DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 50 - BABAK BARU UJIAN HIDUPKU


__ADS_3

Akhirnya Aku dan Jordan berhasil dikeluarkan dari mobil mercedest benz merah metalik setelah hampir setengah jam terjepit karena menabrak pohon besar.


Beruntung kecelakaan ini kecelakaan tunggal. Tidak ada korban lain selain kami.


Tentu saja Mas Jonathan sangat panik sampai rela berjam-jam menunggu operasi wajahku yang terkena pecahan beling kaca depan mobil Jordan.


Jordan sendiri, keadaannya cukup parah juga. Walaupun untuk tubuhnya dia tak terlalu luka berat. Namun kepalanya gegar otak dan masih belum sadar sampai saat ini.


Genta sendiri terus menangis dalam diam. Menyesali kenapa kecelakaan ini harus terjadi padaku dan juga Jordan.


Aku sendiri tidak menyadari kapan mobil menghantam pohon besar di jalanan perumahan yang lengang di malam pukul delapan itu.


"Liana! Liana! Syukurlah ya Allah! Akhirnya kamu siuman juga!" kata Mas Jonathan ketika pertama kali melihatku buka mata setelah beberapa jam keluar dari ruang operasi.


Wajahku, terbalut banyak perban. Tapi belum terasa sakit dan perih karena masih terpengaruh obat bius.0


"Jordan, Mas! Bagaimana Jordan?" tanyaku dengan suara serak. Karena terlalu banyak menangis.


"Jordan sedang ditunggui Mama! Jordan gegar otak, Liana!"


"Jordan,... Apa dia terluka parah?"


"Fisiknya baik-baik saja. Tapi kepalanya mengalami benturan lumayan parah. Tapi dokter sudah menanganinya dan keadaan Didi sekarang baik-baik saja. Tinggal tunggu Didi bangun dari tidurnya, Liana!"


Aku hanya menatap kosong mata indah Jonathan yang sesekali mengerjap dan menghela nafas lega karena aku sudah kembali kesadarannya.


"Mas...!"


"Ya, Liana?"


"Aku..., ingin melihat Jordan, please...!" pintaku mengiba pada Jonathan.


"Keadaanmu belum benar-benar pulih, Liana! Sabar ya?"


"Aku mau lihat Jordan sekarang, please... Mas please..."


Airmataku meluncur deras hingga Mas Jonathan panik dan mengusapnya cepat.


"Oke, oke! Tapi jangan menangis. Wajahmu masih di perban dan tidak boleh kena air. Khawatir basah lalu infeksi pasca operasi."


Aku menahan tangisku. Tangan kami saling menggenggam.


Aku harus melihat Jordan! Harus! Agar tenang hati ini, apakah ia baik-baik saja keadaannya.


Mas Jonathan menggendongku dan mendudukkannya di kursi roda. Dengan sabar juga telaten, ia merapikan selang infusku lalu mendorongku pelan menuju kamar rawat inap Jordan di lain kamar.


Krieeet...


"Liana? Kenapa kemari?" tanya Mama membuatku menatap sendu padanya.


"Mama..., Mama maaf! Maafin Liana, Ma! Hik hik hiks..."

__ADS_1


Aku menangis memegangi kedua belah tangan Mama Tiur. Takut dan sedih karena kejadian ini harus terjadi.


"Sudahlah, Liana! Kita tunggu Jordan sadar dulu, ya? Sini... Kita doakan semoga Jordan cepat siuman!"


Aku hanya bisa menyusut butiran air mata yang jatuh. Mas Jo dan Mama membantuku mendekati ranjang tidur Jordan.


Wajah teman SD ku itu terlihat tenang. Bagaikan balita polos yang tertidur sangat pulas walaupun ada selang-selang kabel menempel di kepala dan dada bidangnya.


"Jordan...! Jordan bangunlah! Jordan, please...! Jangan buat aku tambah bersalah melihatmu seperti ini! Hik hik hiks... Jordan!"


Aku kembali terisak. Jonathan mengusap bahuku lembut.


"Nanti Didi juga pasti bangun, Lian! Dia tidak akan lama kuat tidur terus seperti itu! Percayalah! Didi baik-baik saja!"


"Ini salahku, Mas! Ini salahku! Jordan begini karena aku!"


"Jordan!"


Mama Tiur menyebut nama Jordan, sontak aku menoleh ke arah wajahnya.


Terlihat mata Jordan perlahan terbuka.


"Jordan!!!" pekikku senang.


"Liana! Liana istriku! Akhirnya...akhirnya aku masih bisa melihatmu! Kukira tadi aku pergi meninggalkanmu ke alam baka!"


"Jordan!?"


Jordan! Apa yang terjadi?


"Mami, Gege... Terima kasih sudah merawat istriku selama ini!"


"I_istri? M..maksud,"


Jonathan menghentikan ucapanku dengan menarik satu jemariku dan memberi kode.


"Jordan! Jordan! Apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Mama Tiur. Mas Jonathan sendiri masih mengamati keadaan Jordan yang siuman tetapi seperti mengalami koslet/gangguan saluran fungsi otak.


"Mami? Kenapa kepalaku? Bukankah kakiku yang dioperasi? Kenapa kepala yang ditanyakan?"


Kami semua semakin bingung. Perkataan Jordan, terlihat makin aneh.


"Liana? Kenapa kamu ada di kursi roda?"


Aku tersekat. Kami saling berpandangan. Mama, mas Jo, lalu kembali pada Jordan.


Aku gugup, ketika Jordan memegangi jemariku yang dingin dan basah keringat.


"Kak Liana!"


Kami kembali terkejut ketika pintu kamar Jordan di buka Genta yang terengah-engah seperti habis perjalanan jauh.

__ADS_1


Di belakang Genta, ada Mama juga Nadia dan Intan. Dua putrinya dari pernikahan dengan Papa Bambang.


"Farida?"


"Tiur??? Tiur Edeline Bleszynki???"


Aku tambah bingung lagi ternyata Mama Tiur kenal dengan Mamaku.


Ada apa lagi ini?


"Mama Mertua. Kita belum pernah bertemu. Kenalkan Saya Jordan Ardian. Suaminya Liana, putri Mama!"


Aku merasa semakin pusing. Jordan semakin aneh walau kondisi kesehatannya baik-baik saja bahkan tampak terlihat bugar.


"Liana! Liana, sayangku! Kemarilah, bantu aku! Aku mau minum, Sayang!"


Aku bahkan menutup mulutku saking terkejutnya mendengar perkataan Jordan Ardian.


.............


Aku, Mama Tiur dan juga Mas Jonathan tertegun mendengar penjelasan dokter ahli syaraf yang menangani Jordan.


"Pasien mengalami benturan di otak besarnya dan menderita skizofrenia paranoid. Ini... Bisa jadi penyakit permanen dan, sulit disembuhkan."


"Maksud dokter? Putra bungsuku gangguan syaraf begitu?" tukas Mama Tiur dengan intonasi nada meninggi.


"Bisa dikatakan seperti itu. Tetapi bukan gila, Ibu! Tolong dengarkan dahulu penjelasan saya!"


"Pasien Jordan Ardian mengidap kelainan dalam berfikir dan mempersepsikan lingkungan. Pasien kesulitan membedakan mana khayalan, mana kenyataan. seringkali delusi dan berhalusinasi yang tidak sesuai kenyataan."


"Apa bisa diatasi dengan bedah? Operasi pembersihan sel syaraf misalnya, Dok?" tanya Mas Jo serius.


"Untuk ke arah itu, kami tim medis belum bisa meyakini apalagi mengusulkannya. Hanya bisa dikurangi delusi dan halusinasinya dengan rutin konsumsi yang diresepkan. Jangan khawatir, pasien Jordan bisa hidup normal, Bu! Fikirannya pun tidak terganggu layaknya gangguan kejiwaan lainnya. Tidak. Bahkan bisa menjalani aktifitas rutin seperti biasa. Bekerja misalnya, tetapi bukan pekerjaan yang membuat skizofrenia-nya makin parah. Pekerjaan yang membuat hatinya lebih tenang dan senang untuk dijalani."


"Apa yang menyebabkan adik saya divonis skizofrenia? Apa karena benturan keras di kepalanya? Berarti, penyakit itu hanya sementara jika diakibatkan benturan. Berarti bisa saja adik saya kembali pulih ingatan serta daya fikirnya, khan Dokter?"


Mas Jonathan berusaha berfikir positif menanggapi perkataan Dokter ahli syaraf.


"Kemungkinan itu selalu ada, Mas Jonathan! Semoga Tuhan memberi kesembuhan pada Mas Jordan Ardian!"


"Apa dokter bisa menerangkan secara ilmiah apa itu skizofenia dan bagaimana kami sekarang mengurus serta mengatasi delusi Jordan adik saya? Apa kita harus memberinya penjelasan? Atau...mengikuti halusinasinya untuk menenangkan fikirannya agar kembali normal?"


"Skizofenia adalah gangguan kelainan pada otak. Bagian yang diduga memiliki masalah adalah area neurotransmiter dopamin dan glutamat. Hal ini dibuktikan dari hasil studi neuroimaging yang menunjukkan perbedaan struktur otak dan sistem saraf pusat dari penderita skizofenia dibandingkan dengan orang normal."


"Penyakit ini bisa diminimalisir dan berkurang secara bertahap. Memang kita juga dituntut sabar menangani pasien. Selain emosinya yang sering labil dan berubah-ubah dengan cepat, pasien juga bisa melakukan tindakan yang frontal yang tidak bisa kita prediksi seperti menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Jadi, ada baiknya kita mengikuti delusi pasien agar emosi kejiwaannya stabil."


Aku...hanya diam membisu. Terduduk kaku diatas kursi roda dengan fikiran melayang entah kemana. Mendengar penjelasan Dokter panjang lebar.


Sementara Mamaku, Genta, Nadia dan juga Intan menunggu di kamar rawat Jordan.


Ya Allah ya Tuhanku... Apakah ini babak baru ujian kehidupanku?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2