DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 44 - MENGAMBIL AKTA SURAT CERAI


__ADS_3

Akhirnya aku dan Genta memutuskan mendatangi Irsyad di hari Minggu tanpa jujur pada Mas Jonathan.


Ini urusan pribadiku yang belum usai.


Selain tak enak hati karena terus menerus dibantu calon suamiku, aku memang harus bisa mengambil keputusan secepatnya.


Setelah berbohong pada Mas Jo kalau kami akan mengunjungi kerabat yang ada di Ibukota, aku dan Genta pergi ke Jakarta dengan naik buskota.


Mas Jo bersikeras ingin mengantarkan kami sampai tujuan. Tetapi jika itu terjadi, kebohonganku sudah pasti akan terbongkar. Jadi aku kembali berbohong demi menutupi kebohongan yang lain.


Hhh...


Pukul sembilan pagi, buskota telah sampai di salah satu terminal besar kota Jakarta. Dengan mikrolet kami lanjutkan perjalanan menuju rumahku terdahulu.


Rumahku.


Rumah kami ketika masih tinggal bersama dan masih sebagai pasangan suami istri yang bahagia.


Aku menelan ludah menatap gerbang hitam rumah itu dari kejauhan.


Satu persatu kenangan kembali melintas dalam bayangan.


Ya Allah ya Tuhanku! Tolong kuatkan hatiku!


Genta menatapku. Dia ingin aku lanjut berjalan mendatangi rumah yang kini didiami Irsyad dan Katliya.


Pagar rumahnya di gembok. Tidak seperti biasanya.


Aku juga menoleh pada bangunan disampingnya yang tertutup rapat.


Toko online-ku! Mengapa terlihat sepi?


Aku memegangi pagar rumah yang catnya mulai kusam terkelupas. Teringat kembali masa lalu ketika kami berdua membangun rumah ini.


"Bang! Aku mau gerbangnya yang gambar burung ini!" rajukku kala itu dan langsung dicandai Irsyad membuatku tersipu dan mencubit pinggang rampingnya.


"Kenapa harus burung? Khan sudah ada dalam celana burungnya!" godanya.


"Ish, Abang! Burung yang itu beda! Hihihi..."


"Ini bagus!"


"Ga mau! Aku mau yang ini, kesannya elegan, Bang!"


"Ya udah! Terserah. Mau yang gambar burung kek, mau gambar kacang kek, terserah Neng Liana saja! Hehehe..."


"Ih, Abang! Apaan sih!? Hihihi..."

__ADS_1


Sungguh bahagianya saat itu.


Air mataku tanpa sadar menetes. Menangis dalam diam memikirkan mengapa rumah tanggaku yang indah dan harmonis bisa kandas karena orang ketiga. Dan wanita pilihannya itu tak lebih baik dariku.


Mungkin kalau Irsyad terpikat gadis cantik, pintar, bohay dan terkenal mungkin ia tidak akan menelusuri dan menolak pernikahan serta perceraianku kala itu.


Wajar jika dia tertarik dengan gadis cantik. Begitu fikirku.


Tapi aku tak terima, karena Katliya ternyata yang jadi pilihannya.


Katliya... Gadis yang kutolong lima tahun lalu. Gadis baik, lugu dan memang tidak pernah terlihat aneh apalagi genit menggoda suamiku. Ternyata...


Yang makin membuatku kesal juga sangat marah, ternyata gadis berwajah biasa saja itu sudah hamil oleh Irsyad suamiku.


Ya Allah ya Tuhanku!


Genta yang sedari tadi keliling rumah dan melipir ke rumah tetangga menanyakan keberadaan Irsyad juga Katliya kembali menghampiriku.


"Kak!"


"Gen, rumah ini kosong! Orangnya pada keluar sepertinya!"


"Katliya sedang dirumah sakit kata Bu Darmi!"


"Katliya? Kenapa dia?" tanyaku ketus.


"Keguguran?"


"Entahlah! Katanya di rawat di Siloam! Apa kita kesana karena sudah tanggung ke sini untuk menagih surat ceraimu pada Bang Irsyad?"


Aku memandang Genta. Memikirkan langkah selanjutnya. Tapi benar juga. Kami kepalang tanggung ke kota Jakarta. Jika tidak membuahkan hasil rasanya percuma dan sia-sia.


Akhirnya bajaj membawaku dan Genta ke RS Siloam tempat Katliya dirawat.


Katliya pendarahan. Haruskah aku bersorak kegirangan pada apa yang terjadi padanya?


Selama ini aku tak lagi peduli akan kehidupan buaya darat dan rubah betina itu.


Aku sudah mendapatkan ganti kebahagiaan berlipat ganda.


Aku juga tak pernah sekalipun mengingat mereka dan menyumpahi hal-hal buruk untuk keduanya.


Doaku pada Allah Ta'ala hanya satu, mohon angkat kesedihan serta penderitaanku selama ini. Hanya itu. Tiada yang lain.


Dan kini ketika mengetahui kabar kalau keadaan keduanya tidak baik-baik saja, aku senang. Tuhan memberinya balasan hasil perbuatannya sendiri.


"Kak! Itu Bang Irsyad!"

__ADS_1


Genta menunjuk ke arah gerobak bubur ayam tak jauh dari parkiran rumah sakit.


Benar. Itu mantan suamiku!


Aku menatapnya dari kejauhan. Tubuh Irsyad terlihat lebih kurus. Padahal bulan lalu aku bertemu dengannya yang masih songong tingkat dewa.


Kembali teringat kata Genta yang kabarnya usaha Irsyad sedang goyah. Ia juga sedang dalam pantauan kepolisian karena terseret kasus judi online.


Itulah. Jangan menabur benih keburukan jika tak ingin menuai kesengsaraan.


"Bang Irsyad!" panggil Genta membuat pria itu menoleh ke arah kami.


Matanya yang tadi meredup kini berkilat penuh amarah.


Hei!? Harusnya aku yang marah. Kenapa jadi dia? Apa dia tidak punya malu? Apa sudah gila?


Irsyad bergegas menghampiri kami.


Tetapi tiba-tiba ia menerjangku. Merangkul tubuhku seperti hendak menciumku.


Tentu saja aku menampar wajahnya dan mundur beberapa langkah.


"Orang gila! Di jalan umum pun tingkahmu tak terkontrol!!!" pekikku marah. Bahkan sampai membuat orang-orang yang lalu lalang jadi menoleh memperhatikan kami.


"Liana! Kamu... tidak merindukanku?" tanyanya dengan tangan mengusap pipi yang kena tampar tadi.


"Bang! Kendalikan dirimu!" Kini Genta turut campur dengan menjadi tameng pemisah diantara kami.


"Mana uangku?" tanya Irsyad pada Genta. Membuat emosiku kian meninggi padanya.


"Uang apa? Uang yang mana?" tanyaku seraya kembali hendak melayangkan tamparan tapi di larang Genta.


"Adikmu meminjam uangku 50 juta!" celoteh Irsyad bagaikan orang mabuk.


"Apa? Pinjam uang lima puluh juta?"


"Lalu rumahku? Bagi hasil harta gono-gini mana? Uang toko onlineku? Mana? Mana? Mobil avanza juga motor gede yang kubeli dari hasil usaha onlineku mana? Kau mau hitung-hitungan? Ayo kita hitung di notaris kalau perlu kembali ke pengadilan agama biar lebih jelas!" teriakku membuat Genta segera merangkulku.


"Kak, jaga emosimu! Ini di jalanan depan rumah sakit! Ayo, ayo kita selesaikan semua secara baik-baik!"


Aku tenang, ada Genta. Tapi aku tak tenang, posisi Genta juga tidak sekuat itu dihadapan Irsyad.


Bajingan itu menekan Genta dengan ocehan hutang piutang yang tak jelas.


Padahal tujuan utama kami adalah akta surat ceraiku.


Ya Tuhan...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2