberikanku kemampuan ilmu supranatural leluhur kami.
Bagaimana mungkin, ketika kita tidak sefaham. Padahal semuanya untuk kebaikan kita ke depannya.
Binaran mataku meredup.
Baru saja hendak menceritakan tentang diri sendiri yang memiliki ilmu gaib keturunan leluhurku, tetapi langsung dipatahkan oleh Mas Jonathan tanpa mendengar ceritaku lebih lanjut.
Hhh... Seketika lemas lututku.
Niatan menstabilkan kondisi kita yang tidak baik-baik saja menciut perlahan.
Mas... kenapa kamu harus berkata seperti itu, Mas! Padahal aku belum menceritakan semuanya. Hhh...
"Liana..., apa kamu marah padaku, Sayang?"
Aku hanya menggeleng. Lesu rasanya sembari membuka mukena dan melipatnya rapi.
"Aku sayang kamu, Liana! Aku tidak ingin kamu terlalu menyakiti dirimu sendiri. Jika kita terlalu berlebihan berdoa sampai abaikan kesehatan kita, itu juga tidak disukai Allah! Kita masih dalam keadaan lelah. Setelah pesta pernikahan, juga kini dalam suasana berkabung. Kamu juga butuh istirahat, Yang! Terlalu capek bisa bikin kamu sakit jasmani dan rohani, Sayang!"
Penuturannya yang panjang lebar memang ada benarnya.
Tapi aku kadung sedih juga kecewa pada penolakannya membantuku mendoakan keadaan ini.
Sedihku jadi kian mendalam.
__ADS_1
Malam itu, aku gagal melanjutkan doa. Hanya tahajjud dua raka'at saja. Setelah itu, aku dan dia lanjutkan tidur dengan hati seperti ada yang mengganjal.
BERSAMBUNG