DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 66 - KUMPUL KELUARGA BESAR DI HARI BERSEJARAH


__ADS_3

"Liana! Kamu ini ya? Mana Mama?"


Aku kaget, Jordan sudah ada dihadapanku. Wajahnya cemas. Tangannya menarik jemariku.


"Liana! Liana! Jadi khan kita nonton?"


Ternyata Irsyad mengekorku dari belakang. Tinggalkan istri barunya yang sedang hamil besar.


"Siapa kamu?" tanya Irsyad pada Jordan. Ia terlihat marah karena Jordan menggenggam jemari kananku.


"Kamu siapa?" Jordan balik bertanya.


"Aku? Aku ini...mantan suaminya Liana!"


Sontak kulihat rona wajah Jordan berubah.


"Oooh... Jadi ini orang yang telah menyakiti hati Liana? Ya ampuuun, kukira tampangnya begitu tampan. Ternyata lebih mirip panci aluminium yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter, ck ck ck... Duh Lian! Cowok model begini, banyak di Taman Lawang!"


Aku sedih, tapi jadi tersenyum mendengarkan perkataan Jordan yang mirip nyinyiran.


Kuayunkan langkah sembari merangkul pinggang Jordan. Kulihat wajah Jordan bersemu merah.


Maaf Jordan, aku sedang berakting dulu.


"Ayo, jangan diladeni! Bikin tanganmu kotor, nanti!" bisikku di bawah telinga Jordan. Pria tampan teman SD-ku itu memang postur tubuhnya cukup tinggi. Bahkan lebih tinggi tiga senti dari Jonathan kakaknya.


Kami tersenyum sementara Irsyad makin kesal hingga menarik tas pinggang Jordan hingga putus dan jatuh ke lantai.


"Ada apa Mas Bro? Itu istrimu, kasihan lho! Sedang hamil besar tapi kau tinggal begitu saja! Kenapa? Menyesal menceraikan istri cantik begini demi perempuan model begitu?"


Jordan!


Aku tak sangka Jordan rupanya bisa seheboh itu menanggapi Irsyad yang belingsatan.


Lucu juga. Membuat hatiku menghangat.


"Liana! Siapa laki-laki ini? Bukankah kamu sedang dekat dengan pria asing satu lagi?"


"Siapa? Aku maksudnya?"


Mataku terbelalak. Ternyata Jonathan berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri.


Irsyad menatap Jonathan lalu Jordan. Ia sumringah, karena berfikir kalau dua pria yang memperebutkanku akan ribut besar saat itu juga.


Bahkan Irsyad bertepuk tangan girang sekali.

__ADS_1


"Pak sekuriti, ini orang yang sudah buat keonaran di pintu theater bioskop sampai suasana jadi panas begini!"


Mama Tiur datang dengan dua orang aparat keamanan setempat.


"Siapa pula Ibu? Beraninya bilang saya buat keonaran!" rutuk Irsyad tak terima.


"Saya? Saya ini..., Calon Mertuanya Liana. Kenapa? Kamu dari tadi saya lihat dan perhatikan, mengganggu terus Menantu saya padahal dua putra saya ada di sini juga!"


"Apa??? Calon Mertua Liana??? Dua pria ini? Pak woi lepas, woy! Kalian tidak bisa berbuat kasar seperti ini!"


Irsyad berteriak-teriak ketika dua sekiriti itu membawanya pergi. Begitu juga Katliya yang pucat pasi. Malu dengan tatapan orang banyak di aula theater bioskop.


"Maaf, atas ketidaknyamanan Madam Tiur Blezkinsky! Sebagai ganti, saya akan berikan tiket menonton film box office terbaru di ruangan VVIP. Mari Madam, silakan! Tuan Muda, Nona... Mari ikuti saya!"


Kami semua diajak ke sebuah ruangan berukuran lebih kecil dengan fasilitas lengkap dan meja dipenuhi aneka makanan juga minuman.


"Mami keren! Bisa kenal sama CEO bioskop Mall ini!" bisik Jordan membuatku dan Jonathan tertawa kecil. Jempol kami semua mengacung untuk Mama.


"Ssst...! CEO bioskop ini dulu adalah adik kelas Papa dan Papi kalian. Hehehe..."


"Ya ampun, Mami! Hehehe..."


"Tidak, Jordan! Mami tidak ada hubungan apapun dengan orang itu. Ini bahkan pertemuan pertama setelah belasan tahun tidak ketemu!" bisik Mama Tiur sembari kembali merengkuh pergelangan tanganku.


Mami Jordan memang bukan wanita sembarangan. Di waktu mudanya, pasti beliau primadona kampus dengan wajah cantik perpaduan Australia Medan yang unik eksotik.


Malam ini kami jadi nonton film terbaru yang belum tayang bahkan di bioskop 21 berkat Mama.


..............


Empat bulan tepat aku menyandang status janda. Usiaku kini tepat menginjak 33 tahun. Cukup matang walaupun kata orang masih terbilang janda kembang.


Perayaan hari jadi ternyata lumayan meriah walau digelar Mama Tiur secara sederhana saja.


Tapi...ada yang istimewa. Yaitu Mama kandungku datang ke rumah mewah Mas Jonathan bersama Intan dan Nadia.


Walau diawal sedikit canggung antara Mama Tiur dan Mama Farida, tetapi keduanya perlahan mulai saling membuka diri. Melupakan masa lalu yang pahit dengan saling berjabatan tangan serta saling memaafkan jauh lebih indah ketimbang meneruskan perang dingin yang tak kunjung usai karena ego.


Aku sebenarnya penasaran sekali, ingin tahu apa penyebab sampai mereka jadi renggang persahabatan hingga putuskan hubungan pertemanan.


Apakah...karena Papa Bambang? Bukankah Papa Bambang itu adalah Kakak kandung Tante Mirna? Mamanya Bianca, mantan tunangan Mas Jonathan?


Tiba-tiba aku teringat cerita Mas Jo dahulu di bulan pertama kami kenal.


Pertunangan mereka harus diakhiri setelah Mama Tiur bertemu Tante Mirna. Ternyata Tante Mirna mantan pacar Papinya Jordan dan gagal naik pelaminan karena Papi waktu itu memilih menikahi Mama Tiur, janda sahabatnya yang telah memiliki satu anak. Tante Mirna tidak setuju hubungan anaknya berlanjut dengan putra yang dia tuduh perebut kekasihnya itu.

__ADS_1


Hm... Ini hubungan yang lumayan rumit. Agak sedikit unik, bahkan. Dan kurasa, sepertinya seperti itu. Mamaku pasti membela keluarga suaminya. Begitu pula Mama Tiur. Sudah pasti sakit hati dan kesal karena putra sulungnya dihina dengan ditolak mentah-mentah niatan sucinya menikahi kekasih hati yang dicintainya, yaitu Bianca.


Ngomong-ngomong soal Bianca, perempuan itu juga kini berstatus janda. Sama seperti aku. Apa... Mas Jonathan masih memikirkan Bianca ya?


Ketika kami semua sedang bersenda gurau melebur bersama layaknya keluarga besar, tiba-tiba Pak Saleh masuk ke dalam rumah sambil berkata, "Bu Tiur! Ada tamu. Katanya kerabat Non Liana dari Banten!"


Aku dan Mama Farida saling bertatapan.


Kerabat dari Banten? Mungkinkah itu...Wak Hardi?


Ternyata tebakanku tepat sekali.


Wak Hardi datang berdua dengan Wak Wati. Tentu saja aku bahagia sekali.


Ini adalah hari ulang tahun yang paling membahagiakan seumur hidupku.


"Wak!!!"


Wajahku sumringah riang gembira bak anak kecil yang senang ketemu orangtua yang disayang.


Aku mencium punggung tangan Wak Hardi kemudian memeluk erat tubuh Wak Wati. Kami saling melepas rindu padahal baru tiga minggu yang lalu aku berada di kediaman beliau.


Jonathan jauh lebih senang lagi. Ia bahkan mencium telapak tangan Wak Hardi bolak-balik sebagai bentuk penghormatan tertingginya karena pernah ditolong beliau saat Papa wafat.


"Wak, apa kabar?"


"Sehat, Nak Jonathan!"


"Ini, kenalkan... Mama Saya, ini adik saya Jordan!"


Wak Hardi terlihat senang berada diantara kami. Hanya Mama Farida yang sedikit pucat dan perlahan melipir agak ke pojok.


"Mama...! Wak Hardi dan Wak Wati, Ma! Wak, ada Mama juga!"


"Kang! Ceu!"


Mereka saling berjabatan tangan. Mama tampak gugup tapi Wak Wati berusaha mengajak Mama berbincang santai.


"Aku kesini untuk menepati janji pada Jonathan! Janji tentang niatnya meminang Liana, putriku!"



Deg.


Seketika hatiku berkebit. Menciut dan takut. Debaran harap-harap cemas kalau diskusi serius kami akan kaku dan tidak menemukan titik temu.

__ADS_1


Hhh...


BERSAMBUNG


__ADS_2